<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955</id><updated>2011-04-21T17:44:54.342-07:00</updated><title type='text'>:: MATA SUTRA ::</title><subtitle type='html'>| sabbe satta bhavantu sukhi tatra |</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-2158395529331800140</id><published>2007-07-28T23:30:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:02.427-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Hidup Wadat dan Bersunyi-sunyi di Rawaseneng&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw92I6suWI/AAAAAAAAACM/hKLKuzqZShA/s1600-h/6gsata2.em.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092513278965102946" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw92I6suWI/AAAAAAAAACM/hKLKuzqZShA/s320/6gsata2.em.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;K&lt;/span&gt;EDATANGAN&lt;/strong&gt; ke Pertapaan Rawaseneng buat saya adalah wisata spiritual paling mengharu-biru. Tempat yang saya tuju bukanlah makam untuk berziarah dan berkhalwat. Pun tak ada cerukan gua, atau ruang khusus bersamadi dan bertapa meskipun tempat itu disebut sebagai pertapaan.&lt;br /&gt;Keterharu-biruan itu barangkali karena saya menjumpai orang-orang, tepatnya para lelaki yang begitu teguh menggenggam keyakinan mereka hingga begitu rela hidup bersunyi-sunyi, hidup wadat atau selibat (tak menikah-red) dan bersahabat kesepian. Para lelaki yang hidup untuk Tuhan dalam untaian doa, dalam lantunan madah dan mazmur.&lt;br /&gt;Mereka itu para lelaki yang asyik-masyuk mengagungkan nama Tuhan dalam sebuah kapel yang hening dan tak henti-henti mendengungkan gregorian ke langit Rawaseneng, Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung yang sejuk, sesekali berkabut. Ya, puja-puji itu seolah-olah mampu menembus dinding beku kapel, bersipongan dengan kertap dedaunan kopi, lenguh sapi peternakan, menjauh dan menyelubungi pepohonan pinus di sekitar situ.&lt;br /&gt;Sebelum datang, saya pun membayangkan sebuah pertapaan dalam sebuah gua yang dipenuhi ornamen gerejawi seperti Yesus Kristus dalam salib, patung Bunda Maria, dan palung semen tempat air suci. Ketika mencoba mencari tahu pada sopir yang saya carter dari Sumowono, Ambarawa, dia tak apa-apa.&lt;br /&gt;''Rawaseneng yang untuk mancing itu?'' tanya dia. Ketika saya katakan tempat itu sebuah biara, dia menangkapnya sebagai vihara (tempat ibadah Buddha) yang memang terdapat di pinggir lintasan laju mobil kami. Syukurlah, setidaknya dia tahu jalur menuju desa Rawaseneng. Jalan yang penuh kelokan dengan kanan-kiri penuh tanaman jagung dan jahe. Kata dia, di sepanjang lintasan itu, kedua tanaman itu memang mata pencaharian penduduk.&lt;br /&gt;Setelah melewati jalanan yang kanan-kirinya penuh pohon pinus, pada sebuah pertigaan tempat pemberangkatan Angkutan Pedesaan (angkudes) jurusan Temanggung-Rawaseneng, kami berhenti. Oh ya, angkudes itu juga alat transportasi dari terminal Temanggung ke lokasi wisata spiritual tersebut. Jarak tempuhnya sekitar 14 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;AYA&lt;/strong&gt; tiba di pertapaan berordo Trappist itu tepat pukul 12.00 lewat beberapa menit. Itu bukan saat yang tepat bagi sebuah visitasi atau rekoleksi (kunjungan sesaat). Itu saat para rahib melakukan Ibadat Siang II di kapel. Tak ada seorang pun saya jumpai. Dari luar saya mendengar dengungan madah dan mazmur dari dalam kapel. Seorang lelaki muncul dan menuju ruang penerimaan tamu. Saya katakan pada Suyatno, nama lelaki itu, ingin menemui Kepala Biara. ''Oh, Abas Kepala, Pater Frans sedang berdoa. Ini jam Ibadat Siang. Tunggulah!''&lt;br /&gt;Abas yang disebutkan maksudnya Kepala Biara. Namanya Frans Harjawiyata OCSO. gelaran itu merujuk pada ordo Katholik yang dipegang di biara itu, yaitu Ordo Cisterciensis Strictoris Observantiae (Ordo Cistersiensi Observansi Ketat) yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Ordo Trappist.&lt;br /&gt;Sembari menunggu para rahib usai berdoa di kapel, saya bertanya padanya catatan atau buku mengenai sejarah Pertapaan Santa Maria Rawaseneng. Dia mengunjukkan sebuah buku dari deretan buku rohani di etalase. Karena itu dijual, saya membelinya. Judulnya ''Berziarah Setengah Abad'' tulisan Pater Frans. Itu buku peringatan 50 tahun (1953-2003) biara tersebut.&lt;br /&gt;Isinya lengkap mengenai perjalanan panjang pertapaan itu. Suyatno juga memberikan sebuah buku tipis berjudul ''Rawaseneng: The Call to the Trappist Life''. Dari buku tipis itu, saya tahu secara singkat perihal pendirian Pertapaan Rawaseneng, sejarah Ordo Trappist beserta catatan mengenai Santo Benediktus yang memelopori ordo tersebut, serta perikehidupan para rahib di situ.&lt;br /&gt;Sebelum menjadi biara, tulis buku itu, di situ berdiri sekolah pertanian asuhan Bruder Budi Mulia. Clash fisik tentara Republik dengan Belanda pada tahun 1948, menghancurleburkan bangunan itu. Tahun 1950, Pater Bavo van der Ham, rahib Trappist dari Tilburg, Belanda datang ke situ dan memelopori pendirian biara berordo Trappist di situ. Tanggal 1 April 1953, resmi berdiri biara dengan nama Cisterciensis Santa Maria Rawaseneng yang lalu lebih terkenal dengan sebutan pertapaan Rawaseneng.&lt;br /&gt;Seiring waktu, biara itu mulai diminati dan banyak yang bergabung sebagai rahib. Alhasil, 26 Desember 1958, biara itu menjadi otonom dengan status keprioran. 23 April 1978 statusnya meningkat lagi menjadi keabasan. Sejak itu pulalah Pater Frans diangkat menjadi Abas.&lt;br /&gt;Perkembangan berikutnya, biara Rawaseneng mendirikan biara serupa di Flores tahun 1996 setelah sebelumnya mendirikan biara Trappistin (untuk biarawati) di Gedono, Salatiga tahun 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;U&lt;/span&gt;SAI&lt;/strong&gt; Ibadat Siang, Pater Frans menemui saya di Kamar Bicara. Kalau lihat jadwal semestinya saat itu waktu istirahat dia dan para rahib. ''Tak apa-apa. Ini kan juga bagian kerja pastoral (kegiatan pelayanan-Red),'' katanya.&lt;br /&gt;Dia ramah. Usianya 72 tahun dan sudah 43 tahun mendiami Pertapaan Rawaseneng. Tak begitu lama perbincangan kami. Secara singkat dia menjelaskan rutinitas kehidupan para rahib di situ seperti yang saya tanyakan.&lt;br /&gt;''Berdoa dan bekerja. Anda bisa lihat pada jadwal sehari-hari para rahib. Semua serbaterjadwal. Makanya, dengan keketatan hidup serupa itu, banyak yang tak kuat. Perbandingan yang kuat dan tak kuat hidup di biara biasa 20-80.''&lt;br /&gt;Itu mencengangkan. ''Tapi kami bukan komunitas ekslusif, lho. Kami juga berbaur dengan masyarakat. Tapi dalam arti untuk urusan-urusan sosial belaka. Kami ini membuka peternakan dan pemerahan susu sapi dan perkebunan kopi. Penduduk membeli dari kami dan rata-rata yang bekerja juga mereka. Itu wujud sosialisasi.''&lt;br /&gt;Saya tanyakan pula perihal citra ordo Trappist yang terkenal keras, seperti misalnya berdoa sambil menyakiti diri-sendiri. ''Ah, itu mitos. Keras dalam arti hidup dalam biara, terjadwal, tak bebas ke mana-mana, ya. Tapi itu pilihan menjadi rahib, bukan? Wajar pula memang banyak yang tak kuat.''&lt;br /&gt;Usai perbincangan singkat, saya meminta izin untuk berkeliling biara: melihat sapi-sapi yang diternakkan, perkebunan kopi, atau pembuatan kue yang jadi aktivitas sehari-hari para rahib selain berdoa.&lt;br /&gt;''Sayangnya ini jam istirahat. Nantilah seusai Ibadat Sore. Mungkin Frater Theo bisa memandu Anda.''&lt;br /&gt;Saya memang harus patuh pula pada jadwal ketat di biara itu. Ibadat Sore baru dimulai pukul 14.30. Syukurlah, pada ibadat itu saya diizinkan masuk ke ruang kapel dan memotret aktivitas para rahib.&lt;br /&gt;Pukul 14.15, lonceng di dalam kapel dibunyikan oleh seorang frater (sebutan untuk rahib). Saya masuk ke kapel. saat itu petugas pembunyi lonceng Frater Amadeus. Dia masih berstatus novis (tahapan hidup membiara usai menjalani masa postulat atau percobaan).&lt;br /&gt;Tak beberapa lama para ''frater'' berdatangan dan segera menempati kabin doa masing-masing yang berada dalam dua sayap kapel. Agak terpisah dari pada sisi kanan altar, seorang frater yang bertugas memainkan piano sudah berada di tempatnya. Beberapa tamu yang datang untuk retret (menginap dan beraktivitas di situ minimal tiga hari-Red) atau yang hanya melakukan rekoleksi, masuk kapel dan menempati bangku terpisah di belakang kapel. Mereka akan ikut berdoa. Soal tamu, Pertapaan Rawaseneng memang telah cukup mengharu-biru mereka untuk sekadar mampir atau bahkan tinggal berhari-hari di situ. Tak jarang, yang datang berupa rombongan keluarga, lengkap dengan anak-anak mereka.&lt;br /&gt;Maka, di kapel itu segera mendengunglah koor madah puji-pujian. Syahdu, kadangkala senyap. Adakalanya seseorang melantunkan doa sendiri dan dibalas oleh gaung doa bersama. Setengah jam doa dalam Madah Zakaria, Madah Simeon, disusul Te Deum dan berakhir usai Antheum Maria. Semuanya dilantunkan dalam nada gregorian yang syahdu dan seolah-olah selalu penuh kesedihan.&lt;br /&gt;Begitu selesai, para rahib itu segera memasuki kamar mereka masing-masing. Saat itu, saya berpikir betapa hidup mereka seolah-olah terbingkai pada satu kamar sempit yang menjadi tempat pertapaan, ruang kapel dan ruang tempat mereka berkarya. Dari hari ke hari, bertahun-tahun, bahkan ada yang menjalaninya selama lebih dari 30 tahun. Hidup yang mau tak mau membuat saya seolah-olah tak mengerti tapi di sisi sebaliknya saya mengagumi keteguhan mereka.&lt;br /&gt;Usai aktivitas di kapel, Frater Theodorus menjumpai saya dan berkehendak memandu saya berkeliling biara. Saya terkejut dan agak pangling. Di kapel tadi dia bersama para rahib memakai jubah putih dengan skapulir hitam, khas para rahib Katholik. Saat itu dia mengenakan baju yang mirip jaket dengan kap (topi kain yang bersambungan dengan baju). Apalagi dia mengenakan kacamata hitam. Kalau tak melihat ciri kap pada pakaian yang dikenakannya, dia tak lebih seperti lelaki muda di luar biara.&lt;br /&gt;''Lho boleh berbaju bebas toh, Frater?'' tanya saya. Dia tersenyum dan sembari menyetarter sepeda motor dan memboncengkan saya, dia menjawab, ''Oh boleh, tapi tetap dengan ciri kap ini.''&lt;br /&gt;Kami menuju tempat penimbangan kopi yang baru dipanen dariperkebunan milik biara. Kata Pater Frans, kopi biasanya hanya sekali panen setahun. Di tempat itu, banyak aktivitas: menimbang kopi, mengeruk kopi dan membawa ke tempat pencucian, membersihkan kopi yang bergetah sebelum memasukkannya ke mesin penggiling.&lt;br /&gt;Dari situ kami menuju tempat pembuatan kue. ''Itu oven kami. Besar. Pembuatan kue ini salah satu aktivitas para frater dipagi dan sore hari,'' ujar Frater Theo.&lt;br /&gt;Seseorang sedang mengepak kue. Kue-kue itu ditaruh di etalase dan tamu atau penduduk biasanya membeli dari situ. ''Anda coba bikinan kami. Enak, lo.''&lt;br /&gt;Saya mencoba kue yang disodorkannya. Biskuit coklat yang enak. lalu kami menuju peternakan. Ada lebih dari 100 sapi dimiliki biara. Setiap hari, sekitar 60-70 ekor diperas susunya.&lt;br /&gt;''Penduduk membeli dari kami. Tapi banyak yang kami distribusikan hingga ke Semarang.''&lt;br /&gt;Susu di situ katanya memang lain. Paling tidak itu menurut Pak Adrianto dari Klaten yang secara berkala menyengaja ulang-alik hanya untuk beli susu di situ.&lt;br /&gt;Senja sudah mulai bergerak turun ketika saya ikut mobil Pak Adrianto menuju Secang lewat Temanggung. Di dalam mobil, lelaki tua itu berkata, ''Hebat ya para frater yang rela memilih hidup di situ. Padahal banyak yang muda, lo.''&lt;br /&gt;Ketika itu benak saya terbayang Frater Theo yang sudah 14 tahun di situ dan baru berusia 34 tahun. Satu orang lagi yang sempat saya tahu namanya, Frater Amadeus, juga masih muda.&lt;br /&gt;Saya menyambung, ''Hebatnya lagi mereka mau hidup wadat (tak menikah).''&lt;br /&gt;Pak Adrianto tertawa dan berkata, ''Kalau saya semuda mereka, wah sulit kalau meninggalkan yang satu itu. Tapi sudah pilihan mereka, kok.''&lt;br /&gt;Ya! Sudah pilihan mereka. Itu juga perkataan Frater Theo ketika memandu saya, ''Manusia itu makhluk dengan rasio. Binatang tak punya. Kalau binatang terdesak kebutuhan biologis, mereka langsung saja tanpa berpikir. Tapi manusia mampu mengendalikan kebutuhan biologisnya dengan pikirannya.''&lt;br /&gt;Saya tahu itu pilihannya, juga para frater lainnya. Hidup wadat, bersunyi-sunyi, amboi....(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw-446suYI/AAAAAAAAACc/phrmPdPAQtQ/s1600-h/6gsata4.em.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092514425721371010" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw-446suYI/AAAAAAAAACc/phrmPdPAQtQ/s320/6gsata4.em.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#003300;"&gt;Sehari dalam Kehidupan Para Rahib&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw-c46suXI/AAAAAAAAACU/VQAopVzMdDY/s1600-h/6gsata8.em.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092513944685033842" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw-c46suXI/AAAAAAAAACU/VQAopVzMdDY/s320/6gsata8.em.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;M&lt;/span&gt;ENJADI&lt;/strong&gt; rahib adalah pilihan seseorang. Menjadi rahib juga dimaknakan sebagai panggilan Tuhan untuk melulu hidup demi Dia dalam kesunyian. Panggilan hidup dalam rupa doa. Ya! Kesunyian dan doa, juga kehidupan wadat atau selibat.&lt;br /&gt;Serupa itu pula kehidupan para rahib Ordo Trappist di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng. Menurut Pater Frans, ada sekitar 30 orang. Tambahan dari Frater Theodorus, dari jumlah itu masih ada yang berstatus postulat dan novis.&lt;br /&gt;''Cirinya pada jubah yang dikenakan. Frater juga Pater memakai jubah putih berskapulir hitam. Novis jubah putih dengan kap. Postulat serupa novis hanya saja ada sejenis pakaian diagonal di atas dadanya berwarna putih.''&lt;br /&gt;Dia lalu menunjukkan gambar Santo Benediktus yang berjubah hitam-tebal. ''Walau yang kami acu orang suci itu, baik ajaran maupun cara berpakaiannya, tetapi bahan dan warnanya boleh berbeda.''&lt;br /&gt;Di kalangan para rahib pada Pertapaan Rawaseneng, hidup bukanlah sesuatu yang sederhana dan waktu tak bisa untuk bermain-main. Kehidupan mereka terjadwal secara ketat. Porsi untuk berdoa pun sangat besar. Lihat misalnya, bagaimana dalam satu putaran hari, ada tujuh kali ibadah dilangsungkan. Bayangkan, sehari dengan tujuh kali berdoa dalam cara yang sama! Dan itu berlangsung setiap hari.&lt;br /&gt;Hidup para rahib bermula pada pukul 03.15. Mereka bangun dari tidur secara serentak dipandu oleh lonceng yang berbunyi dari dalam kapel. Seperempat jam berikutnya, para rahib itu sudah suntuk dalam doa pada Ibadat Bacaan (vigil) disambung dengan meditasi di dalam kapel.&lt;br /&gt;Mulai pukul 04.45, para rahib membaca buku-buku rohani. Program rutinnya disebut Lectio Divina.&lt;br /&gt;''Kalau dulu para rahib hanya baca kitab suci, kini bacaan itu lebih banyak lagi. Sekarang kan banyak buku rohani yang bagus,'' ujar Frater Theodorus.&lt;br /&gt;Usai aktivitas itu, ada Ibadat Pagi pada pukul 06.00 yang dilanjutkan dengan sarapan pagi, dan waktu senggang sejenak. Waktu senggang tersebut dapat dimanfaatkan oleh rahib untuk melakukan keperluan pribadi, sebatas masih dalam kompleks biara.&lt;br /&gt;Pukul 08.00, para rahib masih harus kembali ke kapel untuk Ibadat Siang I. Hanya 15 menit doa itu dan dilanjutkan waktu bagi mereka untuk bekerja yang berakhir pukul 11.30. Usai kerja itu, para rahib bersiap-siap untuk melakukan Ibadat Siang II pada pukul 12.00. Hanya seperempat jam ditambah lima menit pemeriksaan batin (semacam meditasi singkat) sebelum mereka bersama-sama menuju Ruang Makan dan makan siang bersama dan istirahat siang.&lt;br /&gt;Pada saat istirahat itu, para rahib melakukan siesta atau tidur siang yang berakhir ketika lonceng dibunyikan seorang frater pada pukul 14.15 sebagai persiapan Ibadat Sore (vesper) selama setengah jam (14.30-15.00). Setelah itu, para rahib kembali bekerja hingga pukul 16.30 disambung Lectio Divina pukul 16.45.&lt;br /&gt;Perayaan Ekaristi (Holy Mass) atau Misa Agung harian dilangsungkan pukul 17.30 hingga 19.50 dengan pembacaan Peraturan Santo Benediktus di Ruang Kapitel. Peraturan tersebut bersifat wajib bagi semua ordo yang mengikuti jejak orang suci itu.&lt;br /&gt;Seluruh aktivitas para rahib dalam sehari itu ditutup dengan Ibadat Penutup (compline) yang berakhir pukul 20.15. Setelah itu, para rahib masuk ke kamar masing-masing untuk tidur dan menyongsong aktivitas serupa di hari berikutnya.&lt;br /&gt;Selalu berulang begitu setiap hari. Itu untuk hari-hari kerja biasa. Untuk hari Minggu atau Hari Raya, secara spesifik tak ada yang berubah, selain Pertemuan Komunitas atau bertemunya seluruh anggota biara seusai Ibadat Pagi.&lt;br /&gt;Dan Anda bisa membayangkan suatu kehidupan yang bergulir dengan hal yang sama setiap harinya.&lt;br /&gt;''Ini sudah jadi pilihan saya. Dan saya menjalaninya dengan bahagia,'' kata Frater Theodorus. Mungkin saja memang dia menyuarakan suara kawan-kawan sebiaranya. (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Jalan-jalan, Minggu 6 Agustus 2003)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-2158395529331800140?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/2158395529331800140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=2158395529331800140' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/2158395529331800140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/2158395529331800140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/hidup-wadat-dan-bersunyi-sunyi-di.html' title=''/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rqw92I6suWI/AAAAAAAAACM/hKLKuzqZShA/s72-c/6gsata2.em.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3666699721136324583</id><published>2007-07-28T23:21:00.000-07:00</published><updated>2007-07-28T23:29:57.057-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#6600cc;"&gt;Cerita dari Hutan Batu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;B&lt;/span&gt;AYANGKANLAH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; sebuah hutan. Pepohonan lebat, hijau, dan liar. Selalu ada misteri terserak di dalamnya. Bayangkanlah andai di hutan tersebut kelebatan, keliaran, dan kemisteriusan itu bukannya tercipta dari deretan pepohonan, melainkan batu-batu. Ya, batu-batu karsit hasil endapan ratusan juta tahun di dasar laut. Maka yang terpacak di benak adalah sebuah hutan batu. Dan itu bisa Anda temukan di distrik Lunan Yu, 120 kilometer di tenggara dari pusat kota Kunming, provinsi Yunnan, China. Orang China menyebutnya Shi Lin. Kita boleh memadankannya dengan istilah Hutan Batu, dan bagi turis internasional, ia biasa disebut Stone Forest.&lt;br /&gt;Stone Forest berisi tonggak-tonggak batu karsit besar yang menurut penelitian telah berusia 270 juta tahun. Batuan tersebut terbentuk oleh proses sedimentasi dasar laut. Dengan begitu, kita bisa membayangkan bahwa tanah Shilin atau Lunan Yu di Provinsi Yunnan China tersebut dulunya adalah lautan.&lt;br /&gt;Berdasarkan prasasti yang ada di lokasi dengan tulisan dalam huruf China dan terjemahannya dalam bahasa Inggris, disebutkan bahwa pada tahun 1931, Gubernur Yunnan yang bernama Long Yun berkunjung ke tempat tersebut dan terperangah oleh kedahsyatan bebatuan yang ada. Lalu dia menuliskan dua karakter China yang berbunyi Shi Lin atau Hutan Batu. Selanjutnya, inskripsi hasil tulisan tangan sang gubernur dipahatkan di salah satu batu di Da Shi Lin, sekaligus memberi nama loka tersebut.&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun, Stone Forest telah menjadi objek wisata tang tak pernah sepi pengunjung. Apalagi memang begitu banyak kemudahan untuk pergi ke lokawisata yang sangat terkenal tersebut. Di Kunming misalnya, begitu banyak biro travel yang menawarkan wisata ke tempat eksotis itu. Apalagi, begitu banyak orang asing melewatkan liburan musim panas di kota tersebut.&lt;br /&gt;Jumat (24 Juni 2005), bersama saya dalam satu mobil yang disediakan biro travel  Kunming Camellia Hotel, ada pasangan Clay dan Anna dari Australia, Alban Molle dari Prancis, James Wangzhu dari Singapura, dan Chang Faiyuk orang Kanada keturunan China. Iini mirip perwisataan pelbagai bangsa. Jadinya perjalanan terasa mengasyikkan karena kami bisa saling berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Paling tidak, saya tak perlu merasa tengah mendengarkan sinetron Mandarin tanpa pernah tahu maknanya seperti telah beberapa hari saya alami ketika berada di dalam alat transportasi umum. Sekadar catatan, orang China terkenal suka mengobrol di bus atau kereta dengan langgam bahasa mereka yang cepat.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan, ketika saling mengobrol, tema kedahsyatan Stone Forest sudah bergaung. Meskipun kami baru mereka-reka berdasarkan informasi yang kami dengar atau baca, seolah-olah kami akan menuju ke suatu tempat yang menakjubkan di dunia. Ya, mobil berjalan melalui banyak Express Way atau jalan bebas hambatan sebelum memasuki areal pedesaan dan pebukitan Yunnan yang terkenal alamiah tersebut. Di kanan kiri kami, terbentang ladang-ladang sayuran dan bebuahan. Untuk orang dari Indonesia yang tak pernah melihat tanaman persik dan plum, pedesaan Yunnan memberi tambahan pengetahuan. Apalagi, di musim panas itu, kedua tanaman itu sedang berbuah.&lt;br /&gt;Sekitar 4 kilometer sebelum lokasi Stone Forest, kami telah melihat bukit-bukit yang penuh dengan tonggak-tonggak batu. Dari kejauhan, lanskap tersebut lebih mirip pepuingan candi di areal yang sangat luas. Awal kekaguman kami sudah bermula dari situ. Sopir kami, orang China, yang bereaksi terhadap keheranan kami, mengucapkan kata-kata dalam Mandarin. James yang bisa berbahasa Mandarin menerjemahkannya untuk kami. Katanya, itu belum seberapa, karena luas areal Shi Lin atau Stone Forest sekitar 300 kilometer persegi. Alamak! Dan untuk wisata satu hari, paling-paling kami hanya bisa mengunjungi  &lt;em&gt;Daxiao Shi Lin&lt;/em&gt; (Hutan Batu yang besar dan kecil) saja.&lt;br /&gt;Dari literatur yang saya baca, Stone Forest memiliki 7 titik lanskap. Enam lainnya adalah &lt;em&gt;Naigu Shi Lin&lt;/em&gt; (Batu Hutan Hitam), &lt;em&gt;Daxiao Zhiyun Dong&lt;/em&gt; (Gua Batu Zhiyun Besar dan Kecil),  &lt;em&gt;Chang Hu&lt;/em&gt; (Danau Persegi), &lt;em&gt;Yue Hu&lt;/em&gt; (Danau Bulan), &lt;em&gt;Qifeng Dong&lt;/em&gt; (Gua Batu Angin Keras), dan &lt;em&gt;Da Dieshin&lt;/em&gt; (Air Terjun Besar).&lt;br /&gt;Dan meskipun Anda hanya punya kesempatan mengunjungi &lt;em&gt;Daxiao Shi Lin&lt;/em&gt;, tak perlu terlalu kecewa. Sebab, titik lanskapnya sendiri terbagi dalam banyak bagian yang menarik. Yakni, &lt;em&gt;Shi Lin Hu&lt;/em&gt; (Danau Hutan Batu Besar) Da Shi Lin yang juga dinamakan &lt;em&gt;Lizi Qing&lt;/em&gt; (Lembah Tanaman Plum), &lt;em&gt;Xiao Shi Lin&lt;/em&gt; (Hutan Batu Kecil), &lt;em&gt;Lizi Yuan&lt;/em&gt; (Perkebunan Plum), &lt;em&gt;Shizi Ting&lt;/em&gt; (Paviliun Singa), &lt;em&gt;Jiangfeng Chi&lt;/em&gt; (Kolam Ujung Pedang), &lt;em&gt;Wangfeng Ting&lt;/em&gt; (Paviliun Menara Pandang), dan &lt;em&gt;Lianhua Feng&lt;/em&gt; (Puncak Bunga Padma).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;AMPAILAH&lt;/strong&gt; kami di lokasi. Di loket masuk, kami harus membayar tiket seharga 80 RMB Yuan (sekitar Rp 96 ribu). Pelajar atau mahasiswa boleh membayar 50 RMB Yuan dengan menunjukkan kartu pelajar. Sekadar catatan, banyak tempat khususnya museum di China menggratiskan tiket untuk mereka. Si Prancis Alban rupanya ingin mendapat keistimewaan itu. Saya melihat dia menyodorkan &lt;em&gt;Carte d'Identité&lt;/em&gt; (KTP Prancis) miliknya sembari menyerahkan 50 RMB Yuan. Petugas di loket tak terlalu memeriksa dan menyerahkan tiket dengan harga tersebut. Saya bilang padanya, ''&lt;em&gt;Tu es intelligent d'économiser ton argent, hein?&lt;/em&gt;'' (Cerdik betul kau mengirit uangmu, ya?) Alban hanya tertawa.&lt;br /&gt;Beberapa pemandu yang kebanyakan gadis-gadis suku Sani dalam pakaian khas kaum Yi merubungi kami untuk menawarkan jasa. Kebanyakan dari mereka hanya tahu bahasa Mandarin dalam dialek setempat. Selain untuk James, tentu saja itu tak akan berarti buat kami. Akhirnya seorang pemandu yang mengaku bernama Inggris Lina (nama aslinya Ge Zhu Qing) mendatangi kami sembari meyakinkan bahwa hanya dia seorang di antara banyak pemandu di situ yang bisa berbahasa Inggris. Cukup murah harga yang ditawarkan. Hanya 80 RMB Yuan.&lt;br /&gt;Maka, kami mulai berjalan. Dan agaknya, Stone Forest memang mirip butir-butir gula yang selalu dikerubut semut. Begitu banyak orang di situ: pewisata dari berbagai bangsa, juga orang China, para pedagang, pemandu, atau sopir angkutan khusus wisata di situ yang harganya 200 RMB Yuan untuk sekitar dua jam.&lt;br /&gt;Situs pertama yang kami kunjungi adalah areal &lt;em&gt;Da Shi Lin&lt;/em&gt; (Hutan Batu Besar). Lina dengan kefasihan Inggrisnya tak henti-hentinya memberi penjelasan. Di situs tersebut, berjubel orang mengagumi pilar-pilar batu besar yang seolah-olah menantang langit yang ketika itu bermatahari sangat menyengat. Para pengujung sibuk memotret, memegangi kekerasan batu-batu karsit tersebut. Banyak pula yang menyewa kostum Yi untuk sekadar berpose dengan latar belakang tonggak-tongak batu. Apalagi biayanya hanya 10 RMB Yuan sekali pakai.&lt;br /&gt;Ya, berhenti di situs tersebut, saya membayangkan sebuah lanskap yang tak ubahnya sebuah hutan majal penuh pokok pepohonan besar yang terpotong-potong tanpa dedaunan. Hanya saja, pokok-pokok itu bukan kayu melainkan batu-batu karsit yang berusia ratusan juta tahun. Alangkah dahsyatnya! Dan itu baru awal perwisataan. Sebab, selanjutnya kami tak henti-henti dianugerahi gelimang keagungan alam yang memuaskan pandang.&lt;br /&gt;Dari Da Shi Lin kami meniti trap-trap yang melingkar-lingkar, menanjak dan menurun, berjalan satu demi satu memasuki celah-celah sempit di antara tongak-tongak batu. Sampai di ujung menara pandang, kami harus berjalan begitu berjejalan saking banyaknya pengunjung. Dari atas menara tersebut, keluasan lanskap (paling tidak di areal Daxiao Shi Lin) terpampang dari berbagai sudut. Geremengan dalam pelbagai bahasa terdengar seperti bunyi ribuan lebah di situ. Dan hampir semuanya menguarkan kekaguman.&lt;br /&gt;Masih banyak bagian yang harus kami kunjungi. Kami memang telah mulai merasa lelah. Tapi panduan Lina yang hampir selalu berbicara dalam nada riang sepanjang perjalanan, kesejukan udara di situ, serta keingintahuan kami untuk mengetahui lebih banyak lagi cukup membuat semangat kami tetap menyala. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;DI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Stone Forest, sepanjang menyusuri setiap celah batu, berhenti sesaat kreasi alam, pengunjung juga bakal disuguhi cerita di balik kemisteriusan bentuk bebatuannya. Menarik benar menyusuri setiap cerita yang seolah-olah terdedah dari bentuk sebuah batu. Apalagi pihak pengelola lokawisata membagi Stone Forest ke dalam bagian-bagian yang dibingkai dalam sebuah sekuel cerita.&lt;br /&gt;Maka jangan heran, pada sebuah persimpangan trap, Anda akan menjumpai sebuah tengara batu yang menunjukkan arah ke suatu bagian dengan nama unik. Keunikan nama-nama tersebut merujuk pada bentuk batu yang diandalkan. Memang secara umum, penamaannya lebih banyak berasal dari penglihatan pada bentuk batu yang ‘’seolah-olah’’ mirip suatu bentuk. Beberapa nama yang telah saya sebutkan di bagian sebelumnya, sudah memberi bukti betapa uniknya penamaan bagian-bagian situs di Daxiao Shi Lin.&lt;br /&gt;Beberapa diberi nama tanaman atau binatang. Sekali lagi, nama diberikan atas alasan kemiripan dengan rujukan benda nyatanya. Ambil contoh, batu yang diberi nama Dua Babi Bertarung, kalau dicermati puncak batunya memang sangat mirip dua kepala babi yang tengah mengadu moncong. Atau batu yang disebut Anggrek di Lembah Curam memang berada di bagian Stone Forest yang curam. Bentuk yang mirip bunga tersebut hanya bisa diamati dari sebuah puncak tangga bertrap. Begitu pula batu yang mirip burung merak, pohon cedar, kura-kura.&lt;br /&gt;Saat Lina menjelaskan bentuk-bentuk batu tersebut, saya teringat Gua Akbar di Tuban. Di tempat yang disebut terakhir, memang banyak stalaktit dan stalagmit yang mirip bentuk binatang tertentu.&lt;br /&gt;Di luar itu semua, cerita di balik batu semakin memesona ketika kita berhadapan misalnya dengan batu yang diberi nama Ibu dan Anak Tengah Berjalan-jalan. Bentuknya berupa dua tonggak batu besar yang kalau dipandang dari kejauhan memang mirip ibu yang tengah menggamit anaknya.&lt;br /&gt;Apalagi Lina yang memandu kami cukup humoris orangnya. Ketika menjelaskan bentuk batu tersebut, dengan tertawa dia menunjuk beberapa batu lagi dan mengatakan, ‘’Itu suami si ibu. Kalau yang itu paman si anak, dan yang satunya sang kakek.’’&lt;br /&gt;Boleh jadi Lina tak hanya tengah membanyol atau menyenangkan kami yang tengah dipandunya. Ketika sampai di batu yang disebut Perempuan yang Menunggu Suaminya, dia terlihat serius ketika memberi penjelasan. ‘’Anda lihat, dia seperti sangat bersedih dan penuh kepasrahan. Anda lihat bagian kepalanya? Itu sangat mirip dengan penutup kepala yang orang Sani pakai seperti saya. Dan bagi kami orang Sani di sini, batu-batu itu selalu menyimpan legenda dan membuat kaya budaya kami. Kami punya banyak cerita dari batu-batu itu.’’&lt;br /&gt;Dia menyebut sebuah legenda orang Sani mengenai terjunnya seorang lelaki ke dalam api akibat cintanya tak bertaut dengan seorang gadis. ‘’Anda tadi melihat batu Puncak Api. Kami memercayai dari batu itulah legenda dilahirkan.’’&lt;br /&gt;Aha, ketika itu saya teringat kisah kasih &lt;em&gt;incest&lt;/em&gt; Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang lalu memunculkan legenda Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Sebuah legenda yang lahir dengan merujuk pada bentuk puncak gunung yang mirip perahu terbalik. Tapi memang, setiap tempat selalu menyimpan legendanya sendiri dan itu memperkaya khasanah budaya yang berada di lingkungannya. Dan diakui atau tidak, legenda-legenda tersebut sering kali membuat tempat yang sedahsyat Stone Forest menjadi sangat bermakna.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;, Jalan-jalan Juli 2005)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3666699721136324583?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3666699721136324583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3666699721136324583' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3666699721136324583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3666699721136324583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/cerita-dari-hutan-batu-b-ayangkanlah.html' title=''/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3436353430673392567</id><published>2007-07-28T01:48:00.000-07:00</published><updated>2007-07-28T02:08:12.580-07:00</updated><title type='text'>Film ''Berbagi Suami''</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Halus tapi Menyengat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;HAI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; para istri, ingin membagi suami Kalau ya, jangan tonton film &lt;em&gt;Berbagi Suami&lt;/em&gt; karya dan sutradara Nia diNata yang diproduksi Kalyana Shira Film (rilis pertama 23 Maret lalu). Anda mengurungkan keinginan itu. Sebab, lewat film itu Nia begitu ''kejam'' menghujat perempuan dan laki-laki yang terlibat poligami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia memang tak mengeluarkan umpatan penghujatan yang kasar. Bahkan, bahasa sinematografisnya cenderung mirip prosa liris. Sebagai penulis skenario, dia cukup jenius mengembangkan alur cerita yang sangat sederhana, banal, lurus tanpa liukan yang menjebak kerumitan penceritaan, sangat sehari-hari, dan asyik disimak. Apalagi dia merekatkan tiga cerita yang sebenarnya berbeda setting dan tokoh menjadi satu jalinan cukup rapi. Tokoh-tokoh itu bisa saling bertemu pada suatu situasi tanpa kesan sengaja dipertemukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi, penonton tak perlu mengerutkan dahi mereka-reka hubungan antartokoh dan tetap merasa berada di dalam satu cerita. Untuk tema sekontroversial poligami, pengembangan cerita serupa itu menunjukkan kecerdasan tertentu seorang penulis skrip film. Nia tak memberi ribuan dalil dan konsep perpoligamian. Dia hanya bercerita tentang tiga perempuan dari kelas sosial dan suku berbeda, tetapi mengalami nasib serupa: terlibat poligami dan (selalu) hanya jadi sang korban ''kuasa'' lelaki.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketiga perempuan itu, Salma (Jajang C Noer), Siti (Shanty), dan Ming (Dominique A Diyose) memang menjadi fokus pengisahan. Salma, dokter kandungan yang telah hidup mapan pada suatu ketika harus menghadapi kenyataan bahwa Pak Haji (El Manik), suaminya telah punya istri lain bernama Indri (Nungky Kusumastuti). 10 tahun berlalu dan Salma belum sepenuhnya bisa berkompromi dengan poligami itu, muncul tokoh Ima (Atiqah Hasiolan), madunya yang kedua. Ketika dirinya merasa telah bisa menerima ''takdir'' itu, datang perempuan berikutnya (Laudya Cynthia Bella) di pusara pada saat pemakaman Pak Haji. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siti, gadis Jawa polos, terpaksa melupakan cita-citanya karena Pak Lik (Lukman Sardi) mengawininya sebagai istri ketiga. Berbeda dengan Pak Haji, dua istri Pak Lik, Sri (Ria Irawan) dan Dwi (Rieke Diah Pitaloka) tak hanya merestui, keduanya malah memaksa Siti untuk menganggukkan kepala. Kedatangan Santi (Janna Karina S), istri keempat Pak Lik dari Aceh pun tanpa penolakan. Kisah lesbian Dwi dan Siti pada akhirnya membuat keduanya lari dari Pak Lik. Ming, gadis keturunan Tionghoa, selama beberapa waktu harus merahasiakan bahwa dirinya adalah istri muda Koh Abun (Tio Pakusadewo) dari Cik Linda (Ira Maya Sopha), sang istri tua. Padahal, hampir setiap hari mereka bersama, baik ke pasar atau di restoran bebek milik sang engkoh. Ketika terketahui, penolakan hebat pada status Ming muncul dari Cik Linda dan dua anak perempuannya. Ming akhirnya sendiri lagi ketika keluarga Koh Abun ke Amerika.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti telah disebutkan, tuturan ceritanya begitu sederhana dan lurus. Memang ada suspens-suspens. Tapi agaknya dalam film itu, untuk sebuah kejutan, Nia lebih menyukai teknik pengambilan bersahaja tanpa &lt;em&gt;snapshot&lt;/em&gt; berlebihan atau teknik &lt;em&gt;zoom in&lt;/em&gt;. Contohnya, kemunculan sosok Ima sebagai istri ketiga Pak Haji hanya ditampilkan dengan gambar seorang perempuan muda berkacamata yang tercenung sedih di lobi ruang ICU tempat Pak Haji dirawat.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TAPI&lt;/strong&gt; tuturan sederhana akan menjadi kisah yang kurang darah tanpa pengekplorasian gejolak psikologis, khususnya pada tokoh perempuan yang sedang bercerita. Nah, untuk itu, Nia memakai sudut pandang pengisahan ''keakuan'' (dengan teknik &lt;em&gt;voice off&lt;/em&gt; atau VO) dari Salma, Siti, dan Ming. Sayangnya, menurut saya, teknik tersebut menjadi poin terlemah film Berbagi Suami, khususnya karena artikulasi yang agak cacat. Jajang yang bersuara serak dan cenderung cedal, Shanty yang aksen Jawanya dimedhok-medhok-kan, atau Ming yang suara kekanakannya sering kehilangan tonalitas artikulatifnya sedikit mengganggu penonton dalam menyimak kisah. Pada banyak adegan, VO itu seperti ''lenyap'' ditelan gambar yang tersaji. Untungnya, cacat kecil itu tertutupi banalitas dialog dan ekspresivitas akting para tokoh. Untuk soal itu, paling kuat fragmen Siti di mana dialog-dialog yang renyah terjadi di antara ketiga istri Pak Lik. Meskipun pada beberapa bagian, vokal Rieke sering terasa cempreng seperti suara ''Oneng'' pada sinetron Bajaj Bajuri. Namun, kepiawaian akting dan artikulasi mantap Ria Irawan patut diacungi jempol. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Irama adegan yang bagus dengan tempo cepat ikut menunjang hidupnya fragmen tersebut. Kalau harus diperbandingkan, beberapa bagian adegan pada fragmen Salma jadi terasa sangat lambat dan agak membosankan. Karena itu, mungkin akan lebih menarik bila fragmen Siti ditempatkan pada kisah pertama sebelum fragmen Salma sehingga awalan filmnya bakal mematri ketertarikan penonton. Pada fragmen Ming, kepiawaian berakting Tio Pakusadewo yang berperan sebagai orang Tionghoa jadi titik kuat. Ira Maya Sopha juga cukup ciamik berperan sebagai perempuan nyinyir. Sedikit kelemahan Dominique, khususnya pada tonalitas artikulasinya jadi tertutupi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Editing yang digarap Yoga K Koesprapto juga patut diberi kredit bagus. Sentuhannya membuat film garapan Nia tidak monoton dan berirama liris. Patut diapresiasi pula kostum pemain yang didesain Tania Soeprapto. Ambil contoh, pakaian para istri Pak Lik yang beraksen sangat kuat dari sisi eksotika kaum urban di kota semetropolis Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;DI&lt;/strong&gt; luar itu semua, kalau diringkas &lt;em&gt;Berbagi Suami&lt;/em&gt; adalah kisah pergolakan batin tiga perempuan yang terlibat dalam poligami. Sebagai penulis skenario, Nia terlihat begitu antusias ''memakai'' ketiganya sebagai penyambung konsepsinya mengenai kecenderungan suami berbanyak istri. Jadi, kalau ditilik secara ekstrem, para suami seperti itulah sasaran bidiknya. Ada kecenderungan besar bahwa apapun alasannya, Nia tetap tidak setuju dengan cara Pak Haji, Pak Lik, dan Koh Abun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi sekali lagi, dia tak asal menghakimi. Dia masih memberi muatan bagus pada Pak Haji yang menyarankan Nadim (Winky Wiryawan), satu-satunya anak dari Salma agar dia hanya beristri seorang saja. Koh Abun pun digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai Ming dengan tulus dan tak ingin menjadikannya semata gundik. Hanya saja, pada Pak Lik, Nia seperti sangat kejam. Itu pun masih dengan ungkapan halus. Satu contoh, dialog batin yang diucapkan Siti: ''Pak Lik bagaikan sultan keraton dengan selir-selirnya. Dia tidak sadar virus penyakit kotor sudah menggerogoti kami semua.'' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Halus tapi menyengat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi, tak ada sesuatu yang baguskah pada poligami? Film Nia menjawab, ''&lt;em&gt;nothing but chaos&lt;/em&gt;''. Padahal, sebagai seorang suami, kalau boleh berangan-angan, saya ingin menjadi Pak Lik dengan istri-istri yang rukun serumah, tapi dengan kualitas lain. Dia tak otoriter, setulus Koh Abun, dan sekaya Pak Haji.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena itu, wahai para istri, kalau tak ada keinginan membagi suami dengan perempuan lain, tonton film itu, simak betul-betul, pastilah Nia diNata ada di pihak Anda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;Saroni Asikin&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;-Minggu, 26 Maret 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3436353430673392567?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3436353430673392567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3436353430673392567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3436353430673392567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3436353430673392567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/film-berbagi-suami.html' title='Film &apos;&apos;Berbagi Suami&apos;&apos;'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3755980832231583357</id><published>2007-07-24T02:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T03:08:58.908-07:00</updated><title type='text'>Tinta Abu-abu Perdamaian</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SIAPA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; tak ingin perdamaian? Siapa pula ingin terus hidup dalam pertikaian tanpa ujung? Maka ketika tahu Kresna pergi ke Hastinapura sebagai duta Pandawa, orang-orang berkerumun di tepi jalan mendengungkan madah dan menaburkan bebungaan. Mereka sangat mengharapkan Raja Dwarawati itu mampu menjadi juru damai dalam konflik panjang anak turun Bharata.&lt;br /&gt;Semua orang menunggu keberhasilan sang Kresna sebagai juru damai. Bahkan sebuah tembang kinanti menggambarkan antusiasme itu, meskipun dengan agak konyol.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para dyah akeh kesusu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;gelung wudar tan tinolih&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;miwah kekembene lukar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;nora sedya den rawati&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pembayun sinangga ngasta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kayungyun kesa ngatitih&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Lihat, betapa para gadis tak sempat menggelung rambut atau membetulkan busana yang acakadut hanya demi &lt;em&gt;mangayubagya&lt;/em&gt; sang juru damai.&lt;br /&gt;Namun, bahkan dalam histeria konyol itu, Kresna tak bisa melepas seguris senyuman. Sebab, dia sadar benar, kedatangannya menghadap Duryudana bukan sekadar untuk menuntut hak Amarta atas Pandawa. Dia membawa keinginan banyak orang agar pertikaian panjang Pandawa-Kurawa segera berakhir.&lt;br /&gt;Dia tahu pasti, &lt;em&gt;mission sacre&lt;/em&gt; (tugas suci) itu bisa saja hanya sebuah &lt;em&gt;mission impossible&lt;/em&gt; (misi muskil). Dan kita tahu, lakon Kresna Duta tak berakhir dengan sebuah kesepakatan. Karena, telinga Duryudana seolah-olah dipenuhi suara kerakusan Sangkuni, Jayajatra, atau Burisrawa. Telinganya tuli oleh suara perdamaian dari Bhisma, Durna, Widura, Kripa, dan bahkan dari sang ayah, Destarastra.&lt;br /&gt;"Sudahlah, anak-anakku, tolong kalian jangan kelewat rakus. Punya separo negeri cukuplah sudah dan kita bisa hidup penuh perdamaian," teriak Destarastra yang buta.&lt;br /&gt;Namun telinga Duryudana telah begitu pekak untuk bisa mendengar teriakan orang tua itu. Alih-alih sebuah kesepakatan damai, akhir cerita ''&lt;em&gt;Udyogaparwa''&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;Mahabharata&lt;/em&gt; itu seolah-olah malah menjadi picu bagi konflik baru yang lebih besar. Gaung perang Bharatayuda ditabuh ketika itu. Kutukan menakutkan terlontar dari Kresna yang marah ketika &lt;em&gt;tiwikrama&lt;/em&gt; menjadi sesosok raksasa, "Kebenaran akan terungkap, hai Kurawa. Kalian bakal &lt;em&gt;palastra&lt;/em&gt; dalam Bharatayuda."&lt;br /&gt;Mungkin kita bertanya, mengapa Kresna yang notabene seorang duta bisa semarah itu? Bukankah tindakan itu melewati batas-batas tugas seorang &lt;em&gt;caraka&lt;/em&gt;, paling tidak dalam konsepsi perundingan modern? Mungkin kita bisa memaklumi kemarahan Kresna. Mungkin pula kita bisa memaklumi kegagalannya sebagai duta. Sebab, dalam terminologi wayang, dia hanyalah seorang titah dan di atasnya ada organisasi perdewaan yang lebih berkuasa. Dan, para dewa memang telah menyiapkan &lt;em&gt;Serat Jitapsara&lt;/em&gt;, kitab perang &lt;em&gt;Bharatayuda&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Ya, dalam lakon itu kita mendengar sang dalang berteriak, "&lt;em&gt;Bharatayuda kudu dadi&lt;/em&gt;." Maka, kita tahu upaya perundingan damai itu harus gagal demi sebuah skenario besar yang diciptakan kekuasaan yang lebih besar lagi. Kita tahu pula mengapa beberapa dewa mengiringi Kresna ke Hastinapura adalah juga bagian dari permainan besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAYA&lt;/strong&gt; yakin, kita tak mau ada skenario besar para dewa di balik penandatanganan nota kesepahaman perdamaian antara RI dan GAM. Kita tak ingin para fasilitator itu bukan Kresna yang bijak, melainkan raksasa marah yang terjelma dari &lt;em&gt;tiwikrama&lt;/em&gt;-nya. Kita tak mau Helsinki hanyalah Hastinapura yang selalu penuh dengan keculasan. Kita tak mau ratusan pemantau asing itu hanya serupa Bhisma, Durna, Kripa, atau Widura yang berusaha meneriaki kepongahan dan keculasan Duryudana, tetapi lalu bergeming. Lebih-lebih lagi kita tak ingin mereka malah bermuka Sangkuni.&lt;br /&gt;Saya yakin, kita sangat ingin &lt;em&gt;sigar semangka&lt;/em&gt; yang ditawarkan Pandawa via Kresna benar-benar sebuah solusi tepat. Kita sangat ingin Aceh itu sebuah &lt;em&gt;nanggroe&lt;/em&gt; (negeri) yang benar-benar &lt;em&gt;darussalam&lt;/em&gt; (wilayah damai).&lt;br /&gt;Memang kita tahu, tak semua orang Aceh paham soal nota kesepahaman itu, seperti beberapa kelompok di belahan lain Nusantara tak selalu bulat menerima itu. Lihat sekitar kita, skeptisisme muncul dalam bentangan spanduk di tepi-tepi jalan yang berbunyi "Kita cinta damai, tapi lebih cinta NKRI".&lt;br /&gt;Ya, pada sebuah perundingan yang telah tertandatangani, kita memang acap harus bersikap skeptis. Tak hanya Kresna yang gagal sebagai duta perdamaian, Sunan Giri pun dalam &lt;em&gt;Babad Tanah Jawi&lt;/em&gt; (mungkin) merasa perlu menyesali pilihan perdamaian yang ditawarkan dalam konflik antara Panembahan Senopati dari Mataram dan Pangeran Surabaya yang mewakili para bupati dari &lt;em&gt;brang&lt;/em&gt; wetan. Seperti Kresna yang punya formula &lt;em&gt;sigar semangka&lt;/em&gt;, Sang Sunan menawarkan pilihan yang lebih bersifat filosofis: isi atau wadhah.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Layang ingsun Kangjeng Sunan Giri dhawuha marang putra ningsun Senapati ing Mataram lan dhawuha marang putra ningsun Pangeran Surabaya. Liring layang, nggonira bakal perangan iku ingsun ora nglilani, krana bakal akeh pepati, ngrusakake wong cilik. Ing mengko sira loro miliha: isi lan wadhah. Yen sira wis padha milih isi lan wadhah mau ing sasenengira dhewe-dhewe, tumuli padha atuta, lan padha sukura ing Allah. Lan ing mbesuk, menawa ana kersaning Allah, sira padha tinitah luhur utawa andhap, narimaa ing pepesthen. Titi&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;Pangeran Surabaya memilih isi, sedangkan Senapati mendapat bagian wadah. Namun dari situ pulalah muncul konflik berlarut antara Mataram dan wilayah brang &lt;em&gt;wetan&lt;/em&gt; seperti Tuban, Sedayu, Lamongan, Gresik, Malang, dan Kediri. Senapati seolah-olah mendapat sebuah "piagam" aneksasi wilayah karena pilihannya. Bahkan, pilihan itu seolah-olah memperoleh kebenaran asketis, beroleh restu dari langit. "&lt;em&gt;Wruhanira, wis pinesthi karsa Allah, Senapati nggonge nampani wadhah iku wis kebeneran. Wadhah iku negara, isi iku uwonge. Ing semangsane uwong ora nurut marang kang duwe bumi, mesthi bakal ditundung&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;Ya, mengapa Giri menawarkan pilihan yang memang adil, tetapi lalu berujung pada keuntungan di satu pihak dan kebuntungan di pihak lain? Dia menawarkan perdamaian dengan rasa keadilan, tetapi (mungkin) tak dinyana itu berbuah pertikaian terus-menerus? Apakah Giri tak tahu ekses buruk tawaran pilihannya? Untuk pertanyaan ini, saya patut mempertanyakan &lt;em&gt;ilmu laduni&lt;/em&gt; Sang Kanjeng Sunan, ilmu yang bisa &lt;em&gt;weruh sadurunge winarah&lt;/em&gt;. Namun itu mungkin tak perlu kita berpanjang peneraan. Yang pasti, sebuah perundingan, betapa pun semua klausulnya menguntungkan kedua pihak yang berseteru, hanyalah sebuah upaya, sebuah ikhtiar yang patut pula disikapi secara skeptis.&lt;br /&gt;Boleh jadi, apa yang dilakukan Kresna, juga Giri, disemangati oleh kerinduan nuraniah akan perdamaian. Paling tidak, itu sebuah semangat mulia, sebuah &lt;em&gt;mission sacre&lt;/em&gt;. Lebih ngeri lagi andai kita membayangkan sebuah perundingan yang dilakukan hanya sebagai muslihat atau jalan yang melempangkan plot skenario yang lebih besar seperti para dewa yang telah mengguratkan &lt;em&gt;Jitapsara&lt;/em&gt;. Kita ingat bagaimana Pangeran Diponegoro masuk perangkap licik Belanda yang berselubung sebuah perundingan di Makassar. Perundingan itu hanya melempar sang Pangeran ke jeruji besi hingga maut menjemput. Dalam versi ketoprak &lt;em&gt;brang wetanan&lt;/em&gt;, kita juga menyaksikan aksi tipu-tipu Sunan Kudus yang mempertemukan Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya. Dalam cerita ketoprak itu, sang sunan adalah pendukung dan pemberi restu Adipati Jipang Panolan dan sebagai juru damai, dia jelas berpihak. Namun tentu tak semua perundingan bermula dan berakhir dengan cara-cara seperti itu. Sebab, "Bila ada luka, kita harus coba sembuhkan. Bila sakit seseorang bisa kita sembuhkan, kita harus mengupayakannya," ujar dokter Iannis dalam film &lt;em&gt;Captain Corelli's Mandolin&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Ya, bila luka Aceh masih bisa disembuhkan, kenapa kita tidak mengupayakannya? Meskipun mungkin kepala kita telah penuh cerita keculasan yang membuat kita sering tak lagi percaya pada niat baik.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;)* Tulisan di Rubrik ''Pamomong'' Suara Merdeka, 2004 (lupa tanggalnya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3755980832231583357?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3755980832231583357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3755980832231583357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3755980832231583357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3755980832231583357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/tinta-abu-abu-perdamaian.html' title='Tinta Abu-abu Perdamaian'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-106090062899364573</id><published>2007-07-21T23:42:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T03:19:29.546-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pencarian Identitas Batik Semarang: Realitas dan Harapan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh Saroni Asikin )*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SABTU&lt;/strong&gt; (21 Juli 2007) di Pekalongan dalam ‘’Bincang Batik Kontemporer’’, panitia menyebutkan nama peserta yang diundang dari kalangan komunitas pembatik di banyak daerah. Solo, Lasem, Cirebon, bahkan Riau disebut, tapi Kota Semarang sama sekali tak disebutkan. Saat itu saya berpikir, apakah komunitas batik nusantara belum mengakui atau belum tahu kalau sekarang ini Semarang punya orang-orang yang aktif di bidang tekstil ini?&lt;br /&gt;Kenyataannya, coba tanyakan pada seseorang mengenai batik di Jawa. Sangat mungkin dia bakal menyebut nama Surakarta atau Solo, Yogya, Pekalongan, Lasem, atau Cirebon. Tempat-tempat itu sudah menjadi semacam sebutan baku ketika orang membincangkan motif batik atau aktivitas perbatikan.&lt;br /&gt;Kalau diperlihatkan selembar kain batik, seseorang yang suka atau paham soal perbatikan, sangat mungkin bisa dengan cepat menyebut jenisnya. ‘’Oh, ini batik gaya Solo, yang itu Jogja. Kalau yang itu &lt;em&gt;Laseman&lt;/em&gt;, itu &lt;em&gt;Cirebonan&lt;/em&gt;, sementara yang itu Pekalongan.&lt;br /&gt;Beberapa orang yang sudah terbilang &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt; dalam mencermati kekhasan motif batik di daerah-daerah bahkan bisa dengan cepat membandingkan satu batik dengan batik lainnya. Dia bisa mengenali mana batik Bakaran Pati, Tegal, Kebumen, Banyumas, atau Purworejo.&lt;br /&gt;Tapi mana batik Semarang? Coba tanya saja, apakah Semarang juga punya batik? Sangat mungkin jawabannya hanya berupa gelengan kepala. Beberapa pemerhati batik di Kota ATLAS ini menyebut kenyataan seperti itu agak ironis. Pasalnya, kalau dengan dibandingkan kota-kota kabupaten lainnya di Jateng,  ‘’ketiadaan’’ tengara batik di kota sebesar Semarang, kota bersejarah panjang dan menjadi ibukota provinsi, boleh dibilang sangat mengherankan dan memprihatinkan.&lt;br /&gt;Persoalan mengenai apakah Semarang punya sesuatu yang layak dikedepankan dalam hal kreasi tekstil ini memang memikat ditelusur. Kalau kita menengok wacana belakangan mengenai revitalisasi batik di tiap daerah dengan keyakinan setiap daerah punya batik khas, maka Semarang juga patut dipertimbangkan. Pemerhati batik seperti Judi Achjadi atau Asmoro Damais yang mengatakan tak ada batik berkategori ‘’Batik Semarang’’, kenyataannya juga punya asumsi bahwa semestinya pada zaman dahulu ada perbatikan di Semarang. Asumsi itu berdasar atas tradisi perempuan yang suka batik atau keterampilan membatik di kalangan perempuan pada hampir semua kota di Jawa. Jadi, dalam hal ini, nama Semarang baru disebut hanya sebagai loka atau tempat aktivitas perbatikan, bukan sebagai tengara atau motif khas yang bisa langsung disebut sebagai Batik &lt;em&gt;Semarangan&lt;/em&gt;. (Beberapa pemerhati Batik sepakat penggunaan istilah Batik Semarang untuk batik-batik yang dibuat di Semarang, sementara batik Semarangan sudah merujuk pada gaya berupa pola desain, corak, motif yang mencakup juga kekhasan latar, warna, dan &lt;em&gt;isen-isen&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Dalam beberapa gelaran pameran batik yang mengusung atribut Batik Semarang juga sering muncul kebelumpercayaan bahwa Semarang punya batik yang menjadi ciri khasnya. ‘’Apakah Batik Semarang hanya memunculkan motif flora dan fauna saja. Seperti itukah yang disebut &lt;em&gt;Batik Semarangan&lt;/em&gt;?’’&lt;br /&gt;Sering pula muncul pertanyaan, ‘’Apakah kreasi batik Indoeropa seperti yang dilakukan Ny Ossterom dan Ny Franquemont, atau kreasi orang Tionghoa peranakan sudah merepresentasikan sesuatu yang bisa dipahami sebagai &lt;em&gt;batik Semarangan&lt;/em&gt;?’’&lt;br /&gt;Itu antara lain pertanyaan yang masih menyangsikan keberadaan Batik Semarang. Adakah batik yang bisa disebut batik Semarangan? Kalau ada, apa polanya yang dianggap khas?&lt;br /&gt;Sisi baik dari kesangsian tersebut adalah munculnya wacana mengenai perlunya pencarian identitas batik yang secara karakteristik bisa disebut Semarangan. Para inteletual pemerhati batik, perajin, dan orang-orang yang concern terhadap jenis tekstil ini masih pula belum bisa mengambil sebuah simpulan. Tapi hampir semuanya sepakat, bahwa pada masa lalu, Semarang pernah punya aktivitas perbatikan. Artinya, ada jejak historis yang bisa dipakai sebagai pijakan. Nama Kampung Batik di sekitar wilayah Bubakan, Kota Semarang bisa dijadikan tengara mengenai jejak historis itu.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, dalam beberapa literatur, muncul beberapa batik yang tegas-tegas disebut Batik Semarang, khususnya dalam ulasan mengenai batik pesisir. Begitu pula muncul beberapa nama yang disebut sebagai pengusaha batik di Semarang.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya muncul beberapa perajin batik yang intensif mengusung motif dengan ciri khas Semarang. Sekadar contoh, motif batik &lt;em&gt;Warak Ngendog&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Pandan Arang&lt;/em&gt; kreasi Neni Asmarayani (tahun 1970-an), &lt;em&gt;Semen Dampo Awang, Jembatan Mberok&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Ya’ik Permai&lt;/em&gt; kreasi Sanggar Batik Sri Retno (1970-1980-an), serta belasan kreasi Batik Semarang 16 (tahun 2006) seperti &lt;em&gt;Tugu Muda Kekiteran Sulur, Blekok Srondol&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Lawang Sewu Ngawang&lt;/em&gt;.  Tentu saja motif-motif seperti itu tak bisa dijumpai pada batik mana pun di nusantara selain di Semarang. Bersama-sama dengan motif-motif lain yang serupa, maksudnya yang memunculkan ikon khas Semarang, tak bisakah lalu disebut saja sebagai Batik Semarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mari kita lihat jejak-jejak itu...&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang dibuat di Semarang. Dalam bukunya bertajuk &lt;em&gt;Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade, and Transformation&lt;/em&gt; ( 2003),  Maxwell menyebutkan, kain berukuran 106,5 x 110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif batik Surakarta atau Yogyakarta.&lt;br /&gt;Bertemakan militer, batik yang diproduksi pada abad ke-19 itu menggambarkan barisan serdadu, pembawa panji-panji, pemain musik, dan para bangsawan yang naik kereta kuda. Menurut catatan museum, motifnya menggambarkan perayaan &lt;em&gt;Garebeg&lt;/em&gt; di Kesultanan Yogyakarta. &lt;em&gt;Kepala&lt;/em&gt;-nya bermotif jajaran ornamen ganda berbentuk segitiga dan geometris yang merupakan tipe desain kain panjang yang diproduksi di Jawa untuk pasar Sumatra.&lt;br /&gt;Kenapa bisa berada di Tropenmuseum? Maxwell menjelaskan, batik itu ada di antara barang-barangan dagangan dari Hindia Timur yang dikirim ke negeri Belanda.&lt;br /&gt;Peneliti lain, Pepin van Roojen, juga menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang dia tulis dalam bukunya berjudul &lt;em&gt;Batik Design&lt;/em&gt; (2001). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornamen berupa &lt;em&gt;bhuta&lt;/em&gt; atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berpola ceplok. Ini menunjukkan, meskipun secara spesifik batik Jawa Tengahan yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir -Semarang termasuk di dalamnya-, tetapi pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada motif berpola ceplok itu.&lt;br /&gt;Ada pula peneliti batik yang menegaskan, batik Semarang, dalam beberapa hal memperlihatkan gaya &lt;em&gt;Laseman&lt;/em&gt;. Karakter utama Laseman berupa warna merah (&lt;em&gt;bangbangan&lt;/em&gt;) dengan latar gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan, &lt;em&gt;Laseman&lt;/em&gt; dengan ciri bangbangan memengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya, dan Semarang.&lt;br /&gt;Peneliti lain, Maria Wonska-Friend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa pola floral, yang dalam banyak hal sangat mirip pola &lt;em&gt;Laseman&lt;/em&gt;. Tak heran, pada koleksi Rudolf G. Smend, banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja, atau batik Semarang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Nyonya Ossterom &amp; Nyonya Fraquemont&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dua orang Indoeropa ini punya kontribusi besar dalam sejarah batik di Semarang. Keduanya membuka workshop di wilayah Semarang. Beberapa contoh kreasi mereka bisa disebutkan.&lt;br /&gt;Nyonya van Ossterom pada abad ke-19 membuat batik dengan pola yang lumayan rumit pada bagian papan dan kepala-nya. Misalnya itu ditunjukkan pada batik yang menggambarkan 59 tokoh wayang kulit, termasuk naga dan garuda. Itu juga dijumpai pada kreasi lain sang mevrouw berupa sarung dengan motif legenda China.&lt;br /&gt;Ada catatan menyebutkan, orang ini lalu pindah ke Banyumas untuk meneruskan usaha pembatikannya. Pasalnya, tempat produksinya hancur terkena letusan Gunung Ungaran. Salah satu kreasinya berupa sarung yang dikoleksi H Santosa Dullah (Batik Danar Hadi) dalam pola Sirkus yang antara lain menggambarkan penunggang kuda, orang dansa, bangunan mirip kastil, pohon palma, dilengkapi dedaunan dan burung yang sangat mirip phoenix.&lt;br /&gt;Carolina Josephina von Franquemont yang aktif berproduksi pada dekade 1850-1860 pernah membuat sarung berkualitas bagus. Sarung buatan tahun 1850 itu mengombinasikan beberapa elemen: badannya bermotif garis miring, dipisahkan dengan pola motif ombak berisi ikan sebagai isen. Detail badannya berisi kehidupan di air seperti ikan, kerang, kura-kura, tanaman bawah air, kapal layar, dan seorang anak kecil di atas biduk bermahkotakan naga. Papan dan tumpalnya didekorasi dengan daun dan buah pohon eks.&lt;br /&gt;Kedua orang tersebut mewakili peran para wanita Indo-Eropa yang menjadi motor penggerak kerajinan batik di Pesisiran Jawa. Meskipun waktu produksinya tak selama Eliza Chralotta van Zuylen yang berproduksi di Pekalongan, kedua perempuan itu tetap memberi kontribusi penting bagi sejarah Batik Semarang.&lt;br /&gt;Ada dua koleksi batik Fraquemont yang dikoleksi H Santosa Dullah berupa sarung dengan pola &lt;em&gt;Dewi Hsi-Wang Mu&lt;/em&gt;, dan pola &lt;em&gt;Wayang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tan Kong Tien&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-20, ditemukan sebuah perusahaan batik yang cukup besar di Semarang. Namanya “Batikkerij Tan Kong Tien”, yang awalnya berada di daerah Bugangan Semarang ini milik seorang lelaki peranakan Tionghoa bernama Tan Kong Tien.&lt;br /&gt;Catatan yang ditulis Dr Dewi Yuliati, peneliti batik dari Undip Semarang, menyebutkan keterampilan membatik dan mengelola perusahaan batik Tan Kong Tien didapat dari istrinya yang bernama Raden Ayu Dinartiningsih, salah seorang keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono III dari Kasultanan Yogyakarta. Tan Kong Tien sendiri merupakan anak dari Tan Siauw Liem, seorang tuan tanah di Semarang yang mendapat kehormatan gelar mayor dari pemerintah Hindia Belanda.&lt;br /&gt;Pernikahan antara Tan Kong Tien dengan RAy Dinartiningsih menurunkan Raden Nganten (RNg) Sri Murdijanti. Dialah anak yang meneruskan usaha batik hingga tahun 1970-an. Ia sendiri mendapat kepercayaan untuk memonopoli batik di wilayah Jawa Tengah dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) pasca-Perang Kemerdekaan.&lt;br /&gt;Uniknya, proses produksi kebanyakan dilakukan di rumah-rumah para pembatik yang tergabung pada perusahaan itu. Singkatnya, merekamenerapkan pola home industry yang tersebar di kampung Rejosari, Kintelan, Kampung Batik, Karang Doro, Mlaten Trenggulun, Kampung Darat, dan Kampung Layur. Produksi dari kampung-kampung tersebut tidak dilakukan secara massal, namun hanya dilakukan berdasar pesanan belaka. Yang menjadi pertimbangan adalah waktu yang dibutuhkan sangat panjang, rata-rata satu bulan untuk selembar kain.&lt;br /&gt;Masih dalam catatan Dewi Yuliati, motif-motif batik dari “Batikkerij Tan Kong Tien”, merupakan hasil akulturasi motif pesisiran yang berkarakter terbuka dan motif keraton, khususnya Yogyakarta yang berkarakter simbolis. Perpaduan ini bisa dipahami sebagai bagian adaptasi persentuhan antara Tan Kong Tien yang orang pesisiran Semarang dengan istrinya yang orang keraton. Sebagai contoh, motif dasar parang yang merupakan motif batik keraton, seringkali dipadu dengan motif burung merak. Di sini terlihat sekali akulturasi gaya ekspresi peradaban keraton yang penuh simbol (digambarkan dalam parang), dan karakter pesisiran yang lebih realis dan terbuka (motif Merak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Neni Asmarayani&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1970-an, perempuan ini membuka semacam galeri batik di rumahnya di Jl Seroja Dalam. Dalam penciptaan desain, dia melibatkan beberapa pelukis dan seniman ternama ketika itu seperti R Hardi, Bagong Kussudiarjo, dan Kusni. Paling tidak, ada dua motif bernuansa Semarang yang diciptakan, yaitu &lt;em&gt;Warak Ngendog&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Pandan Arang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Sayang tak diketahui sampai kapan perempuan itu berkreasi. Beberapa orang yang sempat mengenalnya mengatakan, perempuan itu telah meninggal dan anak-anaknya yang (katanya) tinggal di Sragen tak melanjutkan usaha pembatikan. (Dan sungguh sayang, sampai tulisan ini dibuat saya masih belum mendapat informasi di mana keluarga Ny Neni, paling tidak nomor telepon yang bisa dilacak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sri Retno&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada dekade bersamaan, ada sebuah perusahaan batik yang dikelola orang pribumi Jawa di daerah Jatingaleh Semarang. Namanya Sri Retno yang dikelola oleh Oentoeng Suwardi dan istrinya Tamsiyati. Selama berdiri dari 1973 hingga 1982, nama perusahaan ini cukup penting bagi industri batik di Semarang. Sama seperti yang sudah-sudah, pasarnya meliputi kalangan pejabat, pelancong, dan tamu-tamu asing yang punya urusan dengan pemerintahan Provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Nilai penting batik Sri Retno ini bertumpu pada beberapa kreasi yang memadukan gaya Batik pesisiran dengan keraton seperti yang dilakukan “Batikkerij Tan Kong Tien”. Batik pesisiran yang dimaksud dalam hal ini adalah pola-pola desain batik Pekalongan yang punya citra tersendiri. Ini wajar mengingat keluarga pemilik perusahaan batik Sri Retno berasal dari Batang, sebuah kabupaten yang berada di sebelah timur Pekalongan.&lt;br /&gt;Yang pantas dicatat pada Sri Retno adalah inovasi yang dilakukannya dalam hal motif. Karena bertempat produksi di Semarang, jejak-jejak kekhasan kota tersebut juga menjadi sumber eksplorasi penciptaan motif batiknya. Dalam hal ini, Sri Retno telah berani menciptakan motif yang tak belum dijumpai dalam kreasi batik yang diproduksi di Semarang.&lt;br /&gt;Motif yang dimaksud adalah motif yang langsung merujuk pada landmark kota Semarang seperti motif &lt;em&gt;Tugu Muda&lt;/em&gt; (monumen pengingat kisah Pertempuran Lima Hari di Semarang), &lt;em&gt;Jembatan Mberok&lt;/em&gt; (sebuah jembatan legendaris di sekitar Pasar Johar), dan &lt;em&gt;Pasar Ya’ik&lt;/em&gt; (nama pasar legendaris).&lt;br /&gt;Sayang sekali, perusahaan yang sebenarnya telah punya pasar dan populer sebagai pencipta batik Semarangan itu beroperasi tak sampai satu dekade. Titin Woromurtini, salah seorang putri Oentoeng Suwardi berobsesi bisa menghidupkan kembali Sri Retno. Dia yang sehari-hari menjadi dosen Arsitektur Undip itu pun masih tetap membatik, tapi untuk kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Batik Semarang 16&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama vakum, mulai tahun 2005, muncul nama Umi S Adi Susilo yang aktif menghidupkan kembali aktivitas perbatikan. Selain banyak mengadakan pelatihan batik, dia juga membentuk perusahaan kerajinan batik yang sekarang dikenal dengan nama Batik Semarang 16. Yang sangat menarik, perusahan kerajinan batik ini menciptakan banyak motif khas Semarang. Eksplorasi penciptaan motifnya nya tak semata pada landmark Kota Semarang, tapi pada elemen-elemen dekoratif banyak bangunan tua di kota tersebut.&lt;br /&gt;Satu catatan penting untuk Batik Semarang 16, ia adalah contoh kreativitas aneka kriya yang sangat peduli terhadap lingkungan. Makanya dalam berkreasi, perusahan kerajinan batik tersebut menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dengan warna-warna alam (natural dyes) dalam proses pembatikannya.&lt;br /&gt;Pelbagai motif telah dihasilkan Batik Semarang 16, terutama motif-motif baru yang berhubungan dengan landmark Kota Semarang seperti &lt;em&gt;Tugu Muda Kekiteran Sulur, Lawang Sewu, Asem Arang, Blekok Srondol&lt;/em&gt;, dan banyak lagi. Beberapa motifnya bahkan telah dipatenkan di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mari Bersatu Kata…&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jejak-jejak aktivitas perbatikan di Semarang sudah disebutkan. Itu artinya, kota tersebut punya tradisi batik. Ini hal penting untuk memberi keyakinan pada para pecinta batik bahwa pasti ada pola tertentu yang mencirikan batik Semarangan.&lt;br /&gt;Tapi itu bukan pekerjaan gampang. Sebagai entitas budaya, pencarian pola khas suatu batik butuh penelitian yang panjang dan holistik. Pencarian identitas batik Semarang ini sangat berkaitan dengan sejarah kota dan kebudayaan masyarakatnya. Menurut saya, dalam prosesnya patut dilibatkan banyak pihak. Sebut saja, Pemkot atau semua stakeholder Kota, para peneliti (sejarawan, budayawan, sosiolog), atau siapa pun yang concern pada batik. Bahkan, kalau perlu penelusuran ke beberapa museum batik perlu dilakukan seperti di Trompenmuseum Amsterdam,  Los Angeles County Museum, atau National Museum of Singapore.&lt;br /&gt;Sembari menunggu hasil dari penelusuran &lt;em&gt;batik Semarangan&lt;/em&gt;, proses pembatikan di Kota Semarang yang kini aktif dilakukan di Kampung Batik, pelatihan di Marabunta, atau juga di beberapa workshop batik lainnya tidak boleh diabaikan. Penciptaan motif-motif  baru sangat perlu terus dimunculkan. Aktivitas, baik pelatihan, produksi, maupun distribusinya juga seyogianya berjalan lempang. Singkatnya, kegairahan terhadap batik yang sudah tumbuh ada baiknya tak ‘’terbebani’’ oleh perdebatan seputar pola khas batik Semarangan.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, penelitian dan produksi seyogianya berjalan beriringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Usulan Pencarian Identitas Batik Semarangan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1&lt;/strong&gt;. Mencermati pola-pola kain cindai (&lt;em&gt;patola&lt;/em&gt;) dan &lt;em&gt;chintz&lt;/em&gt; dari India. Pola itu pernah sangat disukai, khususnya kalangan Belanda dan orang-orang kaya. Alasan lain: Osterom dan Franquemont dan beberapa pembatik pesisiran pernah mengadopsi patola dan chintz dalam kreasi batik mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. &lt;/strong&gt;Mencermati pula pola Panastroman yang dipengaruhi pola batik keraton ketika Osterom sudah berproduksi di Banyumas.&lt;br /&gt;3.  Jangan lupakan pola batik keraton. Sebab, tak termungkiri pola dan ragam hiasnya banyak memengaruhi batik-batik di luar keraton seperti batik sudagaran, batik petani, juga batik Belanda dan China. Franquemont pada awal kreasinya juga menyukai warna soga keraton. Selain itu, keberadaan Semarang sebagai kota pelabuhan, sebagai tempat transit batik-batik dari pedalaman mungkin sekali mengadopsi pola-pola keraton dengan tafsir pesisiran atau gaya Eropa. Ada pula kecenderungan orang-orang di Semarang memakai jenis batik berpola keraton. Konon orang kaya Semarang seperti Tasrifin pun memakai batik kawung. Jadi, jejak pengaruh itu bisa dicari,&lt;br /&gt;4. Mencemati pula pengaruh Laseman dan Dermayon. Khusus untuk Dermayon yang karakteristiknya mirip Laseman, polanya banyak yang mengangkat tema bahari. Semarang yang sebagian bertradisi bahari sangat mungkin pula mengangkat tema-tema tersebut dalam pola batiknya.&lt;br /&gt;5. Jangan lupakan pula pola-pola batik daerah sekitar seperti Demak, Kendal, atau Kudus. Kedekatan geografis sangat memungkinkan proses pengaruh-memengaruhi. Khusus untuk batik Kudus, corak warna khasnya yang biru muda juga patut ditelusur mengingat pada awal-awal kreasinya Osterom dan Franquemont menyukai biru keraton yang dibuat lebih muda di samping warna soga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau ternyata tak ada batik Semarangan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1&lt;/strong&gt;.  Ya, buat saja batik berpola baru atau kontemporer. Fenomena ini bukan hal baru, sebab dalam sejarah panjang batik, para pembatik selalu bisa melakukan inovasi. Contohnya, ketika muncul larangan pola tertentu dari Sultan Agung, para saudagar batik di luar keraton membikin batik sudagaran dari pola-pola terlarang itu dengan sedikit perubahan. Begitu juga ketika zaman Jepang, muncul batik Djawa Hokokai dengan kain pagi-sore yang notabene reaksi atas situasi ketika itu. Tentu saja pola-pola yang telah ada masih berpengaruh, tapi secara umum kreasinya benar-benar baru. Sabtu (21 Juli 2007), di Pekalongan pada acara ‘’Bincang Batik Kontemporer’’. Narasumber yang ada, juga Iwan Tirta yang jadi keynote speaker memberi saran untuk terus mengembangkan batik kontemporer. Dia bahkan membawa contoh kreasinya yang disebut kain empat negeri (dibuat di Jakarta, berpola Yogyakarta, isen-isen latarnya Surakarta, dan dicelup di Pekalongan.)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt; Bisa pula bikin pola batik baru yang mengangkat khazanah kota, baik berupa sejarah, mitos, atau folklor. Misalnya kisah Ki Ageng Pandanaran (seperti pernah dibuat Neni Asmarayani), atau pertempuran lima hari di Semarang (Yudha semarangan oleh Batik Semarang 16 atau Tugu Muda Sri Retno ), atau mungkin kisah-kisah yang lain. Kalau dulu Franquemont yang memang orang Eropa membuat batik dengan pola dongeng Hanzel dan Gretel, kenapa kita tidak bikin saja misalnya legenda Jati yang Ngaleh, atau apapun.&lt;br /&gt;3. Kalau mau kisah yang kontemporer, bikin saja misalnya kisah tokoh kekinian Semarang dengan nama Banjaran X atau Banjaran Y. Kalau saya tokoh hebat di sini, ya bikin saja Banjaran Saroni Asikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar ‘’diskusi berlarut-larut’’ mengenai ‘’yang manakah batik Semarang’’, debat kusir yang kalau pinjam istilah anak saya ‘’CAPEK DECH” , saya ingin mengajak Anda semua untuk bersatu kata dalam penyebutan istilah. Analoginya kalau batik yang diproduksi di Lasem disebut Batik Lasem atau di Pekalongan dengan sebutan Batik Pekalongan, maka sangat mungkin bisa berterima bila batik yang diproduksi di Semarang disebut Batik Semarang. Di sini, faktor loka perbatikan bisa diikuti pelabelannya. Maksudnya, batik yang diproduksi di Kota Semarang, sebut saja Batik Semarang.&lt;br /&gt;Syukur dalam waktu yang tak lama, kita sudah sama-sama mendapat simpulan mengenai seperti apakah yang disebut batik Semarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Semarang, 24 Juli 2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUJUKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dullah, H Santosa. Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan. Danar Hadi: Solo, 2002.&lt;br /&gt;Lin, Lee Chor. Batik: Creating and Identity. National Museum of Singapore: Singapura, 2007.&lt;br /&gt;Maxwell, Robyn. Textiles of Southest Asia: Tradition, Trade, and Transformation. Australian National Gallery: Australia, 2003.&lt;br /&gt;Roojen, Pepin van. Batik Design. The Pepin Press: Amsterdam-Singapura, 2001.&lt;br /&gt;Smend, Rudolf G et al. The Rudolf G. Smend Collection: Batik 75 Selected Masterpieces. Galerie Smend: Koln, 2006.&lt;br /&gt;Tulisan di Media Massa tahun 1970-1980 dan tulisan Dr Dewi Yuliati di Seputar Semarang (2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;, Pecinta Batik dan Wartawan Suara Merdeka. Tulisan ini disampaikan dalam Seminar dan Launching Pengembangan dan pelestarian Batik Semarang, di Hotel Pandanaran Semarang, 24 Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-106090062899364573?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/106090062899364573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=106090062899364573' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/106090062899364573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/106090062899364573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/pencarian-identitas-batik-semarang.html' title=''/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-1863464934867761714</id><published>2007-07-16T00:19:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T00:24:04.012-07:00</updated><title type='text'>Menghukum Telunjuk</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;TAK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; ada sulitnya memberi hadiah pada anak. Yang termudah dan termurah, ya pujian plus ciuman di pipi. Sebaliknya, dalam memberi hukuman pada anak, kita harus pintar-pintar mencari cara yang pas. Salah-salah bisa berabe, lho. Bisa-bisa si anak menganggap kita orang tua jahat seperti tukang sihir.&lt;br /&gt;Saya dan istri sudah sepakat mengenai kedua hal tersebut. Khusus untuk pemberian hukuman, kami berkomitmen bahwa hal itu dilakukan semata agar si anak tahu bahwa dirinya telah berbuat kekeliruan. Konsep hebatnya sih menyadarkan anak bahwa suatu tindakan yang keliru pasti ada sanksinya. Tapi tak mungkin kan menjelaskan pemahaman seperti itu pada anak umur 6 atau 8  tahun seperti anak kami itu?&lt;br /&gt;Kalau terpaksa menghukum secara fisik, kami berdua menerapkan cara praktis seperti ini: menghukum bagian tubuh yang dipakai untuk suatu kenakalan. Kalau yang bersalah tangan, misalnya memukul sepupunya atau teman bermainnya, ya tangannya itu yang dihukum. Kalau kakinya yang menendang, ya kakinya yang diberi pelajaran. Catatan khususnya, hukuman tidak boleh menyakitkan. Cukup satu tepukan kecil. Kesepakatan tambahannya kami wajib memberi dia pelukan dan ciuman setelah menghukum. Paling tidak, dengan begitu si anak tetap merasa kami sayangi. Siapa yang mau disebut ayah atau ibu jahat?&lt;br /&gt;Suatu hari misalnya, Bunga (waktu itu masih usia 4 tahun) sedang bermain boneka dengan sepupunya yang masih sepantaran usia dengan dia. Lagi asyik-asyiknya mereka bermain, lengkap dengan tawa kanak-kanak yang riang, tiba-tiba Bunga merebut boneka Panda dari tangan teman mainnya. Tak hanya merebut, dia juga membanting boneka itu ke lantai sambil berteriak,’’ Dasar bayi bodoh!’’ Wah, itu teriakan yang dia adopsi dari tokoh Angelica dalam film kartun Rugrats yang sering dia tonton.&lt;br /&gt;Melihat hal itu, saya langsung memanggil Bunga. Tentu saja dengan suara yang tak keras. Ketika dia mendekat, saya bilang, ‘’Mana tangannya yang tadi untuk ngerebut dan ngelempar boneka?’’&lt;br /&gt;Dengan muka tanpa dosa dan tanpa rasa takut, dia menyodorkan kedua tangannya. Saya pegang kedua tangan itu dan dengan satu tepukan lembut pada telapak tangannya, saya berkata, ‘’Tangan ini kan untuk menimang boneka, bukan untuk &lt;em&gt;ngerebut&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ngelempar&lt;/em&gt;. Bunga tahu, kan?’’&lt;br /&gt;Dia cuma mengangguk dengan wajah polos. Setelah itu, mereka berdua bermain lagi dan tawa riang anak-anak kembali terdengar seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.&lt;br /&gt;Pada kali lain, saya mendapati Bunga (masih usia menjelang 5 tahun) menendang kaki teman sepermainannya. Saya tahu, mungkin dia kesal karena temannya itu tanpa sengaja menendang mainan pasar-pasaran yang sedang dia gelar di lantai. Saat itu, saya berpikir jangan-jangan dia meniru kami dalam memberi hukuman. Mungkin karena yang menendang mainannya adalah kaki sang teman, maka kaki itu pula yang dia hukum dengan menendangnya pula. Repotnya, temannya itu menangis dan pulang ke rumahnya.Lagi-lagi, saya memanggil Bunga untuk memberi hukuman. Dia mandah saja. Dengan tangan, saya tepuk kakinya secara pelan. Kali ini, Bunga protes. ‘’Kaki dia kan salah, jadi dihukum dong, Yah?’’Saya harus menjawab apa terhadap protes itu? Alih-alih menjawab, saya peluk dia sembari mencium pipinya. ‘’Ayah yakin besok-besok Bunga tak akan menendang teman lagi.’’&lt;br /&gt;Saya menceritakan hal itu pada istri saya. Dia hanya tertawa, lalu berkata, ‘’Wah, kayaknya Bunga mulai meniru cara kita nih, Yah. Kalau gitu, kita harus cari cara lain. Tapi bagaimana, ya?’’Sampai beberapa waktu, kami berdua belum menemukan cara lain itu. Kami masih menerapkan hal yang sama sambil terus mencari cara dari teman-teman kami atau baca-baca artikel mengenai hal tersebut. Bagaimanapun kami masih yakin bahwa tujuan penghukuman semata untuk memberi pemahaman si anak tentang sanksi.&lt;br /&gt;Di saat kami masih kebingungan mengubah cara, suatu hari Bunga ‘’bertingkah’’ lagi. Dia mencolok mata seorang temannya persis di depan mata saya. Lagi-lagi temannya menangis dan pulang ke rumahnya. Karena belum menemukan cara yang berbeda, saya terpaksa menyetiai cara lama.&lt;br /&gt;‘’Bunga sini, tangannya dihukum!’’&lt;br /&gt;Seperti biasa dia &lt;em&gt;mandah&lt;/em&gt; saja dan mendekat ke arah saya. Tapi apa yang dia sodorkan? Bukan tangan yang dia acungkan melainkan telunjuk tangan kanannya. ‘’Ini yang tadi &lt;em&gt;nyolok&lt;/em&gt;, Yah.’’&lt;br /&gt;Saya hampir tertawa mendengar itu. Tapi tentu saja saya tahan dan dengan terpaksa telunjuk itulah yang saya sentil. Begitu saya ceritakan hal itu pada istri, dia tertawa &lt;em&gt;ngakak&lt;/em&gt;. Setelahnya, kami jadi yakin untuk mengubah cara memberi hukuman. Tapi bagaimana?(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pindahan dari bungadara.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-1863464934867761714?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/1863464934867761714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=1863464934867761714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1863464934867761714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1863464934867761714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/menghukum-telunjuk.html' title='Menghukum Telunjuk'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-4652307143503811419</id><published>2007-07-16T00:17:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T00:19:00.401-07:00</updated><title type='text'>Si Cacat Penjual Koran</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Sepulang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; dari kantor, aku menyusuri Jl Cipto Semarang. Hujan rintik ketika itu. Di bangjo Milo, seorang lelaki berdiri dengan kruk penyangga kaki. Kakinya hanya satu. Dari jauh, sebelum aku berhenti karena nyala merah lampu perempatan, dia kulihat berdiri kukuh. Kupikir dia seperti laiknya pengemis lain yang cacat. Tidak, tidak, dia tak mengemis. Pada ketiak kanannya dia mengapit penyangga kruk, dan di ketiak kirinya terkepit setumpuk koran sore.&lt;br /&gt;Aha, dia menjual koran rupanya. Selintas dia tampak khawatir rintik hujan merusak koran jualannya.&lt;br /&gt;Di belakang dia muncul empat anak muda, sehat dan bertubuh trengginas. Tiga orang di antaranya memiliki rambut yang dicat menyala. Salah seorang mengapit ukulele dan mereka bersiap-siap naik ke bus. Untuk apa lagi kalau bukan mengamen?&lt;br /&gt;Pemandangan yang hanya beberapa kejap sebab lampu telah menyala hijau. Tapi ada yang tertinggal di hatiku. Kenapa si cacat itu tak mengemis saja? Kenapa repot-repot menjual koran yang mungkin keuntungannya tak seberapa? Kenapa dia tak naik bus saja, rengeng-rengeng sebentar dan menadahkan telapak tangan ke para penumpang seperti empat pengamen yang ''bergaya'' itu?Adakah dia punya harga diri terlalu mahal sehingga tak mau sekali pun menadahkan tangan? Kalau demikian, betapa malunya aku. Dan betapa marahnya aku pada anak-anak muda yang dengan enteng menadahkan tangan hanya karena sebuah ''hiburan tak diundang'', yang kadang-kadang juga sama sekali tak menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* pindahan dari bungadara.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-4652307143503811419?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/4652307143503811419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=4652307143503811419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4652307143503811419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4652307143503811419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/si-cacat-penjual-koran.html' title='Si Cacat Penjual Koran'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-8470867531632472206</id><published>2007-07-16T00:13:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:02.699-08:00</updated><title type='text'>Dara, Barbie yang Berenang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsbDVqxNQI/AAAAAAAAACE/BKJdBSd_Nc8/s1600-h/dara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087689948215194882" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsbDVqxNQI/AAAAAAAAACE/BKJdBSd_Nc8/s320/dara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6076/2260/1600/dara.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6076/2260/1600/DARA4.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Namanya &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Molek Dara Cahayamata&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Panggilannya Dara. Saat demam Inul Daratista si Ratu Ngebor tahun 2003, sering sekali dia dipanggil Inul. Eh, jangan panggil dengan sebutan itu sekarang. Dia akan marah-marah. Gak suka, katanya. Aku Dara, bukan Inul, ujarnya. Ya, marah benar semarah kalau rambutnya disebut &lt;em&gt;brekele&lt;/em&gt; atau keriting. Dia maunya dibilang berambut lurus. Padahal sih memang agak ikal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekarang baru nol kecil dan jarang masuk. 2 Agustus 2006 dia 5 tahun. Dia lebih suka ''bersekolah'' di luar ruang sekolah kakaknya, si Bunga itu. Sehari-hari agak kenes dai. Sukanya sama Barbie minta ampun. Pernah aku ajak nonton fashion show, eh tak mau pulang sebelum kelar. Padahal sampai jam 12 malam. Agaknya dia memang suka bergaya. Di rumah selalu memakai rok model Cinderella dan bersepatu hak tinggi, lalu lengak-lenggok sendiri.yang paling menyenangkan kalau dia menggambar. Menurutku sih agak kreatif. Ada ceritanya dan suka satu bidang gambar dipenuhi. Pernah dia menggambar sosok perempuan mirip Barbie dengan coretan-coretan kecil memenuhi semua bidang gambar, sehingga sosok itu seperti berada di dalam coretan-coretan itu. Dia bilang, ''Barbienya lagi berenang.'' Siapa yang sanggup menahan tawa? Setahuku, dalam cerita bikinan Mattel itu Barbie tak pernah berenang. atau jangan-jangan sekuel berikutnya ada yang begitu. tapi pasti berenangnya ya pakai bikini atau baju renang dong, masak pakai gaun pesta seperti gambar si Dara itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Pindahan dari bungadara.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Anak ini sekarang mau usia 6 tahun. Masih harus TK lagi. Jadi tiga tahun dia di TK. Juga banyak cerita lainnya. Nanti ya?)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-8470867531632472206?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/8470867531632472206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=8470867531632472206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/8470867531632472206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/8470867531632472206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/dara-barbie-yang-berenang.html' title='Dara, Barbie yang Berenang'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsbDVqxNQI/AAAAAAAAACE/BKJdBSd_Nc8/s72-c/dara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-4352048785527140665</id><published>2007-07-16T00:07:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:02.996-08:00</updated><title type='text'>Bunga Lili Liar</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsaQ1qxNOI/AAAAAAAAAB0/qWPqxI5l67c/s1600-h/bunga.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087689080631801058" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsaQ1qxNOI/AAAAAAAAAB0/qWPqxI5l67c/s320/bunga.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsZuVqxNNI/AAAAAAAAABs/EmUNJ-3RZnc/s1600-h/bunga.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6076/2260/1600/bunga.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Namanya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Elok Bunga Cahayasutra&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Di rumah dia dipanggil Bunga. Teman SD, oh ya dia baru kelas satu, memanggilnya Elok. Tapi dia sempat marah-marah ketika dipanggil itu. Dia memang sedikit (atau banyak ya?) pemberang. Kadangkala setiap aku pulang, dan memandanginya, sepertinya aku sendiri agak kurang percaya telah memiliki anak sebesar itu. 17 April 2006, dia 7 tahun. Kesukaannya menonton &lt;em&gt;Masquerade&lt;/em&gt;, itu lho &lt;em&gt;tableau-tableau&lt;/em&gt; kreatif dari negerinya Kirei-san.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebagai anak sebenarnya dia manis juga. Tapi yang &lt;em&gt;gak nguwati&lt;/em&gt; -gak tahan gitu loh- naluri pemberontakannya. Jangan-jangan dia bahagia kalau bisa menentang kata mama atau ayahnya. Sering sekali aku mengira dia benar-benar seperti bunga lili liar di semak-semak basah dan peperduan. Tapi lili bunganya cantik, kok.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;* Pindahan dari bungadara.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(Anak ini sekarang kelas 3 SD, dan tentu ada kisah baru. Nanti ya?)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-4352048785527140665?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/4352048785527140665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=4352048785527140665' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4352048785527140665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4352048785527140665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/bunga-lili-liar.html' title='Bunga Lili Liar'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RpsaQ1qxNOI/AAAAAAAAAB0/qWPqxI5l67c/s72-c/bunga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-243164938816910775</id><published>2007-07-16T00:06:00.001-07:00</published><updated>2007-07-16T00:06:34.379-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Kadal-kadal</title><content type='html'>ada kadal. warna-warni. ungu, biru, hijau, magenta, violet, burgundi, maron. merayap-rayap di lantai showroommu. kau tertawa jenaka. lihat tingkah mereka. kau tertawa.lalu tersedak saat lihat kadal-kadal itu menjelma para lelaki. bermuka mesum dan nakal. bermata masam. tiba-tiba kau ingin menangkap mereka. menjadi koleksi. sebab, kau memang seorang kolektor. kau membayangkan dirimu mengoleksi para dinosaurus. reptil-reptil tua yang tak cuma bisa merayap. dan kau memang suka reptil. apalagi kau yakin, kadal tidak berbisa. tapi kau tak tahu, liur kadal itu menjijikkan. lalu perutmu mual. tak mau makan. kau kurus kering. kau ambil formalin. kau mengawetkan kadal-kadal itu. lalu kau bawa ke showroommu. bule-bule yang datang itu terpesona. eksotis, kata mereka. ini reptilia purbani, kata mereka. kau bilang, satu kadal seribu lima ratus euro. kau tertawa membayangkan lembaran devisa. dan bule-bule itu tak pernah tahu: kadal-kadal itu jelmaan lelaki nakal dan mesum. tapi kau pun tak tahu. sepulang bule-bule itu ke rumah mereka, keluarganya tak lagi mengenal mereka. keluarga mereka hanya melihat kadal berkulit albino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pindahan dari bungadara.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-243164938816910775?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/243164938816910775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=243164938816910775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/243164938816910775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/243164938816910775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/sketsa-kadal-kadal.html' title='Sketsa Kadal-kadal'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-70804042678836050</id><published>2007-07-16T00:04:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T00:05:38.771-07:00</updated><title type='text'>Gadis Penjaga Bunga</title><content type='html'>Ada seorang gadis berambut panjang. Agak tipis dan bergelombang. Pada bibir senyum selalu mengembang. Maka dia pun tersenyum ketika Dewa Api memberinya tugas suci. Apa? Menjaga sekuntum bunga di tangannya. Tak boleh lepas bunga itu dari genggaman sebelum sang dewa datang. Sekali pun tak boleh lepas dari tangan. Tak, tidak sedetik pun.Dan dia begitu setia menjaganya. Dewa itu tak datang-datang juga. Lalu tubuh si gadis menua. Dan bunga melayu.Apakah itu sebuah kesetiaan? Pernah kudengar katanya suatu hari, ''Aku bukan orang setia dan tak pintar menjaga. Tapi aku telanjur mencintai bunga itu. Maka yang kujaga bukan lagi amanat dewa. Aku tak lagi peduli pada soal seperti itu. Aku tak peduli dewa-dewa. Tapi cintakulah yang kujaga. Cintaku pada bunga itulah kepedulianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pindahan dari bungadara.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-70804042678836050?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/70804042678836050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=70804042678836050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/70804042678836050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/70804042678836050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/gadis-penjaga-bunga.html' title='Gadis Penjaga Bunga'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-8559182867532519493</id><published>2007-07-15T23:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T00:04:06.605-07:00</updated><title type='text'>Mulut Angin</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Cerpen Saroni Asikin&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KAMU&lt;/strong&gt; tak perlu memperlihatkan perasaan berdosamu pada ayahmu ini, Kain. Sudah sejak kamu dalam perut ibumu, aku tahu sudah: pertikaian tak henti-henti antarkeluarga kita bakal terjadi. Aku memang bukan peramal. Tapi aku tahu suatu hari kamu pasti akan mengepruk kepala Habel dengan batu lalu kamu tanam mayatnya di tanah pasir. Sebab, bila kamu tak membunuh adikmu itu, dia yang akan mengepruk kepalamu.&lt;br /&gt;Maka, aku ayahmu hanya bisa berpesan: kamu tak perlu mencemaskan hidupmu bila suatu hari anak-turun Habel dan Iqlima akan memburumu, meminta kepalamu untuk mereka kepruk. Seperti halnya, aku pun tak perlu memikirkannya terlalu serius bila suatu hari anak-turun kamu bakal memburu anak-turunnya.&lt;br /&gt;Tak sedihkah aku sebagai penurun manusia yang saling berbunuhan? Jangan tanya! Kesedihan itu sudah kuduga maka tak perlu lagi dipikirkan. Aku telah siap menyaksikan petaka itu selama hidupku. Mungkin selama 930 tahun&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(1)&lt;/span&gt; atau bahkan satu milenium. Sesiap ketika aku harus menerimamu keluar dari garba ibumu padahal aku tahu kamu itu...&lt;br /&gt;Ah, tapi tidak, hai Lelaki Petani! Itu tak akan terjadi. Sekali lagi, ayahmu ini bukan peramal. Kau harus pergi dari tanah ini. Sekali lagi ini bukan hukum atasmu yang telah mengepruk kepala Habel. Ayahmu hanya berupaya mencegah pertikaian keluarga kita jadi semakin rumit. Pergilah, anakku! Ke tanah Nod. Di sana kau bisa bercocok tanam. Darah petanimu memungkinkan itu. Biarlah di sini tinggal keturunan Habel si penggembala ternak.&lt;br /&gt;Ah ya, sebelum pergi kamu pasti penasaran mengapa ayahmu yang bukan peramal ini seperti tahu yang bakal terjadi. Aku akan menceritakannya kepada kamu, sekaligus sebagai buah tangan perpisahan kita. Sebelum pergi, kamu patut mengetahui cerita busuk keluarga kita. Cerita yang kusimpan dan memborok dalam hati. Cerita ini sekaligus akan mengurai alasan mengapa ada darah pembunuh dalam darahmu, mengapa kamu selalu diliputi kedengkian kepada saudaramu, dan mengapa kedengkianmu itu mengajak tanganmu mengambil batu dan mengeprukkannya pada kepala Habel. Ingat satu hal dulu: kamu membunuh dia tak semata karena Iqlima yang molek itu. Tak semata perempuan! Tak semata karena kamu iri pada adikmu yang mendapatkan Iqlima&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(2)&lt;/span&gt;. Gadis cantik itu memang bukan milikmu. Kamu membunuh karena kamu memiliki kromosom darah iblis. Dan jangan kaget bila kukatakan itu semua berasal dari darah kotor ibumu yang kamu puja kecantikannya itu.&lt;br /&gt;Sial sekali, Kain, aku harus menceritakan ini, membuka topeng laknat ibumu. Dan ini memang cerita tentang ibumu. Aku menceritakannya semata-mata hanya ingin kamu tak begitu gelisah dalam perjalanan kepergianmu dari tanah terkutuk ini. Agar kamu tahu asal darahmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TAMAN&lt;/strong&gt; berkabut saat seekor ular merayap ke sebuah pohon apel yang tengah berbuah. Semerah puting, segar dan resam. Menggugah liur. Ular itu memelintir sebuah. Kelesik apel jatuh, berdebam di rumput. Si ular memburunya, membelit dengan tubuh lunaknya, membanting ke rumput, membanting ke batang pohon. Pecah berserpih-serpih. Rakus satwa bersisik itu menyesap-nyesap daging putih buah.&lt;br /&gt;Hai Kain, ayahmu melihat semua itu dari jauh, dari balik sebatang persik, dengan hati pedih. Tak ada makhluk yang berhak atas buah dari pohon itu. Ada kesepakatan antara aku, ibumu dan pemilik taman untuk tak menyentuh pohon itu. Mendekat pun tak bisa. Tapi ular laknat itu telah semena-mena menikmatinya.&lt;br /&gt;Dari balik pohon, ular itu mendesis panjang seolah-olah bersendawa kekenyangan. Ia lalu menari-nari, meliuk-likukkan tubuhnya dengan indah. Betapa girang betapa membuat jengkel ayahmu yang tak bisa mendekat ke situ. Ia terus menari. Dan ajaib, Hai Kain, ia tak lagi seekor ular. Ayahmu melihat seorang lelaki tampan bersandar pada batang apel itu. Sebelum ketakjuban ini hilang, lamat-lamat aku mendengar ia menyanyi. Lagu yang asing tapi sungguh merdu. Kuakui, merdu nian!&lt;br /&gt;Tapi nyanyian itulah pangkal segala petaka keluarga kita. Ibumu yang ketika itu tengah tidur di kamarnya terbangun dan bersigegas menuju sumber nyanyian. Ayahmu bisa melihat nyala ketakjuban pada muka ibumu. Mula-mula dia berhenti di kejauhan, seperti ragu-ragu, menimang-nimang kesepakatan dengan kehendaknya untuk mendekat. Tapi ia memilih melanggar kesepakatan kami. Dan &lt;em&gt;kun fayakun&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(3)&lt;/span&gt;, maka jadilah segalanya, terjadilah apa yang selama ini tak terbayangkan oleh ayahmu.&lt;br /&gt;''Indah benar suaramu. Lagu dari mana?''&lt;br /&gt;Bedebah! Itu pertanyaan ibumu, bahkan tak menyadari bahwa di taman ini seharusnya tak ada orang asing selain kami berdua. Sudah ratusan tahun kami hidup tanpa bertemu satupun makhluk lain. Tapi ibumu dengan mantap mendekati lelaki itu dan bertanya dalam nada penuh kemanjaan yang memuakkan.&lt;br /&gt;''Ini lagu dari surga. Mau kunyanyikan terus sembari menikmati apel segar dari pohon ini?''&lt;br /&gt;Lelaki ular itu mulai merayunya. Ayahmu ingin mendekat, melabrak, kalau bisa mengepruk kepala lelaki ular itu dan menampar pipi ibumu. Tapi tidak! Ayahmu terlalu takut untuk mati. Si pemilik taman mengancam akan membunuh kami bila melanggar kesepakatan. Dan tak seperti ibumu yang terpedaya oleh lagu lelaki ular itu hingga melupakan ancaman kematian, ayahmu hanya memegangi batang persik dalam dada berkobar.&lt;br /&gt;Dan, telanjur sudah, Kain, ibumu memakan apel itu. Si ular menyanyi terus. Kidung surga katanya. Tapi memang indah, kuakui. Lalu di depan mata ayahmu, ibumu terperangkap dalam pelukannya sebelum semua pakaiannya terlukar dan juga pakaian lelaki ular itu.&lt;br /&gt;Mereka bersetubuh, Hai Kain, mereka bersetubuh, di depan mata ayahmu yang hanya gemetaran dalam dada berkobar dan tangan erat mengenggam batang persik. Ibumu terlihat begitu binal. Tapi pasti ia tidak tahu bahwa di tengah-tengah persetubuhan liar itu, ayahmu melihat seekor ular membeliti tubuh telanjang ibumu yang tergial-gial di atas rumput basah.&lt;br /&gt;Ayahmu lalu pergi dengan kecamuk perang dalam dada. Dan sejak itu, ayahmu tak pernah lagi bisa tersenyum. Adapun ibumu sejak itu berubah menjadi perempuan yang sangat riang, penuh kemanjaan, dan binal di tempat tidur. Dia pikir ayahmu tak tahu kelicikan dan keculasan hatinya.&lt;br /&gt;Dan tahukah kamu, Kain, setiap kali mendengar nyanyian dari pohon apel itu, ayahmu mengasah pedang. Tapi tak sekalipun mata pedang itu terlumuri darah. Seperti pernah kamu tanyakan suatu hari, ''Untuk apa ayah mengasah pedang itu selalu tanpa pernah ayah pakai?''&lt;br /&gt;Barangkali ayahmu memang seorang pecundang. Dan ibumu perempuan dahsyat yang menyimpan kelicikan dan keculasannya dalam sunggingan senyum. Dan dari orang-orang seperti kami itulah keluarga kita dibangun. Bangunan rapuh.&lt;br /&gt;Maka sudahlah, Kain, tak perlu marah. Ini harus kukatakan. Sebenarnya ayahmu sendiri tak begitu yakin. Kamu itu memiliki darah ular itu. Sekali lagi, ayahmu tak yakin benar memang bahwa kamu anak ular itu, juga Habel, juga Iqlima dan Tursina. Sebab, setelah percintaan kali pertama ibumu dengan lelaki ular itu, ayahmu tak pernah benar-benar bersenggama dengan ibumu.&lt;br /&gt;Kamu mungkin ingin membantah: tidak mungkin manusia lahir dari sperma ular. Ya, memang tidak mungkin, makanya ayahmu pun tak begitu yakin. Tapi mungkin saja yang bersetubuh dengan ibumu bukanlah ular benar-benar, tapi seorang manusia seperti kita, seorang tukang sihir barangkali, yang selalu menyaru menjadi ular.&lt;br /&gt;Puas? Kalau kamu masih menyimpan keragu-raguan, kamu boleh tidak memercayainya. Anggaplah cerita ayahmu ini hanyalah pengantar kepergiaanmu ke Tanah Nod. Kamu memang harus pergi, hanya untuk menghindari pertikaian tanpa henti antara anak-turunmu dengan anak-turun Habel. Anggap saja sebagai pelunasan atas ketelanjuran kamu mengepruk kepala Habel. Camkan, bukan sebuah hukuman, Kain sayang, hanya menghindari perseteruan tak henti-henti yang niscaya pada keluarga kita. Biarlah ayahmu menua di sini dalam hidup tanpa senyuman lagi...&lt;br /&gt;''Apakah ular itu masih selalu datang?'' Kamu bertanya itu. Ayahmu tak perlu menjawab. Sebab kamu telah tahu jawabannya. Apalagi telah berkali-kali kamu menjumpai ayahmu mengasah pedang dan kamu meluncurkan pertanyaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;JANGAN&lt;/strong&gt; percaya bualan ayahmu, Hai Kain pembunuh Habel! Ratusan tahun ibumu telah hidup bersama ayahmu. Segala rahasia hatinya ada dalam hati ibumu ini. Kamu tak perlu pergi ke Tanah Nod. Kamu memang telah membunuh Habel dengan batu. Tapi kamu tak perlu membayarnya dengan pergi jauh. Ibumu ini sudah kehilangan Habel dan kamu akan pergi juga.&lt;br /&gt;Ibumu akan merana. Bisa kamu bayangkan betapa pedihnya seorang perempuan hidup menua bersama lelaki tanpa senyuman seperti ayahmu itu. Lelaki pengecut seperti dia. Lelaki yang menutupi kelemahan dan kebusukan hatinya dengan mengasah pedang. Dia ingin kamu tahu dan memujanya sebagai pemberani. Padahal, pada seekor kecoak pun dia tak pernah bisa meremasnya.&lt;br /&gt;Dia bilang ibumu ini sumber segala sumber darah iblis dalam darahmu, sumber segala seteru dalam keluarga kita. Nonsens, Hai Kain Petani yang gagal mempersembahkan panenan! Dari dialah mengalir napsu bengis dalam cara-cara pecundang. Adakah kamu mengepruk kepala Habel dari depan mukanya. Tidak, sama sekali tidak, Anakku malang! Kamu mengepruknya dari belakang selagi dia lengah. Itu cara pengecut! Dan itu darah ayahmu yang suka mengasah pedang ketika mendengar desisan ular. Tapi, meski kamu warisi darah kepengecutannya, ibumu tak mau kamu pergi ke Nod setelah kematian Habel. Ibumu akan mati menua karena kepedihan hidup dengan lelaki seperti ayahmu.&lt;br /&gt;Dan ini cerita sebenarnya tentang ular yang kata ayahmu menjelma lelaki tampan yang menggoda berahi ibumu. Taik! Tak ada lelaki tampan! Tak ada cerita ibumu melanggar kesepakatan memakan buah apel di taman itu. Tak ada nyanyian surgawi yang menyeret ibumu dalam pelukan lelaki tampan jelmaan ular. Itu mitos yang sengaja dibuat ayahmu yang pecundang itu. Biar kamu percaya bahwa semua khayalannya itu benar. Biar kamu tak tahu rahasia culas apakah yang dia simpan.&lt;br /&gt;Suatu hari ibumu memang melihat seekor ular melingkar di satu cabang pohon apel itu. Warnanya hijau, sehijau dedaunannya. Andai saja ibumu tak melihat riap cahaya dari dua matanya, ibumu tak akan pernah tahu bahwa yang melingkar itu seekor ular. Apalagi ibumu tak pernah berani mendekati pohon yang telah dilarang pemilik taman untuk didekati.&lt;br /&gt;Dalam jarak saling berjauhan, ibumu dan ular itu bersipandang. Ibumu hanya merasa betapa indah dan lucu ular itu. Hijau dan matanya memendarkan nyala yang riang. Hanya sebatas itu, tak lebih. Tapi itu tak lama. Dalam sekejap bias cahaya di mata ular itu berubah merah menyala. Nyala kebengisan dan keculasan. Dan tahukah kamu, Kain, nyala itu nyala mata ayahmu setiap kali dia bersenggama dengan ibu dalam cara-cara yang kasar. Seolah-olah tubuh ibumu ini hanyalah daging mentah pemuas kelaparan berahinya. Derita yang ibumu pendam sekian ratus tahun hingga lahir Tursina, istrimu yang buruk muka itu. Sejak Tursina lahir, ibumu tak mau lagi melayani daging berahi ayahmu. Lalu lelaki pecundang itu selalu mengasah pedang dan menakut-nakuti ibumu. Ketika kamu bertanya kali pertama, maka mulailah dia menyusun cerita yang telah didedahkan buat kamu.&lt;br /&gt;Betapa memalukan! Bukankah itu pula yang kamu lakukan usai mengepruk Habelku yang tampan? Kamu bercerita bahwa Habel dimakan singa saat mempertahankan ternaknya. Taiklah kalian berdua. Walau begitu, Kain, janganlah pergi! Nod hanya akan membuatmu terus diburu Habel yang malang. Tetap tinggallah di sini. Kamu bisa menebus dosa pembunuhanmu dengan menemani ketuaan ibumu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PADA&lt;/strong&gt; akhirnya lelaki pembunuh Habel itu memang tak pergi ke Nod&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(4)&lt;/span&gt;. Suatu malam, dengan marah dia mengasah pedang ayahnya. Tajam-tajam. Lalu dia lari ke tengah taman dan pohon apel itu diamuknya dalam berahi kemarahan. Buah-buah apel yang ranum berguguran ke tanah berumput basah. Ular yang ketika itu masih melingkari salah satu batangnya tercacah dalam sekian potongan.&lt;br /&gt;Kain betapa kalapnya! Tak sebatang kecil ranting pun dia sisakan. Dia cacah-cacah. Juga apel-apel yang berserakan itu. Dalam kepalanya dia merasa tengah mencacah-cacah kepala dan tubuh ayahnya, ibunya, Iqlima dan Tursina dan anak-anak yang keluar dari garba perempuan buruk muka yang terpaksa dikawininya itu. Ketika itu pula, dia merangkai-rangkai cerita untuk dibeberkan kepada semua orang dalam keluarganya: bahwa dengan mata kepalanya sendiri roh Habel yang marah mencuri pedang ayahnya dan menjadikan pohon apel itu sebagai pelampiasan.&lt;br /&gt;Dia akan bilang kepada semua orang: ''Awas! Hati-hati! Bisa-bisa Habel membunuh kita semua dengan cara sesadis dia mencincang pohon apel. Tapi tentu saja dia tak akan berani mendekatiku dengan pedang itu. Paling sial dia hanya akan menelikung aku dari belakang dan mengepruk kepalaku dengan batu yang telah kukeprukkan pada kepalanya.''(*)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Semarang, 5 Agustus 2003 &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(1) &lt;em&gt;Lihat Kitab Kejadian 5:5.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(2) &lt;em&gt;Seorang kiai pernah bercerita bahwa sesama anak Adam dan Hawa dikawinkan dengan cara bersilangan. Artinya, anak lelaki tak bisa mengawini adik perempuan langsungnya, tapi harus diseling adik lainnya. Kiai itu bercerita bahwa Iqlima itu adik langsung Qabil (dalam cerpen ini saya lebih suka memakai nama Kain seperti yang ada dalam &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Kitab Perjanjian &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Lama) yang dikawini Habil (atau Habel)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;(3) &lt;em&gt;Kalimat yang berasal dari Alqur’an &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Surat Yasin&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(4) Sebagai perbandingan, lihat Kitab Kejadian 4:16. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;* Pernah dimuat di &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-8559182867532519493?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/8559182867532519493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=8559182867532519493' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/8559182867532519493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/8559182867532519493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/mulut-angin.html' title='Mulut Angin'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-5773223575521987719</id><published>2007-07-13T23:04:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:03.235-08:00</updated><title type='text'>Popularitas Toko 100 Yen</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphn-lqxNMI/AAAAAAAAABk/73bHetqrozg/s1600-h/29jsata4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086930104076022978" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphn-lqxNMI/AAAAAAAAABk/73bHetqrozg/s320/29jsata4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUDAH &lt;/strong&gt;jadi rahasia umum, biaya hidup di Jepang begitu tinggi. Harga-harga barang pun, ampun deh mahal banget. Jepang, khususnya Tokyo, seolah-olah bukan tempat turis udik yang kantongnya tipis. Padahal, pada hampir setiap sudut di kota-kota Jepang terdapat suatu kawasan yang disebut &lt;em&gt;syotengai &lt;/em&gt;atau semacam kompleks pertokoan yang biasanya menempati sebuah jalan superlurus (&lt;em&gt;suji&lt;/em&gt;). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan seperti sudah disebut, harga barang di situ sepertinya hanya disukai orang berkantong tebal. Gambaran serupa itu juga terjumpai di Osaka yang merupakan kota kedua setelah Tokyo. Tapi tak usah terlalu merisaukan perihal mahalnya barang. Bila berkesempatan datang ke kota tersebut, Anda (yang tentu saja dompetnya tak tebal benar) tetap punya kesempatan berbelanja. Tentu pula Anda harus rela bila tak mendapat barang idaman. Sekadar buat oleh-oleh teman, kalau beruntung Anda akan beroleh suvenir yang layak diberikan.Pada sudut-sudut jalan tertentu, juga di &lt;em&gt;syotengai&lt;/em&gt;, ada sebuah toko yang memasang label untuk semua barangnya seharga 100 Yen (setara Rp 8.000). Barang yang dijajakan begitu beragam, mulai dari makanan ringan, nasi dan lauk kalengan, minuman, alat-alat tulis, alat dapur, hingga suvenir ''pantas oleh-oleh''. Barangkali kalau di sini, itu mirip istilah ''serbu'' atau serba-lima ribu yang ada pada gerai supermarket. Bedanya barangkali hanya soal variasi barangnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Memberi label 100 Yen juga merupakan strategi marketing yang cerdas. Apa pasal? Memang sebagian besar barang dengan beragam jenis memiliki harga sama. Tapi, selalu saja ada beberapa barang yang diberi label harga lebih tinggi. Jadi, di toko atau gerai seperti itu, ambil barang sesuka Anda, lalu hitung jumlah yang harus Anda bayar dengan mengalikan 100 plus 5 untuk pajak setiap barang (beberapa toko serupa tak membebani pajak sebesar 5 persen). Nah, kalau barang yang Anda ambil berlabel harga, maka pasti harganya seperti yang tertera plus pajak 5 persen.Ada informasi yang menyebut bahwa sebagian besar orang Jepang memiliki gengsi yang tinggi, khususnya dalam hal &lt;em&gt;lifestyle&lt;/em&gt;. Maukah mereka datang ke toko itu? Sudah pasti. Beberapa kali datang bersama rombongan untuk mencari barang kebutuhan sehari-hari di toko-toko 100 Yen, saya hampir selalu melihat orang-orang Jepang yang membeli sesuatu di situ. Paling sering adalah makanan ringan dan minuman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Wulan, seorang staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Osaka, yang beberapa kali mengantar kami ke toko seperti itu, menginformasikan pula bahwa toko 100 Yen sangat populer. Tak hanya bagi orang Jepang, popularitasnya merambah negeri jiran. ''Orang China dan Korea pun acap datang ke Jepang hanya untuk membeli barang-barang yang ada di 'toko seratusan' itu. Toko ini sudah sangat populer. Orang Jepang pun tak gengsi-gengsi amat. Yang penting kalau ada barang yang sesuai untuk kebutuhan, mereka ke sini,'' ujar perempuan asal Banyuwangi yang telah 10 tahun menetap di Osaka bersama suaminya yang Jepang asli itu.Jadi, kalau mereka tak malu, kenapa kita yang kebetulan tipis uang sakunya harus malu ke situ? Meskipun sebagian barang yang dijajakan diimpor dari China, toh kalau beruntung kita bisa mendapat barang yang khas Jepang. Sebut misalnya, roti Dorayaki (roti yang dipopulerkan lewat film kartun Doraemon), atau boneka kecil berfigur orang Jepang memakai kimono.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;* Dimuat dalam rubrik Jalan-jalan &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 29 Oktober 2006&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-5773223575521987719?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/5773223575521987719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=5773223575521987719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/5773223575521987719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/5773223575521987719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/popularitas-toko-100-yen.html' title='Popularitas Toko 100 Yen'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphn-lqxNMI/AAAAAAAAABk/73bHetqrozg/s72-c/29jsata4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-7843158003694423174</id><published>2007-07-13T22:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:03.499-08:00</updated><title type='text'>Kastil Osaka, Tak Sekadar Kisah Peperangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphmulqxNLI/AAAAAAAAABc/KIP-mp5IUco/s1600-h/29jsata1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086928729686488242" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphmulqxNLI/AAAAAAAAABc/KIP-mp5IUco/s320/29jsata1.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;SETIAP&lt;/strong&gt; orang selalu butuh ingatan ke masa lalu. Kalau bukan untuk sekadar bernostalgia, ia butuh rujukan tertentu untuk melakukan sesuatu di masa depan. Dengan konsepsi seperti itu, Taman Kastil Osaka atau Osaka Castle Park masih tegak berdiri, terpelihara bagus, dan jadi tempat kunjungan banyak orang yang pergi ke Osaka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selain kastil itu, kota terbesar kedua di Jepang setelah Tokyo itu memiliki beberapa tempat serupa. Ada tempat yang menyuguhkan bagaimana sejarah kota bergulir dari masa ke masa seperti yang bisa dijumpai di Osaka Museum of History. Kalau ingin menilik sejarah seni pemerintahan kota tersebut, orang bisa pergi ke Osaka Municipal Museum of Art, atau yang berskala lebih besar, mereka bisa pergi ke The National Museum of Art.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tanpa mengurangi nilai penting beberapa tempat wisata historis itu, Kastil Osaka disebut-sebut sebagai yang paling signifikan untuk orang Osaka. Pasalnya dalam ingatan masyarakat di sana, kastil itu menjadi simbol kota yang mengingatkan mereka pada ''Taiko-han'' atau pendiri kastil tersebut yang bernama Hideyoshi Toyotomi. Orang yang disebut itu begitu penting bagi sejarah Osaka, juga Jepang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lihat saja apa tujuan dia membangun kastil. Bangunan itu menjadi basis kampanyenya mengenai persatuan nasional sekaligus peneguh kekuasaan dan kekuatannya sebagai seorang pemimpin wilayah. Belum lagi dominasi warna keemasan yang menyelubungi bangunan kastilnya yang megah dan agung. Untuk ukuran abad ke-17, masa ketika kastil itu mulai dibangun, ia tak tertandingi bangunan manapun di Jepang sendiri, Ming (China), dan Korea.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Karena itu, suatu sore di awal Oktober 2006, di sela-sela persiapan Midosuji Parade 2006, saya bersama beberapa orang dari Sanggar Greget Semarang dan Aki Adishakti dari KJRI Osaka memilih kastil itu sebagai tempat kunjungan. Tentu saja tujuannya tak sekadar mengisi waktu luang. Sebab, setidak-tidaknya kami beroleh informasi mengenai kebesaran Osaka di masa lalu. Seperti telah disebut, Kastil Osaka boleh dibilang sebagai pusat sejarah kota tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lebih dari itu, kastil itu memang sangat menarik untuk dikunjungi dan juga dipelajari bagaimana dulu sekelompok orang membangun kekuatan dan membentengi diri dari serangan. Apalagi, kastil tersebut termasuk sebuah bangunan gigantik dengan keluasan arealnya mencapai 1 kilometer persegi. Anda bisa melihat miniatur lengkapnya (dalam bentuk maket) pada Lantai 5F. Sayang sekali, tak seorang pengunjung pun diperbolehkan mengambil foto maket tersebut. Tentu saja itu tindakan preventif yang logis.Kastil itu memang menjadi pusat segalanya. Selain berada di tengah-tengah, bangunannya juga yang paling besar dan paling tinggi. Secara sederhana bisa digambarkan begini: parit yang lebar dan dalam mengelilingi areal kastil yang bentuknya agak heksagonal (segidelapan). Untuk aktivitas keluar masuk (dari kastil ke luar atau sebaliknya) dihubungkan dengan jembatan menuju pintu gerbang utama atau disebut Otemon atau gerbang muka (Oteguchi). Gerbang yang dibangun tahun 1620 itu sempat terbakar tahun 1783 dan dibangun lagi tahun 1848. Dari situ, masih ada gerbang lagi sebagai penahan laju musuh bila ada serangan. Gerbang itu disebut Sengan Yagura yang dibangun di tahun yang sama dengan Otemon dan merupakan salah satu bangunan tersisa Kastil Osaka. Setelah masuk lewat Sengan Yagura, tembok keliling besar dan tinggi menjadi bagian pertahanan berikutnya. Pertahanan berlapis memang menjadi ciri kastil pada umumnya. Barulah setelah tembok keliling itu, dalam bentuk heksagonal pula, areal tempat tinggal para prajurit. Masih ada parit lagi yang membatasi areal itu dengan areal kastil. Dihubungkan dengan tiga jembatan pada beberapa titik, arus dari dan ke kastil dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Perlu dicatat, parit memang menjadi sistem pertahanan zaman lampau yang efektif menahan laju serangan. Jadi, Anda bisa membayangkan bagaimana sangat berlapisnya sistem pertahanan yang di situ.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;NAMUN&lt;/strong&gt;, kalau Anda berkunjung ke Taman Kastil Osaka sekarang, tak semua areal bisa Anda datangi. Selain kastil dan beberapa bangunan tersisa, sebagian besar bangunan yang masih ada, khususnya bekas hunian para prajurit telah beralih fungsi. Ada yang jadi sekolah, tempat pertunjukan, dan gerai toko. Tapi jangan khawatir, masih begitu banyak bangunan lama yang bisa Anda datangi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apalagi, meskipun harus rela berjalan jauh menyusuri tiap jalan panjang menuju kastil, pepohonan tinggi dan rindang memberi naungan para pengunjung.Bagaimana untuk bisa sampai ke taman kastil itu? Kami memang memakai mobil milik KJRI Osaka sehingga tak perlu memakai alat transportasi lain. Tapi Anda tak perlu merisaukan soal transportasi menuju ke situ asal mau sedikit berlelah-lelah berjalan. Dari stasiun JR Morinomiya atau dari stasiun Osakajoken keluar lewat pintu 1 dan 3, Anda cukup berjalan 15 menit untuk ke lokasi. Itu untuk pengguna &lt;em&gt;line&lt;/em&gt; kereta JR (bukan &lt;em&gt;subway&lt;/em&gt;). Kalau ingin memakai &lt;em&gt;subway&lt;/em&gt;, ada beberapa stasiun terdekat. Yakni, Temmabashi (pintu 3), Tanimachi 4-chome (pintu 1-B dan 9), Morinomiya (pintu 1 dan 3), dan Keihan Temmabashi (pintu 1-B dan 9). Di Taman Kastil Osaka, Anda bisa masuk ke areal taman yang luas sesuka hati tanpa dipungut bayaran. Hanya di kastil utama yang buka setiap hari dari pukul 9:00-17.00 (masuk terakhir 16.30), Anda harus membayar 600 Yen (sekitar Rp 48 ribu). Kami berhenti di tempat taksi &lt;em&gt;ngetem&lt;/em&gt; atau dekat halte bus Otemae. Berjalan menyusuri lantai ber-paving, kami melewati deretan cemara bonsai memasuki Otemon atau Gerbang Muka. Selanjutnya kami melewati Sengan Yagura yang merupakan gerbang kokoh dari kayu tua. Ini pintu gerbang yang membatasi areal yang dulunya hunian para prajurit. Setelah melewati Taiko Yagura (batu dalam bentuk drum yang juga menjadi dinding pertahanan), sebuah jalan menuju gerbang kedua yang menuju areal kastil melewati jembatan parit. Di balik gerbang itu ada sebuah sumur dalam bentuk persegi yang airnya disuplai lewat pipa bulat. Ginmeisui sebutan sumur yang berasal dari zaman Edo yang dibawa ke situ pada tahun 1931. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Air minum itu bisa dikonsumsi. Beberapa teman yang mencoba minum berujar, ''Oh, ini air berkhasiat rasa Jepang.'' Tentu saja itu hanya selorohan. Tapi benar bahwa itu berkhasiat. Selain punya nilai sejarah, pengunjung yang sudah melewati jalan panjang menyusuri areal di situ bisa &lt;em&gt;mampir ngombe&lt;/em&gt;. Meskipun tentu saja banyak air kemasan yang bisa dibawa pengunjung, sedikit menikmati air dari Ginmeisui tentu jadi kenangan tersendiri.Masih ada satu sumur lagi ketika kami telah melewati boks tiket. Namanya Kinzosui yang tertutup oleh jeruji besi. Di dekat sumur Ginmeisui itu, ada tembok tebal dan tinggi yang terbuat dari batu utuh. Itu yang disebut Sakuramon atau Gerbang Batu Sakura. Di depannya, seorang rahib dengan caping lebar dengan mangkuk kayu berdiri menunggu uluran uang pengunjung. Dia akan mengucapkan doa pemberkatan kepada penderma. Aha, tak cuma di situs-situs kunjungan Indonesia saja yang kadangkala ada pengumpul derma, di Jepang yang kaya pun ada.Dari situ pengunjung harus berjalan lagi menuju kastil. Di keluasan halamannya, ada beberapa situs lain yang menarik untuk dilihat seperti Osaka Museum of History yang pernah menjadi markas tentara Jepang selama Perang Dunia II dan pasca-perang sempat menjadi Markas Kepolisian Prefektural (setingkat provinsi) Osaka. Ada banyak aktivitas lain di situ, yaitu gerai suvenir, atau tempat berfoto dengan latar belakang kastil. Untuk berfoto, ada tiga peraga atau fanel dalam bentuk figur orang berbusana tradisional Jepang yang bagian wajahnya bolong sehingga kepala orang yang ingin berfoto bisa masuk ke situ.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;SEMESTINYA&lt;/strong&gt;, bangunan kastil itu ada delapan lantai dengan sebutan F. Hanya saja, ada satu lantai yang tetutup atau tak bisa dimasuki pengunjung, yaitu Lantai 6F. Saya tak tahu alasan mengapa pengunjung tak boleh ke situ. Dari brosur informasi pun tak ada catatan yang memberi alasan. Aki Adishakti yang menjadi ''pemandu dadakan'' kami pun tak tahu. Namun, itu bukan soal benar untuk mengetahui isi kastil yang punya nilai historis tinggi bagi wilayah Osaka tersebut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari pintu masuk di Lantai 1F yang dilengkapi dengan gerai suvenir dan boks telepon umum dan sebuah lukisan pendiri kastil Hideyoshi Toyotomi, kami dirujuk untuk memakai elevator menuju Lantai 5F. Seorang petugas penunggu elevator dengan setia membawa para pengunjung sembari memberi informasi. Tentu saja dalam bahasa Jepang. Tentu saja pada rombongan kami hanya Aki yang paham. Tapi intinya adalah ucapan selamat datang dan mempersilakan kami menikmati semua yang tersaji di dalam kastil tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lantai 5F menyuguhkan gambaran Perang Musim Panas di Osaka dalam layar kaca. Pada setiap &lt;em&gt;folding screen&lt;/em&gt;, kisah perang dihadirkan secara visual. Paling menarik adalah diorama dalam bentuk patung-patung kecil pada etalase kaca besar yang menyuguhkan ''jajar perang''. Pengunjung bisa mengamati seragam, senjata, dan formasi barisan pada etalase itu. Catatan yang ada di situ menyebutkan bahwa itu formasi Perang Musim Panas antara pasukan Osaka melawan Sanada dan Matsudaira.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari Lantai tersebut, kami naik ke lantai tertinggi di 8F. Alasannya, agar kunjungan kami bersifat efektif karena dari lantai tersebut bisa terus turun. Pengunjung lain pun begitu. Dan di 8F yang merupakan ruang observasi ke lanskap sekitar kastil. Sebagian Osaka terlihat dari situ. Di Lantai 7F, kehidupan pendiri kastil disuguhkan dalam diorama miniatur dalam bentuk &lt;em&gt;folding screen &lt;/em&gt;juga. Pada lantai 4F, 3F, dan 2F, kami melihat pelbagai jenis artefak peninggalan kastil yang disimpan di etalase.Menurut saya, Kastil Osaka itu layak dikunjungi, khususnya untuk para pengelola museum kita. Dukungan diorama miniatur dan &lt;em&gt;folding screen&lt;/em&gt; yang mengisahkan peperangan dan kisah kehidupan sehari-hari para tokohnya, plus tatanan areal tamannya yang bagus untuk bersantai, sangat patut dicontoh untuk sebuah museum di negeri kita. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya membayangkan misalnya dahsyatnya Perang Diponegoro melawan Belanda dihadirkan tak hanya berupa artefak, tapi kisah visual lewat video atau diorama miniatur. Kalau demikian, pasti lebih mengesankan pengunjung dan yakinlah pasti museum bakal sangat diminati. Dalam hal ini, Kastil Osaka tak sekadar pendedah kisah perang, tapi juga ruang belajar.(*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;* &lt;strong&gt;Dimuat pada Rubrik Jalan-jalan &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 29 Oktober 2006&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-7843158003694423174?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/7843158003694423174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=7843158003694423174' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/7843158003694423174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/7843158003694423174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/kastil-osaka-tak-sekadar-kisah.html' title='Kastil Osaka, Tak Sekadar Kisah Peperangan'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphmulqxNLI/AAAAAAAAABc/KIP-mp5IUco/s72-c/29jsata1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-1745060276076806641</id><published>2007-07-13T22:42:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T22:46:44.196-07:00</updated><title type='text'>Carilah Cheng Ho sampai ke Warung ‘’Ngosek’’</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;ALAM &lt;/strong&gt;banyak catatan, Cheng Ho singgah di Bandar Tuban sebelum ke keraton Majapahit. Tapi di Tuban sebelah mana dia dan awak kapalnya bersauh? Lalu mengapa nama Dampo Awang, tokoh legendaris yang konon mengiringi Cheng Ho, begitu kondang di wilayah pantura timur dari Semarang hingga Tuban?&lt;br /&gt;Dengan semangat mencari jejak-jejak Cheng Ho di wilayah tersebut, saya dan beberapa orang (Mas Soesiswo, Triyanto Triwikromo, Budi Maryono, dan Irawan A Aryanto) berangkat pagi-pagi. Di kelenteng Juwana, kami berhenti dan bertanya pada salah seorang biokong (penjaga kelenteng) apakah ada cerita Cheng Ho di situ.&lt;br /&gt;‘’Ndak ada. Cheng Ho ya di Semarang di kelenteng Sam Po Kong itu.’’&lt;br /&gt;Alasan perhentian di Juwana berasal dari asumsi bahwa daerah tersebut, khususnya sekitar kelenteng dulunya juga sebuah bandar tempat orang-orang China berdatangan dan bermukim di situ.&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan dan kami berhenti di kelenteng Rembang. Perhentian kali ini pun dengan asumsi Dampo Awang adalah nama yang sangat kondang di kota tersebut sampai-sampai misalnya PSIR (klub sepak bola) dijuluki Laskar Dampo Awang. Siapa tahu kekondangan sang Dampo itu meninggalkan jejak Cheng Ho yang lagi kami cari.&lt;br /&gt;‘’Lha saya ndak tahu. Masyarakat da sini juga ndak tahu Cheng Ho.’’&lt;br /&gt;Lalu kami melaju dan berniat tak lagi berhenti hingga Tuban. Sampai di Tuban, kami ke Kwan Sing Bio, kelenteng bagus dan megah di Kota Ranggalawe tersebut. Tak ada cerita tentang Cheng Ho di situ. Kami sempat sedikit frustrasi. Lalu dari diskusi kecil, sembari membayangkan bahwa pendaratan Cheng Ho pastilah di sebuah bandar, sebuah pelabuhan, kami memutuskan pergi ke tempat itu. Agak kecewa juga ketika diberitahu seseorang bahwa pelabuhan itu hanyalah tempat bersauhnya perahu-perahu nelayan setempat.&lt;br /&gt;Setelah rehat sejenak dan salat duhur, kami ke pelabuhan. Kami langsung menuju bekas dermaga yang sudah rusak parah. Di situkah dulu, enam ratus tahun lalu, Sang Laksamana menginjakkan kaki ke Tanah Jawa?&lt;br /&gt;Tak ada orang yang bisa dimintai cerita. Kami sudah berniat pulang. Lalu saya bertemu dengan seorang pencari udang rebon. ‘’Sampeyan tahu Cheng Ho atau Dampo Awang?’’&lt;br /&gt;Lelaki itu antusias bercerita. ‘’Itu di sana ada Sumur Srumbung. Ceritanya dulu di sini banyak pedagang China dan salah satunya Dampo Awang. Tapi Kanjeng Sunan Bonang tak suka dengan mereka. Karena marah, Kanjeng Sunan memukul tanah dengan tongkatnya hingga keluar air yang kini jadi Sumur Brumbung. Dampo Awang yang kalah sakti minta ampun sampai menciumi kaki Kanjeng Sunan sambil berseru-seru menghiba. Dari seru-seru ambung itu sumurnya dinamakan Srumbung.’’&lt;br /&gt;Aha, sebuah cerita. Dia memberi petunjuk ke arah sumur itu yang letaknya tak jauh dari pelabuhan tersebut. Lewat Jalan Sumur Srumbung, kami sampai di lokasi. Begitu banyak orang pada hunian berdesak-desakan di pinggir laut itu. Tapi Juru Kunci Sumur Srumbung tak tahu menahu legenda yang tersimpan pada sumur yang dijaganya itu.&lt;br /&gt;Dengan penuh keramahan beberapa orang menerima kami. Seseorang yang sudah tua segera bercerita mengenai sumur itu. Ceritanya agak berbeda dengan lelaki pencari udang rebon itu. Dia bilang Kanjeng Sunan Bonang itu tak terkait langsung dengan Dampo Awang.&lt;br /&gt;Kami semakin bingung. Lalu datanglah seorang lelaki yang cukup muda. Priyadi namanya. 40 tahun usianya. Dia dikenal sebagai juru cerita setiap kali ada orang yang datang mencari kisah mengenai Sumur Srumbung plus Dampo Awang plus keramik-keramik China yang hingga kini masih terus dicari di pinggiran Laut Tuban.&lt;br /&gt;Cerita Priyadi agak sama dengan milik lelaki pencari udang tadi. Paling menarik dari cerita dia dalah bahwa Dampo Awang dan Sam Po Kong alias Cheng Ho itu orang yang sama. (&lt;em&gt;Nah, unik benar kan kisah legenda itu?&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;''SAMPAI&lt;/strong&gt;i di perairan Tuban, Kapal-kapal orang China terempas badai. Kapal-kapal itu karam. Padahal banyak benda berharga di dalamnya. Makanya sejak tahun 1976,  kami terus mencari keramik-keramik China itu. Sampai sekarang masih saja ada orang yang menemukan. Wah harganya mahal,’’ ujar Priyadi.&lt;br /&gt;Lelaki itu berhenti sejenak, lalu, ‘’hanya ada satu orang yang selamat. Dampo Awang namanya. Karena dia orang sakti, dia bisa selamat dan berenang sampai pantai. Di pantai dia bertemu dengan seorang tua yang sedang memancing. Dia tak tahu kalau itu Sunan Bonang. Kanjeng Sunan memang suka mancing. Lalu mereka bertanya-jawab. Kanjeng Sunan bertanya pada Dampo Awang. Dia bercerita bahwa dirinya dari China bersama banyak orang tapi kapalnya terempas badai. Hanya dia yang selamat. Tapi yang membuat hati Dampo Awang gundah adalah hilangnya kitab milik dia yang konon diberikan oleh guru dia di China.&lt;br /&gt;‘’Kanjeng Sunan hanya tersenyum. Lalu Dampo Awang menanyakan jati diri lelaki tua pemancing itu. Kanjeng Sunan menjawab bahwa dirinya hanyalah orang biasa yang memang suka memancing. Tanpa sepengetahuan Dampo Awang, Kanjeng Sunan menetakkan tongkatnya ke tanah dan dari tanah itu keluarlah air beserta kitab milik Dampo Awang. Lelaki China itu takjub alang kepalang. Dia menerima kitab yang disodorkan Kanjeng Sunan. Air yang memancar dari tetakan tongkat itu kini disebut Sumur Srumbung. Dan setelah mengucapkan terima kasih, Dampo Awang berlalu. Dia bilang mau melanjutkan perjalanan darat ke arah Barat. Dia sampai di Pati dan ketemu Sunan Muria. Kalau Kisah Gunungrowo di Pati, saya ndak tak tahu.’’&lt;br /&gt;Priyadi selesai bercerita. Lalu saya tanya, ‘’Apa Dampo Awang cukup terkenal di sini?’’&lt;br /&gt;‘’Wah, ya ceritanya cuma begitu. Kalau di sini yang terkenal Kanjeng Sunan Bonang.’’(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Agustus 2005&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-1745060276076806641?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/1745060276076806641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=1745060276076806641' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1745060276076806641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1745060276076806641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/carilah-cheng-ho-sampai-ke-warung.html' title='Carilah Cheng Ho sampai ke Warung ‘’Ngosek’’'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3825913693365362444</id><published>2007-07-13T22:26:00.001-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:04.010-08:00</updated><title type='text'>Makhluk dari Mana Mereka?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphf8VqxNKI/AAAAAAAAABU/0Lr5pqrGPeo/s1600-h/midosuji3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086921269328295074" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphf8VqxNKI/AAAAAAAAABU/0Lr5pqrGPeo/s320/midosuji3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;UNTUK &lt;/strong&gt;meramaikan sekaligus untuk lebih menyosialisasikan Midosuji Parade, panitia menggelar &lt;em&gt;pre-event&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;pasca-event &lt;/em&gt;untuk semua negara yang akan berparade. Untuk acara yang mengawali (7/10), Indonesia dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Kabupaten Malinau, Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Masing-masing memiliki &lt;em&gt;venue &lt;/em&gt;(tempat tampil) yang berbeda. Saya yang mengikuti aksi Kabupaten Malinau dan Greget melihat pelbagai reaksi orang Jepang menyaksikan ciri kultural yang memunculkan entitas tradisional kami di tengah-tengah wilayah kosmopolitan milik mereka. Selain keterpesonaan, saya melihat muka-muka dengan kening berkerenyit. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di luar itu, saya juga melihat sebuah &lt;em&gt;shock teraphy &lt;/em&gt;kultural bagi kosmopolitanisme mereka ketika misalnya kami dari Dayak Kenyah lengkap dengan busana khas beraksi menyusuri sebuah pertokoan mewah yang ramai orang di Tenjinbashi Shopping Arcade. Bukan hanya di &lt;em&gt;venue&lt;/em&gt;, terapi kejutan itu telah bermula sejak kami keluar dari Mitsui Garden Hotel di Yodoyabashi dan ketika kami berdesak-desakan di dalam &lt;em&gt;subway&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Coba Anda bayangkan serombongan gadis memakai rompi bermanik-manik membentuk ornamen ukiran khas Dayak dengan tangan menggenggam kipas bulu burung enggang berjalan menyusuri lorong-lorong yang diapit gedung-gedung tinggi. Tak ada rumah panggung dari kayu atau jalanan tanah atau kelebatan pepohonan seperti yang mungkin Anda bayangkan di tempat asal mereka di Kalimantan. Bersama mereka, sekelompok pria berpakaian bulu burung membawa mandau (pedang khas Dayak-red) dan tameng. Di kepala mereka, terpacak sebuah mahkota penuh ornamen dan bulu burung pula. Selain itu, lihat pula tato bermotif tertentu yang menghiasi tangan dan kaki mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan orang-orang yang melihat kami dengan muka penuh tanya. Sesekali ada pula orang yang tampak takut sehingga segera memberi jarak ketika bersilang langkah dengan kami. Seolah-olah kami adalah serombongan makhluk asing yang hendak membuat ''persoalan'' di wilayah mereka. Meskipun begitu, ada pula yang sengaja berhenti dan dengan ponsel berkamera menjadikan kami objek fotografi yang menarik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keberagaman reaksi itu kami jumpai lebih banyak ketika berada di atas subway. Apalagi karena kereta penuh sesak, kami harus berhimpitan tubuh dengan penumpang lain. Secuek-cueknya mereka, keberadaan ''makhluk-makhluk asing'' itu tetap mengejutkan mereka. Tapi hanya muka-muka yang terkesan keheranan saja yang saya cermati. Tak seorang pun berusaha bertanya siapa kami sebenarnya. Sebenarnya beberapa dari kami pun mengalami semacam keterkejutan kultural tertentu. Wajar saja, khususnya para penari perang, mereka adalah orang-orang yang setiap hari tinggal di sekitar hutan yang setiap saatnya hanya akrab dengan pohon-pohon besar dan binatang liar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Naik &lt;em&gt;subway&lt;/em&gt; tentu saja sebuah pengalaman baru yang secara manusiawi pasti membuat gamang seseorang. Tapi syukurlah, kegamangan itu sirna begitu mereka harus mulai menyusuri lorong pertokoan mewah di Tenjinbashi itu. Dengan iringan &lt;em&gt;sampe&lt;/em&gt; (gitar) dan kulintang, tarian &lt;em&gt;Pabekah Tawai&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Perang Dance&lt;/em&gt; sukses mereka gelar. Apalagi sepanjang berjalan atau ketika beraksi di persimpangan lorong, orang-orang yang tengah berbelanja memberikan apresiasi yang bagus. Mereka berhenti, menonton, dan memberi tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphfMFqxNJI/AAAAAAAAABM/G9WsG8IrFGU/s1600-h/18jmidosuji2-G9-nas.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086920440399606930" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphfMFqxNJI/AAAAAAAAABM/G9WsG8IrFGU/s320/18jmidosuji2-G9-nas.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;*** &lt;p&gt;&lt;strong&gt;KALAU&lt;/strong&gt; siangnya, orang Osaka terpesona, terheran-heran, dan bertepuk tangan untuk eksotisme Dayak, malam harinya di Osaka City Central Hall, mereka bereaksi serupa untuk eksotisme yang lain. Greget Semarang yang menampilkan tari tradisional Jawa dengan tari ''&lt;em&gt;Pesisiran&lt;/em&gt;'' dan ''&lt;em&gt;Satria Yaksa&lt;/em&gt;'' paling tidak memberi informasi bahwa Indonesia memang kaya etnis dan entitas budaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tampil di gedung pertunjukkan megah, secara jujur kami yang dari Indonesia sempat cemas selama menyaksikan aksi panggung pelbagai bangsa di situ. Pasalnya, hampir semua negara menampilkan sajian yang bersifat kolosal. Padahal, dua tarian yang kami sajikan malam itu hanya dilakukan masing-masing oleh dua penari. Kecemasan itu berasal dari pikiran bahwa kami bakal ''kalah set'' dibandingkan penampil lain. Lebih-lebih lagi, Indonesia tampil di ujung acara.Lihat saja misalnya Shinkotoni Temburyujin dari Kota Sapporo (Jepang) yang memainkan atraksi tarian kolosal puluhan orang dengan keberagaman gerak dan permainan perkusi. Atau, aksi cantik akrobat dari Chang Jiang Delta Shanghai (China). Lihat pula bagaimana kelompok dari Reda National Folklore Dancing Troupe dari Mesir memainkan tarian rakyat mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, kecemasan itu sirna begitu ''&lt;em&gt;Satria Yaksa&lt;/em&gt;'' purna dimainkan. Kami mendengar aplaus penonton yang memenuhi gedung tersebut, sama seperti yang diberikan kepada penampil lain. Bukti lain bahwa yang tak kolosal dan yang klasikal seperti sajian Satria Yaksa memiliki pesona tersendiri adalah keinginan salah seorang penanggung jawab Midosuji Parade 2006 untuk menampilkan tarian itu pada &lt;em&gt;event &lt;/em&gt;lain. Meskipun masih berupa tawaran, tapi apresiasi seperti itu tetap membanggakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3825913693365362444?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3825913693365362444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3825913693365362444' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3825913693365362444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3825913693365362444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/makhluk-dari-mana-mereka.html' title='Makhluk dari Mana Mereka?'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphf8VqxNKI/AAAAAAAAABU/0Lr5pqrGPeo/s72-c/midosuji3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-6222142391503730725</id><published>2007-07-13T22:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:04.186-08:00</updated><title type='text'>''Kiutsukete, Mori-san''</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PARADE&lt;/strong&gt; Midosuji adalah puncak perayaan musim gugur tahunan di wilayah Osaka, Jepang. Tak hanya dari Jepang, puluhan negara diundang untuk ikut meramaikan. Tahun ini, Indonesia diwakili Kabupaten Malinau (Kaltim), Yayasan Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Ini catatan kecil saya ketika mengikuti rombongan Indonesia tersebut.(*)&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/Rphbf1qxNGI/AAAAAAAAAA0/6yqw0mwMY5c/s1600-h/midosuji3.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphdolqxNII/AAAAAAAAABE/ZjE2mWsa-zQ/s1600-h/18jmidosuji1-G9-nas.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086918731002623106" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphdolqxNII/AAAAAAAAABE/ZjE2mWsa-zQ/s320/18jmidosuji1-G9-nas.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;TAHUN&lt;/strong&gt; 2006, Parade Midosuji digelar Minggu (8 Oktober). Namun karena pada arak-arakan itu, tiap negara berhak menampilkan mobil hias, peserta harus sudah mengirim desain mobil hias jauh-jauh hari. Selain itu, untuk menghias pun membutuhkan beberapa hari pengerjaan. Alasannya tentu saja agar mobil yang ikut berparade terhias dengan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun sebelumnya, Indonesia yang diwakili Kabupaten Jembrana, Bali menampilkan mobil hias dengan replika sosok Rangda. Setelah absen tahun 2005, pada parade tahun 2006, Indonesia menampilkan mobil hias rumah adat Dayak dari Kabupaten Malinau, Kaltim. Tentu saja replika tersebut sejalan dengan tema yang diberikan panitia: kontribusi hutan hujan tropis Kalimantan untuk dunia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena butuh beberapa hari untuk menyelesaikan mobil hias, kami dari Indonesia telah datang ke lokasi di sebuah lapangan terbuka dekat KTV Osaka pada tanggal 4 Oktober. Dari 23 rombongan yang mengikuti Asian Festival 2006 beberapa hari sebelumnya, 10 orang masih bertahan untuk ikut Midosuji Parade. Sementara rombongan dari Kabupaten Malinau (Kaltim) dan Banyuwangi baru tiba di Osaka tanggal 6 Oktober. Meski begitu, sisa orang yang ada cukup untuk membantu penyelesaian mobil hias. Sebab, panitia telah menyediakan beberapa pekerja Jepang yang bertugas menghias mobil itu sesuai desain yang telah kami kirim sebelumnya.Nah, saat bekerja bersama-sama orang Jepang ini, saya beserta beberapa teman lain menjumpai sebentuk komunikasi yang cukup menarik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara umum, karakter orang Jepang hampir seperti kita. Khususnya, dalam soal bagaimana mereka berinteraksi dengan orang asing. Meskipun memiliki disiplin ketat ketika bekerja, mereka bukan mesin yang tak bisa tertawa. Apalagi mereka juga orang-orang yang ramah.Tak seorang pun dari kami bersepuluh bisa berbahasa Jepang selain ucapan &lt;em&gt;arigato gozaimasu&lt;/em&gt; (terima kasih banyak) atau &lt;em&gt;sumimasen&lt;/em&gt; (maaf, permisi). Sayangnya mereka pun banyak yang tak bisa bahasa Inggris, lebih-lebih lagi bahasa Indonesia. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana kami berkomunikasi selama menghias mobil itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Memang ada Aki Adishakti, staf Konsulat Jenderal RI di Osaka sebagai penyeranta komunikasi kami. Namun kalau setiap kali harus meminta ''sang penerjemah'' menjelaskan sesuatu, pekerjaan bisa berlarut-larut. Aki juga punya banyak urusan di Osaka sehingga tak selalu bisa menemani kami selama pengerjaan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;WALHASIL&lt;/strong&gt;, ''bahasa Tarzan''-lah penyambung urusan di situ. Tapi inilah asyiknya. Selain ramah dan mau bekerja sama, beberapa pekerja Jepang itu juga bisa bercanda. Meskipun picu candaan itu hampir selalu bermula dari kami. Seorang dari kami yang banyak bicara dan sok pamer kosakata dari Aki selalu mengulang-ulang sebuah ungkapan kepada Mori-san, salah seorang pekerja. Contohnya, ungkapan ''&lt;em&gt;chotomate kudasai&lt;/em&gt;'' (tolong tunggu). Setiap kali Mori-san mengerjakan sesuatu, latah benar &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphcIVqxNHI/AAAAAAAAAA8/iyYGOuZMeys/s1600-h/18jmidosuji2-G9-nas.jpg"&gt;&lt;/a&gt;dia selau mengucapkan itu. Entah sebal atau mungkin jengah atau bahkan terganggu pekerjaannya mendengar kecerewetan itu, lelaki itu berujar dengan tertawa, ''&lt;em&gt;Anata wa urusai desu&lt;/em&gt;.'' Tentu saja si cerewet dan kami yang buta bahasa Jepang hanya diam. Tapi Aki yang ada di sekitar itu tertawa lebar. Apa pasal? Kata Aki itu artinya ''Kamu cerewet''. Tak pelak, kami tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aki yang juga suka bercanda memberi tambahan kata: ''&lt;em&gt;kurukurupa&lt;/em&gt;'' yang berarti ''stres dan hampir gila''. Itu modal bagus buat kami untuk ganti ''mencereweti'' si cerewet itu. Tapi dasar tak bisa diam, setelah itu pun dia berkali-kali dia mengucapkan kalimat itu kepada Mori-san sambil tangannya menunjuk ke salah seorang dari kami. Adakalanya candaan itu berasal dari perbedaan persepsi kultural di antara kami. Ketika mendapat kata &lt;em&gt;kiutsukete&lt;/em&gt; yang berarti ''hati-hati'', teman yang tadi masih selalu saja pamer pada lelaki Jepang itu. Sudah berkali-kali pula lelaki itu ber-&lt;em&gt;arigato-arigato&lt;/em&gt;. Namun pada suatu momen saat dia harus memaku untuk menggantung topi hias sembari menaiki tangga, kalimat tadi keluar lagi dari mulut teman itu. Sontak beberapa pekerja lain tertawa lebar sembari menirukan ucapan, ''&lt;em&gt;Kiutsukete, Mori-san&lt;/em&gt;.'' Dengan wajah pongah, si cerewet itu menghambur ke penerjemahnya untuk mencari tahu mengapa mereka tertawa. Nah, itulah yang saya sebut adanya persepsi kultural yang berbeda. Bagi mereka memaku di mobil hias yang tak tinggi itu bukan sesuatu yang patut dicemaskan sehingga perlu disarankan agar seseorang harus ekstra hati-hati. Padahal di luar alasan bahwa dia bak beo yang lagi belajar sebuah kata, tentu saja dia bermaksud memberi perhatian sebagai tanda persahabatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di luar itu semua, saya yakin antara kami dan orang Jepang yang bekerja menghias mobil itu pasti terjalin proses saling belajar meskipun cuma sebentar. Yang lebih pasti, kami bisa bekerja sama tanpa ada praduga siapa di antara kami yang superior dan siapa pula yang inferior. Dan itu bisa dibangun lewat sebuah candaan.(*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-6222142391503730725?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/6222142391503730725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=6222142391503730725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/6222142391503730725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/6222142391503730725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/kiutsukete-mori-san.html' title='&apos;&apos;Kiutsukete, Mori-san&apos;&apos;'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphdolqxNII/AAAAAAAAABE/ZjE2mWsa-zQ/s72-c/18jmidosuji1-G9-nas.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-6530187715373752312</id><published>2007-07-13T21:56:00.001-07:00</published><updated>2007-07-13T22:01:09.081-07:00</updated><title type='text'>Puing-puing dari Zhong Baocun</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;M&lt;/span&gt;ARI&lt;/strong&gt; berandai-andai seputar petualangan ekspedisi Cheng Ho selama 28 tahun mengarungi berbagai lautan dan nasibnya sebagai sosok sejarah.&lt;br /&gt;Andai lelaki itu bukan seorang kasim, seseorang yang telah dikebiri, dan semua kapten kapalnya bukan kasim pula, maka para pejabat terpelajar konfusian tak akan marah dan menganggap menjelajah ke banyak negeri sebagai pengkhianatan terhadap ajaran konfusianisme. Andai Kaisar Zhu Gaozhi, pengganti Yong Le, tak terpengaruh kekuatan politik kaum konfusian itu, maka ekspedisi ketujuh bisa berjalan mulus dan tak akan terjadi penghancuran catatan permuhibahan berikut galangan kapal di Longjian. Andai tak ada penghancuran itu, maka kebesaran China di bidang maritim yang meneguhkan nama Laksamana Cheng Ho sebagai sang pionir akan bergaung ke seluruh dunia. Andai tak ada penghancuran itu, kita akan bisa membaca Cheng Ho dan ekspedisinya secara benar dan proporsional.&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Tapi sejarah tak bisa diandaikan. Barangkali memang Cheng Ho bukan sosok besar yang dimanjakan sejarah. Ketakutan kaum konfusian terhadap dominasi kekuatan kaum kasim -kaum yang mereka anggap tidak bermoral- telah memengaruhi seorang kaisar dengan tanpa beban menghancurkan semua keberhasilan ekspedisi. Akibatnya kebesaran China khususnya di bidang maritim seperti tak berjejak. Akibat paling buruk dari kekuatan pengaruh kaum konfusian tersebut adalah terisolasinya China sekian abad dari percaturan dunia.Jadi, segala cerita mengenai kebesaran dan kegegapgempitaan ekspedisi Cheng Ho hampir mirip kisah fiksi karena sangat sedikitnya bukti yang ada. Cukup ironis, memang. Betapa tidak ironis, tak banyak catatan tertulis yang menceritakannya. Sekadar contoh, catatan Ma Huan dan Fei Xin. Bahkan untuk mengenali kapal dan teknologi pembuatannya pun hanya kita peroleh dari puing-puing yang digali, misalnya di Zhong Baocun Nanjing. Hasil penggalian selama 1 tahun (2003-2004) oleh Pemerintah Kota Nanjing pun hanya berhasil menemukan Dok No 6. Semua itu kini bisa dilihat di Museum Seni di kompleks Chaotian Palace. Menurut catatan di museum tersebut, masih tersisa tiga dok yang belum digali pada areal sekitar 25 ribu meter persegi.Kalau ingin melihat beberapa benda yang diperoleh selama ekspedisi, kita harus pergi ke Kunyang di Provinsi Yunnan, tepatnya ke Museum Cheng Ho di areal Zheng He Guoyuan. Benda-benda yang masih tersisa pun tak banyak. Hanya ada rempah-rempah yang diperoleh selama permuhibahan, keramik,  jubah, topi, dan pedang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;M&lt;/span&gt;ELIHAT&lt;/strong&gt; kenyataan itu, betapa pentingnya puing-puing yang digali dari Zhong Baocun. Penempatan benda-benda yang ditemukan pada sebuah bangunan khusus di Museum Seni kompleks Chaotian Palace pun berguna bagi studi lebih lanjut mengenai teknologi perkapalan yang dikembangkan Cheng Ho semasa Dinasti Ming.&lt;br /&gt;Bangunan tersebut dinaungi dua pohon eks besar. Begitu memasuki pelatarannya, pengunjung telah bisa melihat gambar-gambar mengenai ekspedisi Cheng Ho pada dinding luar. Masih di luar bangunan, pada sisi kanan terdapat beberapa batang kayu besar berwarna hitam. Dilihat sekilas, batangan kayu itu mengesankan ketuaan. Di antara kayu-kayu tersebut terdapat dua batang kayu yang dipersiapkan sebagai anjungan kapal. Panjangnya 10,1 meter dan 11 meter dengan berat mencapai satu ton. Pihak &lt;em&gt;Nanjing Municipal Museum&lt;/em&gt; menganggap penemuan dua kayu itu sebagai penemuan luar biasa. Sebab, kita bisa melihat skala sebuah kapal yang disebut ''kapal berharga'' dari zaman Ming. Sayang sekali Gao Qin yang memandu selama liputan saya tak mengetahui jenis kayunya. Selain itu, di museum tersebut juga tak ada catatan mengenai jenis kayu yang dibuat kapal oleh Cheng Ho.&lt;br /&gt;Masuk ke dalam ruangan, pengunjung akan melihat sebuah jangkar yang telah berkarat. Di kanan kirinya terdapat berbagai jenis peralatan pembuatan kapal seperti kapak, tatah, gergaji, kikir, palu kayu, dan alat penyiku. Begitu pula ada banyak jenis temali, dayung, tiang kapal, beberapa meteran dari kayu yang disebut ''&lt;em&gt;wei jia qing ji&lt;/em&gt;'', serta ratusan pasak dalam beragam bentuk yang terbuat dari logam dan kayu.Selain benda-benda tersebut, terdapat berbagai banyak peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal. Menariknya, di situ disebutkan bahwa peralatan dapur yang paling banyak dipakai adalah mangkuk, piring, dan guci yang memiliki desain berbeda dengan umumnya barang pecah belah pada masa awal dan tengah Dinasti Ming,yangberarti pada zaman Cheng Ho bereskpedisi. Pada semua benda pecah belah itu terdapat tulisan berhuruf China dari tinta yang berbunyi ''&lt;em&gt;zhou&lt;/em&gt;'', ''&lt;em&gt;li&lt;/em&gt;'' dan ''&lt;em&gt;xu&lt;/em&gt;'' yang kondisinya masih sangat bagus. Benda lain yang ditemukan dalam kondisi bagus adalah sepasang sepatu dari serat palma berukuran 27,3 sentimeter. Itu sepatu yang dipakai awak kapal.Apa yang tersimpan di museum tersebut memang baru menguak sedikit mengenai aktivitas pembuatan kapal. Namun, nilainya tetap sangat berharga, khususnya bagi studi sejarah perkapalan pada zaman Dinasti Ming. Dari situ pula, terbaca peran Cheng Ho selama masa persiapan ekspedisi.&lt;br /&gt;Berbeda dengan museum tersebut, yang tersimpan di dalam Museum Cheng Ho di Kunyang adalah benda-benda yang diperoleh selama ekspedisi. Meskipun tak banyak, dan memang tak terbaca asal-usulnya perolehannya, keberadaan benda-benda tersebut tak bisa dimungkiri keberartiannya. Di dalam museum, selain maket mengenai rute pelayaran Cheng Ho dan beberapa patung Sang Laksamana terdapat beberapa keramik yang tak utuh lagi. Begitu pula pada satu etalase terdapat beberapa piring yang berisi rempah-rempah seperti pala, kemiri, cengkeh, garam, kayu manis, lada hitam, dan beberapa lainnya. Boleh dibayangkan, rempah-rempah itu kemungkinan besar diperoleh dari wilayah tropis. Selain itu, pada ruang yang terpisah, terdapat beberapa benda yang dipakai para awak kapal seperti jubah, topi, pedang, dan mahkota. Di ruang tersebut terpajang pula beberapa lukisan yang menceritakan interaksi Cheng Ho dan awak kapalnya dengan penduduk yang disinggahi kapal mereka. Ada lukisan yang memperlihatkan Cheng Ho dan seorang asistennya tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang memakai jubah dan turban, sementara di sekitar mereka terdapat berbagai jenis gubi dan barang persembahan. Boleh jadi itu gambaran ketika armada Cheng Ho singgah di Kalikut, India. Ada pula lukisan yang menceritakan permuhibahan Cheng Ho ke bumi Afrika. Di situ, Cheng Ho beserta beberapa pengiringnya disambut dengan ramah oleh orang-orang berkulit hitam. Sambutan penuh persahabatan itu bisa dilihat misalnya bagaimana Cheng Ho dipayungi payung kebesaran warna kuning dan dia terlihat berbincang-bincang penuh keceriaan dengan seorang kulit hitam yang memakai mahkota.&lt;br /&gt;Selain dua lukisan tersebut, sebuah lukisan yang sangat menarik buat saya. Pada lukisan itu, Cheng Ho bersama beberapa pengiringnya duduk di sebuah ruangan (mirip sebuah paseban kerajaan) tengah menikmati tarian tiga perempuan. Ketertarikan saya terutama pada para penari berkostum laiknya para penari Bali ketika menari Jangger atau Legong. Di bawah lukisan tersebut terdapat tulisan China dan angka latin 1410. Sayang sekali, tak ada pemandu atau orang yang bisa saya tanyai  ketika berada di situ. Boleh jadi  angka itu menunjukkan tahun peristiwa yang dilukiskan. Dan kalau melihat kostum penari yang saya bayangkan mirip penari Bali tersebut, saya membayangkan peristiwa dalam lukisan itu terjadi di Majapahit. Kita tahu pengaruh kebudayaan Majapahit begitu kental terasa di Bali. Dan kalau sepakat dengan asumsi bahwa Jawa disinggahi enam kali (selain ekspedisi keenam), maka kemungkinan peristiwa itu terjadi pada muhibah ketiga (1409-1411).&lt;br /&gt;Jadi memang tak begitu banyak benda yang ditinggalkan oleh cerita besar ekspedisi Cheng Ho. Itu menjelaskan, bahwa politik, seperti yang dimainkan pejabat konfusian pada zaman Cheng Ho, sering benar begitu kejam mengubah alur sejarah atau bahkan menguburkannya. Bayangkan, untuk armada permuhibahan klasik dengan kekuatan lebih dari 300 kapal dan melibatkan hampir 30 orang, hanya bisa dilihat jejak-jejak artefaknya dari penggalian puing-puing sebuah dok.&lt;br /&gt;Ya, Cheng Ho barangkali memang bukan sosok yang dimanja sejarah, atau bukan tokoh yang disukai sosok-sosok sejarah pada zamannya. Tapi siapa bisa menyangkal kebesaran namanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Agustus 2005&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-6530187715373752312?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/6530187715373752312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=6530187715373752312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/6530187715373752312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/6530187715373752312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/puing-puing-dari-zhong-baocun.html' title='Puing-puing dari Zhong Baocun'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3431110464251599160</id><published>2007-07-13T21:48:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T21:55:22.304-07:00</updated><title type='text'>Inskripsi Batu di Fujian</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;J&lt;/span&gt;ANGAN&lt;/strong&gt; tersinggung bila disebutkan bahwa negara-negara yang disinggahi Cheng Ho selama tujuh kali ekspedisinya hanyalah negara-negara ''barbar''. Itu pendapat Kaisar Yong Le tentang negeri-negeri di luar China. Alasannya tak lain dan bukan karena kebanggaannya akan peradaban China yang menurutnya sangat maju.&lt;br /&gt;Inskripsi batu yang berada di Kuil Istri Langit di Changle, Provinsi Fujian China yang bertengara tahun 1431 menyebutkan soal bangsa-bangsa ''barbar'' tersebut. Inskprisi itu semacam laporan yang ditulis Cheng Ho dan krunya kepada kaisar China.&lt;br /&gt;Lihatlah contoh yang tertulis di batu itu: ''Negeri-negeri kaum barbar yang telah kami kunjungi adalah &lt;em&gt;Zhancheng&lt;/em&gt; (Vietnam), &lt;em&gt;Zhaowa&lt;/em&gt; (Jawa), &lt;em&gt;Sanfoqi&lt;/em&gt; (Palembang), dan &lt;em&gt;Xianlo&lt;/em&gt; (Thailand), menyeberang ke &lt;em&gt;Xilansan&lt;/em&gt; (Srilanka) di Selatan India, &lt;em&gt;Guli&lt;/em&gt; (Kalikut), dan &lt;em&gt;Kezhi&lt;/em&gt; (Cochin), dan kami telah pergi ke daerah-daerah barat di Hulumosi (Hormuz), &lt;em&gt;Adan&lt;/em&gt; (Aden), &lt;em&gt;Mugudushu&lt;/em&gt; (Mogadishu), semuanya lebih dari 30 negeri besar dan kecil''.&lt;br /&gt;Selain itu, inskripsi juga sangat penting untuk menjelaskan rute ekspedisi yang telah ditempuh selama 28 tahun sejak permuhibahan Cheng Ho dimulai tahun 1405. Tak ada salahnya kalau dituliskan di sini catatan perjalanan kapal-kapal Cheng Ho berdasarkan inskripsi batu di Changle Fujian. Catatan tersebut tak hanya penting untuk mengetahui rute perjalanan, tetapi juga kiprah Cheng Ho dan semua awak kapalnya sepanjang pelayaran.&lt;br /&gt;I. Pada tahun ketiga Yongle (1405), armada bergerak menuju Guli (Kalikut) dan negeri-negeri lainnya. Pada saat itu, bajak laut Chen Yuzi telah mengumpulkan semua pengikutnya di negeri &lt;em&gt;Sanfoqi&lt;/em&gt; (Palembang) tempat dia merompak dan mengganggu pedagang pribumi. Dan ketika dia juga berusaha menghalangi laju armada kami, para serdadu supernatural secara sembunyi-sembunyi datang menyelamatkan, maka dalam satu pukulan genderang, dia takluk. Dia tahun kelima (1407), kami kembali.&lt;br /&gt;II. Di tahun kelima Yongle (1407), armada diperintahkan pergi ke &lt;em&gt;Zhaowa&lt;/em&gt; (Jawa), &lt;em&gt;Guli&lt;/em&gt; (Kalikut), &lt;em&gt;Kezhi&lt;/em&gt; (Cochin), dan &lt;em&gt;Xianle&lt;/em&gt; (Thailand). Semua raja di negeri-negeri tersebut mengirimkan benda berharga, burung berharga, dan binatang langka sebagai persembahan pada Sang Kaisar. Pada tahun ketujuh (1409), kami kembali.&lt;br /&gt;III. Pada tahun ketujuh Yoinge (1409), armada diperintahkan menuju negeri-negeri (yang telah dikunjungi) sebelumnya dan kami mengambil rute melewati negeri &lt;em&gt;Xilanshan&lt;/em&gt; (Srilanka). &lt;em&gt;Yaliekunaier&lt;/em&gt; (Alagakkonara), rajanya bersalah karena sangat tidak menghormati perjalanan kami. Atas restu dari sang dewi (maksudnya Tianfei, Dewi Pelindung Laut kaum tao-Red), sang raja bisa ditangkap hidup-hidup. Di tahun kesembilan (1411), ketika kami kembali sang raja dibawa (kepada sang kaisar) (sebagai tawanan); selanjutnya dia mendapat anugrah Kekaisaran yaitu boleh kembali ke negerinya.&lt;br /&gt;IV. Pada tahun kesebelas Yongle (1413), armada diperintahkan menuju &lt;em&gt;Hulumosi&lt;/em&gt; (Hormuz) dan negeri-negeri lain. Di negeri Sumendala (Samudra) terdapat raja palsu &lt;em&gt;Suganla&lt;/em&gt; (Iskandar) yang telah merampas dan menduduki negeri itu. Rajanya &lt;em&gt;Cainu-liabiding&lt;/em&gt; (Zainul Abidin) telah mengirim pesan ke Gerbang Istana (Kaisar China) untuk minta bantuan. Kami segera ke tempat tersebut dengan bala tentara resmi di bawah komando kami dan menghancurkan dan menangkap (para pemberontak), dan atas restu sang dewi kami berhasil menangkap raja palsu itu hidup-hidup. Di tahun ketigabelas (1415), ketika kami kembali, ia dibawa menghadap Kaisar sebagai tawanan. Pada tahun itu juga, raja &lt;em&gt;Manlajia&lt;/em&gt; (Malaka) beserta istri dan anaknya datang menghadap untuk memberikan persembahan.V. Pada tahun kelimabelas Yongle (1417), armada diperintahkan menuju daerah-daerah barat. Negeri &lt;em&gt;Hulumosi&lt;/em&gt; (Hormuz menghadiahi singa, leopar bertutul emas, dan kuda-kuda besar. Negeri &lt;em&gt;Adan&lt;/em&gt; (Aden) menghadiahi &lt;em&gt;qilin&lt;/em&gt; yang aslinya bernama &lt;em&gt;culafa&lt;/em&gt; (jerapah) dan binatang bertanduk panjang &lt;em&gt;maha&lt;/em&gt; (oryx). Negeri &lt;em&gt;Mugudushu&lt;/em&gt; (Mogadishu) menghadiahi &lt;em&gt;huafu lu&lt;/em&gt; (zebra) dan singa. Negeri &lt;em&gt;Bulawa&lt;/em&gt; (Brawa) menghadiahi unta yang bisa berlari seribu &lt;em&gt;li&lt;/em&gt; (ukuran panjang China) seperti burung unta. Negeri &lt;em&gt;Zhaowa&lt;/em&gt; (Jawa) dan &lt;em&gt;Guli&lt;/em&gt; (Kalikut) menghidahi hewan &lt;em&gt;miligao&lt;/em&gt;. Mereka semua dengan penuh kerelaan memberikan semua benda yang berada di gunung atau tersembunyi di lautan, dan semua benda indah yang terbenam di pasir atau tertimbun di pantai-pantai. Beberapa mengirim paman raja dari garis ibu, yang lainnya mengirim paman dari garis ayah atau adik raja untuk menyerahkan surat persembahan dengan kertas emas.&lt;br /&gt;VI. Pada tahun kesembilanbelas Yongle (1421), armada diperintahkan membawa para duta besar dari &lt;em&gt;Hulumosi&lt;/em&gt; (Hormuz) dan negeri-negeri lainnya yang telah berada di istana kaisar sekian lama untuk kembali ke negeri mereka. Raja-raja dari negeri-negeri tersebut bahkan telah menyiapkan banyak persembahan dari yang telah diberikan sebelumnya.&lt;br /&gt;VII. Pada tahun keenam Xuande (1431) (cucu Yongle yang memerintahkan permuhibahan kembali setelah sempat dihentikan oleh kaisar sebelumnya) sekali lagi memerintahkan untuk menuju negeri-negeri kaum barbar yang telah kami singgahi untuk membacakan pada mereka (sebuah perintah resmi Kekasisaran) dan untuk memberikan hadiah.Dan catatan itu, dengan bahasa yang cukup puitis, diakhiri dengan kalimat-kalimat: ''Kami bersauh di pelabuhan ini menantikan angin utara membawa kami berlayar, dan menyerukan betapa sebelumnya kami telah mendapat berkah perlindungan dari kuasa ilahi sehingga kami bisa mencatatkan sebuah inskripsi pada batu.''&lt;br /&gt;Kalau sekarang inskripsi itu ada di Changle, provinsi Fujian, dan tahun yang ditulis 1431, maka kita bisa membayangkan pelayaran muhibah yang terakhir Cheng Ho itu masih belum keluar dari wilayah China. Dan mungkin saja memang Cheng Ho, sang navigator agung itu, tak pernah lagi bisa menginjakkan kaki di negerinya, sebab banyak kalangan meyakini dia mati di laut pada tahun 1433.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin, &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;dari berbagai sumber&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3431110464251599160?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3431110464251599160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3431110464251599160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3431110464251599160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3431110464251599160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/inskripsi-batu-di-fujian.html' title='Inskripsi Batu di Fujian'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-1298048547469002008</id><published>2007-07-13T21:45:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T21:48:31.005-07:00</updated><title type='text'>Cheng Ho di Bumi Nusantara</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;B&lt;/span&gt;ERAPA &lt;/strong&gt;kali Cheng Ho singgah di bumi nusantara? Tak cukup mudah menjawab pertanyaan itu. Dari referensi yang saya baca memang ada kesepakatan mengenai banyaknya ekspedisi sejumlah tujuh kali berikut rentang tahun masing-masing ekpedisinya. Namun, tak ada ketunggalan catatan mengenai rute yang ditempuh pada tiap-tiap permuhibahan.Ada yang mengasumsikan, bahwa rute pada permuhibahan perdana (lihat tulisan &lt;em&gt;Bermula dari Nanjing)&lt;/em&gt;, adalah rute rutin yang selalu disinggahi dalam pelayaran, baik ketika armada berangkat ke tujuan utama maupun ketika pulang kembali ke China.&lt;br /&gt;Bahkan ketika permuhibahan Cheng Ho jauh sampai ke barat di Hormuz di Teluk Persia, Aden di Yaman, dan Mogadishu dan Mombasa di Kenya, berangkat atau pulangnya selalu mampir ke bumi nusantara. Berdasarkan asumsi tersebut, sudah pasti bumi nusantara (yang disepakati pada hampir seluruh catatan adalah Jawa dan Sumatra) disinggahi tujuh kali pada tujuh kota, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, Semarang, Palembang, Deli, dan Samudra.&lt;br /&gt;Asumsi tersebut sejalan dengan tulisan Jean Johnson berjudul ''&lt;em&gt;Should the Ming End the Treasure Ship Voyages?&lt;/em&gt;'' (1997) yang diterbitkan New York University. Dalam tulisannya, Johnson, menyebutkan bahwa pada setiap ekspedisinya, armada Cheng Ho selalu melewati dan berhenti di beberapa kota pelabuhan di Indonesia, tepatnya Jawa dan Sumatra. Itu bahkan dilakukan ketika Cheng Ho tak ikut pada ekspedisi kedua. Menurut Johnson, hanya pada ekspedisi keenam, Jawa tak disinggahi. Untuk lebih jelasnya, berikut diterakan lebih rinci mengenai rute perhentian armada permuhibahan Cheng Ho.&lt;br /&gt;Muhibah perdana (1405-1407) dengan tujuan utama Kalikut di India, armada berhenti di Vietnam, Jawa (Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang), Sumatra (Palembang, Deli, dan Samudra), Siam atau Thailand, Srilanka, dan Kalikut.Muhibah Kedua (1407-1409) dengan tujuan utama Kalikut berhenti di pelabuhan-pelabuhan yang sama dengan muhibah pertama. Muhibah ketiga (1409-1411) dengan tujuan utama Malaka, armada mengarungi laut dan singgah di Jawa, Sumatra, Thailand, dan Srilanka. Muhibah keempat (1413-1415) dengan tujuan utama Hormuz dan Teluk Persia berhenti di Jawa, Sumatra, Malaysia, Srilanka, India, dan Maladewa. Muhibah kelima (1417-1419) yang bertujuan mengembalikan 19 duta besar negara-negara yang berkunjung ke China, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Sumatra, Malaka, Maladewa, Srilanka, Cochin dan Kalikut di India, Hormuz, terus dilanjutkan ke Aden di Yaman, hingga ke pantai timur Afrika seperti Mogadishu, Brawa, Malinda, dan berhenti di Mombasa Kenya. Muhibah keenam (1421-1422) dengan tujuan utama pantai timur Afrika, armada sempat berhenti di Sumatra khususnya Samudra di Aceh. Muhibah terakhir atau ketujuh (1431-1433) dengan tujuan utama Kalikut, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Palembang, Malaka, Samudra, dan Srilanka. Namun, pada saat perhentian di Kalikut, disebut-sebut ada sebuah kapal yang terus berlayar hingga ke Afrika, dan bahkan ke Makkah.&lt;br /&gt;Kalau dibandingkan dengan catatan yang terdapat pada inskripsi batu yang berdiri di Fujian, tercatat empat kali bumi nusantara dikunjungi. Yakni, &lt;em&gt;Sanfoqi&lt;/em&gt; (Palembang Sumatra) pada permuhibahan perdana (1405-1407), &lt;em&gt;Zhaowa&lt;/em&gt; (Jawa) pada pelayaran kedua (1409-1411), &lt;em&gt;Sumendala&lt;/em&gt; (Samudra, Aceh) pada yang keempat (1413-1415), dan Zhaowa pada permuhibahan kelima (1417-1419).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;dari berbagai sumber&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;* &lt;/em&gt;Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho&lt;em&gt; Suara Merdeka, &lt;/em&gt;Agustus 2005&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-1298048547469002008?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/1298048547469002008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=1298048547469002008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1298048547469002008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1298048547469002008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/cheng-ho-di-bumi-nusantara.html' title='Cheng Ho di Bumi Nusantara'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3256548712793215801</id><published>2007-07-13T21:41:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T21:44:18.406-07:00</updated><title type='text'>Bermula dari Nanjing</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;J&lt;/span&gt;ULI &lt;/strong&gt;1405. Pelayaran muhibah pertama Cheng Ho segera dimulai. Kapal-kapal dari Galangan Longjiang Nanjing dihela ke pelabuhan terdekat di Liujia Taicang, kota pantai 40 kilometer dari Shanghai. Seluruh kru berkumpul di Kuil Jinghai, Taicang untuk berdoa pada Tianfei, dewi kaum Tao pelindung laut.&lt;br /&gt;Setelah berdoa, armada mulai bergerak menyusuri Teluk Liu menuju Sungai Yangtse sebelum sampai di laut lepas. Banyak silang pendapat mengenai jumlah kapal yang ikut dalam pelayaran perdana. Ada yang menyebut 62 kapal. Namun, ada pula yang menyebut lebih dari 100 kapal, bahkan ada yang berani menyebut 317 buah. Di luar perbedaan jumlah tersebut, yang pasti pelayaran muhibah itu mirip sebuah konvoi laut gigantis yang meriah dengan bentuk arsitektural memikat.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah armada tersebut, beberapa di antaranya adalah kapal-kapal bendera yang superbesar. Bayangkan, pada zaman itu, orang-orang China tersebut telah mampu membikin kapal sepanjang 400 kaki (122 meter) dan lebar 160 kaki (50 meter). Bandingkan dengan kapal Santa Maria kebanggaan si Eropa Columbus itu yang hanya berpanjang 90 kaki (28 meter) dan lebar 30 kaki (9 meter). Belum lagi kru yang ada di semua kapal itu. Cheng Ho bersama 27.800 orang, sementara kru Columbus hanya 90 orang.&lt;br /&gt;Belum lagi kalau kita mencermati kapal-kapal khusus pada armada Cheng Ho yang rata-rata sepanjang 339 kaki (103 meter), yaitu kapal khusus kuda, air segar, kapal khusus serdadu, kapal penyuplai, dan kapal perang. Bayangkan pula beragam barang yang dibawa dari China seperti sutra, emas, dan porselin untuk diperdagangkan.&lt;br /&gt;Teknologi navigasi yang dipakai untuk ukuran zaman itu pun sangat mencengangkan. Ada kompas temuan China di abad ke-11. Ada pula batangan hio yang menengarai waktu dengan hitungan tiap 10 batang berarti 1 hari. Untuk saling berkomunikasi antara satu kapal dengan kapal lainnya, para kru menggunakan bendera, lentera, genta, merpati pos, gong, dan helaian kain.&lt;br /&gt;Dalam kunjungan saya ke Museum Cheng Ho di Chaotian Palace Nanjing, sisa-sisa pelayaran Cheng Ho yang ditemukan lewat penggalian terhadap Dock No 6 di wilayah antara San Chahe dan Zhong Baocun di Nanjing memberikan tambahan pengetahuan mengenai betapa tingginya teknik navigasi laut pada zaman tersebut. Umumnya, peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal adalah mangkuk, piring, dan guci yang desainnya jauh berbeda dengan umumnya desain pot atau porselin pada masa awal Dinasti Ming. Pada bagian bawah peralatan yang tertemukan dalam kondisi utuh, terdapat huruf dari tinta China yang berbunyi ''Zhou'', ''Li'', dan 'Xu''. Begitu pula, sepasang sepatu dari pohon palma yang ditemukan secara mencengangkan masih utuh kondisinya. Panjangnya 27,3 sentimeter yang umumnya dipakai para awak kapal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Y&lt;/span&gt;A&lt;/strong&gt;, dengan kedahsyatan armadanya, Cheng Ho sudah siap menjadi seorang penakluk lautan. Tujuan utamanya adalah bandar Guli (Kalikut) di barat daya India yang sejak lama dikenal orang China sebagai pusat perdagangan. Lewat Laut Cina Timur menyusur ke barat hingga di Laut China Selatan dan tiba sampai di Zhancheng (Vietnam yang dulunya bernama Campa), kapal-kapal berhenti di pelabuhan Qui Nhon. Selama persinggahan di situ, kru Cheng Ho begitu takjub mendapat pengalaman baru. Situs internet majalah Time menuliskan bagaimana kru Cheng Ho begitu terkejut sekaligus terpesona menyaksikan dua orang yang berseteru diminta naik kerbau menuju rawa-rawa tempat buaya yang ganas akan memakan orang yang bersalah. (lihat www.time.com/asia/features/journey2001/map.html).&lt;br /&gt;Dari Vietnam armada kembali bergerak menuju Laut Jawa dan mendarat di Pulau Jawa (&lt;em&gt;Zhaowa&lt;/em&gt;). Tujuannya sudah pasti untuk menyinggahi Kerajaan Majapahit yang kala itu memang sudah kondang. Masih berdasarkan Time, ada empat titik kota yang disinggahi, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang. Lagi-lagi ada ketakjuban orang asing berhadapan dengan wilayah baru.&lt;br /&gt;Di Mojokerto, orang-orang Cheng Ho yang masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit takjub menyaksikan raja yang tak beralas kaki menunggangi gajah dan tinggal di istana yang dikelilingi tembok setinggi 10 meter. Di Surabaya, salah seorang penerjemah Cheng Ho dibuat terkesima ketika menyaksikan seorang perempuan yang mandul meminta berkah dari seekor lutung tua dengan persembahan anggur, beras, dan kue-kue di satu pulau dekat kota tersebut (Madura?). Menyusur ke barat, armada sampai ke Tuban. Di kota tersebut, para awak kapal seolah-olah menjumpai orang-orang dari bangsanya. Apa pasal? Sebab, awak kapal mendapat kisah bahwa ada sebuah pancuran keramat yang muncul tiba-tiba bersamaan dengan hilangnya seorang tentara China (kaum tartar dari Mongolia dipimpin Kubilai Khan) pada akhir abad ke-13. Itu tahun ketika Kerajaan Majapahit telah mulai bertahta.&lt;br /&gt;Khusus untuk persinggahan di Semarang, Time dan beberapa sumber lain menuliskan sebuah ironisme. Sebab, keterkejutan dan kekaguman terhadap orang asing yang dimiliki kru Cheng Ho seolah-olah harus dibayar dengan sebuah ketakutan. Konon, awak kapal Cheng Ho menjumpai orang-orang yang mengacungkan keris kepada orang asing yang ditemui. Tak ayal mereka beranggapan, orang Jawa adalah orang terkejam di dunia.&lt;br /&gt;Menyusuri Laut Jawa, aramada bergerak ke barat dan singgah di Sanfoqi (Palembang). Bekas pusat wilayah Kerajaan Sriwijaya itu memang telah dikenal orang-orang China sebgai pusat perdagangan laut. Sembari singgah, konon Cheng Ho juga berusaha mencari lanun China yang menjadi buronan kaisar Yong Le. Di daerah tersbeut, kru Cheng Ho menjumpai kaum imigran China yang telah hidup makmur, serta kebiasaan mereka yang suka berjudi dan adu jago.&lt;br /&gt;Armada lalu menyusuri perairan timur Sumatra dan singgah di dua bandar, yakni Deli (Sumut) dan Sumendala (Samudra, Aceh). Di Deli, kru Cheng Ho terpesona menjumpai seekor binatang yang disebut ''harimau terbang''. Binatang itu sebesar kucing dengan badan tertutupi bulu-bulu berwarna abu-abu. Di Samudra, keterpesonaan semakin menjadi-jadi melihat adanya badak dan banyaknya kayu laka. Kayu tersebut secara rutin sering dikirim ke China sebagai hadiah.&lt;br /&gt;Dari Sumatra, armada melaju ke bandar Ayutthaya di Xianlo (Thailand). Di tempat tersbeut, kru Cheng Ho mempelajari satu hal: perempuan lebih berdaya dibandingkan lelaki. Sebab, mereka mengurusi hampir semua urusan, dari perdagangan hingga soal-soal pemberian sanksi. Dari situ, barulah armada menyeberangi Samudra Hindia menuju Xilanshan (Srilangka) dan singgah di pelabuhan Kataragama. Di wilayah ini, ketangguhan seorang Cheng Ho di bidang kemiliteran diuji. Dia harus menaklukkan raja Sinhasale. Dan dari wilayah itu pula muncul sebuah kisah kegendaris, bahwa ketika Cheng Ho berhasil menaklukkan Srilangka, dia mencuri relika suci berupa sepotong gigi Buddha. Konon gigi tersebut dipercaya sebagai jimat pelindung untuk kepulangan aramada ke China.&lt;br /&gt;Akhir Tahun 1406, Armada akhirnya sampai ke kota tujuan utama: Kalikut. Mereka sempat pula singgah di dua tempat lainnya, yaitu Koshin dan Quilon. Di situ, awak kapal Cheng Ho membongkar muatan dan melakukan perdagangan dengan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;''Kalikut memang wilayah yang sungguh hebat di perairan samudra barat,'' begitu komentar awak kapal Cheng. Komentar itu sekaligus menegaskan, pelayaran mereka untuk melihat dengan mata kepala sendiri daerah Kalikut yang telah banyak disebut itu sungguh tak sia-sia.&lt;br /&gt;Musim semi 1407, dengan menggantungkan pada angin muson, armada berlayar untuk kembali ke tempat asal. Rute yang ditempuh adalah rute yang dilalui sebelumnya yaitu menyeberangi Samudra Hindia, ke Selat Malaka dan menyusuri tepian timur Sumatra. Di Selat Manlajia  (Malaka), awak kapal yang singgah mencermati perikehidupan orang Malaka yang begitu sibuk dalam bidang perdagangan. Pada setiap sudutnya, seperti kesaksian para awak kapal, pembangunan sebuah negara kota sedang sangat giat-giatnya dilakukan. Kalau melihat kesaksian itu, kita mungkin mengasumsikan bahwa wilayah yang disiggahi tersebut adalah Singapura. Kita tahu sebelum memerdekakan diri, Singapura adalah bagian dari Malaysia.&lt;br /&gt;Angin memang sedang baik-baiknya. Tapi armada Cheng Ho harus membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa kembali ke negerinya. Pasalnya, di perairan Sumatra, armadanya terlibat bentrok dengan kawanan perompak atau lanun. Lagi-lagi kegagahan Cheng Ho diuji di sini. Perompak berhasil dikalahkan dan dia membawa serta kepala perompak. Ia orang yang dicarinya untuk dibawa ke kaisar Yong Le. Sangat mungkin kepala perompak yang ditawan itu bernama Chen Zhu Yi seperti yang ditulis Remy Sylado dalam &lt;em&gt;Sam Po Kong&lt;/em&gt;. Armada ekspedisi pertama itu telah kembali ke Nanjing dengan membawa banyak cerita, benda, dan kehendak menggelora untuk kembali mengarungi lautan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Agustus 2005&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3256548712793215801?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3256548712793215801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3256548712793215801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3256548712793215801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3256548712793215801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/bermula-dari-nanjing.html' title='Bermula dari Nanjing'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-3786973802993502917</id><published>2007-07-13T21:32:00.001-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:04.449-08:00</updated><title type='text'>Menulis (Lagi) Jejak Kebesaran Sang Navigator</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;I&lt;/strong&gt; antara rerimbun pinus dan sipres, sebuah bangunan berarsitektur paduan China-Islam berdiri. Ia seperti bersembunyi di tengah-tengah keluasan dan kelebatan pepohonan di Zheng He Guoyuan (Taman Cheng Ho) di Kunyang, Yunnan, China. Tepat di bawah atapnya, sebuah epitaf dalam huruf China berbunyi: ''Epitaf bagi Ayahku Haji Ma''.&lt;br /&gt;Dan karena epitaf tersebut, orang Kunyang jadi ingat kembali nama Ma He alias San Bao alias Cheng Ho. Apalagi di tengah-tengah bangunan terdapat sebuah prasasti yang berisi biografi Cheng Ho tertulis. Orang besar itu memang lahir di Kunyang tahun 1371 dari etnis Hui yang beragama Islam dengan nama aslinya Ma He&lt;br /&gt;Kenapa ingat kembali? Apakah selama ini navigator agung yang melakukan ekspedisi bahari tak tertandingi pada zamannya itu dilupakan? Apakah jasa lelaki kasim menggaungkan kebesaran Kekaisaran China ke banyak negeri tak berarti apa-apa bagi orang negerinya?&lt;br /&gt;Beberapa literatur yang saya baca memang menyebutkan proses penghancuran besar-besaran terhadap semua yang telah dilakukan Cheng Ho oleh penguasa China setelah berakhirnya ekspedisi di tahun 1433, khususnya atas pengaruh kaum intelektual neo-konfusian. Dari situ lalu muncul asumsi bahwa wajar saja kebesaran ekspedisi Cheng Ho yang disebut-sebut bahkan jauh lebih dahsyat daripada yang dilakukan Columbus atau Amerigo Vespucci atau Bartolomeu Diaz tersebut jadi tak terbaca sejarah. Lebih-lebih lagi, konon semua kapal yang dipakai ekspedisi berikut galangan kapalnya di Longjiang ikut dihancurkan.&lt;br /&gt;Nama Cheng Ho memang tak benar-benar tak disebut di China. Dalam perjalanan ke Kota Nanjing dan Kunming akhir Juni lalu, beberapa orang yang saya jumpai mengaku mengenal namanya. Hanya saja, sosoknya dikenal semata nama seorang yang besar. Atau lebih ekstremnya, dia hanya seorang pelaut besar.&lt;br /&gt;''Saat SD, guru saya bercerita tentang dia. Dia seorang pelaut besar yang memulai pelayaran dari Nanjing. Hanya itu yang saya ingat,'' tutur Ge Zhu Qing (18) seorang pelajar sebuah akademi di Nanjing yang bekerja paruh waktu pada Zhang Guoyuan di Nanjing.&lt;br /&gt;Orang yang lebih tua pun mengenalnya. Hanya saja, karena China memiliki banyak tokoh besar, Cheng Ho hanya seperti nama yang terselip di antara banyak nama lain. ''Wo zhi dao. Dan shi zhe li you hen duo ying xiong,'' ujar Chuan Tong Fu (57), lelaki tua yang melewatkan hari-harinya bermain catur China dengan koleganya di Zheng He Guoyuan di tengah-tengah Kota Nanjing. Dia mengaku mengenal nama sang navigator, tapi di China dia mengenal banyak tokoh besar.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphS2lqxNFI/AAAAAAAAAAs/qGAvreflgzc/s1600-h/Taman+Chengho+Kunming.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086906876892886098" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphS2lqxNFI/AAAAAAAAAAs/qGAvreflgzc/s320/Taman+Chengho+Kunming.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Apalagi memang kalau dirujukan pada ideologi konfusianisme yang dianut sebagian besar orang China, komentar Chuan Tong Fu seolah-olah memiliki pembenaran tertentu. Ideologi tersebut mengajarkan bahwa setiap orang telah memiliki peranan yang dimainkan sesuai status sosialnya. Intinya, segala sesuatu memiliki tempatnya tersendiri. Jadi, tak ada yang bisa dianggap ''mengagumkan'' sepanjang prestasi seseorang dilakukan sesuai perannya.&lt;br /&gt;Pada faktanya, sekarang ini, ingatan tentang kebesaran Cheng Ho mulai dihidupkan kembali. Penamaan kembali sebuah taman kota di Nanjing dengan Zheng He Guoyuan bolehlah dijadikan bukti awal. Meskipun pada taman itu sama sekali tak terdapat jejak-jejak kebesarannya, ia tetap membuktikan bahwa pemerintah kota Nanjing secara serius menjadikan nama Cheng Ho sebagai bagian dari jejak sejarah wilayahnya. Ya, taman itu tak ubahnya sebuah taman di tengah kota. Di antara rerimbunan pinus, terdapat bangku-bangku batu untuk rehat, bermain catur, berteduh dari terik siang musim panas di Nanjing, atau hanya arena anak-anak bermain-main.&lt;br /&gt;Tera paling signifikan di Nanjing bisa ditemukan di Museum Seni yang berada di kompleks Chaotian Palace. Di dalamnya terdapat banyak benda peninggalan pelayaran Cheng Ho yang sempat ditemukan. Sebut misalnya, kayu pembuat kapal, jangkar, pilar-pilar kapal, pasak dan kait, tali dari pohon palma, beberapa gerabah dan alat-alat pertukangan pembuatan kapal, dan banyak lagi. Pada catatan yang terdapat di situ tertulis bahwa benda-benda penting itu berasal dari dok nomor 6 yang sempat digali dari Zhong Baocun di Nanjing. Selain itu, tulisan mengenai kebesaran Cheng Ho terutama teknik pembuatan kapal dan peranti navigasinya semakin menjelaskan kehendak mengingat kembali namanya.&lt;br /&gt;Tapi mengapa jejak-jejak Cheng Ho berada dalam Museum Seni di areal Chaotian Palace yang sebenarnya merupakan istana suci keagamaan untuk mengingat Nabi Konfusius? Saya bertanya pada Gao Qin yang memandu saya, ''Apakah dengan demikian orang Nanjing menganggap Cheng Ho orang suci?'' Sambil tertawa, gadis itu menjawab, ''Bisa jadi. Bagaimana dia tokoh sejarah besar, khususnya bagi Kota Nanjing.''&lt;br /&gt;Jejak Cheng Ho di Nanjing bisa ditemukan pada Kompleks makam Cheng Ho yang berada jauh di luar kota, tepatnya di Bukit Kepala Sapi Niushou. Tempat itu juga mulai direstorasi secara serius. Selasa (21 Juni 2005 ketika saya datang, beberapa orang sedang sibuk menyelesaikan sebuah bangunan di dekat gerbang makam yag dimaksudkan sebagai semacam Memorial Hall untuk Cheng Ho. Mereka mulai memasang papan-papan nama. Makamnya sendiri telah terenovasi dengan baik. Jalan masuknya bersih dan tertata rapi.&lt;br /&gt;Di Kunyang, daerah asal sang Navigator, keseriusan mengingat namanya terlihat pada proses renovasi tanpa henti pada Zheng He Guoyuan. Bahkan, pada bangunan utama, beberapa tapak setelah patung besar Cheng Ho, orang-orang lagi serius mempersiapkan pesta untuk mengenang pelayaran pertamanya. Lampion-lampion besar sedang dibuat dan relief-relief yang menceritakan pelayaran Cheng Ho mulai dipasang di dinding, tepat di sisi patungbesar Sang Navigator.&lt;br /&gt;Bila Anda masuk lebih jauh ke dalam Zheng He Guoyuan tersebut, jejak-jejak Cheng Ho bisa ditemukan. Sekadar informasi, taman itu tadinya adalah Taman Yueshan dan demi mengingatkan lagi orang pada Cheng Ho namanya diubah menjadi Taman Cheng Ho. Ya, di dalam areal taman tersebut selain epitaf untuk sang ayah, sebuah museum dan rumah asli keluarga Ma bisa dikunjungi. Di museum, Anda akan melihat berbagai benda yang merujuk pada pelayaran Cheng Ho. Sebuah maket besar yang memperlihatkan rute pelayaran juga bisa dilihat. Tak ketinggalan, rempah-rempah yang didapat selama ekspedisi seperti cengkeh, lada hitam, pala, dan banyak lagi terpajang pada sebuah etalase. Dalam rumah asli keluarga Ma, beberapa lukisan yang terpajang memperlihatkan daerah-daerah yang sempat disinggahi Cheng Ho. Kalau diamati lebih saksama, lukisan-lukisan tersebut juga menceritakan bagaimana permuhibahan yang dilakukan Cheng Ho selala disambut baik oleh penduduk lokal.&lt;br /&gt;Taman itu sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Rindangnya pepohonan, udara segar dari Bukit Yueshan, tak akan membuat pengunjung kecapaian oleh rutenya yang naik-turun. Tak hanya di akhir pekan, Kamis (23 Juni 2005) ketika saya berkunjung, banyak sekali remaja yang menikmati kedamaian taman tersebut. Hanya dengan 2,5 RMB Yuan, pengunjung bisa bersantai sembari mengunjungi setiap tempat yang ada.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, taman tersebut menjadi kebanggaan orang Kunyang, khususnya etnis Hui yang merupakan suku keluarga Cheng Ho. Beberapa orang Hui dalam pakaian khas mereka yang serba biru. ''Ia orang Hui. Kami juga suku Hui,'' ujar Yang Zhi (47) bangga yang disambut tawa rekan-rekannya.&lt;br /&gt;Dan kebanggaan itu mulai hendak diiingatkan lagi. Meskipun perayaan 600 pelayaran pertama Cheng Ho tak seheboh di Semarang atau Singapura, kebesaran nama sang navigator di kota Nanjing dan Kunming, dua kota yang menjadi titik berangkatnya mulai digemilangkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Agustus 2005&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-3786973802993502917?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/3786973802993502917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=3786973802993502917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3786973802993502917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/3786973802993502917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/menulis-lagi-jejak-kebesaran-sang.html' title='Menulis (Lagi) Jejak Kebesaran Sang Navigator'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphS2lqxNFI/AAAAAAAAAAs/qGAvreflgzc/s72-c/Taman+Chengho+Kunming.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-4624148116595742673</id><published>2007-07-13T21:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:04.885-08:00</updated><title type='text'>Cheng Ho, Di Mana Sih Kuburmu?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphQJ1qxNDI/AAAAAAAAAAc/3Vi78SjC-38/s1600-h/kuburan+chengho1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086903909070484530" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphQJ1qxNDI/AAAAAAAAAAc/3Vi78SjC-38/s320/kuburan+chengho1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;AK&lt;/strong&gt; mudah menemukan kuburan Cheng Ho di Nanjing, China. Tak mudah pula menemukan orang yang mengetahui bahwa Cheng Ho dikuburkan di suatu tempat di kota tersebut. Di kota itu, saya lebih banyak menjumpai orang yang menggelengkan kepala ketika saya bertanya tentang Zheng He Mu (Makam Cheng Ho). Padahal, dalam banyak catatan tertulis bahwa setelah ekspedisi ketujuhnya di tahun 1433, Cheng Ho meninggal tahun 1435 dan dimakamkan di Bukit Kepala Sapi di Niushou, luar kota Nanjing. Meskipun sebenarnya, beberapa sejarawan menyebut lelaki itu mati di tengah-tengah laut pada tahun terakhir ekspedisinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Orang Nanjing yang mengetahui bahwa Cheng Ho dikubur di sekitar mereka juga bisa dihitung dengan jari. Apalagi memang Niushou berada jauh di luar kota Nanjing. Jadi, pada peta kota yang saya beli di Bandara Lokou Nanjing, nama wilayah itu tak tertulis sama sekali. Dalam peta hanya ada Zheng He Guoyuan (Taman Cheng Ho) yang berada di tengah-tengah kota. Tapi itu bukan tempat utama yang saya cari.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di hotel tempat saya menginap, tak seorang staf pun yang mengetahui letaknya. Sebagian mengatakan belum pernah mendengar hal itu. Persoalan bahasa ikut mempersulit pencarian informasi. Sekadar informasi, meskipun hotel itu berbintang empat, tak banyak stafnya yang paham bahasa Inggris, sementara Mandarin saya sebatas ''&lt;em&gt;Ni hao ma?&lt;/em&gt;'' atau ''&lt;em&gt;xiexie&lt;/em&gt;''.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhirnya saya memutuskan untuk mencari pemandu. Saya pikir itu akan banyak membantu. Tapi Gao Qin, gadis pemandu berbahasa Inggris yang direkomendasikan pihak hotel, pun tak tahu, bahkan hanya tentang posisi bukit Niushou. Saya membayangkan kesulitan tak terperi. Akhirnya saya katakan pada gadis itu untuk pergi saja dan bertanya pada orang-orang yang mungkin dijumpai di jalan. Dia sepakat. Untuk mempermudah, dia menyarankan untuk sewa mobil.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya pikir kesulitan sedikit terurai begitu sopir datang pada Selasa (21 Juni 2005) pukul 9.00 waktu setempat dan kami segera meluncur menuju Niushou. Namun, begitu keluar dari Kota Nanjing, sang sopir bahkan tak tahu arah menuju Niushou. Apa pasal? Niushou hanyalah sebuah bukit kecil dan tak semua orang Nanjing mengetahui arah jalannya. Kami berputar-putar mengambil banyak rute di luar kota. Lewat Gao Qin, sudah beberapa orang yang ditanya tentang Makam Cheng Ho. Pencarian masih menemu jalan buntu dan kami harus berhenti dahulu untuk rehat dan makan siang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saat makan, saya dengar Gao Qin berujar, ''&lt;em&gt;Zai Nanjing xiang yao zhao dao Zheng He mu duo nan a&lt;/em&gt;!'' Saat ditanya artinya, dia menjelaskan bahwa betapa susahnya mencari kuburan Cheng Ho di Nanjing. Ya, memang susah benar. Sudah sekitar tiga jam kami berputar-putar dan bertanya pada banyak orang, namun belum juga bertemu titik terang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Usai makan siang dan rehat sejenak, pencarian kami mulai lagi. Kami masih berputar-putar hingga memasuki wilayah bebukitan. Pada sebuah pertigaan, kami berhenti. Beberapa orang tengah membuat jalan menuju ke arah sebuah bukit. Titik terang agaknya mulai tertemukan. Sebab, para pekerja itu menunjuk arah tertentu. Meskipun tak paham sama sekali yang dipercakapkan pemandu saya dengan mereka, saya menangkap kesan bahwa para pekerja itu mengetahui tempat yang kami cari.Kami mengikuti jalan tanah liat sebelum bertemu jalan beraspal. Setelah beberapa belokan, sopir terdengar mendesah puas ketika melihat papan nama dalam huruf China. ''&lt;em&gt;Jieguo&lt;/em&gt;!'' &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphQ6lqxNEI/AAAAAAAAAAk/T88sNI3Py1g/s1600-h/kuburan+chengho2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086904746589107266" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphQ6lqxNEI/AAAAAAAAAAk/T88sNI3Py1g/s320/kuburan+chengho2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ya, akhirnya kami sampai punya papan petunjuk yang bakal membawa kami ke makam Cheng Ho setelah pencarian hampir setengah hari.Sebuah baliho besar dengan gambar Cheng Ho berdiri di pinggir sebuah pertigaan. Sekitar 100 meter dari situ, sebuah gerbang telah terlihat. Kompleks tersebut seperti baru saja dibangun. &lt;em&gt;Paving block&lt;/em&gt; pada jalan masuk dan tempat parkir seperti baru saja terpasang. Begitu pula bangunan yang dipakai sebagai &lt;em&gt;foodcourt&lt;/em&gt;. Makam yang kami cari berada di balik bangunan dan areal kosong penuh pohonan. Kami harus melewati gerbang (yang juga masih terlihat baru), taman yang juga baru, dan sebuah &lt;em&gt;Memorial Hall&lt;/em&gt; untuk Cheng Ho yang juga tengah dipasangi papan nama. Kuburan sang navigator agung itu ada di atas jalan bertrap naik. Tepatnya lewat sebuah gerbang dengan ciri arsitektural Dinasti Ming bertuliskan tiga huruf China (&lt;em&gt;Zheng He Mu&lt;/em&gt;). Ada tujuh trap yang masing-masing berisi 28 jejak. Itu dimaknakan sebagai tujuh kali permuhibahan Cheng Ho selama 28 tahun (1405-1433). Dan di bawah kerindangan pepohonan pinus, sipres, dan banyak lagi lainnya, sebuah kuburan membujur dari utara ke selatan. Makam itu tanpa nisan dan pada sisi sebelah selatannya tercetak tulisan &lt;em&gt;bismillahirrahmanirrahim&lt;/em&gt; berwarna hijau. Tak ada tengara lain selain sebuah prasasti di jalan masuk ke makam yang menceritakan secara singkat kisah permuhibahan Cheng Ho ke wilayah Barat dari negeri China.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;I&lt;/strong&gt; situkah jasad sang ekspeditor agung itu bersemayam? Mungkin ya. Sebab, tulisan di gerbang masuk jelas-jelas menunjukkan di situlah Cheng Ho dikuburkan. Dalam banyak catatan, masyarakat setempat memang mengakui Cheng Ho dimakamkan di situ. Pembaharuan makam ke dalam ciri keislaman mulai tahun 1985 juga menjadi bukti pengakuan kepada sang navigator yang memang beragama Islam.Tapi benarkah di bawah kerindangan pepohonan di bukit Niushou jasad Cheng Ho bersemayam? Dari makam tersebut, saya mengajak Gao Qin untuk ke desa sekitar. Saya katakan padanya bahwa banyak sejarawan berspekulasi mengenai kematian Cheng Ho di laut pada ekspedisi terakhirnya. Saya juga mengatakan, bahwa di tempat asal saya, Cheng Ho dipercaya meninggal di Laut Jawa sekitar Jepara, dan yang dikubur di Niushou adalah benda-benda yang merepresentasikan dirinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dia setuju, sebab sebagai orang Nanjing itulah kali pertama mendengar Cheng Ho dimakamkan di Niushou. Selama ini dia hanya tahu dari cerita sejarah mengenai perjalanan Cheng Ho.Sekitar dua kilometer dari tempat itu memang ada pemukiman. Seorang warga yang kami temui menyarankan untuk mencari orang yang berusia agak tua untuk memperoleh informasi yang kami butuhkan. Orang yang dimaksud tengah duduk merokok di depan rumahnya sembari teh hijau. Dia menyambut kami dengan ramah. Lewat Gao Qin kami menanyakan kebenaran bahwa benar-benar jasad Cheng Ho yang ada di Niushou.Tan Yinming, lelaki tua itu bercerita, bahwa makam itu pernah dibongkar beberapa tahun sebelum direstorasi. Dia menyebut tahun 1962. Penduduk sekitar membongkar makam bukan demi mengetahui kebenaran adanya jasad sang navigator, melainkan untuk mencari sesuatu yang berharga pada makam-makam tua. Dan di dalamnya tak ditemukan apa-apa. ''Kosong. Tak ada tulang belulang sama sekali,'' tandas dia.Saya semakin penasaran dan mengatakan bahwa kemungkinan setelah lebih dari lima abad, kerangkanya telah menyatu dengan tanah. Lelaki itu hanya tertawa dan mengatakan, ''Mungkin saja. Saya tak tahu. Selama ini yang mengunjungi makamnya hanya kerabatnya dari suku Hui di Kunyang, Yunnan.''&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aha, dengan susah payah kami telah menemukan situs makam. Begitu menemukan, ternyata susah pula meyakini bahwa lelaki Kasim Agung itu memang dimakamkan di situ. Di Bukit Kepala Sapi itu jelas-jelas saya menemukan sebuah makam. Tengara-tengara di sekitarnya meyakinkan bahwa itu makam Cheng Ho. Tapi pernyataan lelaki tua di desa sekitar makam tersebut seolah-oleh membenarkan asumsi bahwa Cheng Ho meninggal di laut dalam ekspedisi terakhirnya, yang konon di laut sekitar Jepara, dan ada pula yang menyebutnya di sekitar pelabuhan Kalkuta, India. Yang benar, &lt;em&gt;wallauhua'lam bissawab&lt;/em&gt;. Namun yang pasti, di mana pun jasad orang besar seperti Cheng Ho, jasad yang pasti telah rusak dan tak berjejak, namun jasa-jasanya bakal terus hidup sepanjang waktu. Apalagi dalam keyakinan orang China, orang besar selalu dianggap serupa ''dewa'', dianggap sebagai &lt;em&gt;Kong&lt;/em&gt;. Cheng Ho pun punya nama Sam Po Kong di Indonesia: seorang San Bao yang di''dewa''kan. (*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Agustus 2005&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-4624148116595742673?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/4624148116595742673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=4624148116595742673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4624148116595742673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4624148116595742673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/cheng-ho-di-mana-sih-kuburmu.html' title='Cheng Ho, Di Mana Sih Kuburmu?'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphQJ1qxNDI/AAAAAAAAAAc/3Vi78SjC-38/s72-c/kuburan+chengho1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-8301661512529687415</id><published>2007-07-13T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:05.036-08:00</updated><title type='text'>Si Kecil Ma He dan Inspirasi dari Makkah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphMXVqxNCI/AAAAAAAAAAU/A-7QWzpxFbw/s1600-h/diorama+chengho.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086899742952207394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphMXVqxNCI/AAAAAAAAAAU/A-7QWzpxFbw/s320/diorama+chengho.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;I atas kolam taman Museum Cheng Ho dalam areal Zheng He Guoyuan di Kunyang, Yunnan, China, Ma He alias Cheng Ho kecil dengan saksama memperhatikan kapal mainan yang tengah dipegang ayahnya Haji Ma. Pada bagian lain di taman tersebut, Ma He yang memegang kapal mainan tampak serius mendengar kisah pelayaran dari Sang Kakek. Turban di kepala Sang kakek mencirikan dirinya sebagai orang Suku Hui yang beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua cerita kecil itu memang hanya sebuah diorama dalam bentuk patung yang sengaja dibuat demi melengkapi areal museum. Namun, bila pengunjung berusaha membayangkan bagaimana Cheng Ho mengarungi laut demi laut dengan kapal besar pada awal abad ke-15, cerita di balik diorama itulah titik mula segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketika kecil, Ma He kerap mendengar kisah pelayaran keluarganya ke Makkah untuk berhaji. Nama Ma He yang diberikan keluarganya konon dihubungk-hubungkan dengan nama Muhammad, rasul pembawa Islam. Dan di antara banyak suku di China ketika itu, orang Hui umumnya beragama Islam. Mereka rata-rata keturunan dari perkawinan campuran Turki dan Mongolia. Si kecil Ma He tentu saja tak pernah melihat laut. Laut dalam benak anak yang lahir di Kunyang tahun 1371 itu tentu saja semata impian kanak-kanak, dua tahun setelah Dinasti Ming yang benci orang Mongolia berdiri. Impian itu barangkali hanya bisa terwujud bila ia menempuh perjalanan darat beribu-ribu mil jauhnya ke arah tenggara untuk bertemu Laut China Selatan. Sungguh sebuah impian musykil! Apalagi keluarganya tidak kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan impian itu semakin terasa musykil ketika sang ayah mati dalam peperangan antara sisa-sisa balatentara Dinasti Yuan melawan calon penguasa China yang baru dari Dinasti Ming. Dan pada usia begitu belia, 10 tahun, Ma He telah menjadi anak yatim. Nasib masih belum berpihak kepadanya ketika bersama anak-anak lain dia dibawa paksa ke Nanjing, ke Pusat Kota Selatan yang menjadi pusat tahta dinasti baru tersebut. Dewi Fortuna masih terus menjauh ketika ia dijadikan pelayan dan dikasimkan. Ya, dia dikebiri dan masa depannya hanya diformat sebagai sida-sida kalangan istana. Sebagai kasim pelayan, kesetiaannya bagaikan kuda terhadap pemiliknya. Apalagi dia dikenal sebagai seorang remaja yang kuat dan pemberani. Pangeran Zhu Di, putra keempat dari 26 putra kaisar begitu menyukai kualitas sang lelaki kasim itu. Mereka begitu dekat. Dan ketika sang pangeran menjadi kaisar bergelar Yong Le, posisinya melambung. Dia sempat menjadi pemimpin militer. Dalam satu peperangan, kuda Ma He mati di Zhengluba dan untuk mengingatkannya Yong Le memberi nama baru Zheng He. Nama lama Ma yang berarti ''kuda'' menurut sang kaisar tak layak disandang orang kesayangannya itu.Sang kaisar dikenal sebagai sosok yang ambisius terhadap segala hal yang berkenaan dengan pencarian akan keagungan. Dia sangat ingin kejayaan, peradaban, dan kualitas orang China didengar dan diakui banyak negeri di seberang lautan. Dia ingin memiliki utusan permuhibahan ke banyak negeri dengan mengarungi lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1402, dia memerintah Zheng He (kita sebut saja dengan ejaan Cheng Ho-Red) untuk membuat kapal. Di Nanjing, pembuatan kapal permuhibahan itu dimulai. Dalam versi novel &lt;em&gt;Sam Po Kong&lt;/em&gt; (2004) karya Remy Sylado, rencana sang kaisar itu mendapat tentangan keras dari Menteri Ekonomi dan Keuangan Liu Ta Xia. Rencana itu dianggap sangat memboroskan harta kerajaan.Setelah tiga tahun kerja keras di Galangan Kapal Longjiang, Nanjing, tak tanggung-tanggung 62 kapal selesai dibuat. Empat di antaranya adalah kapal superbesar yang bahkan tak tertandingi oleh kapal penjelajah Eropa seperti Christhoporus Colombus, Bartolomeu Diaz, ataupun Ferdinand Magelhaens.Maka lelaki yang selalu digambarkan tinggi besar dan tampan, berdaun telinga panjang dengan mata tajam dan kulit yang sedikit kasar seperti permukaan sebuah jeruk siap mengarungi lautan menuju negeri-negeri di bagian barat China. Kapal-kapal yang telah jadi dibawa ke pelabuhan terdekat di Liujia Taicang, kota pantai 40 kilometer dari Shanghai. Seluruh kru berkumpul di Kuil Jinghai, Taicang untuk berdoa pada Tianfei, dewi kaum Tao pelindung laut. Setelah berdoa, kapal-kapal mulai bergerak menyusuri Teluk Liu menuju Sungai Yangtse sebelum sampai di laut lepas. Pertaruhan &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERDASARKAN banyak catatan, saat itu adalah musim panas bulan Juli yang hangat tahun 1405. Pertaruhan Cheng Ho sebagai pemimpin tertinggi pelayaran sejak itu pula mulai digantungkan pada ombak lautan. Cheng Ho tak hanya sedang mempertaruhkan namanya, tapi juga nama sang kaisar Yong Le, serta kejayaan dan ketinggian peradaban China. Dia harus membuktikan bahwa biaya permuhibahan laut itu tak semata penghamburan uang kerajaan seperti yang dikampanyekan beberapa pejabat kerajaan yang tak sepakat. Dia juga harus membutikan diri bahwa para kasim (kapten tiap kapal memang orang kasim) yang dibenci intelektual taois dapat pula melakukan sesuatu demi nama kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Cheng Ho mampu membayar kepercayaan sang kaisar. Satu kebesaran yang banyak dipujikan sejarawan adalah bahwa ekspedisi itu memang bukan untuk dirinya. Semuanya semata demi kaisar dan China. Itu agak berbeda dengan para ekspeditor Eropa setelah dia yang menangguk banyak keuntungan pribadi. Kalau benar apa yang banyak disebut orang bahwa dia mati di tengah laut, maka bisa dibayangkan ia tak sempat menikmati upaya besarnya selama 28 tahun berekspedisi. Ironisnya, konon jasadnya pun tak bisa disatukan dengan alat kelaminnya yang disimpan di guci setelah proses pengebirian. Dalam tradisi China, orang kasim yang mati, jasadnya disatukan kembali dengan alat genital yang telah dipotong. Kalau semacam itu, betapa tragisnya akhir hidup orang besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah itu semua tak sepadan prestasinya selama permuhibahan. Louise Levathes dalam &lt;em&gt;When China Ruled the Seas:The Treasure Fleet of the Dragon Throne, 1405-1433&lt;/em&gt; (1997) menulis mengenai keberhasilan Cheng Ho dalam 7 ekspedisinya (ada yang menyebut dia hanya terlibat dalam enam kali saja, sebab pada ekspedisi kedua, hanya krunya yang berangkat sementara dia berada di Nanjing). Dia bukan hanya seorang navigator hebat, tapi juga laksamana perang yang andal, pedagang yang cerdik, dan juru damai yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, dia membawa kembali Kepala Pemberontak yang lari ke Palembang di Sumatra. Selain itu, dalam pendaratannya di Srilangka, Cheng Ho berhasil menaklukkan Raja Sinhalese yang berseberangan dengan kaisar Yong Le. Di luar cerita kekerasan itu, Cheng Ho juga mampu bersahabat dengan penduduk yang disinggahinya selama pelayaran. Banyaknya suvenir dan benda bernilai yang dihadiahkan kepada Cheng Ho memberi bukti itu. Tak termungkiri pula, Cheng Ho adalah agen akulturasi budaya antara kebudayan China dengan kebudayaan masyarakat persinggahan. Dan itu bukan jasa yang sedikit.Pelayaran Cheng Ho tak hanya membangun jalur dagang China lewat laut dengan Asia dan Afrika, tetapi juga meneguhkan negara tersebut sebagai kekuatan besar dan berdaya di dunia ketika itu. Dia juga memberi tahu dunia, betapa teknologi China telah begitu maju, jauh sebelum negara-negara Eropa yang ''arogan'' melakukan ekspedisi yang lalu membuahkan kolonialisme.(*)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;g &lt;/span&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dimuat pada Suplemen Cheng Ho &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Agustus 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-8301661512529687415?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/8301661512529687415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=8301661512529687415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/8301661512529687415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/8301661512529687415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/si-kecil-ma-he-dan-inspirasi-dari.html' title='Si Kecil Ma He dan Inspirasi dari Makkah'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphMXVqxNCI/AAAAAAAAAAU/A-7QWzpxFbw/s72-c/diorama+chengho.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-1315180539474189803</id><published>2007-07-13T20:45:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T16:27:05.236-08:00</updated><title type='text'>Sebatang Rokok untuk Sebuah Keramahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphJ0FqxNBI/AAAAAAAAAAM/hSrmo3llWC8/s1600-h/rokok+persahabatan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086896938338563090" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphJ0FqxNBI/AAAAAAAAAAM/hSrmo3llWC8/s320/rokok+persahabatan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;I &lt;/strong&gt;Beijing Capital International Airport 18 Juni 2005, sembari menunggu pesawat ke Nanjing, saya masuk ke kabin untuk perokok. Sudah banyak orang di situ, lagi asyik mengisap rokok. Dari wajah dan bahasa yang mereka pakai untuk bercakap-cakap, pastilah mereka orang China. Tak ada yang istimewa memang selain asap dan obrolan cepat dengan selingan tawa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada satu bagian, empat orang duduk memutari satu meja. Seseorang mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil isinya dan membagi-bagikannya pada yang lain. Saya menganggap hal itu sangat biasa. Sebab, kita pun punya kebiasaan berbagi rokok. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketika di Nanjing, barulah saya tahu, membagi rokok adalah medium sopan santun sekaligus sinyal untuk jalinan komunikasi yang lebih akrab. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Begini ceritanya. Dao Xian, sopir yang mengantar perjalanan liputan saya di Nanjing mendadak mengeluarkan dua batang rokok dari bungkusnya dan menyodori saya sebatang ketika menunggu pesanan makan siang kami tiba. Saya berusaha menolak karena saya pikir itu semata basa-basi seperti umumnya dilakukan di Indonesia. Lagi pula, saya punya rokok sendiri. Tapi Gao Qin, penerjemah yang menemani perjalanan liputan saya, segera menyergah. Dia meminta saya untuk menerimanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Itu tanda keakraban. Kau tahu, di China, kalau seseorang telah melakukan hal sama dalam beberapa saat, membagi rokok adalah keharusan. Apalagi dia tahu kamu merokok. Itu etiket kami,'' ujar gadis yang memiliki panggilan Inggris Meggy tersebut.Saya tertawa dan buru-buru menerima rokok yang disodorkan Dao Xian sembari berucap, ''&lt;em&gt;Xiexie&lt;/em&gt;.''&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi sebatang rokok adalah juga sebuah salam pertemanan, atau sekadar sopan santun, bahkan kepada orang yang sama sekali tak diketahui namanya. Pengalaman lain membuktikan hal tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di Kunyang Town selepas kunjungan ke Zheng He Guoyuan (Taman Cheng Ho), bersama banyak orang saya menunggu bus yang akan membawa kami ke Kota Kunming. Pintu bus memang baru dibuka sesaat sebelum jam pemberangkatan. Maka, para penumpang harus duduk dulu di kursi-kursi yang berada di halte tunggu. Saya mengambil tempat duduk agak jauh dari para penumpang lain. Hanya seorang lelaki muda yang berada di samping saya. Saya bertanya padanya apakah dia bisa berbahasa Inggris. Ketika dia menggeleng, maka dengan bahasa isyarat saya menunjuk bus yang terparkir untuk memastikan apakah bus itu yang akan ke Kunming. Dia mengangguk. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada saat dia hendak merokok yang kali kedua, dua batang rokok disodorkan pada saya. Saya tersenyum sembari menerima sebatang. Sebagai balasan, saya menyalakan rokoknya. Hanya begitu sebab kami tak lagi bercakap-cakap karena persoalan bahasa. Tapi sebatang rokok itu sangat berarti bagi orang asing di tempat asing seperti saya. Selanjutnya, kebiasaan saling membagi rokok memang saya jumpai di banyak tempat di China.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-1315180539474189803?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/1315180539474189803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=1315180539474189803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1315180539474189803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/1315180539474189803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/sebatang-rokok-untuk-sebuah-keramahan.html' title='Sebatang Rokok untuk Sebuah Keramahan'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w-LP2Zv97pg/RphJ0FqxNBI/AAAAAAAAAAM/hSrmo3llWC8/s72-c/rokok+persahabatan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1651203534679057955.post-4497411900383213683</id><published>2007-07-09T22:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T04:52:54.222-07:00</updated><title type='text'>Menyihir Penyihir</title><content type='html'>Cerpen Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KIREI namaku. Sebelum 21 Desember tahun itu, aku lebih banyak berada di dalam sebuah tabung kaca sebesar gelas minum. Tubuh tabung itu berlubang-lubang. Dan dari lubang-lubang itulah aku bisa bernapas, meskipun lebih banyak kualami sesak napas. Mau tahu besar tubuhku? Mungkin tak lebih besar dari seekor capung kerbau yang sering kautangkap saat kanak-kanak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tabung sialan itu, aku menjelajah dari kota yang satu ke kota lain. Tapi mana aku tahu nama kota-kota itu? Penjelajahanku sangat bergantung pada kepergian seorang lelaki yang menenteng-nenteng tabung itu. Sabar sebentar, nanti kuceritakan siapa lelaki itu. Setahuku, lelaki itu tak punya rumah. Dia selalu pergi dan selalu menenteng tabung kaca yang memenjarakan aku. Sedetik pun dia tak pernah mau melepas tabung tersebut. Seolah-olah sosok yang berada di dalamnya begitu berharga buatnya. Di pesawat, atau kereta api, atau bus, meskipun dia tertidur lelap, jari-jari tangannya tak pernah lepas dari tali yang diikat pada tutup tabung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kota-kota hanya bisa kulihat dari balik kaca tabung. Dan karena tubuhku begitu kecil, segala yang kulihat serbabesar. Aku jadi mirip makhluk liliput yang dijumpai Gulliver dalam perjalanannya. Dengan begitu, sebenarnya aku tak pernah merasa telah menjelajah dari satu kota ke kota lainnya. Sungguh menjengkelkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru bisa menikmati kenormalan tubuhku sebagai perempuan dewasa manakala lelaki itu mampir semalam pada sebuah kamar hotel. Tapi itu pun tak berarti apa-apa buatku. Semuanya sama saja. Sebab, di dalam kamar itu, setelah dia mengeluarkan aku dari tabung dan membuat tubuhku seperti sediakala, perlakuannya padaku sangat memuakkan. Aku selalu hanya dijadikan seperti boneka yang bisa dibeli di sex shop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sudah tanpa air mata lagi kuceritakan kepadamu kisah ketakberdayaanku dalam penjara tabung kaca lelaki itu. Sudah tak ingat pula berapa lama aku terjebak di dalamnya. Jadi, tak ada lagi bedanya buatku diperlakukan sebagai boneka ataupun dibuat sekecil capung kerbau untuk dimasukkan ke dalam tabung kaca dan ditenteng-tenteng pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah perasaanku sudah mati? Tentu saja belum. Kemarahanku masih terus berkecamuk setiap saat. Dan mungkin kemarahan itu sudah membatu menjadi dendam di hatiku. Aku masih selalu marah -kemarahan yang sejauh ini hanya bisa kusimpan di hati- setiap kali dengan mata menyala dia memintaku bercumbu di ranjang. Yang paling membuatku marah adalah ketika dia pergi ke bar untuk minum-minum bersama teman-teman lelakinya. Bayangkan, di antara orang-orang yang mabuk, bacinnya uap alkohol dan pengap asap rokok, dia meletakkan tabung itu di tengah-tengah meja. Dengan bangga dia selalu mengatakan, "Ini puncak prestasi karierku selama ini. Menangkap seekor peri cantik dari sebuah gunung. Lihat, cantik bukan?" Sementara dia terbahak-bahak, beberapa temannya suka iseng membuka tutup tabung dan memasukkan sebuah puntung menyala ke dalamnya. Asap rokok yang terjebak di dalam tabung selalu membuatku terbatuk-batuk. Adakalanya beberapa temannya itu menuangkan minuman keras tepat ke tubuhku. Itu membuatku sangat kepanasan dan mual oleh uap alkoholnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali-sekali di antara mereka ada yang memasukkan batang korek api lewat lubang-lubang di tubuh tabung itu. Dia menjentik-jentikkan batang itu ke tubuhku sehingga selalu membuatku berjingkat-jingkat sementara mereka kegirangan dalam ledakan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirei namaku. Sebelum 21 Desember tahun itu, seperti itulah hidupku. Sebab, setelah tanggal itu, hidupku tak lagi berada dalam kekuasaan seorang lelaki. Sekarang ini aku sering berpikir, kenapa Tuhan harus menciptakan Adam? Kenapa harus ada lelaki? Kenapa aku perempuan? Lelaki yang sekian lama mengambil waktu hidupku dengan memenjarakannya di tabung kaca itu buatku hanyalah sesosok makhluk nista jelmaan ifrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun hidup dalam kekuasaan lelaki itu menyadarkan aku bahwa sehebat apa pun atau sejahat apa pun seseorang, dia pasti punya kelemahan untuk ditaklukkan. Ya, boleh saja dia disebut teman-temannya sebagai tukang sihir paling hebat di seantero negeri. Dia pun punya kelemahan yang akhirnya bisa kujadikan kekuatanku untuk menaklukkannya suatu ketika. Ya, akhirnya dia kutaklukkan pada suatu dini hari 21 Desember tahun itu. Dan seperti sebuah kebetulan, itu tanggal kelahiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu kelemahannya? Kelemahannya adalah kekuatan yang sekian lama dia bangga-banggakan. Dan itu sebuah batu kecil sebesar permen berwarna oranye. Aku tak peduli apa nama batu itu. Yang pasti, dengan batu itu dan beberapa kalimat mantra, dia membuatku sekecil capung kerbau dan mengembalikannya ke ujud normal untuk dijadikan bonekanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAIKNYA kuceritakan awal pertemuanku dengan lelaki itu. Suatu hari, aku sedang menunggu seseorang di lobi sebuah hotel. Di situ telah duduk seorang lelaki yang tengah merokok. Dia terlihat begitu gelisah. Awalnya tak ada perbincangan apa pun selain sesekali kami bersipandang. Mungkin karena sama-sama merasa jenuh menunggu, kami lalu terlibat dalam sebuah percakapan yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sungguh menyenangkan sebagai teman bercakap-cakap. Kami berkenalan, bertukar nomor ponsel, lalu berlalu untuk urusan masing-masing. Malamnya dia menelepon aku. Percakapan mengalir. Menyenangkan. Setelah telepon itu, hari-hari selanjutnya kami banyak melewatkan waktu bersama. Dia kerap mengajakku makan malam, atau menonton film. Aku begitu dia manjakan. Siapa yang tak suka diperlakukan seperti itu? Dan bagai alur kisah cerita picisan, aku mau saja diajak menginap di sebuah hotel pada suatu malam. Dan sejak malam itu, tak terbilang seringnya kami menghabiskan waktu untuk bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan aku tahu, dia adalah lelaki posesif. Dia juga pencemburu. Dia selalu meledak-ledak mengungkapkan kecemburuannya setiap kali dia tahu aku pergi atau sekadar berbincang akrab dengan seorang teman lelaki. Aneh sekali. Tak ada komitmen apa pun dalam hubungan kami selain percakapan, makan malam, menonton film, atau tidur bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku baru sadar ternyata selama ini aku cuma perempuan tolol dan pongah yang terharu-biru oleh pemanjaan-pemanjaannya. Kami bertengkar hebat di kamar sebuah hotel. Dia tak ingin aku pergi atau berakrab-akrab dengan seorang teman lelaki. Lalu tanpa setahuku, tangannya mengambil sesuatu dari saku celananya. Pada tangannya aku melihat sebutir batu oranye yang menyala tertimpa lampu kamar. Kudengar dia menggumamkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, aku melihat dirinya begitu besar. Dia tertawa dan telingaku seperti mendengar dentuman guntur. Ketika kuamati sekeliling, semuanya tampak membesar. Shit! Aku baru sadar kalau tubuhku mengecil tak tanggung-tanggung. Saat tangannya mengambil tubuhku, aku melihat jari telunjuknya bahkan lebih besar dari tubuhku. Tuhan! Apa yang telah diperbuatnya terhadapku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kali pertama aku dibuatnya menjadi makhluk liliput yang lalu dimasukkan ke cawan bekas minumannya. Rupanya dia telah mempersiapkan segalanya. Aku melihat dia membuka kopornya dan mengeluarkan sebuah tabung kaca berlubang-lubang. Tubuhku dimasukkan ke dalamnya dan tabung itu ditutup rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kau sudah tahu kisah selanjutnya. Sejak itu pula, dia tak pernah berbicara padaku selain dua kalimat perintah yang bengis. "Buka baju!" "Telentang!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku tak lari saja saat dia terkapar setelah memuaskan nafsu? Mana mungkin? Dia sangat preventif. Sebagai penyihir, dia mampu membuat kamar seperti tak berpintu dan berjendela. Lagi pula, aku memiliki sebuah dendam untuk menaklukkannya suatu hari. Dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pada saat-saat aku tak berdaya menjadi boneka, atau saat teman-teman lelakinya meleceh-lecehkan aku di bar, perasaan keperempuananku seperti dibenam di dalam pekatnya lumpur bacin. Perasaan itu berlarut-larut, menggumpal, mengeras sebagai dendam. Nanti kau tahu dendam seperti apa yang bakal kutuntaskan terhadapnya. Seperti telah kubilang, sehebat atau sejahat apa pun lelaki itu, dia pasti punya kelemahan. Itulah satu-satunya keyakinanku untuk tetap bertahan dalam kekuasaan bengisnya sembari menunggu saat dia lengah. Lebih-lebih lagi, akhirnya aku tahu kekuatannya adalah sebutir batu oranye dan beberapa kalimat mantra yang telah sangat kuhapal. Ya, kekuatannya itu juga kelemahannya yang akan membuatku bisa menaklukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENDAM itu lunas pada dini hari 21 Desember tahun itu. Sepulang dari bar tempat aku baru saja dilecehkan teman-teman lelakinya dengan sangat buruk, dia pulang dalam keadaan sangat mabuk. Aku yang berada dalam tabung tentengannya jadi terombang-ambing akibat jalannya yang limbung menuju kamar hotel. Begitu masuk, dia langsung rebah di ranjang. Dengkuran besar segera terdengar. Padahal biasanya, dia segera membuka tutup tabung, dan dengan jari-jarinya mengeluarkan aku sebelum menyihirku ke ujud normal. Tidak, tidak. Dini hari itu bahkan jari-jarinya tak mampu menggenggam tali gantungan tabung. Tabung itu terguling ke samping tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat sebuah peluang yang kutunggu sekian lama. Aku mulai memikirkan cara untuk keluar dari tabung sialan itu. Aku bisa saja bergulingan di dalam tabung dan berharap apa yang kulakukan bisa membuat tabung bergulir ke tepi ranjang dan terjatuh ke lantai hingga pecah. Tapi itu berisiko. Bunyi pecahannya bisa membangunkan dia. Lagi pula tubuhku pun bisa tertancap pecahan kaca. Tapi itu satu-satunya cara. Aku tak mungkin membuka tutup tabung yang ditutup rapat-rapat dan bertali simpul pula sebagai kuncinya. Pernah beberapa kali aku mencoba dan selalu gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu beberapa saat, dan ketika kuanggap dia benar-benar telah lelap, kuguling-gulingkan tubuhku. Baru setelah tubuhku basah oleh keringat, tabung itu bergulir ke tepi. Aku memejamkan mata sembari berharap bunyi pecahnya tak membangunkan dia dan tak sepotong pecahan kacanya melukai tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil! Aku keluar dari puing-puing tabung kaca. Syukurlah, aku tak mendengar gelagat lelaki itu terbangun. Satu-satunya yang kupikirkan saat itu adalah batu oranye di saku celananya. Aku harus mengambilnya. Tapi dengan tubuh yang kecil, tak mudah untuk naik ke ranjang. Aku harus menaiki kaki ranjang seperti memanjat sebuah pohon. Tak mudah pula berpegangan pada ujung kasur untuk naik ke atas. Betapa leganya ketika aku berhasil dan masih melihat lelaki itu mendengkur. Dengan sangat hati-hati aku berjalan menuju pahanya dan meraba-raba sakunya. Hop! Kutemukan batu itu. Lagi-lagi dengan upaya yang lumayan sulit, batu itu berhasil kugenggam. Kutimang-timang sebentar sebelum aku mendengar ledakan tawaku sendiri. Haha, itu tawa pertamaku semenjak hidup sebagai liliput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi batu itu sembari lirih mengucapkan mantra pengubah ke ujud normal yang kuhapal dari lelaki itu. Aha, di atas ranjang, di samping lelaki yang mendengkur itu, seorang perempuan berdiri. Akhirnya kumiliki lagi tubuhku. Dan ini saatnya kutuntaskan dendamku. Tapi aku tak mau membuat segalanya berjalan serbamudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah mengira. Ini tak semata dendam kesumat. Ini juga soal kebebasanku. Ya, dengan batu oranye di tangan, aku merasa menggenggam kekuatan dahsyat, kekuatan yang di tangan lelaki itu melemahkanku sekian lama. Seperti kukatakan, aku tak mau segalanya berjalan dengan serbamudah. Saat itu juga mungkin aku bisa membuat lelaki yang tengah mendengkur itu mendadak mengecil tubuhnya seperti cacing. Tidak, tidak semudah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku turun dari ranjang dan beranjak ke kursi. Aku harus menunggunya bangun. Sembari menunggu, aku membuka mini bar dan mengambil sekaleng soft drink. Enak sekali cairan yang kutenggak itu. Sejak menjadi tawanan lelaki itu, tak sekalipun aku merasakan kemawahan kecil seperti minum soft drink itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, lelaki itu benar-benar terbangun. Aku tersenyum. Saatnya telah tiba. Dia bangkit dan kami berpandangan. Kulihat mukanya pasi dan tampak bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aha, akhirnya kau bangun juga," teriakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alang kepalang dia terkejut. Meskipun terkejut, aku masih melihat kesombongannya. Dasar lelaki sombong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa lagi. Dia menjadi sangat marah dan tampak ingin mendekat ke arahku. "Jangan bergerak!" hardikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia duduk lagi dengan perasaan sangat terpukul. Dia mulai meraba-raba saku celananya. Dalam timpaan lampu kamar, wajahnya seperti ikan salmon yang baru diambil dari dalam kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini, kau tak lebih lemah ketimbang seekor cacing. Kekuatanmu sudah habis. Kau cari batu itu, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia belingsatan. "Jangan khawatir," kataku lagi, "Aku tak akan membuat tubuhmu mengecil seperti yang kau lakukan berulang kali padaku. Tidak banyak yang akan kuminta darimu. Toh setelah ini aku akan kembali menjadi perempuan, sosok yang kau nistakan sekian lama. Aku hanya ingin kau menjadi...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuteruskan kata-kataku. Lalu kuperlihatkan batu oranye itu padanya tanpa sepatah mantra pun. Wajahnya bertambah pias. Dan seperti yang telah kupikirkan jauh-jauh hari, aku menginginkan dia menjadi seorang perempuan. Sederhana saja alasanku. Sebagai lelaki yang selama ini mengganggap perempuan sepertiku semata boneka atau hanya sejumput daging pemuas berahi, bagaimana kalau dirinya yang jadi perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap kemudian, di depanku duduk seorang perempuan asing yang terpekur. Kudengar isaknya ketika aku berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati, 02.25, 20 Desember 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1651203534679057955-4497411900383213683?l=matasutra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasutra.blogspot.com/feeds/4497411900383213683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1651203534679057955&amp;postID=4497411900383213683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4497411900383213683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1651203534679057955/posts/default/4497411900383213683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasutra.blogspot.com/2007/07/menyihir-penyihir-cerpen-saroni-asikin.html' title='Menyihir Penyihir'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12528027927924871804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
