13 Juli 2007

Kastil Osaka, Tak Sekadar Kisah Peperangan


SETIAP orang selalu butuh ingatan ke masa lalu. Kalau bukan untuk sekadar bernostalgia, ia butuh rujukan tertentu untuk melakukan sesuatu di masa depan. Dengan konsepsi seperti itu, Taman Kastil Osaka atau Osaka Castle Park masih tegak berdiri, terpelihara bagus, dan jadi tempat kunjungan banyak orang yang pergi ke Osaka.

Selain kastil itu, kota terbesar kedua di Jepang setelah Tokyo itu memiliki beberapa tempat serupa. Ada tempat yang menyuguhkan bagaimana sejarah kota bergulir dari masa ke masa seperti yang bisa dijumpai di Osaka Museum of History. Kalau ingin menilik sejarah seni pemerintahan kota tersebut, orang bisa pergi ke Osaka Municipal Museum of Art, atau yang berskala lebih besar, mereka bisa pergi ke The National Museum of Art.

Tanpa mengurangi nilai penting beberapa tempat wisata historis itu, Kastil Osaka disebut-sebut sebagai yang paling signifikan untuk orang Osaka. Pasalnya dalam ingatan masyarakat di sana, kastil itu menjadi simbol kota yang mengingatkan mereka pada ''Taiko-han'' atau pendiri kastil tersebut yang bernama Hideyoshi Toyotomi. Orang yang disebut itu begitu penting bagi sejarah Osaka, juga Jepang.

Lihat saja apa tujuan dia membangun kastil. Bangunan itu menjadi basis kampanyenya mengenai persatuan nasional sekaligus peneguh kekuasaan dan kekuatannya sebagai seorang pemimpin wilayah. Belum lagi dominasi warna keemasan yang menyelubungi bangunan kastilnya yang megah dan agung. Untuk ukuran abad ke-17, masa ketika kastil itu mulai dibangun, ia tak tertandingi bangunan manapun di Jepang sendiri, Ming (China), dan Korea.

Karena itu, suatu sore di awal Oktober 2006, di sela-sela persiapan Midosuji Parade 2006, saya bersama beberapa orang dari Sanggar Greget Semarang dan Aki Adishakti dari KJRI Osaka memilih kastil itu sebagai tempat kunjungan. Tentu saja tujuannya tak sekadar mengisi waktu luang. Sebab, setidak-tidaknya kami beroleh informasi mengenai kebesaran Osaka di masa lalu. Seperti telah disebut, Kastil Osaka boleh dibilang sebagai pusat sejarah kota tersebut.

Lebih dari itu, kastil itu memang sangat menarik untuk dikunjungi dan juga dipelajari bagaimana dulu sekelompok orang membangun kekuatan dan membentengi diri dari serangan. Apalagi, kastil tersebut termasuk sebuah bangunan gigantik dengan keluasan arealnya mencapai 1 kilometer persegi. Anda bisa melihat miniatur lengkapnya (dalam bentuk maket) pada Lantai 5F. Sayang sekali, tak seorang pengunjung pun diperbolehkan mengambil foto maket tersebut. Tentu saja itu tindakan preventif yang logis.Kastil itu memang menjadi pusat segalanya. Selain berada di tengah-tengah, bangunannya juga yang paling besar dan paling tinggi. Secara sederhana bisa digambarkan begini: parit yang lebar dan dalam mengelilingi areal kastil yang bentuknya agak heksagonal (segidelapan). Untuk aktivitas keluar masuk (dari kastil ke luar atau sebaliknya) dihubungkan dengan jembatan menuju pintu gerbang utama atau disebut Otemon atau gerbang muka (Oteguchi). Gerbang yang dibangun tahun 1620 itu sempat terbakar tahun 1783 dan dibangun lagi tahun 1848. Dari situ, masih ada gerbang lagi sebagai penahan laju musuh bila ada serangan. Gerbang itu disebut Sengan Yagura yang dibangun di tahun yang sama dengan Otemon dan merupakan salah satu bangunan tersisa Kastil Osaka. Setelah masuk lewat Sengan Yagura, tembok keliling besar dan tinggi menjadi bagian pertahanan berikutnya. Pertahanan berlapis memang menjadi ciri kastil pada umumnya. Barulah setelah tembok keliling itu, dalam bentuk heksagonal pula, areal tempat tinggal para prajurit. Masih ada parit lagi yang membatasi areal itu dengan areal kastil. Dihubungkan dengan tiga jembatan pada beberapa titik, arus dari dan ke kastil dilakukan.

Perlu dicatat, parit memang menjadi sistem pertahanan zaman lampau yang efektif menahan laju serangan. Jadi, Anda bisa membayangkan bagaimana sangat berlapisnya sistem pertahanan yang di situ.

***


NAMUN, kalau Anda berkunjung ke Taman Kastil Osaka sekarang, tak semua areal bisa Anda datangi. Selain kastil dan beberapa bangunan tersisa, sebagian besar bangunan yang masih ada, khususnya bekas hunian para prajurit telah beralih fungsi. Ada yang jadi sekolah, tempat pertunjukan, dan gerai toko. Tapi jangan khawatir, masih begitu banyak bangunan lama yang bisa Anda datangi.

Apalagi, meskipun harus rela berjalan jauh menyusuri tiap jalan panjang menuju kastil, pepohonan tinggi dan rindang memberi naungan para pengunjung.Bagaimana untuk bisa sampai ke taman kastil itu? Kami memang memakai mobil milik KJRI Osaka sehingga tak perlu memakai alat transportasi lain. Tapi Anda tak perlu merisaukan soal transportasi menuju ke situ asal mau sedikit berlelah-lelah berjalan. Dari stasiun JR Morinomiya atau dari stasiun Osakajoken keluar lewat pintu 1 dan 3, Anda cukup berjalan 15 menit untuk ke lokasi. Itu untuk pengguna line kereta JR (bukan subway). Kalau ingin memakai subway, ada beberapa stasiun terdekat. Yakni, Temmabashi (pintu 3), Tanimachi 4-chome (pintu 1-B dan 9), Morinomiya (pintu 1 dan 3), dan Keihan Temmabashi (pintu 1-B dan 9). Di Taman Kastil Osaka, Anda bisa masuk ke areal taman yang luas sesuka hati tanpa dipungut bayaran. Hanya di kastil utama yang buka setiap hari dari pukul 9:00-17.00 (masuk terakhir 16.30), Anda harus membayar 600 Yen (sekitar Rp 48 ribu). Kami berhenti di tempat taksi ngetem atau dekat halte bus Otemae. Berjalan menyusuri lantai ber-paving, kami melewati deretan cemara bonsai memasuki Otemon atau Gerbang Muka. Selanjutnya kami melewati Sengan Yagura yang merupakan gerbang kokoh dari kayu tua. Ini pintu gerbang yang membatasi areal yang dulunya hunian para prajurit. Setelah melewati Taiko Yagura (batu dalam bentuk drum yang juga menjadi dinding pertahanan), sebuah jalan menuju gerbang kedua yang menuju areal kastil melewati jembatan parit. Di balik gerbang itu ada sebuah sumur dalam bentuk persegi yang airnya disuplai lewat pipa bulat. Ginmeisui sebutan sumur yang berasal dari zaman Edo yang dibawa ke situ pada tahun 1931.

Air minum itu bisa dikonsumsi. Beberapa teman yang mencoba minum berujar, ''Oh, ini air berkhasiat rasa Jepang.'' Tentu saja itu hanya selorohan. Tapi benar bahwa itu berkhasiat. Selain punya nilai sejarah, pengunjung yang sudah melewati jalan panjang menyusuri areal di situ bisa mampir ngombe. Meskipun tentu saja banyak air kemasan yang bisa dibawa pengunjung, sedikit menikmati air dari Ginmeisui tentu jadi kenangan tersendiri.Masih ada satu sumur lagi ketika kami telah melewati boks tiket. Namanya Kinzosui yang tertutup oleh jeruji besi. Di dekat sumur Ginmeisui itu, ada tembok tebal dan tinggi yang terbuat dari batu utuh. Itu yang disebut Sakuramon atau Gerbang Batu Sakura. Di depannya, seorang rahib dengan caping lebar dengan mangkuk kayu berdiri menunggu uluran uang pengunjung. Dia akan mengucapkan doa pemberkatan kepada penderma. Aha, tak cuma di situs-situs kunjungan Indonesia saja yang kadangkala ada pengumpul derma, di Jepang yang kaya pun ada.Dari situ pengunjung harus berjalan lagi menuju kastil. Di keluasan halamannya, ada beberapa situs lain yang menarik untuk dilihat seperti Osaka Museum of History yang pernah menjadi markas tentara Jepang selama Perang Dunia II dan pasca-perang sempat menjadi Markas Kepolisian Prefektural (setingkat provinsi) Osaka. Ada banyak aktivitas lain di situ, yaitu gerai suvenir, atau tempat berfoto dengan latar belakang kastil. Untuk berfoto, ada tiga peraga atau fanel dalam bentuk figur orang berbusana tradisional Jepang yang bagian wajahnya bolong sehingga kepala orang yang ingin berfoto bisa masuk ke situ.

***


SEMESTINYA, bangunan kastil itu ada delapan lantai dengan sebutan F. Hanya saja, ada satu lantai yang tetutup atau tak bisa dimasuki pengunjung, yaitu Lantai 6F. Saya tak tahu alasan mengapa pengunjung tak boleh ke situ. Dari brosur informasi pun tak ada catatan yang memberi alasan. Aki Adishakti yang menjadi ''pemandu dadakan'' kami pun tak tahu. Namun, itu bukan soal benar untuk mengetahui isi kastil yang punya nilai historis tinggi bagi wilayah Osaka tersebut.

Dari pintu masuk di Lantai 1F yang dilengkapi dengan gerai suvenir dan boks telepon umum dan sebuah lukisan pendiri kastil Hideyoshi Toyotomi, kami dirujuk untuk memakai elevator menuju Lantai 5F. Seorang petugas penunggu elevator dengan setia membawa para pengunjung sembari memberi informasi. Tentu saja dalam bahasa Jepang. Tentu saja pada rombongan kami hanya Aki yang paham. Tapi intinya adalah ucapan selamat datang dan mempersilakan kami menikmati semua yang tersaji di dalam kastil tersebut.

Lantai 5F menyuguhkan gambaran Perang Musim Panas di Osaka dalam layar kaca. Pada setiap folding screen, kisah perang dihadirkan secara visual. Paling menarik adalah diorama dalam bentuk patung-patung kecil pada etalase kaca besar yang menyuguhkan ''jajar perang''. Pengunjung bisa mengamati seragam, senjata, dan formasi barisan pada etalase itu. Catatan yang ada di situ menyebutkan bahwa itu formasi Perang Musim Panas antara pasukan Osaka melawan Sanada dan Matsudaira.

Dari Lantai tersebut, kami naik ke lantai tertinggi di 8F. Alasannya, agar kunjungan kami bersifat efektif karena dari lantai tersebut bisa terus turun. Pengunjung lain pun begitu. Dan di 8F yang merupakan ruang observasi ke lanskap sekitar kastil. Sebagian Osaka terlihat dari situ. Di Lantai 7F, kehidupan pendiri kastil disuguhkan dalam diorama miniatur dalam bentuk folding screen juga. Pada lantai 4F, 3F, dan 2F, kami melihat pelbagai jenis artefak peninggalan kastil yang disimpan di etalase.Menurut saya, Kastil Osaka itu layak dikunjungi, khususnya untuk para pengelola museum kita. Dukungan diorama miniatur dan folding screen yang mengisahkan peperangan dan kisah kehidupan sehari-hari para tokohnya, plus tatanan areal tamannya yang bagus untuk bersantai, sangat patut dicontoh untuk sebuah museum di negeri kita.

Saya membayangkan misalnya dahsyatnya Perang Diponegoro melawan Belanda dihadirkan tak hanya berupa artefak, tapi kisah visual lewat video atau diorama miniatur. Kalau demikian, pasti lebih mengesankan pengunjung dan yakinlah pasti museum bakal sangat diminati. Dalam hal ini, Kastil Osaka tak sekadar pendedah kisah perang, tapi juga ruang belajar.(*)


g Saroni Asikin


* Dimuat pada Rubrik Jalan-jalan Suara Merdeka, 29 Oktober 2006

Carilah Cheng Ho sampai ke Warung ‘’Ngosek’’

DALAM banyak catatan, Cheng Ho singgah di Bandar Tuban sebelum ke keraton Majapahit. Tapi di Tuban sebelah mana dia dan awak kapalnya bersauh? Lalu mengapa nama Dampo Awang, tokoh legendaris yang konon mengiringi Cheng Ho, begitu kondang di wilayah pantura timur dari Semarang hingga Tuban?
Dengan semangat mencari jejak-jejak Cheng Ho di wilayah tersebut, saya dan beberapa orang (Mas Soesiswo, Triyanto Triwikromo, Budi Maryono, dan Irawan A Aryanto) berangkat pagi-pagi. Di kelenteng Juwana, kami berhenti dan bertanya pada salah seorang biokong (penjaga kelenteng) apakah ada cerita Cheng Ho di situ.
‘’Ndak ada. Cheng Ho ya di Semarang di kelenteng Sam Po Kong itu.’’
Alasan perhentian di Juwana berasal dari asumsi bahwa daerah tersebut, khususnya sekitar kelenteng dulunya juga sebuah bandar tempat orang-orang China berdatangan dan bermukim di situ.
Perjalanan dilanjutkan dan kami berhenti di kelenteng Rembang. Perhentian kali ini pun dengan asumsi Dampo Awang adalah nama yang sangat kondang di kota tersebut sampai-sampai misalnya PSIR (klub sepak bola) dijuluki Laskar Dampo Awang. Siapa tahu kekondangan sang Dampo itu meninggalkan jejak Cheng Ho yang lagi kami cari.
‘’Lha saya ndak tahu. Masyarakat da sini juga ndak tahu Cheng Ho.’’
Lalu kami melaju dan berniat tak lagi berhenti hingga Tuban. Sampai di Tuban, kami ke Kwan Sing Bio, kelenteng bagus dan megah di Kota Ranggalawe tersebut. Tak ada cerita tentang Cheng Ho di situ. Kami sempat sedikit frustrasi. Lalu dari diskusi kecil, sembari membayangkan bahwa pendaratan Cheng Ho pastilah di sebuah bandar, sebuah pelabuhan, kami memutuskan pergi ke tempat itu. Agak kecewa juga ketika diberitahu seseorang bahwa pelabuhan itu hanyalah tempat bersauhnya perahu-perahu nelayan setempat.
Setelah rehat sejenak dan salat duhur, kami ke pelabuhan. Kami langsung menuju bekas dermaga yang sudah rusak parah. Di situkah dulu, enam ratus tahun lalu, Sang Laksamana menginjakkan kaki ke Tanah Jawa?
Tak ada orang yang bisa dimintai cerita. Kami sudah berniat pulang. Lalu saya bertemu dengan seorang pencari udang rebon. ‘’Sampeyan tahu Cheng Ho atau Dampo Awang?’’
Lelaki itu antusias bercerita. ‘’Itu di sana ada Sumur Srumbung. Ceritanya dulu di sini banyak pedagang China dan salah satunya Dampo Awang. Tapi Kanjeng Sunan Bonang tak suka dengan mereka. Karena marah, Kanjeng Sunan memukul tanah dengan tongkatnya hingga keluar air yang kini jadi Sumur Brumbung. Dampo Awang yang kalah sakti minta ampun sampai menciumi kaki Kanjeng Sunan sambil berseru-seru menghiba. Dari seru-seru ambung itu sumurnya dinamakan Srumbung.’’
Aha, sebuah cerita. Dia memberi petunjuk ke arah sumur itu yang letaknya tak jauh dari pelabuhan tersebut. Lewat Jalan Sumur Srumbung, kami sampai di lokasi. Begitu banyak orang pada hunian berdesak-desakan di pinggir laut itu. Tapi Juru Kunci Sumur Srumbung tak tahu menahu legenda yang tersimpan pada sumur yang dijaganya itu.
Dengan penuh keramahan beberapa orang menerima kami. Seseorang yang sudah tua segera bercerita mengenai sumur itu. Ceritanya agak berbeda dengan lelaki pencari udang rebon itu. Dia bilang Kanjeng Sunan Bonang itu tak terkait langsung dengan Dampo Awang.
Kami semakin bingung. Lalu datanglah seorang lelaki yang cukup muda. Priyadi namanya. 40 tahun usianya. Dia dikenal sebagai juru cerita setiap kali ada orang yang datang mencari kisah mengenai Sumur Srumbung plus Dampo Awang plus keramik-keramik China yang hingga kini masih terus dicari di pinggiran Laut Tuban.
Cerita Priyadi agak sama dengan milik lelaki pencari udang tadi. Paling menarik dari cerita dia dalah bahwa Dampo Awang dan Sam Po Kong alias Cheng Ho itu orang yang sama. (Nah, unik benar kan kisah legenda itu?)

***
''SAMPAIi di perairan Tuban, Kapal-kapal orang China terempas badai. Kapal-kapal itu karam. Padahal banyak benda berharga di dalamnya. Makanya sejak tahun 1976, kami terus mencari keramik-keramik China itu. Sampai sekarang masih saja ada orang yang menemukan. Wah harganya mahal,’’ ujar Priyadi.
Lelaki itu berhenti sejenak, lalu, ‘’hanya ada satu orang yang selamat. Dampo Awang namanya. Karena dia orang sakti, dia bisa selamat dan berenang sampai pantai. Di pantai dia bertemu dengan seorang tua yang sedang memancing. Dia tak tahu kalau itu Sunan Bonang. Kanjeng Sunan memang suka mancing. Lalu mereka bertanya-jawab. Kanjeng Sunan bertanya pada Dampo Awang. Dia bercerita bahwa dirinya dari China bersama banyak orang tapi kapalnya terempas badai. Hanya dia yang selamat. Tapi yang membuat hati Dampo Awang gundah adalah hilangnya kitab milik dia yang konon diberikan oleh guru dia di China.
‘’Kanjeng Sunan hanya tersenyum. Lalu Dampo Awang menanyakan jati diri lelaki tua pemancing itu. Kanjeng Sunan menjawab bahwa dirinya hanyalah orang biasa yang memang suka memancing. Tanpa sepengetahuan Dampo Awang, Kanjeng Sunan menetakkan tongkatnya ke tanah dan dari tanah itu keluarlah air beserta kitab milik Dampo Awang. Lelaki China itu takjub alang kepalang. Dia menerima kitab yang disodorkan Kanjeng Sunan. Air yang memancar dari tetakan tongkat itu kini disebut Sumur Srumbung. Dan setelah mengucapkan terima kasih, Dampo Awang berlalu. Dia bilang mau melanjutkan perjalanan darat ke arah Barat. Dia sampai di Pati dan ketemu Sunan Muria. Kalau Kisah Gunungrowo di Pati, saya ndak tak tahu.’’
Priyadi selesai bercerita. Lalu saya tanya, ‘’Apa Dampo Awang cukup terkenal di sini?’’
‘’Wah, ya ceritanya cuma begitu. Kalau di sini yang terkenal Kanjeng Sunan Bonang.’’(*)

g Saroni Asikin
* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Makhluk dari Mana Mereka?




UNTUK meramaikan sekaligus untuk lebih menyosialisasikan Midosuji Parade, panitia menggelar pre-event dan pasca-event untuk semua negara yang akan berparade. Untuk acara yang mengawali (7/10), Indonesia dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Kabupaten Malinau, Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Masing-masing memiliki venue (tempat tampil) yang berbeda. Saya yang mengikuti aksi Kabupaten Malinau dan Greget melihat pelbagai reaksi orang Jepang menyaksikan ciri kultural yang memunculkan entitas tradisional kami di tengah-tengah wilayah kosmopolitan milik mereka. Selain keterpesonaan, saya melihat muka-muka dengan kening berkerenyit.
Di luar itu, saya juga melihat sebuah shock teraphy kultural bagi kosmopolitanisme mereka ketika misalnya kami dari Dayak Kenyah lengkap dengan busana khas beraksi menyusuri sebuah pertokoan mewah yang ramai orang di Tenjinbashi Shopping Arcade. Bukan hanya di venue, terapi kejutan itu telah bermula sejak kami keluar dari Mitsui Garden Hotel di Yodoyabashi dan ketika kami berdesak-desakan di dalam subway.
Coba Anda bayangkan serombongan gadis memakai rompi bermanik-manik membentuk ornamen ukiran khas Dayak dengan tangan menggenggam kipas bulu burung enggang berjalan menyusuri lorong-lorong yang diapit gedung-gedung tinggi. Tak ada rumah panggung dari kayu atau jalanan tanah atau kelebatan pepohonan seperti yang mungkin Anda bayangkan di tempat asal mereka di Kalimantan. Bersama mereka, sekelompok pria berpakaian bulu burung membawa mandau (pedang khas Dayak-red) dan tameng. Di kepala mereka, terpacak sebuah mahkota penuh ornamen dan bulu burung pula. Selain itu, lihat pula tato bermotif tertentu yang menghiasi tangan dan kaki mereka.
Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan orang-orang yang melihat kami dengan muka penuh tanya. Sesekali ada pula orang yang tampak takut sehingga segera memberi jarak ketika bersilang langkah dengan kami. Seolah-olah kami adalah serombongan makhluk asing yang hendak membuat ''persoalan'' di wilayah mereka. Meskipun begitu, ada pula yang sengaja berhenti dan dengan ponsel berkamera menjadikan kami objek fotografi yang menarik.
Keberagaman reaksi itu kami jumpai lebih banyak ketika berada di atas subway. Apalagi karena kereta penuh sesak, kami harus berhimpitan tubuh dengan penumpang lain. Secuek-cueknya mereka, keberadaan ''makhluk-makhluk asing'' itu tetap mengejutkan mereka. Tapi hanya muka-muka yang terkesan keheranan saja yang saya cermati. Tak seorang pun berusaha bertanya siapa kami sebenarnya. Sebenarnya beberapa dari kami pun mengalami semacam keterkejutan kultural tertentu. Wajar saja, khususnya para penari perang, mereka adalah orang-orang yang setiap hari tinggal di sekitar hutan yang setiap saatnya hanya akrab dengan pohon-pohon besar dan binatang liar.
Naik subway tentu saja sebuah pengalaman baru yang secara manusiawi pasti membuat gamang seseorang. Tapi syukurlah, kegamangan itu sirna begitu mereka harus mulai menyusuri lorong pertokoan mewah di Tenjinbashi itu. Dengan iringan sampe (gitar) dan kulintang, tarian Pabekah Tawai dan Perang Dance sukses mereka gelar. Apalagi sepanjang berjalan atau ketika beraksi di persimpangan lorong, orang-orang yang tengah berbelanja memberikan apresiasi yang bagus. Mereka berhenti, menonton, dan memberi tepuk tangan.

***

KALAU siangnya, orang Osaka terpesona, terheran-heran, dan bertepuk tangan untuk eksotisme Dayak, malam harinya di Osaka City Central Hall, mereka bereaksi serupa untuk eksotisme yang lain. Greget Semarang yang menampilkan tari tradisional Jawa dengan tari ''Pesisiran'' dan ''Satria Yaksa'' paling tidak memberi informasi bahwa Indonesia memang kaya etnis dan entitas budaya.

Tampil di gedung pertunjukkan megah, secara jujur kami yang dari Indonesia sempat cemas selama menyaksikan aksi panggung pelbagai bangsa di situ. Pasalnya, hampir semua negara menampilkan sajian yang bersifat kolosal. Padahal, dua tarian yang kami sajikan malam itu hanya dilakukan masing-masing oleh dua penari. Kecemasan itu berasal dari pikiran bahwa kami bakal ''kalah set'' dibandingkan penampil lain. Lebih-lebih lagi, Indonesia tampil di ujung acara.Lihat saja misalnya Shinkotoni Temburyujin dari Kota Sapporo (Jepang) yang memainkan atraksi tarian kolosal puluhan orang dengan keberagaman gerak dan permainan perkusi. Atau, aksi cantik akrobat dari Chang Jiang Delta Shanghai (China). Lihat pula bagaimana kelompok dari Reda National Folklore Dancing Troupe dari Mesir memainkan tarian rakyat mereka.

Namun, kecemasan itu sirna begitu ''Satria Yaksa'' purna dimainkan. Kami mendengar aplaus penonton yang memenuhi gedung tersebut, sama seperti yang diberikan kepada penampil lain. Bukti lain bahwa yang tak kolosal dan yang klasikal seperti sajian Satria Yaksa memiliki pesona tersendiri adalah keinginan salah seorang penanggung jawab Midosuji Parade 2006 untuk menampilkan tarian itu pada event lain. Meskipun masih berupa tawaran, tapi apresiasi seperti itu tetap membanggakan.

g Saroni Asikin

''Kiutsukete, Mori-san''







PARADE Midosuji adalah puncak perayaan musim gugur tahunan di wilayah Osaka, Jepang. Tak hanya dari Jepang, puluhan negara diundang untuk ikut meramaikan. Tahun ini, Indonesia diwakili Kabupaten Malinau (Kaltim), Yayasan Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Ini catatan kecil saya ketika mengikuti rombongan Indonesia tersebut.(*)






TAHUN 2006, Parade Midosuji digelar Minggu (8 Oktober). Namun karena pada arak-arakan itu, tiap negara berhak menampilkan mobil hias, peserta harus sudah mengirim desain mobil hias jauh-jauh hari. Selain itu, untuk menghias pun membutuhkan beberapa hari pengerjaan. Alasannya tentu saja agar mobil yang ikut berparade terhias dengan sempurna.

Dua tahun sebelumnya, Indonesia yang diwakili Kabupaten Jembrana, Bali menampilkan mobil hias dengan replika sosok Rangda. Setelah absen tahun 2005, pada parade tahun 2006, Indonesia menampilkan mobil hias rumah adat Dayak dari Kabupaten Malinau, Kaltim. Tentu saja replika tersebut sejalan dengan tema yang diberikan panitia: kontribusi hutan hujan tropis Kalimantan untuk dunia.
Karena butuh beberapa hari untuk menyelesaikan mobil hias, kami dari Indonesia telah datang ke lokasi di sebuah lapangan terbuka dekat KTV Osaka pada tanggal 4 Oktober. Dari 23 rombongan yang mengikuti Asian Festival 2006 beberapa hari sebelumnya, 10 orang masih bertahan untuk ikut Midosuji Parade. Sementara rombongan dari Kabupaten Malinau (Kaltim) dan Banyuwangi baru tiba di Osaka tanggal 6 Oktober. Meski begitu, sisa orang yang ada cukup untuk membantu penyelesaian mobil hias. Sebab, panitia telah menyediakan beberapa pekerja Jepang yang bertugas menghias mobil itu sesuai desain yang telah kami kirim sebelumnya.Nah, saat bekerja bersama-sama orang Jepang ini, saya beserta beberapa teman lain menjumpai sebentuk komunikasi yang cukup menarik.
Secara umum, karakter orang Jepang hampir seperti kita. Khususnya, dalam soal bagaimana mereka berinteraksi dengan orang asing. Meskipun memiliki disiplin ketat ketika bekerja, mereka bukan mesin yang tak bisa tertawa. Apalagi mereka juga orang-orang yang ramah.Tak seorang pun dari kami bersepuluh bisa berbahasa Jepang selain ucapan arigato gozaimasu (terima kasih banyak) atau sumimasen (maaf, permisi). Sayangnya mereka pun banyak yang tak bisa bahasa Inggris, lebih-lebih lagi bahasa Indonesia. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana kami berkomunikasi selama menghias mobil itu.
Memang ada Aki Adishakti, staf Konsulat Jenderal RI di Osaka sebagai penyeranta komunikasi kami. Namun kalau setiap kali harus meminta ''sang penerjemah'' menjelaskan sesuatu, pekerjaan bisa berlarut-larut. Aki juga punya banyak urusan di Osaka sehingga tak selalu bisa menemani kami selama pengerjaan.
***
WALHASIL, ''bahasa Tarzan''-lah penyambung urusan di situ. Tapi inilah asyiknya. Selain ramah dan mau bekerja sama, beberapa pekerja Jepang itu juga bisa bercanda. Meskipun picu candaan itu hampir selalu bermula dari kami. Seorang dari kami yang banyak bicara dan sok pamer kosakata dari Aki selalu mengulang-ulang sebuah ungkapan kepada Mori-san, salah seorang pekerja. Contohnya, ungkapan ''chotomate kudasai'' (tolong tunggu). Setiap kali Mori-san mengerjakan sesuatu, latah benar dia selau mengucapkan itu. Entah sebal atau mungkin jengah atau bahkan terganggu pekerjaannya mendengar kecerewetan itu, lelaki itu berujar dengan tertawa, ''Anata wa urusai desu.'' Tentu saja si cerewet dan kami yang buta bahasa Jepang hanya diam. Tapi Aki yang ada di sekitar itu tertawa lebar. Apa pasal? Kata Aki itu artinya ''Kamu cerewet''. Tak pelak, kami tertawa.

Aki yang juga suka bercanda memberi tambahan kata: ''kurukurupa'' yang berarti ''stres dan hampir gila''. Itu modal bagus buat kami untuk ganti ''mencereweti'' si cerewet itu. Tapi dasar tak bisa diam, setelah itu pun dia berkali-kali dia mengucapkan kalimat itu kepada Mori-san sambil tangannya menunjuk ke salah seorang dari kami. Adakalanya candaan itu berasal dari perbedaan persepsi kultural di antara kami. Ketika mendapat kata kiutsukete yang berarti ''hati-hati'', teman yang tadi masih selalu saja pamer pada lelaki Jepang itu. Sudah berkali-kali pula lelaki itu ber-arigato-arigato. Namun pada suatu momen saat dia harus memaku untuk menggantung topi hias sembari menaiki tangga, kalimat tadi keluar lagi dari mulut teman itu. Sontak beberapa pekerja lain tertawa lebar sembari menirukan ucapan, ''Kiutsukete, Mori-san.'' Dengan wajah pongah, si cerewet itu menghambur ke penerjemahnya untuk mencari tahu mengapa mereka tertawa. Nah, itulah yang saya sebut adanya persepsi kultural yang berbeda. Bagi mereka memaku di mobil hias yang tak tinggi itu bukan sesuatu yang patut dicemaskan sehingga perlu disarankan agar seseorang harus ekstra hati-hati. Padahal di luar alasan bahwa dia bak beo yang lagi belajar sebuah kata, tentu saja dia bermaksud memberi perhatian sebagai tanda persahabatan.
Di luar itu semua, saya yakin antara kami dan orang Jepang yang bekerja menghias mobil itu pasti terjalin proses saling belajar meskipun cuma sebentar. Yang lebih pasti, kami bisa bekerja sama tanpa ada praduga siapa di antara kami yang superior dan siapa pula yang inferior. Dan itu bisa dibangun lewat sebuah candaan.(*)
g Saroni Asikin

Puing-puing dari Zhong Baocun

MARI berandai-andai seputar petualangan ekspedisi Cheng Ho selama 28 tahun mengarungi berbagai lautan dan nasibnya sebagai sosok sejarah.
Andai lelaki itu bukan seorang kasim, seseorang yang telah dikebiri, dan semua kapten kapalnya bukan kasim pula, maka para pejabat terpelajar konfusian tak akan marah dan menganggap menjelajah ke banyak negeri sebagai pengkhianatan terhadap ajaran konfusianisme. Andai Kaisar Zhu Gaozhi, pengganti Yong Le, tak terpengaruh kekuatan politik kaum konfusian itu, maka ekspedisi ketujuh bisa berjalan mulus dan tak akan terjadi penghancuran catatan permuhibahan berikut galangan kapal di Longjian. Andai tak ada penghancuran itu, maka kebesaran China di bidang maritim yang meneguhkan nama Laksamana Cheng Ho sebagai sang pionir akan bergaung ke seluruh dunia. Andai tak ada penghancuran itu, kita akan bisa membaca Cheng Ho dan ekspedisinya secara benar dan proporsional.
Tapi sejarah tak bisa diandaikan. Barangkali memang Cheng Ho bukan sosok besar yang dimanjakan sejarah. Ketakutan kaum konfusian terhadap dominasi kekuatan kaum kasim -kaum yang mereka anggap tidak bermoral- telah memengaruhi seorang kaisar dengan tanpa beban menghancurkan semua keberhasilan ekspedisi. Akibatnya kebesaran China khususnya di bidang maritim seperti tak berjejak. Akibat paling buruk dari kekuatan pengaruh kaum konfusian tersebut adalah terisolasinya China sekian abad dari percaturan dunia.Jadi, segala cerita mengenai kebesaran dan kegegapgempitaan ekspedisi Cheng Ho hampir mirip kisah fiksi karena sangat sedikitnya bukti yang ada. Cukup ironis, memang. Betapa tidak ironis, tak banyak catatan tertulis yang menceritakannya. Sekadar contoh, catatan Ma Huan dan Fei Xin. Bahkan untuk mengenali kapal dan teknologi pembuatannya pun hanya kita peroleh dari puing-puing yang digali, misalnya di Zhong Baocun Nanjing. Hasil penggalian selama 1 tahun (2003-2004) oleh Pemerintah Kota Nanjing pun hanya berhasil menemukan Dok No 6. Semua itu kini bisa dilihat di Museum Seni di kompleks Chaotian Palace. Menurut catatan di museum tersebut, masih tersisa tiga dok yang belum digali pada areal sekitar 25 ribu meter persegi.Kalau ingin melihat beberapa benda yang diperoleh selama ekspedisi, kita harus pergi ke Kunyang di Provinsi Yunnan, tepatnya ke Museum Cheng Ho di areal Zheng He Guoyuan. Benda-benda yang masih tersisa pun tak banyak. Hanya ada rempah-rempah yang diperoleh selama permuhibahan, keramik, jubah, topi, dan pedang.
***

MELIHAT kenyataan itu, betapa pentingnya puing-puing yang digali dari Zhong Baocun. Penempatan benda-benda yang ditemukan pada sebuah bangunan khusus di Museum Seni kompleks Chaotian Palace pun berguna bagi studi lebih lanjut mengenai teknologi perkapalan yang dikembangkan Cheng Ho semasa Dinasti Ming.
Bangunan tersebut dinaungi dua pohon eks besar. Begitu memasuki pelatarannya, pengunjung telah bisa melihat gambar-gambar mengenai ekspedisi Cheng Ho pada dinding luar. Masih di luar bangunan, pada sisi kanan terdapat beberapa batang kayu besar berwarna hitam. Dilihat sekilas, batangan kayu itu mengesankan ketuaan. Di antara kayu-kayu tersebut terdapat dua batang kayu yang dipersiapkan sebagai anjungan kapal. Panjangnya 10,1 meter dan 11 meter dengan berat mencapai satu ton. Pihak Nanjing Municipal Museum menganggap penemuan dua kayu itu sebagai penemuan luar biasa. Sebab, kita bisa melihat skala sebuah kapal yang disebut ''kapal berharga'' dari zaman Ming. Sayang sekali Gao Qin yang memandu selama liputan saya tak mengetahui jenis kayunya. Selain itu, di museum tersebut juga tak ada catatan mengenai jenis kayu yang dibuat kapal oleh Cheng Ho.
Masuk ke dalam ruangan, pengunjung akan melihat sebuah jangkar yang telah berkarat. Di kanan kirinya terdapat berbagai jenis peralatan pembuatan kapal seperti kapak, tatah, gergaji, kikir, palu kayu, dan alat penyiku. Begitu pula ada banyak jenis temali, dayung, tiang kapal, beberapa meteran dari kayu yang disebut ''wei jia qing ji'', serta ratusan pasak dalam beragam bentuk yang terbuat dari logam dan kayu.Selain benda-benda tersebut, terdapat berbagai banyak peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal. Menariknya, di situ disebutkan bahwa peralatan dapur yang paling banyak dipakai adalah mangkuk, piring, dan guci yang memiliki desain berbeda dengan umumnya barang pecah belah pada masa awal dan tengah Dinasti Ming,yangberarti pada zaman Cheng Ho bereskpedisi. Pada semua benda pecah belah itu terdapat tulisan berhuruf China dari tinta yang berbunyi ''zhou'', ''li'' dan ''xu'' yang kondisinya masih sangat bagus. Benda lain yang ditemukan dalam kondisi bagus adalah sepasang sepatu dari serat palma berukuran 27,3 sentimeter. Itu sepatu yang dipakai awak kapal.Apa yang tersimpan di museum tersebut memang baru menguak sedikit mengenai aktivitas pembuatan kapal. Namun, nilainya tetap sangat berharga, khususnya bagi studi sejarah perkapalan pada zaman Dinasti Ming. Dari situ pula, terbaca peran Cheng Ho selama masa persiapan ekspedisi.
Berbeda dengan museum tersebut, yang tersimpan di dalam Museum Cheng Ho di Kunyang adalah benda-benda yang diperoleh selama ekspedisi. Meskipun tak banyak, dan memang tak terbaca asal-usulnya perolehannya, keberadaan benda-benda tersebut tak bisa dimungkiri keberartiannya. Di dalam museum, selain maket mengenai rute pelayaran Cheng Ho dan beberapa patung Sang Laksamana terdapat beberapa keramik yang tak utuh lagi. Begitu pula pada satu etalase terdapat beberapa piring yang berisi rempah-rempah seperti pala, kemiri, cengkeh, garam, kayu manis, lada hitam, dan beberapa lainnya. Boleh dibayangkan, rempah-rempah itu kemungkinan besar diperoleh dari wilayah tropis. Selain itu, pada ruang yang terpisah, terdapat beberapa benda yang dipakai para awak kapal seperti jubah, topi, pedang, dan mahkota. Di ruang tersebut terpajang pula beberapa lukisan yang menceritakan interaksi Cheng Ho dan awak kapalnya dengan penduduk yang disinggahi kapal mereka. Ada lukisan yang memperlihatkan Cheng Ho dan seorang asistennya tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang memakai jubah dan turban, sementara di sekitar mereka terdapat berbagai jenis gubi dan barang persembahan. Boleh jadi itu gambaran ketika armada Cheng Ho singgah di Kalikut, India. Ada pula lukisan yang menceritakan permuhibahan Cheng Ho ke bumi Afrika. Di situ, Cheng Ho beserta beberapa pengiringnya disambut dengan ramah oleh orang-orang berkulit hitam. Sambutan penuh persahabatan itu bisa dilihat misalnya bagaimana Cheng Ho dipayungi payung kebesaran warna kuning dan dia terlihat berbincang-bincang penuh keceriaan dengan seorang kulit hitam yang memakai mahkota.
Selain dua lukisan tersebut, sebuah lukisan yang sangat menarik buat saya. Pada lukisan itu, Cheng Ho bersama beberapa pengiringnya duduk di sebuah ruangan (mirip sebuah paseban kerajaan) tengah menikmati tarian tiga perempuan. Ketertarikan saya terutama pada para penari berkostum laiknya para penari Bali ketika menari Jangger atau Legong. Di bawah lukisan tersebut terdapat tulisan China dan angka latin 1410. Sayang sekali, tak ada pemandu atau orang yang bisa saya tanyai ketika berada di situ. Boleh jadi angka itu menunjukkan tahun peristiwa yang dilukiskan. Dan kalau melihat kostum penari yang saya bayangkan mirip penari Bali tersebut, saya membayangkan peristiwa dalam lukisan itu terjadi di Majapahit. Kita tahu pengaruh kebudayaan Majapahit begitu kental terasa di Bali. Dan kalau sepakat dengan asumsi bahwa Jawa disinggahi enam kali (selain ekspedisi keenam), maka kemungkinan peristiwa itu terjadi pada muhibah ketiga (1409-1411).
Jadi memang tak begitu banyak benda yang ditinggalkan oleh cerita besar ekspedisi Cheng Ho. Itu menjelaskan, bahwa politik, seperti yang dimainkan pejabat konfusian pada zaman Cheng Ho, sering benar begitu kejam mengubah alur sejarah atau bahkan menguburkannya. Bayangkan, untuk armada permuhibahan klasik dengan kekuatan lebih dari 300 kapal dan melibatkan hampir 30 orang, hanya bisa dilihat jejak-jejak artefaknya dari penggalian puing-puing sebuah dok.
Ya, Cheng Ho barangkali memang bukan sosok yang dimanja sejarah, atau bukan tokoh yang disukai sosok-sosok sejarah pada zamannya. Tapi siapa bisa menyangkal kebesaran namanya?

g Saroni Asikin

* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Inskripsi Batu di Fujian

JANGAN tersinggung bila disebutkan bahwa negara-negara yang disinggahi Cheng Ho selama tujuh kali ekspedisinya hanyalah negara-negara ''barbar''. Itu pendapat Kaisar Yong Le tentang negeri-negeri di luar China. Alasannya tak lain dan bukan karena kebanggaannya akan peradaban China yang menurutnya sangat maju.
Inskripsi batu yang berada di Kuil Istri Langit di Changle, Provinsi Fujian China yang bertengara tahun 1431 menyebutkan soal bangsa-bangsa ''barbar'' tersebut. Inskprisi itu semacam laporan yang ditulis Cheng Ho dan krunya kepada kaisar China.
Lihatlah contoh yang tertulis di batu itu: ''Negeri-negeri kaum barbar yang telah kami kunjungi adalah Zhancheng (Vietnam), Zhaowa (Jawa), Sanfoqi (Palembang), dan Xianlo (Thailand), menyeberang ke Xilansan (Srilanka) di Selatan India, Guli (Kalikut), dan Kezhi (Cochin), dan kami telah pergi ke daerah-daerah barat di Hulumosi (Hormuz), Adan (Aden), Mugudushu (Mogadishu), semuanya lebih dari 30 negeri besar dan kecil''.
Selain itu, inskripsi juga sangat penting untuk menjelaskan rute ekspedisi yang telah ditempuh selama 28 tahun sejak permuhibahan Cheng Ho dimulai tahun 1405. Tak ada salahnya kalau dituliskan di sini catatan perjalanan kapal-kapal Cheng Ho berdasarkan inskripsi batu di Changle Fujian. Catatan tersebut tak hanya penting untuk mengetahui rute perjalanan, tetapi juga kiprah Cheng Ho dan semua awak kapalnya sepanjang pelayaran.
I. Pada tahun ketiga Yongle (1405), armada bergerak menuju Guli (Kalikut) dan negeri-negeri lainnya. Pada saat itu, bajak laut Chen Yuzi telah mengumpulkan semua pengikutnya di negeri Sanfoqi (Palembang) tempat dia merompak dan mengganggu pedagang pribumi. Dan ketika dia juga berusaha menghalangi laju armada kami, para serdadu supernatural secara sembunyi-sembunyi datang menyelamatkan, maka dalam satu pukulan genderang, dia takluk. Dia tahun kelima (1407), kami kembali.
II. Di tahun kelima Yongle (1407), armada diperintahkan pergi ke Zhaowa (Jawa), Guli (Kalikut), Kezhi (Cochin), dan Xianle (Thailand). Semua raja di negeri-negeri tersebut mengirimkan benda berharga, burung berharga, dan binatang langka sebagai persembahan pada Sang Kaisar. Pada tahun ketujuh (1409), kami kembali.
III. Pada tahun ketujuh Yoinge (1409), armada diperintahkan menuju negeri-negeri (yang telah dikunjungi) sebelumnya dan kami mengambil rute melewati negeri Xilanshan (Srilanka). Yaliekunaier (Alagakkonara), rajanya bersalah karena sangat tidak menghormati perjalanan kami. Atas restu dari sang dewi (maksudnya Tianfei, Dewi Pelindung Laut kaum tao-Red), sang raja bisa ditangkap hidup-hidup. Di tahun kesembilan (1411), ketika kami kembali sang raja dibawa (kepada sang kaisar) (sebagai tawanan); selanjutnya dia mendapat anugrah Kekaisaran yaitu boleh kembali ke negerinya.
IV. Pada tahun kesebelas Yongle (1413), armada diperintahkan menuju Hulumosi (Hormuz) dan negeri-negeri lain. Di negeri Sumendala (Samudra) terdapat raja palsu Suganla (Iskandar) yang telah merampas dan menduduki negeri itu. Rajanya Cainu-liabiding (Zainul Abidin) telah mengirim pesan ke Gerbang Istana (Kaisar China) untuk minta bantuan. Kami segera ke tempat tersebut dengan bala tentara resmi di bawah komando kami dan menghancurkan dan menangkap (para pemberontak), dan atas restu sang dewi kami berhasil menangkap raja palsu itu hidup-hidup. Di tahun ketigabelas (1415), ketika kami kembali, ia dibawa menghadap Kaisar sebagai tawanan. Pada tahun itu juga, raja Manlajia (Malaka) beserta istri dan anaknya datang menghadap untuk memberikan persembahan.V. Pada tahun kelimabelas Yongle (1417), armada diperintahkan menuju daerah-daerah barat. Negeri Hulumosi (Hormuz menghadiahi singa, leopar bertutul emas, dan kuda-kuda besar. Negeri Adan (Aden) menghadiahi qilin yang aslinya bernama culafa (jerapah) dan binatang bertanduk panjang maha (oryx). Negeri Mugudushu (Mogadishu) menghadiahi huafu lu (zebra) dan singa. Negeri Bulawa (Brawa) menghadiahi unta yang bisa berlari seribu li (ukuran panjang China) seperti burung unta. Negeri Zhaowa (Jawa) dan Guli (Kalikut) menghidahi hewan miligao. Mereka semua dengan penuh kerelaan memberikan semua benda yang berada di gunung atau tersembunyi di lautan, dan semua benda indah yang terbenam di pasir atau tertimbun di pantai-pantai. Beberapa mengirim paman raja dari garis ibu, yang lainnya mengirim paman dari garis ayah atau adik raja untuk menyerahkan surat persembahan dengan kertas emas.
VI. Pada tahun kesembilanbelas Yongle (1421), armada diperintahkan membawa para duta besar dari Hulumosi (Hormuz) dan negeri-negeri lainnya yang telah berada di istana kaisar sekian lama untuk kembali ke negeri mereka. Raja-raja dari negeri-negeri tersebut bahkan telah menyiapkan banyak persembahan dari yang telah diberikan sebelumnya.
VII. Pada tahun keenam Xuande (1431) (cucu Yongle yang memerintahkan permuhibahan kembali setelah sempat dihentikan oleh kaisar sebelumnya) sekali lagi memerintahkan untuk menuju negeri-negeri kaum barbar yang telah kami singgahi untuk membacakan pada mereka (sebuah perintah resmi Kekasisaran) dan untuk memberikan hadiah.Dan catatan itu, dengan bahasa yang cukup puitis, diakhiri dengan kalimat-kalimat: ''Kami bersauh di pelabuhan ini menantikan angin utara membawa kami berlayar, dan menyerukan betapa sebelumnya kami telah mendapat berkah perlindungan dari kuasa ilahi sehingga kami bisa mencatatkan sebuah inskripsi pada batu.''
Kalau sekarang inskripsi itu ada di Changle, provinsi Fujian, dan tahun yang ditulis 1431, maka kita bisa membayangkan pelayaran muhibah yang terakhir Cheng Ho itu masih belum keluar dari wilayah China. Dan mungkin saja memang Cheng Ho, sang navigator agung itu, tak pernah lagi bisa menginjakkan kaki di negerinya, sebab banyak kalangan meyakini dia mati di laut pada tahun 1433.
g Saroni Asikin, dari berbagai sumber

Cheng Ho di Bumi Nusantara

BERAPA kali Cheng Ho singgah di bumi nusantara? Tak cukup mudah menjawab pertanyaan itu. Dari referensi yang saya baca memang ada kesepakatan mengenai banyaknya ekspedisi sejumlah tujuh kali berikut rentang tahun masing-masing ekpedisinya. Namun, tak ada ketunggalan catatan mengenai rute yang ditempuh pada tiap-tiap permuhibahan.Ada yang mengasumsikan, bahwa rute pada permuhibahan perdana (lihat tulisan Bermula dari Nanjing), adalah rute rutin yang selalu disinggahi dalam pelayaran, baik ketika armada berangkat ke tujuan utama maupun ketika pulang kembali ke China.
Bahkan ketika permuhibahan Cheng Ho jauh sampai ke barat di Hormuz di Teluk Persia, Aden di Yaman, dan Mogadishu dan Mombasa di Kenya, berangkat atau pulangnya selalu mampir ke bumi nusantara. Berdasarkan asumsi tersebut, sudah pasti bumi nusantara (yang disepakati pada hampir seluruh catatan adalah Jawa dan Sumatra) disinggahi tujuh kali pada tujuh kota, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, Semarang, Palembang, Deli, dan Samudra.
Asumsi tersebut sejalan dengan tulisan Jean Johnson berjudul ''Should the Ming End the Treasure Ship Voyages?'' (1997) yang diterbitkan New York University. Dalam tulisannya, Johnson, menyebutkan bahwa pada setiap ekspedisinya, armada Cheng Ho selalu melewati dan berhenti di beberapa kota pelabuhan di Indonesia, tepatnya Jawa dan Sumatra. Itu bahkan dilakukan ketika Cheng Ho tak ikut pada ekspedisi kedua. Menurut Johnson, hanya pada ekspedisi keenam, Jawa tak disinggahi. Untuk lebih jelasnya, berikut diterakan lebih rinci mengenai rute perhentian armada permuhibahan Cheng Ho.
Muhibah perdana (1405-1407) dengan tujuan utama Kalikut di India, armada berhenti di Vietnam, Jawa (Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang), Sumatra (Palembang, Deli, dan Samudra), Siam atau Thailand, Srilanka, dan Kalikut.Muhibah Kedua (1407-1409) dengan tujuan utama Kalikut berhenti di pelabuhan-pelabuhan yang sama dengan muhibah pertama. Muhibah ketiga (1409-1411) dengan tujuan utama Malaka, armada mengarungi laut dan singgah di Jawa, Sumatra, Thailand, dan Srilanka. Muhibah keempat (1413-1415) dengan tujuan utama Hormuz dan Teluk Persia berhenti di Jawa, Sumatra, Malaysia, Srilanka, India, dan Maladewa. Muhibah kelima (1417-1419) yang bertujuan mengembalikan 19 duta besar negara-negara yang berkunjung ke China, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Sumatra, Malaka, Maladewa, Srilanka, Cochin dan Kalikut di India, Hormuz, terus dilanjutkan ke Aden di Yaman, hingga ke pantai timur Afrika seperti Mogadishu, Brawa, Malinda, dan berhenti di Mombasa Kenya. Muhibah keenam (1421-1422) dengan tujuan utama pantai timur Afrika, armada sempat berhenti di Sumatra khususnya Samudra di Aceh. Muhibah terakhir atau ketujuh (1431-1433) dengan tujuan utama Kalikut, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Palembang, Malaka, Samudra, dan Srilanka. Namun, pada saat perhentian di Kalikut, disebut-sebut ada sebuah kapal yang terus berlayar hingga ke Afrika, dan bahkan ke Makkah.
Kalau dibandingkan dengan catatan yang terdapat pada inskripsi batu yang berdiri di Fujian, tercatat empat kali bumi nusantara dikunjungi. Yakni, Sanfoqi (Palembang Sumatra) pada permuhibahan perdana (1405-1407), Zhaowa (Jawa) pada pelayaran kedua (1409-1411), Sumendala (Samudra, Aceh) pada yang keempat (1413-1415), dan Zhaowa pada permuhibahan kelima (1417-1419).

g Saroni Asikin, dari berbagai sumber

* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Bermula dari Nanjing


JULI 1405. Pelayaran muhibah pertama Cheng Ho segera dimulai. Kapal-kapal dari Galangan Longjiang Nanjing dihela ke pelabuhan terdekat di Liujia Taicang, kota pantai 40 kilometer dari Shanghai. Seluruh kru berkumpul di Kuil Jinghai, Taicang untuk berdoa pada Tianfei, dewi kaum Tao pelindung laut.
Setelah berdoa, armada mulai bergerak menyusuri Teluk Liu menuju Sungai Yangtse sebelum sampai di laut lepas. Banyak silang pendapat mengenai jumlah kapal yang ikut dalam pelayaran perdana. Ada yang menyebut 62 kapal. Namun, ada pula yang menyebut lebih dari 100 kapal, bahkan ada yang berani menyebut 317 buah. Di luar perbedaan jumlah tersebut, yang pasti pelayaran muhibah itu mirip sebuah konvoi laut gigantis yang meriah dengan bentuk arsitektural memikat.
Di tengah-tengah armada tersebut, beberapa di antaranya adalah kapal-kapal bendera yang superbesar. Bayangkan, pada zaman itu, orang-orang China tersebut telah mampu membikin kapal sepanjang 400 kaki (122 meter) dan lebar 160 kaki (50 meter). Bandingkan dengan kapal Santa Maria kebanggaan si Eropa Columbus itu yang hanya berpanjang 90 kaki (28 meter) dan lebar 30 kaki (9 meter). Belum lagi kru yang ada di semua kapal itu. Cheng Ho bersama 27.800 orang, sementara kru Columbus hanya 90 orang.
Belum lagi kalau kita mencermati kapal-kapal khusus pada armada Cheng Ho yang rata-rata sepanjang 339 kaki (103 meter), yaitu kapal khusus kuda, air segar, kapal khusus serdadu, kapal penyuplai, dan kapal perang. Bayangkan pula beragam barang yang dibawa dari China seperti sutra, emas, dan porselin untuk diperdagangkan.
Teknologi navigasi yang dipakai untuk ukuran zaman itu pun sangat mencengangkan. Ada kompas temuan China di abad ke-11. Ada pula batangan hio yang menengarai waktu dengan hitungan tiap 10 batang berarti 1 hari. Untuk saling berkomunikasi antara satu kapal dengan kapal lainnya, para kru menggunakan bendera, lentera, genta, merpati pos, gong, dan helaian kain.
Dalam kunjungan saya ke Museum Cheng Ho di Chaotian Palace Nanjing, sisa-sisa pelayaran Cheng Ho yang ditemukan lewat penggalian terhadap Dock No 6 di wilayah antara San Chahe dan Zhong Baocun di Nanjing memberikan tambahan pengetahuan mengenai betapa tingginya teknik navigasi laut pada zaman tersebut. Umumnya, peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal adalah mangkuk, piring, dan guci yang desainnya jauh berbeda dengan umumnya desain pot atau porselin pada masa awal Dinasti Ming. Pada bagian bawah peralatan yang tertemukan dalam kondisi utuh, terdapat huruf dari tinta China yang berbunyi ''Zhou'', ''Li'', dan 'Xu''. Begitu pula, sepasang sepatu dari pohon palma yang ditemukan secara mencengangkan masih utuh kondisinya. Panjangnya 27,3 sentimeter yang umumnya dipakai para awak kapal.
***
YA, dengan kedahsyatan armadanya, Cheng Ho sudah siap menjadi seorang penakluk lautan. Tujuan utamanya adalah bandar Guli (Kalikut) di barat daya India yang sejak lama dikenal orang China sebagai pusat perdagangan. Lewat Laut Cina Timur menyusur ke barat hingga di Laut China Selatan dan tiba sampai di Zhancheng (Vietnam yang dulunya bernama Campa), kapal-kapal berhenti di pelabuhan Qui Nhon. Selama persinggahan di situ, kru Cheng Ho begitu takjub mendapat pengalaman baru. Situs internet majalah Time menuliskan bagaimana kru Cheng Ho begitu terkejut sekaligus terpesona menyaksikan dua orang yang berseteru diminta naik kerbau menuju rawa-rawa tempat buaya yang ganas akan memakan orang yang bersalah. (lihat www.time.com/asia/features/journey2001/map.html).
Dari Vietnam armada kembali bergerak menuju Laut Jawa dan mendarat di Pulau Jawa (Zhaowa). Tujuannya sudah pasti untuk menyinggahi Kerajaan Majapahit yang kala itu memang sudah kondang. Masih berdasarkan Time, ada empat titik kota yang disinggahi, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang. Lagi-lagi ada ketakjuban orang asing berhadapan dengan wilayah baru.
Di Mojokerto, orang-orang Cheng Ho yang masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit takjub menyaksikan raja yang tak beralas kaki menunggangi gajah dan tinggal di istana yang dikelilingi tembok setinggi 10 meter. Di Surabaya, salah seorang penerjemah Cheng Ho dibuat terkesima ketika menyaksikan seorang perempuan yang mandul meminta berkah dari seekor lutung tua dengan persembahan anggur, beras, dan kue-kue di satu pulau dekat kota tersebut (Madura?). Menyusur ke barat, armada sampai ke Tuban. Di kota tersebut, para awak kapal seolah-olah menjumpai orang-orang dari bangsanya. Apa pasal? Sebab, awak kapal mendapat kisah bahwa ada sebuah pancuran keramat yang muncul tiba-tiba bersamaan dengan hilangnya seorang tentara China (kaum tartar dari Mongolia dipimpin Kubilai Khan) pada akhir abad ke-13. Itu tahun ketika Kerajaan Majapahit telah mulai bertahta.
Khusus untuk persinggahan di Semarang, Time dan beberapa sumber lain menuliskan sebuah ironisme. Sebab, keterkejutan dan kekaguman terhadap orang asing yang dimiliki kru Cheng Ho seolah-olah harus dibayar dengan sebuah ketakutan. Konon, awak kapal Cheng Ho menjumpai orang-orang yang mengacungkan keris kepada orang asing yang ditemui. Tak ayal mereka beranggapan, orang Jawa adalah orang terkejam di dunia.
Menyusuri Laut Jawa, aramada bergerak ke barat dan singgah di Sanfoqi (Palembang). Bekas pusat wilayah Kerajaan Sriwijaya itu memang telah dikenal orang-orang China sebgai pusat perdagangan laut. Sembari singgah, konon Cheng Ho juga berusaha mencari lanun China yang menjadi buronan kaisar Yong Le. Di daerah tersbeut, kru Cheng Ho menjumpai kaum imigran China yang telah hidup makmur, serta kebiasaan mereka yang suka berjudi dan adu jago.
Armada lalu menyusuri perairan timur Sumatra dan singgah di dua bandar, yakni Deli (Sumut) dan Sumendala (Samudra, Aceh). Di Deli, kru Cheng Ho terpesona menjumpai seekor binatang yang disebut ''harimau terbang''. Binatang itu sebesar kucing dengan badan tertutupi bulu-bulu berwarna abu-abu. Di Samudra, keterpesonaan semakin menjadi-jadi melihat adanya badak dan banyaknya kayu laka. Kayu tersebut secara rutin sering dikirim ke China sebagai hadiah.
Dari Sumatra, armada melaju ke bandar Ayutthaya di Xianlo (Thailand). Di tempat tersbeut, kru Cheng Ho mempelajari satu hal: perempuan lebih berdaya dibandingkan lelaki. Sebab, mereka mengurusi hampir semua urusan, dari perdagangan hingga soal-soal pemberian sanksi. Dari situ, barulah armada menyeberangi Samudra Hindia menuju Xilanshan (Srilangka) dan singgah di pelabuhan Kataragama. Di wilayah ini, ketangguhan seorang Cheng Ho di bidang kemiliteran diuji. Dia harus menaklukkan raja Sinhasale. Dan dari wilayah itu pula muncul sebuah kisah kegendaris, bahwa ketika Cheng Ho berhasil menaklukkan Srilangka, dia mencuri relika suci berupa sepotong gigi Buddha. Konon gigi tersebut dipercaya sebagai jimat pelindung untuk kepulangan aramada ke China.
Akhir Tahun 1406, Armada akhirnya sampai ke kota tujuan utama: Kalikut. Mereka sempat pula singgah di dua tempat lainnya, yaitu Koshin dan Quilon. Di situ, awak kapal Cheng Ho membongkar muatan dan melakukan perdagangan dengan masyarakat setempat.
''Kalikut memang wilayah yang sungguh hebat di perairan samudra barat,'' begitu komentar awak kapal Cheng. Komentar itu sekaligus menegaskan, pelayaran mereka untuk melihat dengan mata kepala sendiri daerah Kalikut yang telah banyak disebut itu sungguh tak sia-sia.
Musim semi 1407, dengan menggantungkan pada angin muson, armada berlayar untuk kembali ke tempat asal. Rute yang ditempuh adalah rute yang dilalui sebelumnya yaitu menyeberangi Samudra Hindia, ke Selat Malaka dan menyusuri tepian timur Sumatra. Di Selat Manlajia (Malaka), awak kapal yang singgah mencermati perikehidupan orang Malaka yang begitu sibuk dalam bidang perdagangan. Pada setiap sudutnya, seperti kesaksian para awak kapal, pembangunan sebuah negara kota sedang sangat giat-giatnya dilakukan. Kalau melihat kesaksian itu, kita mungkin mengasumsikan bahwa wilayah yang disiggahi tersebut adalah Singapura. Kita tahu sebelum memerdekakan diri, Singapura adalah bagian dari Malaysia.
Angin memang sedang baik-baiknya. Tapi armada Cheng Ho harus membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa kembali ke negerinya. Pasalnya, di perairan Sumatra, armadanya terlibat bentrok dengan kawanan perompak atau lanun. Lagi-lagi kegagahan Cheng Ho diuji di sini. Perompak berhasil dikalahkan dan dia membawa serta kepala perompak. Ia orang yang dicarinya untuk dibawa ke kaisar Yong Le. Sangat mungkin kepala perompak yang ditawan itu bernama Chen Zhu Yi seperti yang ditulis Remy Sylado dalam Sam Po Kong. Armada ekspedisi pertama itu telah kembali ke Nanjing dengan membawa banyak cerita, benda, dan kehendak menggelora untuk kembali mengarungi lautan.
g Saroni Asikin

* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Menulis (Lagi) Jejak Kebesaran Sang Navigator

DI antara rerimbun pinus dan sipres, sebuah bangunan berarsitektur paduan China-Islam berdiri. Ia seperti bersembunyi di tengah-tengah keluasan dan kelebatan pepohonan di Zheng He Guoyuan (Taman Cheng Ho) di Kunyang, Yunnan, China. Tepat di bawah atapnya, sebuah epitaf dalam huruf China berbunyi: ''Epitaf bagi Ayahku Haji Ma''.
Dan karena epitaf tersebut, orang Kunyang jadi ingat kembali nama Ma He alias San Bao alias Cheng Ho. Apalagi di tengah-tengah bangunan terdapat sebuah prasasti yang berisi biografi Cheng Ho tertulis. Orang besar itu memang lahir di Kunyang tahun 1371 dari etnis Hui yang beragama Islam dengan nama aslinya Ma He
Kenapa ingat kembali? Apakah selama ini navigator agung yang melakukan ekspedisi bahari tak tertandingi pada zamannya itu dilupakan? Apakah jasa lelaki kasim menggaungkan kebesaran Kekaisaran China ke banyak negeri tak berarti apa-apa bagi orang negerinya?
Beberapa literatur yang saya baca memang menyebutkan proses penghancuran besar-besaran terhadap semua yang telah dilakukan Cheng Ho oleh penguasa China setelah berakhirnya ekspedisi di tahun 1433, khususnya atas pengaruh kaum intelektual neo-konfusian. Dari situ lalu muncul asumsi bahwa wajar saja kebesaran ekspedisi Cheng Ho yang disebut-sebut bahkan jauh lebih dahsyat daripada yang dilakukan Columbus atau Amerigo Vespucci atau Bartolomeu Diaz tersebut jadi tak terbaca sejarah. Lebih-lebih lagi, konon semua kapal yang dipakai ekspedisi berikut galangan kapalnya di Longjiang ikut dihancurkan.
Nama Cheng Ho memang tak benar-benar tak disebut di China. Dalam perjalanan ke Kota Nanjing dan Kunming akhir Juni lalu, beberapa orang yang saya jumpai mengaku mengenal namanya. Hanya saja, sosoknya dikenal semata nama seorang yang besar. Atau lebih ekstremnya, dia hanya seorang pelaut besar.
''Saat SD, guru saya bercerita tentang dia. Dia seorang pelaut besar yang memulai pelayaran dari Nanjing. Hanya itu yang saya ingat,'' tutur Ge Zhu Qing (18) seorang pelajar sebuah akademi di Nanjing yang bekerja paruh waktu pada Zhang Guoyuan di Nanjing.
Orang yang lebih tua pun mengenalnya. Hanya saja, karena China memiliki banyak tokoh besar, Cheng Ho hanya seperti nama yang terselip di antara banyak nama lain. ''Wo zhi dao. Dan shi zhe li you hen duo ying xiong,'' ujar Chuan Tong Fu (57), lelaki tua yang melewatkan hari-harinya bermain catur China dengan koleganya di Zheng He Guoyuan di tengah-tengah Kota Nanjing. Dia mengaku mengenal nama sang navigator, tapi di China dia mengenal banyak tokoh besar.
Apalagi memang kalau dirujukan pada ideologi konfusianisme yang dianut sebagian besar orang China, komentar Chuan Tong Fu seolah-olah memiliki pembenaran tertentu. Ideologi tersebut mengajarkan bahwa setiap orang telah memiliki peranan yang dimainkan sesuai status sosialnya. Intinya, segala sesuatu memiliki tempatnya tersendiri. Jadi, tak ada yang bisa dianggap ''mengagumkan'' sepanjang prestasi seseorang dilakukan sesuai perannya.
Pada faktanya, sekarang ini, ingatan tentang kebesaran Cheng Ho mulai dihidupkan kembali. Penamaan kembali sebuah taman kota di Nanjing dengan Zheng He Guoyuan bolehlah dijadikan bukti awal. Meskipun pada taman itu sama sekali tak terdapat jejak-jejak kebesarannya, ia tetap membuktikan bahwa pemerintah kota Nanjing secara serius menjadikan nama Cheng Ho sebagai bagian dari jejak sejarah wilayahnya. Ya, taman itu tak ubahnya sebuah taman di tengah kota. Di antara rerimbunan pinus, terdapat bangku-bangku batu untuk rehat, bermain catur, berteduh dari terik siang musim panas di Nanjing, atau hanya arena anak-anak bermain-main.
Tera paling signifikan di Nanjing bisa ditemukan di Museum Seni yang berada di kompleks Chaotian Palace. Di dalamnya terdapat banyak benda peninggalan pelayaran Cheng Ho yang sempat ditemukan. Sebut misalnya, kayu pembuat kapal, jangkar, pilar-pilar kapal, pasak dan kait, tali dari pohon palma, beberapa gerabah dan alat-alat pertukangan pembuatan kapal, dan banyak lagi. Pada catatan yang terdapat di situ tertulis bahwa benda-benda penting itu berasal dari dok nomor 6 yang sempat digali dari Zhong Baocun di Nanjing. Selain itu, tulisan mengenai kebesaran Cheng Ho terutama teknik pembuatan kapal dan peranti navigasinya semakin menjelaskan kehendak mengingat kembali namanya.
Tapi mengapa jejak-jejak Cheng Ho berada dalam Museum Seni di areal Chaotian Palace yang sebenarnya merupakan istana suci keagamaan untuk mengingat Nabi Konfusius? Saya bertanya pada Gao Qin yang memandu saya, ''Apakah dengan demikian orang Nanjing menganggap Cheng Ho orang suci?'' Sambil tertawa, gadis itu menjawab, ''Bisa jadi. Bagaimana dia tokoh sejarah besar, khususnya bagi Kota Nanjing.''
Jejak Cheng Ho di Nanjing bisa ditemukan pada Kompleks makam Cheng Ho yang berada jauh di luar kota, tepatnya di Bukit Kepala Sapi Niushou. Tempat itu juga mulai direstorasi secara serius. Selasa (21 Juni 2005 ketika saya datang, beberapa orang sedang sibuk menyelesaikan sebuah bangunan di dekat gerbang makam yag dimaksudkan sebagai semacam Memorial Hall untuk Cheng Ho. Mereka mulai memasang papan-papan nama. Makamnya sendiri telah terenovasi dengan baik. Jalan masuknya bersih dan tertata rapi.
Di Kunyang, daerah asal sang Navigator, keseriusan mengingat namanya terlihat pada proses renovasi tanpa henti pada Zheng He Guoyuan. Bahkan, pada bangunan utama, beberapa tapak setelah patung besar Cheng Ho, orang-orang lagi serius mempersiapkan pesta untuk mengenang pelayaran pertamanya. Lampion-lampion besar sedang dibuat dan relief-relief yang menceritakan pelayaran Cheng Ho mulai dipasang di dinding, tepat di sisi patungbesar Sang Navigator.
Bila Anda masuk lebih jauh ke dalam Zheng He Guoyuan tersebut, jejak-jejak Cheng Ho bisa ditemukan. Sekadar informasi, taman itu tadinya adalah Taman Yueshan dan demi mengingatkan lagi orang pada Cheng Ho namanya diubah menjadi Taman Cheng Ho. Ya, di dalam areal taman tersebut selain epitaf untuk sang ayah, sebuah museum dan rumah asli keluarga Ma bisa dikunjungi. Di museum, Anda akan melihat berbagai benda yang merujuk pada pelayaran Cheng Ho. Sebuah maket besar yang memperlihatkan rute pelayaran juga bisa dilihat. Tak ketinggalan, rempah-rempah yang didapat selama ekspedisi seperti cengkeh, lada hitam, pala, dan banyak lagi terpajang pada sebuah etalase. Dalam rumah asli keluarga Ma, beberapa lukisan yang terpajang memperlihatkan daerah-daerah yang sempat disinggahi Cheng Ho. Kalau diamati lebih saksama, lukisan-lukisan tersebut juga menceritakan bagaimana permuhibahan yang dilakukan Cheng Ho selala disambut baik oleh penduduk lokal.
Taman itu sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Rindangnya pepohonan, udara segar dari Bukit Yueshan, tak akan membuat pengunjung kecapaian oleh rutenya yang naik-turun. Tak hanya di akhir pekan, Kamis (23 Juni 2005) ketika saya berkunjung, banyak sekali remaja yang menikmati kedamaian taman tersebut. Hanya dengan 2,5 RMB Yuan, pengunjung bisa bersantai sembari mengunjungi setiap tempat yang ada.
Lebih dari itu, taman tersebut menjadi kebanggaan orang Kunyang, khususnya etnis Hui yang merupakan suku keluarga Cheng Ho. Beberapa orang Hui dalam pakaian khas mereka yang serba biru. ''Ia orang Hui. Kami juga suku Hui,'' ujar Yang Zhi (47) bangga yang disambut tawa rekan-rekannya.
Dan kebanggaan itu mulai hendak diiingatkan lagi. Meskipun perayaan 600 pelayaran pertama Cheng Ho tak seheboh di Semarang atau Singapura, kebesaran nama sang navigator di kota Nanjing dan Kunming, dua kota yang menjadi titik berangkatnya mulai digemilangkan kembali.

g Saroni Asikin


* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Cheng Ho, Di Mana Sih Kuburmu?




TAK mudah menemukan kuburan Cheng Ho di Nanjing, China. Tak mudah pula menemukan orang yang mengetahui bahwa Cheng Ho dikuburkan di suatu tempat di kota tersebut. Di kota itu, saya lebih banyak menjumpai orang yang menggelengkan kepala ketika saya bertanya tentang Zheng He Mu (Makam Cheng Ho). Padahal, dalam banyak catatan tertulis bahwa setelah ekspedisi ketujuhnya di tahun 1433, Cheng Ho meninggal tahun 1435 dan dimakamkan di Bukit Kepala Sapi di Niushou, luar kota Nanjing. Meskipun sebenarnya, beberapa sejarawan menyebut lelaki itu mati di tengah-tengah laut pada tahun terakhir ekspedisinya.


Orang Nanjing yang mengetahui bahwa Cheng Ho dikubur di sekitar mereka juga bisa dihitung dengan jari. Apalagi memang Niushou berada jauh di luar kota Nanjing. Jadi, pada peta kota yang saya beli di Bandara Lokou Nanjing, nama wilayah itu tak tertulis sama sekali. Dalam peta hanya ada Zheng He Guoyuan (Taman Cheng Ho) yang berada di tengah-tengah kota. Tapi itu bukan tempat utama yang saya cari.


Di hotel tempat saya menginap, tak seorang staf pun yang mengetahui letaknya. Sebagian mengatakan belum pernah mendengar hal itu. Persoalan bahasa ikut mempersulit pencarian informasi. Sekadar informasi, meskipun hotel itu berbintang empat, tak banyak stafnya yang paham bahasa Inggris, sementara Mandarin saya sebatas ''Ni hao ma?'' atau ''xiexie''.


Akhirnya saya memutuskan untuk mencari pemandu. Saya pikir itu akan banyak membantu. Tapi Gao Qin, gadis pemandu berbahasa Inggris yang direkomendasikan pihak hotel, pun tak tahu, bahkan hanya tentang posisi bukit Niushou. Saya membayangkan kesulitan tak terperi. Akhirnya saya katakan pada gadis itu untuk pergi saja dan bertanya pada orang-orang yang mungkin dijumpai di jalan. Dia sepakat. Untuk mempermudah, dia menyarankan untuk sewa mobil.


Saya pikir kesulitan sedikit terurai begitu sopir datang pada Selasa (21 Juni 2005) pukul 9.00 waktu setempat dan kami segera meluncur menuju Niushou. Namun, begitu keluar dari Kota Nanjing, sang sopir bahkan tak tahu arah menuju Niushou. Apa pasal? Niushou hanyalah sebuah bukit kecil dan tak semua orang Nanjing mengetahui arah jalannya. Kami berputar-putar mengambil banyak rute di luar kota. Lewat Gao Qin, sudah beberapa orang yang ditanya tentang Makam Cheng Ho. Pencarian masih menemu jalan buntu dan kami harus berhenti dahulu untuk rehat dan makan siang.


Saat makan, saya dengar Gao Qin berujar, ''Zai Nanjing xiang yao zhao dao Zheng He mu duo nan a!'' Saat ditanya artinya, dia menjelaskan bahwa betapa susahnya mencari kuburan Cheng Ho di Nanjing. Ya, memang susah benar. Sudah sekitar tiga jam kami berputar-putar dan bertanya pada banyak orang, namun belum juga bertemu titik terang.


Usai makan siang dan rehat sejenak, pencarian kami mulai lagi. Kami masih berputar-putar hingga memasuki wilayah bebukitan. Pada sebuah pertigaan, kami berhenti. Beberapa orang tengah membuat jalan menuju ke arah sebuah bukit. Titik terang agaknya mulai tertemukan. Sebab, para pekerja itu menunjuk arah tertentu. Meskipun tak paham sama sekali yang dipercakapkan pemandu saya dengan mereka, saya menangkap kesan bahwa para pekerja itu mengetahui tempat yang kami cari.Kami mengikuti jalan tanah liat sebelum bertemu jalan beraspal. Setelah beberapa belokan, sopir terdengar mendesah puas ketika melihat papan nama dalam huruf China. ''Jieguo!''


Ya, akhirnya kami sampai punya papan petunjuk yang bakal membawa kami ke makam Cheng Ho setelah pencarian hampir setengah hari.Sebuah baliho besar dengan gambar Cheng Ho berdiri di pinggir sebuah pertigaan. Sekitar 100 meter dari situ, sebuah gerbang telah terlihat. Kompleks tersebut seperti baru saja dibangun. Paving block pada jalan masuk dan tempat parkir seperti baru saja terpasang. Begitu pula bangunan yang dipakai sebagai foodcourt. Makam yang kami cari berada di balik bangunan dan areal kosong penuh pohonan. Kami harus melewati gerbang (yang juga masih terlihat baru), taman yang juga baru, dan sebuah Memorial Hall untuk Cheng Ho yang juga tengah dipasangi papan nama. Kuburan sang navigator agung itu ada di atas jalan bertrap naik. Tepatnya lewat sebuah gerbang dengan ciri arsitektural Dinasti Ming bertuliskan tiga huruf China (Zheng He Mu). Ada tujuh trap yang masing-masing berisi 28 jejak. Itu dimaknakan sebagai tujuh kali permuhibahan Cheng Ho selama 28 tahun (1405-1433). Dan di bawah kerindangan pepohonan pinus, sipres, dan banyak lagi lainnya, sebuah kuburan membujur dari utara ke selatan. Makam itu tanpa nisan dan pada sisi sebelah selatannya tercetak tulisan bismillahirrahmanirrahim berwarna hijau. Tak ada tengara lain selain sebuah prasasti di jalan masuk ke makam yang menceritakan secara singkat kisah permuhibahan Cheng Ho ke wilayah Barat dari negeri China.


***


DI situkah jasad sang ekspeditor agung itu bersemayam? Mungkin ya. Sebab, tulisan di gerbang masuk jelas-jelas menunjukkan di situlah Cheng Ho dikuburkan. Dalam banyak catatan, masyarakat setempat memang mengakui Cheng Ho dimakamkan di situ. Pembaharuan makam ke dalam ciri keislaman mulai tahun 1985 juga menjadi bukti pengakuan kepada sang navigator yang memang beragama Islam.Tapi benarkah di bawah kerindangan pepohonan di bukit Niushou jasad Cheng Ho bersemayam? Dari makam tersebut, saya mengajak Gao Qin untuk ke desa sekitar. Saya katakan padanya bahwa banyak sejarawan berspekulasi mengenai kematian Cheng Ho di laut pada ekspedisi terakhirnya. Saya juga mengatakan, bahwa di tempat asal saya, Cheng Ho dipercaya meninggal di Laut Jawa sekitar Jepara, dan yang dikubur di Niushou adalah benda-benda yang merepresentasikan dirinya.


Dia setuju, sebab sebagai orang Nanjing itulah kali pertama mendengar Cheng Ho dimakamkan di Niushou. Selama ini dia hanya tahu dari cerita sejarah mengenai perjalanan Cheng Ho.Sekitar dua kilometer dari tempat itu memang ada pemukiman. Seorang warga yang kami temui menyarankan untuk mencari orang yang berusia agak tua untuk memperoleh informasi yang kami butuhkan. Orang yang dimaksud tengah duduk merokok di depan rumahnya sembari teh hijau. Dia menyambut kami dengan ramah. Lewat Gao Qin kami menanyakan kebenaran bahwa benar-benar jasad Cheng Ho yang ada di Niushou.Tan Yinming, lelaki tua itu bercerita, bahwa makam itu pernah dibongkar beberapa tahun sebelum direstorasi. Dia menyebut tahun 1962. Penduduk sekitar membongkar makam bukan demi mengetahui kebenaran adanya jasad sang navigator, melainkan untuk mencari sesuatu yang berharga pada makam-makam tua. Dan di dalamnya tak ditemukan apa-apa. ''Kosong. Tak ada tulang belulang sama sekali,'' tandas dia.Saya semakin penasaran dan mengatakan bahwa kemungkinan setelah lebih dari lima abad, kerangkanya telah menyatu dengan tanah. Lelaki itu hanya tertawa dan mengatakan, ''Mungkin saja. Saya tak tahu. Selama ini yang mengunjungi makamnya hanya kerabatnya dari suku Hui di Kunyang, Yunnan.''


Aha, dengan susah payah kami telah menemukan situs makam. Begitu menemukan, ternyata susah pula meyakini bahwa lelaki Kasim Agung itu memang dimakamkan di situ. Di Bukit Kepala Sapi itu jelas-jelas saya menemukan sebuah makam. Tengara-tengara di sekitarnya meyakinkan bahwa itu makam Cheng Ho. Tapi pernyataan lelaki tua di desa sekitar makam tersebut seolah-oleh membenarkan asumsi bahwa Cheng Ho meninggal di laut dalam ekspedisi terakhirnya, yang konon di laut sekitar Jepara, dan ada pula yang menyebutnya di sekitar pelabuhan Kalkuta, India. Yang benar, wallauhua'lam bissawab. Namun yang pasti, di mana pun jasad orang besar seperti Cheng Ho, jasad yang pasti telah rusak dan tak berjejak, namun jasa-jasanya bakal terus hidup sepanjang waktu. Apalagi dalam keyakinan orang China, orang besar selalu dianggap serupa ''dewa'', dianggap sebagai Kong. Cheng Ho pun punya nama Sam Po Kong di Indonesia: seorang San Bao yang di''dewa''kan. (*)

g Saroni Asikin

* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005