13 Juli 2007
Kastil Osaka, Tak Sekadar Kisah Peperangan
Carilah Cheng Ho sampai ke Warung ‘’Ngosek’’
Dengan semangat mencari jejak-jejak Cheng Ho di wilayah tersebut, saya dan beberapa orang (Mas Soesiswo, Triyanto Triwikromo, Budi Maryono, dan Irawan A Aryanto) berangkat pagi-pagi. Di kelenteng Juwana, kami berhenti dan bertanya pada salah seorang biokong (penjaga kelenteng) apakah ada cerita Cheng Ho di situ.
‘’Ndak ada. Cheng Ho ya di Semarang di kelenteng Sam Po Kong itu.’’
Alasan perhentian di Juwana berasal dari asumsi bahwa daerah tersebut, khususnya sekitar kelenteng dulunya juga sebuah bandar tempat orang-orang China berdatangan dan bermukim di situ.
Perjalanan dilanjutkan dan kami berhenti di kelenteng Rembang. Perhentian kali ini pun dengan asumsi Dampo Awang adalah nama yang sangat kondang di kota tersebut sampai-sampai misalnya PSIR (klub sepak bola) dijuluki Laskar Dampo Awang. Siapa tahu kekondangan sang Dampo itu meninggalkan jejak Cheng Ho yang lagi kami cari.
‘’Lha saya ndak tahu. Masyarakat da sini juga ndak tahu Cheng Ho.’’
Lalu kami melaju dan berniat tak lagi berhenti hingga Tuban. Sampai di Tuban, kami ke Kwan Sing Bio, kelenteng bagus dan megah di Kota Ranggalawe tersebut. Tak ada cerita tentang Cheng Ho di situ. Kami sempat sedikit frustrasi. Lalu dari diskusi kecil, sembari membayangkan bahwa pendaratan Cheng Ho pastilah di sebuah bandar, sebuah pelabuhan, kami memutuskan pergi ke tempat itu. Agak kecewa juga ketika diberitahu seseorang bahwa pelabuhan itu hanyalah tempat bersauhnya perahu-perahu nelayan setempat.
Setelah rehat sejenak dan salat duhur, kami ke pelabuhan. Kami langsung menuju bekas dermaga yang sudah rusak parah. Di situkah dulu, enam ratus tahun lalu, Sang Laksamana menginjakkan kaki ke Tanah Jawa?
Tak ada orang yang bisa dimintai cerita. Kami sudah berniat pulang. Lalu saya bertemu dengan seorang pencari udang rebon. ‘’Sampeyan tahu Cheng Ho atau Dampo Awang?’’
Lelaki itu antusias bercerita. ‘’Itu di sana ada Sumur Srumbung. Ceritanya dulu di sini banyak pedagang China dan salah satunya Dampo Awang. Tapi Kanjeng Sunan Bonang tak suka dengan mereka. Karena marah, Kanjeng Sunan memukul tanah dengan tongkatnya hingga keluar air yang kini jadi Sumur Brumbung. Dampo Awang yang kalah sakti minta ampun sampai menciumi kaki Kanjeng Sunan sambil berseru-seru menghiba. Dari seru-seru ambung itu sumurnya dinamakan Srumbung.’’
Aha, sebuah cerita. Dia memberi petunjuk ke arah sumur itu yang letaknya tak jauh dari pelabuhan tersebut. Lewat Jalan Sumur Srumbung, kami sampai di lokasi. Begitu banyak orang pada hunian berdesak-desakan di pinggir laut itu. Tapi Juru Kunci Sumur Srumbung tak tahu menahu legenda yang tersimpan pada sumur yang dijaganya itu.
Dengan penuh keramahan beberapa orang menerima kami. Seseorang yang sudah tua segera bercerita mengenai sumur itu. Ceritanya agak berbeda dengan lelaki pencari udang rebon itu. Dia bilang Kanjeng Sunan Bonang itu tak terkait langsung dengan Dampo Awang.
Kami semakin bingung. Lalu datanglah seorang lelaki yang cukup muda. Priyadi namanya. 40 tahun usianya. Dia dikenal sebagai juru cerita setiap kali ada orang yang datang mencari kisah mengenai Sumur Srumbung plus Dampo Awang plus keramik-keramik China yang hingga kini masih terus dicari di pinggiran Laut Tuban.
Cerita Priyadi agak sama dengan milik lelaki pencari udang tadi. Paling menarik dari cerita dia dalah bahwa Dampo Awang dan Sam Po Kong alias Cheng Ho itu orang yang sama. (Nah, unik benar kan kisah legenda itu?)
Lelaki itu berhenti sejenak, lalu, ‘’hanya ada satu orang yang selamat. Dampo Awang namanya. Karena dia orang sakti, dia bisa selamat dan berenang sampai pantai. Di pantai dia bertemu dengan seorang tua yang sedang memancing. Dia tak tahu kalau itu Sunan Bonang. Kanjeng Sunan memang suka mancing. Lalu mereka bertanya-jawab. Kanjeng Sunan bertanya pada Dampo Awang. Dia bercerita bahwa dirinya dari China bersama banyak orang tapi kapalnya terempas badai. Hanya dia yang selamat. Tapi yang membuat hati Dampo Awang gundah adalah hilangnya kitab milik dia yang konon diberikan oleh guru dia di China.
‘’Kanjeng Sunan hanya tersenyum. Lalu Dampo Awang menanyakan jati diri lelaki tua pemancing itu. Kanjeng Sunan menjawab bahwa dirinya hanyalah orang biasa yang memang suka memancing. Tanpa sepengetahuan Dampo Awang, Kanjeng Sunan menetakkan tongkatnya ke tanah dan dari tanah itu keluarlah air beserta kitab milik Dampo Awang. Lelaki China itu takjub alang kepalang. Dia menerima kitab yang disodorkan Kanjeng Sunan. Air yang memancar dari tetakan tongkat itu kini disebut Sumur Srumbung. Dan setelah mengucapkan terima kasih, Dampo Awang berlalu. Dia bilang mau melanjutkan perjalanan darat ke arah Barat. Dia sampai di Pati dan ketemu Sunan Muria. Kalau Kisah Gunungrowo di Pati, saya ndak tak tahu.’’
Priyadi selesai bercerita. Lalu saya tanya, ‘’Apa Dampo Awang cukup terkenal di sini?’’
‘’Wah, ya ceritanya cuma begitu. Kalau di sini yang terkenal Kanjeng Sunan Bonang.’’(*)
g Saroni Asikin
Makhluk dari Mana Mereka?


***
KALAU siangnya, orang Osaka terpesona, terheran-heran, dan bertepuk tangan untuk eksotisme Dayak, malam harinya di Osaka City Central Hall, mereka bereaksi serupa untuk eksotisme yang lain. Greget Semarang yang menampilkan tari tradisional Jawa dengan tari ''Pesisiran'' dan ''Satria Yaksa'' paling tidak memberi informasi bahwa Indonesia memang kaya etnis dan entitas budaya.
Tampil di gedung pertunjukkan megah, secara jujur kami yang dari Indonesia sempat cemas selama menyaksikan aksi panggung pelbagai bangsa di situ. Pasalnya, hampir semua negara menampilkan sajian yang bersifat kolosal. Padahal, dua tarian yang kami sajikan malam itu hanya dilakukan masing-masing oleh dua penari. Kecemasan itu berasal dari pikiran bahwa kami bakal ''kalah set'' dibandingkan penampil lain. Lebih-lebih lagi, Indonesia tampil di ujung acara.Lihat saja misalnya Shinkotoni Temburyujin dari Kota Sapporo (Jepang) yang memainkan atraksi tarian kolosal puluhan orang dengan keberagaman gerak dan permainan perkusi. Atau, aksi cantik akrobat dari Chang Jiang Delta Shanghai (China). Lihat pula bagaimana kelompok dari Reda National Folklore Dancing Troupe dari Mesir memainkan tarian rakyat mereka.
Namun, kecemasan itu sirna begitu ''Satria Yaksa'' purna dimainkan. Kami mendengar aplaus penonton yang memenuhi gedung tersebut, sama seperti yang diberikan kepada penampil lain. Bukti lain bahwa yang tak kolosal dan yang klasikal seperti sajian Satria Yaksa memiliki pesona tersendiri adalah keinginan salah seorang penanggung jawab Midosuji Parade 2006 untuk menampilkan tarian itu pada event lain. Meskipun masih berupa tawaran, tapi apresiasi seperti itu tetap membanggakan.
g Saroni Asikin
''Kiutsukete, Mori-san''
PARADE Midosuji adalah puncak perayaan musim gugur tahunan di wilayah Osaka, Jepang. Tak hanya dari Jepang, puluhan negara diundang untuk ikut meramaikan. Tahun ini, Indonesia diwakili Kabupaten Malinau (Kaltim), Yayasan Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Ini catatan kecil saya ketika mengikuti rombongan Indonesia tersebut.(*)
Dua tahun sebelumnya, Indonesia yang diwakili Kabupaten Jembrana, Bali menampilkan mobil hias dengan replika sosok Rangda. Setelah absen tahun 2005, pada parade tahun 2006, Indonesia menampilkan mobil hias rumah adat Dayak dari Kabupaten Malinau, Kaltim. Tentu saja replika tersebut sejalan dengan tema yang diberikan panitia: kontribusi hutan hujan tropis Kalimantan untuk dunia.
Aki yang juga suka bercanda memberi tambahan kata: ''kurukurupa'' yang berarti ''stres dan hampir gila''. Itu modal bagus buat kami untuk ganti ''mencereweti'' si cerewet itu. Tapi dasar tak bisa diam, setelah itu pun dia berkali-kali dia mengucapkan kalimat itu kepada Mori-san sambil tangannya menunjuk ke salah seorang dari kami. Adakalanya candaan itu berasal dari perbedaan persepsi kultural di antara kami. Ketika mendapat kata kiutsukete yang berarti ''hati-hati'', teman yang tadi masih selalu saja pamer pada lelaki Jepang itu. Sudah berkali-kali pula lelaki itu ber-arigato-arigato. Namun pada suatu momen saat dia harus memaku untuk menggantung topi hias sembari menaiki tangga, kalimat tadi keluar lagi dari mulut teman itu. Sontak beberapa pekerja lain tertawa lebar sembari menirukan ucapan, ''Kiutsukete, Mori-san.'' Dengan wajah pongah, si cerewet itu menghambur ke penerjemahnya untuk mencari tahu mengapa mereka tertawa. Nah, itulah yang saya sebut adanya persepsi kultural yang berbeda. Bagi mereka memaku di mobil hias yang tak tinggi itu bukan sesuatu yang patut dicemaskan sehingga perlu disarankan agar seseorang harus ekstra hati-hati. Padahal di luar alasan bahwa dia bak beo yang lagi belajar sebuah kata, tentu saja dia bermaksud memberi perhatian sebagai tanda persahabatan.
Puing-puing dari Zhong Baocun
Andai lelaki itu bukan seorang kasim, seseorang yang telah dikebiri, dan semua kapten kapalnya bukan kasim pula, maka para pejabat terpelajar konfusian tak akan marah dan menganggap menjelajah ke banyak negeri sebagai pengkhianatan terhadap ajaran konfusianisme. Andai Kaisar Zhu Gaozhi, pengganti Yong Le, tak terpengaruh kekuatan politik kaum konfusian itu, maka ekspedisi ketujuh bisa berjalan mulus dan tak akan terjadi penghancuran catatan permuhibahan berikut galangan kapal di Longjian. Andai tak ada penghancuran itu, maka kebesaran China di bidang maritim yang meneguhkan nama Laksamana Cheng Ho sebagai sang pionir akan bergaung ke seluruh dunia. Andai tak ada penghancuran itu, kita akan bisa membaca Cheng Ho dan ekspedisinya secara benar dan proporsional.
MELIHAT kenyataan itu, betapa pentingnya puing-puing yang digali dari Zhong Baocun. Penempatan benda-benda yang ditemukan pada sebuah bangunan khusus di Museum Seni kompleks Chaotian Palace pun berguna bagi studi lebih lanjut mengenai teknologi perkapalan yang dikembangkan Cheng Ho semasa Dinasti Ming.
Bangunan tersebut dinaungi dua pohon eks besar. Begitu memasuki pelatarannya, pengunjung telah bisa melihat gambar-gambar mengenai ekspedisi Cheng Ho pada dinding luar. Masih di luar bangunan, pada sisi kanan terdapat beberapa batang kayu besar berwarna hitam. Dilihat sekilas, batangan kayu itu mengesankan ketuaan. Di antara kayu-kayu tersebut terdapat dua batang kayu yang dipersiapkan sebagai anjungan kapal. Panjangnya 10,1 meter dan 11 meter dengan berat mencapai satu ton. Pihak Nanjing Municipal Museum menganggap penemuan dua kayu itu sebagai penemuan luar biasa. Sebab, kita bisa melihat skala sebuah kapal yang disebut ''kapal berharga'' dari zaman Ming. Sayang sekali Gao Qin yang memandu selama liputan saya tak mengetahui jenis kayunya. Selain itu, di museum tersebut juga tak ada catatan mengenai jenis kayu yang dibuat kapal oleh Cheng Ho.
Masuk ke dalam ruangan, pengunjung akan melihat sebuah jangkar yang telah berkarat. Di kanan kirinya terdapat berbagai jenis peralatan pembuatan kapal seperti kapak, tatah, gergaji, kikir, palu kayu, dan alat penyiku. Begitu pula ada banyak jenis temali, dayung, tiang kapal, beberapa meteran dari kayu yang disebut ''wei jia qing ji'', serta ratusan pasak dalam beragam bentuk yang terbuat dari logam dan kayu.Selain benda-benda tersebut, terdapat berbagai banyak peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal. Menariknya, di situ disebutkan bahwa peralatan dapur yang paling banyak dipakai adalah mangkuk, piring, dan guci yang memiliki desain berbeda dengan umumnya barang pecah belah pada masa awal dan tengah Dinasti Ming,yangberarti pada zaman Cheng Ho bereskpedisi. Pada semua benda pecah belah itu terdapat tulisan berhuruf China dari tinta yang berbunyi ''zhou'', ''li'' dan ''xu'' yang kondisinya masih sangat bagus. Benda lain yang ditemukan dalam kondisi bagus adalah sepasang sepatu dari serat palma berukuran 27,3 sentimeter. Itu sepatu yang dipakai awak kapal.Apa yang tersimpan di museum tersebut memang baru menguak sedikit mengenai aktivitas pembuatan kapal. Namun, nilainya tetap sangat berharga, khususnya bagi studi sejarah perkapalan pada zaman Dinasti Ming. Dari situ pula, terbaca peran Cheng Ho selama masa persiapan ekspedisi.
Berbeda dengan museum tersebut, yang tersimpan di dalam Museum Cheng Ho di Kunyang adalah benda-benda yang diperoleh selama ekspedisi. Meskipun tak banyak, dan memang tak terbaca asal-usulnya perolehannya, keberadaan benda-benda tersebut tak bisa dimungkiri keberartiannya. Di dalam museum, selain maket mengenai rute pelayaran Cheng Ho dan beberapa patung Sang Laksamana terdapat beberapa keramik yang tak utuh lagi. Begitu pula pada satu etalase terdapat beberapa piring yang berisi rempah-rempah seperti pala, kemiri, cengkeh, garam, kayu manis, lada hitam, dan beberapa lainnya. Boleh dibayangkan, rempah-rempah itu kemungkinan besar diperoleh dari wilayah tropis. Selain itu, pada ruang yang terpisah, terdapat beberapa benda yang dipakai para awak kapal seperti jubah, topi, pedang, dan mahkota. Di ruang tersebut terpajang pula beberapa lukisan yang menceritakan interaksi Cheng Ho dan awak kapalnya dengan penduduk yang disinggahi kapal mereka. Ada lukisan yang memperlihatkan Cheng Ho dan seorang asistennya tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang memakai jubah dan turban, sementara di sekitar mereka terdapat berbagai jenis gubi dan barang persembahan. Boleh jadi itu gambaran ketika armada Cheng Ho singgah di Kalikut, India. Ada pula lukisan yang menceritakan permuhibahan Cheng Ho ke bumi Afrika. Di situ, Cheng Ho beserta beberapa pengiringnya disambut dengan ramah oleh orang-orang berkulit hitam. Sambutan penuh persahabatan itu bisa dilihat misalnya bagaimana Cheng Ho dipayungi payung kebesaran warna kuning dan dia terlihat berbincang-bincang penuh keceriaan dengan seorang kulit hitam yang memakai mahkota.
Selain dua lukisan tersebut, sebuah lukisan yang sangat menarik buat saya. Pada lukisan itu, Cheng Ho bersama beberapa pengiringnya duduk di sebuah ruangan (mirip sebuah paseban kerajaan) tengah menikmati tarian tiga perempuan. Ketertarikan saya terutama pada para penari berkostum laiknya para penari Bali ketika menari Jangger atau Legong. Di bawah lukisan tersebut terdapat tulisan China dan angka latin 1410. Sayang sekali, tak ada pemandu atau orang yang bisa saya tanyai ketika berada di situ. Boleh jadi angka itu menunjukkan tahun peristiwa yang dilukiskan. Dan kalau melihat kostum penari yang saya bayangkan mirip penari Bali tersebut, saya membayangkan peristiwa dalam lukisan itu terjadi di Majapahit. Kita tahu pengaruh kebudayaan Majapahit begitu kental terasa di Bali. Dan kalau sepakat dengan asumsi bahwa Jawa disinggahi enam kali (selain ekspedisi keenam), maka kemungkinan peristiwa itu terjadi pada muhibah ketiga (1409-1411).
Jadi memang tak begitu banyak benda yang ditinggalkan oleh cerita besar ekspedisi Cheng Ho. Itu menjelaskan, bahwa politik, seperti yang dimainkan pejabat konfusian pada zaman Cheng Ho, sering benar begitu kejam mengubah alur sejarah atau bahkan menguburkannya. Bayangkan, untuk armada permuhibahan klasik dengan kekuatan lebih dari 300 kapal dan melibatkan hampir 30 orang, hanya bisa dilihat jejak-jejak artefaknya dari penggalian puing-puing sebuah dok.
Ya, Cheng Ho barangkali memang bukan sosok yang dimanja sejarah, atau bukan tokoh yang disukai sosok-sosok sejarah pada zamannya. Tapi siapa bisa menyangkal kebesaran namanya?
g Saroni Asikin
* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005
Inskripsi Batu di Fujian
Inskripsi batu yang berada di Kuil Istri Langit di Changle, Provinsi Fujian China yang bertengara tahun 1431 menyebutkan soal bangsa-bangsa ''barbar'' tersebut. Inskprisi itu semacam laporan yang ditulis Cheng Ho dan krunya kepada kaisar China.
Lihatlah contoh yang tertulis di batu itu: ''Negeri-negeri kaum barbar yang telah kami kunjungi adalah Zhancheng (Vietnam), Zhaowa (Jawa), Sanfoqi (Palembang), dan Xianlo (Thailand), menyeberang ke Xilansan (Srilanka) di Selatan India, Guli (Kalikut), dan Kezhi (Cochin), dan kami telah pergi ke daerah-daerah barat di Hulumosi (Hormuz), Adan (Aden), Mugudushu (Mogadishu), semuanya lebih dari 30 negeri besar dan kecil''.
Selain itu, inskripsi juga sangat penting untuk menjelaskan rute ekspedisi yang telah ditempuh selama 28 tahun sejak permuhibahan Cheng Ho dimulai tahun 1405. Tak ada salahnya kalau dituliskan di sini catatan perjalanan kapal-kapal Cheng Ho berdasarkan inskripsi batu di Changle Fujian. Catatan tersebut tak hanya penting untuk mengetahui rute perjalanan, tetapi juga kiprah Cheng Ho dan semua awak kapalnya sepanjang pelayaran.
I. Pada tahun ketiga Yongle (1405), armada bergerak menuju Guli (Kalikut) dan negeri-negeri lainnya. Pada saat itu, bajak laut Chen Yuzi telah mengumpulkan semua pengikutnya di negeri Sanfoqi (Palembang) tempat dia merompak dan mengganggu pedagang pribumi. Dan ketika dia juga berusaha menghalangi laju armada kami, para serdadu supernatural secara sembunyi-sembunyi datang menyelamatkan, maka dalam satu pukulan genderang, dia takluk. Dia tahun kelima (1407), kami kembali.
II. Di tahun kelima Yongle (1407), armada diperintahkan pergi ke Zhaowa (Jawa), Guli (Kalikut), Kezhi (Cochin), dan Xianle (Thailand). Semua raja di negeri-negeri tersebut mengirimkan benda berharga, burung berharga, dan binatang langka sebagai persembahan pada Sang Kaisar. Pada tahun ketujuh (1409), kami kembali.
III. Pada tahun ketujuh Yoinge (1409), armada diperintahkan menuju negeri-negeri (yang telah dikunjungi) sebelumnya dan kami mengambil rute melewati negeri Xilanshan (Srilanka). Yaliekunaier (Alagakkonara), rajanya bersalah karena sangat tidak menghormati perjalanan kami. Atas restu dari sang dewi (maksudnya Tianfei, Dewi Pelindung Laut kaum tao-Red), sang raja bisa ditangkap hidup-hidup. Di tahun kesembilan (1411), ketika kami kembali sang raja dibawa (kepada sang kaisar) (sebagai tawanan); selanjutnya dia mendapat anugrah Kekaisaran yaitu boleh kembali ke negerinya.
IV. Pada tahun kesebelas Yongle (1413), armada diperintahkan menuju Hulumosi (Hormuz) dan negeri-negeri lain. Di negeri Sumendala (Samudra) terdapat raja palsu Suganla (Iskandar) yang telah merampas dan menduduki negeri itu. Rajanya Cainu-liabiding (Zainul Abidin) telah mengirim pesan ke Gerbang Istana (Kaisar China) untuk minta bantuan. Kami segera ke tempat tersebut dengan bala tentara resmi di bawah komando kami dan menghancurkan dan menangkap (para pemberontak), dan atas restu sang dewi kami berhasil menangkap raja palsu itu hidup-hidup. Di tahun ketigabelas (1415), ketika kami kembali, ia dibawa menghadap Kaisar sebagai tawanan. Pada tahun itu juga, raja Manlajia (Malaka) beserta istri dan anaknya datang menghadap untuk memberikan persembahan.V. Pada tahun kelimabelas Yongle (1417), armada diperintahkan menuju daerah-daerah barat. Negeri Hulumosi (Hormuz menghadiahi singa, leopar bertutul emas, dan kuda-kuda besar. Negeri Adan (Aden) menghadiahi qilin yang aslinya bernama culafa (jerapah) dan binatang bertanduk panjang maha (oryx). Negeri Mugudushu (Mogadishu) menghadiahi huafu lu (zebra) dan singa. Negeri Bulawa (Brawa) menghadiahi unta yang bisa berlari seribu li (ukuran panjang China) seperti burung unta. Negeri Zhaowa (Jawa) dan Guli (Kalikut) menghidahi hewan miligao. Mereka semua dengan penuh kerelaan memberikan semua benda yang berada di gunung atau tersembunyi di lautan, dan semua benda indah yang terbenam di pasir atau tertimbun di pantai-pantai. Beberapa mengirim paman raja dari garis ibu, yang lainnya mengirim paman dari garis ayah atau adik raja untuk menyerahkan surat persembahan dengan kertas emas.
VI. Pada tahun kesembilanbelas Yongle (1421), armada diperintahkan membawa para duta besar dari Hulumosi (Hormuz) dan negeri-negeri lainnya yang telah berada di istana kaisar sekian lama untuk kembali ke negeri mereka. Raja-raja dari negeri-negeri tersebut bahkan telah menyiapkan banyak persembahan dari yang telah diberikan sebelumnya.
VII. Pada tahun keenam Xuande (1431) (cucu Yongle yang memerintahkan permuhibahan kembali setelah sempat dihentikan oleh kaisar sebelumnya) sekali lagi memerintahkan untuk menuju negeri-negeri kaum barbar yang telah kami singgahi untuk membacakan pada mereka (sebuah perintah resmi Kekasisaran) dan untuk memberikan hadiah.Dan catatan itu, dengan bahasa yang cukup puitis, diakhiri dengan kalimat-kalimat: ''Kami bersauh di pelabuhan ini menantikan angin utara membawa kami berlayar, dan menyerukan betapa sebelumnya kami telah mendapat berkah perlindungan dari kuasa ilahi sehingga kami bisa mencatatkan sebuah inskripsi pada batu.''
Kalau sekarang inskripsi itu ada di Changle, provinsi Fujian, dan tahun yang ditulis 1431, maka kita bisa membayangkan pelayaran muhibah yang terakhir Cheng Ho itu masih belum keluar dari wilayah China. Dan mungkin saja memang Cheng Ho, sang navigator agung itu, tak pernah lagi bisa menginjakkan kaki di negerinya, sebab banyak kalangan meyakini dia mati di laut pada tahun 1433.
g Saroni Asikin, dari berbagai sumber
Cheng Ho di Bumi Nusantara
Bahkan ketika permuhibahan Cheng Ho jauh sampai ke barat di Hormuz di Teluk Persia, Aden di Yaman, dan Mogadishu dan Mombasa di Kenya, berangkat atau pulangnya selalu mampir ke bumi nusantara. Berdasarkan asumsi tersebut, sudah pasti bumi nusantara (yang disepakati pada hampir seluruh catatan adalah Jawa dan Sumatra) disinggahi tujuh kali pada tujuh kota, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, Semarang, Palembang, Deli, dan Samudra.
Asumsi tersebut sejalan dengan tulisan Jean Johnson berjudul ''Should the Ming End the Treasure Ship Voyages?'' (1997) yang diterbitkan New York University. Dalam tulisannya, Johnson, menyebutkan bahwa pada setiap ekspedisinya, armada Cheng Ho selalu melewati dan berhenti di beberapa kota pelabuhan di Indonesia, tepatnya Jawa dan Sumatra. Itu bahkan dilakukan ketika Cheng Ho tak ikut pada ekspedisi kedua. Menurut Johnson, hanya pada ekspedisi keenam, Jawa tak disinggahi. Untuk lebih jelasnya, berikut diterakan lebih rinci mengenai rute perhentian armada permuhibahan Cheng Ho.
Muhibah perdana (1405-1407) dengan tujuan utama Kalikut di India, armada berhenti di Vietnam, Jawa (Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang), Sumatra (Palembang, Deli, dan Samudra), Siam atau Thailand, Srilanka, dan Kalikut.Muhibah Kedua (1407-1409) dengan tujuan utama Kalikut berhenti di pelabuhan-pelabuhan yang sama dengan muhibah pertama. Muhibah ketiga (1409-1411) dengan tujuan utama Malaka, armada mengarungi laut dan singgah di Jawa, Sumatra, Thailand, dan Srilanka. Muhibah keempat (1413-1415) dengan tujuan utama Hormuz dan Teluk Persia berhenti di Jawa, Sumatra, Malaysia, Srilanka, India, dan Maladewa. Muhibah kelima (1417-1419) yang bertujuan mengembalikan 19 duta besar negara-negara yang berkunjung ke China, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Sumatra, Malaka, Maladewa, Srilanka, Cochin dan Kalikut di India, Hormuz, terus dilanjutkan ke Aden di Yaman, hingga ke pantai timur Afrika seperti Mogadishu, Brawa, Malinda, dan berhenti di Mombasa Kenya. Muhibah keenam (1421-1422) dengan tujuan utama pantai timur Afrika, armada sempat berhenti di Sumatra khususnya Samudra di Aceh. Muhibah terakhir atau ketujuh (1431-1433) dengan tujuan utama Kalikut, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Palembang, Malaka, Samudra, dan Srilanka. Namun, pada saat perhentian di Kalikut, disebut-sebut ada sebuah kapal yang terus berlayar hingga ke Afrika, dan bahkan ke Makkah.
Kalau dibandingkan dengan catatan yang terdapat pada inskripsi batu yang berdiri di Fujian, tercatat empat kali bumi nusantara dikunjungi. Yakni, Sanfoqi (Palembang Sumatra) pada permuhibahan perdana (1405-1407), Zhaowa (Jawa) pada pelayaran kedua (1409-1411), Sumendala (Samudra, Aceh) pada yang keempat (1413-1415), dan Zhaowa pada permuhibahan kelima (1417-1419).
g Saroni Asikin, dari berbagai sumber
* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005
Bermula dari Nanjing
JULI 1405. Pelayaran muhibah pertama Cheng Ho segera dimulai. Kapal-kapal dari Galangan Longjiang Nanjing dihela ke pelabuhan terdekat di Liujia Taicang, kota pantai 40 kilometer dari Shanghai. Seluruh kru berkumpul di Kuil Jinghai, Taicang untuk berdoa pada Tianfei, dewi kaum Tao pelindung laut.
Setelah berdoa, armada mulai bergerak menyusuri Teluk Liu menuju Sungai Yangtse sebelum sampai di laut lepas. Banyak silang pendapat mengenai jumlah kapal yang ikut dalam pelayaran perdana. Ada yang menyebut 62 kapal. Namun, ada pula yang menyebut lebih dari 100 kapal, bahkan ada yang berani menyebut 317 buah. Di luar perbedaan jumlah tersebut, yang pasti pelayaran muhibah itu mirip sebuah konvoi laut gigantis yang meriah dengan bentuk arsitektural memikat.
Di tengah-tengah armada tersebut, beberapa di antaranya adalah kapal-kapal bendera yang superbesar. Bayangkan, pada zaman itu, orang-orang China tersebut telah mampu membikin kapal sepanjang 400 kaki (122 meter) dan lebar 160 kaki (50 meter). Bandingkan dengan kapal Santa Maria kebanggaan si Eropa Columbus itu yang hanya berpanjang 90 kaki (28 meter) dan lebar 30 kaki (9 meter). Belum lagi kru yang ada di semua kapal itu. Cheng Ho bersama 27.800 orang, sementara kru Columbus hanya 90 orang.
Belum lagi kalau kita mencermati kapal-kapal khusus pada armada Cheng Ho yang rata-rata sepanjang 339 kaki (103 meter), yaitu kapal khusus kuda, air segar, kapal khusus serdadu, kapal penyuplai, dan kapal perang. Bayangkan pula beragam barang yang dibawa dari China seperti sutra, emas, dan porselin untuk diperdagangkan.
Teknologi navigasi yang dipakai untuk ukuran zaman itu pun sangat mencengangkan. Ada kompas temuan China di abad ke-11. Ada pula batangan hio yang menengarai waktu dengan hitungan tiap 10 batang berarti 1 hari. Untuk saling berkomunikasi antara satu kapal dengan kapal lainnya, para kru menggunakan bendera, lentera, genta, merpati pos, gong, dan helaian kain.
Dalam kunjungan saya ke Museum Cheng Ho di Chaotian Palace Nanjing, sisa-sisa pelayaran Cheng Ho yang ditemukan lewat penggalian terhadap Dock No 6 di wilayah antara San Chahe dan Zhong Baocun di Nanjing memberikan tambahan pengetahuan mengenai betapa tingginya teknik navigasi laut pada zaman tersebut. Umumnya, peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal adalah mangkuk, piring, dan guci yang desainnya jauh berbeda dengan umumnya desain pot atau porselin pada masa awal Dinasti Ming. Pada bagian bawah peralatan yang tertemukan dalam kondisi utuh, terdapat huruf dari tinta China yang berbunyi ''Zhou'', ''Li'', dan 'Xu''. Begitu pula, sepasang sepatu dari pohon palma yang ditemukan secara mencengangkan masih utuh kondisinya. Panjangnya 27,3 sentimeter yang umumnya dipakai para awak kapal.
Dari Vietnam armada kembali bergerak menuju Laut Jawa dan mendarat di Pulau Jawa (Zhaowa). Tujuannya sudah pasti untuk menyinggahi Kerajaan Majapahit yang kala itu memang sudah kondang. Masih berdasarkan Time, ada empat titik kota yang disinggahi, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang. Lagi-lagi ada ketakjuban orang asing berhadapan dengan wilayah baru.
Di Mojokerto, orang-orang Cheng Ho yang masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit takjub menyaksikan raja yang tak beralas kaki menunggangi gajah dan tinggal di istana yang dikelilingi tembok setinggi 10 meter. Di Surabaya, salah seorang penerjemah Cheng Ho dibuat terkesima ketika menyaksikan seorang perempuan yang mandul meminta berkah dari seekor lutung tua dengan persembahan anggur, beras, dan kue-kue di satu pulau dekat kota tersebut (Madura?). Menyusur ke barat, armada sampai ke Tuban. Di kota tersebut, para awak kapal seolah-olah menjumpai orang-orang dari bangsanya. Apa pasal? Sebab, awak kapal mendapat kisah bahwa ada sebuah pancuran keramat yang muncul tiba-tiba bersamaan dengan hilangnya seorang tentara China (kaum tartar dari Mongolia dipimpin Kubilai Khan) pada akhir abad ke-13. Itu tahun ketika Kerajaan Majapahit telah mulai bertahta.
Khusus untuk persinggahan di Semarang, Time dan beberapa sumber lain menuliskan sebuah ironisme. Sebab, keterkejutan dan kekaguman terhadap orang asing yang dimiliki kru Cheng Ho seolah-olah harus dibayar dengan sebuah ketakutan. Konon, awak kapal Cheng Ho menjumpai orang-orang yang mengacungkan keris kepada orang asing yang ditemui. Tak ayal mereka beranggapan, orang Jawa adalah orang terkejam di dunia.
Menyusuri Laut Jawa, aramada bergerak ke barat dan singgah di Sanfoqi (Palembang). Bekas pusat wilayah Kerajaan Sriwijaya itu memang telah dikenal orang-orang China sebgai pusat perdagangan laut. Sembari singgah, konon Cheng Ho juga berusaha mencari lanun China yang menjadi buronan kaisar Yong Le. Di daerah tersbeut, kru Cheng Ho menjumpai kaum imigran China yang telah hidup makmur, serta kebiasaan mereka yang suka berjudi dan adu jago.
Armada lalu menyusuri perairan timur Sumatra dan singgah di dua bandar, yakni Deli (Sumut) dan Sumendala (Samudra, Aceh). Di Deli, kru Cheng Ho terpesona menjumpai seekor binatang yang disebut ''harimau terbang''. Binatang itu sebesar kucing dengan badan tertutupi bulu-bulu berwarna abu-abu. Di Samudra, keterpesonaan semakin menjadi-jadi melihat adanya badak dan banyaknya kayu laka. Kayu tersebut secara rutin sering dikirim ke China sebagai hadiah.
Dari Sumatra, armada melaju ke bandar Ayutthaya di Xianlo (Thailand). Di tempat tersbeut, kru Cheng Ho mempelajari satu hal: perempuan lebih berdaya dibandingkan lelaki. Sebab, mereka mengurusi hampir semua urusan, dari perdagangan hingga soal-soal pemberian sanksi. Dari situ, barulah armada menyeberangi Samudra Hindia menuju Xilanshan (Srilangka) dan singgah di pelabuhan Kataragama. Di wilayah ini, ketangguhan seorang Cheng Ho di bidang kemiliteran diuji. Dia harus menaklukkan raja Sinhasale. Dan dari wilayah itu pula muncul sebuah kisah kegendaris, bahwa ketika Cheng Ho berhasil menaklukkan Srilangka, dia mencuri relika suci berupa sepotong gigi Buddha. Konon gigi tersebut dipercaya sebagai jimat pelindung untuk kepulangan aramada ke China.
Akhir Tahun 1406, Armada akhirnya sampai ke kota tujuan utama: Kalikut. Mereka sempat pula singgah di dua tempat lainnya, yaitu Koshin dan Quilon. Di situ, awak kapal Cheng Ho membongkar muatan dan melakukan perdagangan dengan masyarakat setempat.
''Kalikut memang wilayah yang sungguh hebat di perairan samudra barat,'' begitu komentar awak kapal Cheng. Komentar itu sekaligus menegaskan, pelayaran mereka untuk melihat dengan mata kepala sendiri daerah Kalikut yang telah banyak disebut itu sungguh tak sia-sia.
Musim semi 1407, dengan menggantungkan pada angin muson, armada berlayar untuk kembali ke tempat asal. Rute yang ditempuh adalah rute yang dilalui sebelumnya yaitu menyeberangi Samudra Hindia, ke Selat Malaka dan menyusuri tepian timur Sumatra. Di Selat Manlajia (Malaka), awak kapal yang singgah mencermati perikehidupan orang Malaka yang begitu sibuk dalam bidang perdagangan. Pada setiap sudutnya, seperti kesaksian para awak kapal, pembangunan sebuah negara kota sedang sangat giat-giatnya dilakukan. Kalau melihat kesaksian itu, kita mungkin mengasumsikan bahwa wilayah yang disiggahi tersebut adalah Singapura. Kita tahu sebelum memerdekakan diri, Singapura adalah bagian dari Malaysia.
Angin memang sedang baik-baiknya. Tapi armada Cheng Ho harus membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa kembali ke negerinya. Pasalnya, di perairan Sumatra, armadanya terlibat bentrok dengan kawanan perompak atau lanun. Lagi-lagi kegagahan Cheng Ho diuji di sini. Perompak berhasil dikalahkan dan dia membawa serta kepala perompak. Ia orang yang dicarinya untuk dibawa ke kaisar Yong Le. Sangat mungkin kepala perompak yang ditawan itu bernama Chen Zhu Yi seperti yang ditulis Remy Sylado dalam Sam Po Kong. Armada ekspedisi pertama itu telah kembali ke Nanjing dengan membawa banyak cerita, benda, dan kehendak menggelora untuk kembali mengarungi lautan.
* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005
Menulis (Lagi) Jejak Kebesaran Sang Navigator
Dan karena epitaf tersebut, orang Kunyang jadi ingat kembali nama Ma He alias San Bao alias Cheng Ho. Apalagi di tengah-tengah bangunan terdapat sebuah prasasti yang berisi biografi Cheng Ho tertulis. Orang besar itu memang lahir di Kunyang tahun 1371 dari etnis Hui yang beragama Islam dengan nama aslinya Ma He
Kenapa ingat kembali? Apakah selama ini navigator agung yang melakukan ekspedisi bahari tak tertandingi pada zamannya itu dilupakan? Apakah jasa lelaki kasim menggaungkan kebesaran Kekaisaran China ke banyak negeri tak berarti apa-apa bagi orang negerinya?
Beberapa literatur yang saya baca memang menyebutkan proses penghancuran besar-besaran terhadap semua yang telah dilakukan Cheng Ho oleh penguasa China setelah berakhirnya ekspedisi di tahun 1433, khususnya atas pengaruh kaum intelektual neo-konfusian. Dari situ lalu muncul asumsi bahwa wajar saja kebesaran ekspedisi Cheng Ho yang disebut-sebut bahkan jauh lebih dahsyat daripada yang dilakukan Columbus atau Amerigo Vespucci atau Bartolomeu Diaz tersebut jadi tak terbaca sejarah. Lebih-lebih lagi, konon semua kapal yang dipakai ekspedisi berikut galangan kapalnya di Longjiang ikut dihancurkan.
Nama Cheng Ho memang tak benar-benar tak disebut di China. Dalam perjalanan ke Kota Nanjing dan Kunming akhir Juni lalu, beberapa orang yang saya jumpai mengaku mengenal namanya. Hanya saja, sosoknya dikenal semata nama seorang yang besar. Atau lebih ekstremnya, dia hanya seorang pelaut besar.
''Saat SD, guru saya bercerita tentang dia. Dia seorang pelaut besar yang memulai pelayaran dari Nanjing. Hanya itu yang saya ingat,'' tutur Ge Zhu Qing (18) seorang pelajar sebuah akademi di Nanjing yang bekerja paruh waktu pada Zhang Guoyuan di Nanjing.
Orang yang lebih tua pun mengenalnya. Hanya saja, karena China memiliki banyak tokoh besar, Cheng Ho hanya seperti nama yang terselip di antara banyak nama lain. ''Wo zhi dao. Dan shi zhe li you hen duo ying xiong,'' ujar Chuan Tong Fu (57), lelaki tua yang melewatkan hari-harinya bermain catur China dengan koleganya di Zheng He Guoyuan di tengah-tengah Kota Nanjing. Dia mengaku mengenal nama sang navigator, tapi di China dia mengenal banyak tokoh besar.
Apalagi memang kalau dirujukan pada ideologi konfusianisme yang dianut sebagian besar orang China, komentar Chuan Tong Fu seolah-olah memiliki pembenaran tertentu. Ideologi tersebut mengajarkan bahwa setiap orang telah memiliki peranan yang dimainkan sesuai status sosialnya. Intinya, segala sesuatu memiliki tempatnya tersendiri. Jadi, tak ada yang bisa dianggap ''mengagumkan'' sepanjang prestasi seseorang dilakukan sesuai perannya.Pada faktanya, sekarang ini, ingatan tentang kebesaran Cheng Ho mulai dihidupkan kembali. Penamaan kembali sebuah taman kota di Nanjing dengan Zheng He Guoyuan bolehlah dijadikan bukti awal. Meskipun pada taman itu sama sekali tak terdapat jejak-jejak kebesarannya, ia tetap membuktikan bahwa pemerintah kota Nanjing secara serius menjadikan nama Cheng Ho sebagai bagian dari jejak sejarah wilayahnya. Ya, taman itu tak ubahnya sebuah taman di tengah kota. Di antara rerimbunan pinus, terdapat bangku-bangku batu untuk rehat, bermain catur, berteduh dari terik siang musim panas di Nanjing, atau hanya arena anak-anak bermain-main.
Tera paling signifikan di Nanjing bisa ditemukan di Museum Seni yang berada di kompleks Chaotian Palace. Di dalamnya terdapat banyak benda peninggalan pelayaran Cheng Ho yang sempat ditemukan. Sebut misalnya, kayu pembuat kapal, jangkar, pilar-pilar kapal, pasak dan kait, tali dari pohon palma, beberapa gerabah dan alat-alat pertukangan pembuatan kapal, dan banyak lagi. Pada catatan yang terdapat di situ tertulis bahwa benda-benda penting itu berasal dari dok nomor 6 yang sempat digali dari Zhong Baocun di Nanjing. Selain itu, tulisan mengenai kebesaran Cheng Ho terutama teknik pembuatan kapal dan peranti navigasinya semakin menjelaskan kehendak mengingat kembali namanya.
Tapi mengapa jejak-jejak Cheng Ho berada dalam Museum Seni di areal Chaotian Palace yang sebenarnya merupakan istana suci keagamaan untuk mengingat Nabi Konfusius? Saya bertanya pada Gao Qin yang memandu saya, ''Apakah dengan demikian orang Nanjing menganggap Cheng Ho orang suci?'' Sambil tertawa, gadis itu menjawab, ''Bisa jadi. Bagaimana dia tokoh sejarah besar, khususnya bagi Kota Nanjing.''
Jejak Cheng Ho di Nanjing bisa ditemukan pada Kompleks makam Cheng Ho yang berada jauh di luar kota, tepatnya di Bukit Kepala Sapi Niushou. Tempat itu juga mulai direstorasi secara serius. Selasa (21 Juni 2005 ketika saya datang, beberapa orang sedang sibuk menyelesaikan sebuah bangunan di dekat gerbang makam yag dimaksudkan sebagai semacam Memorial Hall untuk Cheng Ho. Mereka mulai memasang papan-papan nama. Makamnya sendiri telah terenovasi dengan baik. Jalan masuknya bersih dan tertata rapi.
Di Kunyang, daerah asal sang Navigator, keseriusan mengingat namanya terlihat pada proses renovasi tanpa henti pada Zheng He Guoyuan. Bahkan, pada bangunan utama, beberapa tapak setelah patung besar Cheng Ho, orang-orang lagi serius mempersiapkan pesta untuk mengenang pelayaran pertamanya. Lampion-lampion besar sedang dibuat dan relief-relief yang menceritakan pelayaran Cheng Ho mulai dipasang di dinding, tepat di sisi patungbesar Sang Navigator.
Bila Anda masuk lebih jauh ke dalam Zheng He Guoyuan tersebut, jejak-jejak Cheng Ho bisa ditemukan. Sekadar informasi, taman itu tadinya adalah Taman Yueshan dan demi mengingatkan lagi orang pada Cheng Ho namanya diubah menjadi Taman Cheng Ho. Ya, di dalam areal taman tersebut selain epitaf untuk sang ayah, sebuah museum dan rumah asli keluarga Ma bisa dikunjungi. Di museum, Anda akan melihat berbagai benda yang merujuk pada pelayaran Cheng Ho. Sebuah maket besar yang memperlihatkan rute pelayaran juga bisa dilihat. Tak ketinggalan, rempah-rempah yang didapat selama ekspedisi seperti cengkeh, lada hitam, pala, dan banyak lagi terpajang pada sebuah etalase. Dalam rumah asli keluarga Ma, beberapa lukisan yang terpajang memperlihatkan daerah-daerah yang sempat disinggahi Cheng Ho. Kalau diamati lebih saksama, lukisan-lukisan tersebut juga menceritakan bagaimana permuhibahan yang dilakukan Cheng Ho selala disambut baik oleh penduduk lokal.
Taman itu sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Rindangnya pepohonan, udara segar dari Bukit Yueshan, tak akan membuat pengunjung kecapaian oleh rutenya yang naik-turun. Tak hanya di akhir pekan, Kamis (23 Juni 2005) ketika saya berkunjung, banyak sekali remaja yang menikmati kedamaian taman tersebut. Hanya dengan 2,5 RMB Yuan, pengunjung bisa bersantai sembari mengunjungi setiap tempat yang ada.
Lebih dari itu, taman tersebut menjadi kebanggaan orang Kunyang, khususnya etnis Hui yang merupakan suku keluarga Cheng Ho. Beberapa orang Hui dalam pakaian khas mereka yang serba biru. ''Ia orang Hui. Kami juga suku Hui,'' ujar Yang Zhi (47) bangga yang disambut tawa rekan-rekannya.
Dan kebanggaan itu mulai hendak diiingatkan lagi. Meskipun perayaan 600 pelayaran pertama Cheng Ho tak seheboh di Semarang atau Singapura, kebesaran nama sang navigator di kota Nanjing dan Kunming, dua kota yang menjadi titik berangkatnya mulai digemilangkan kembali.
g Saroni Asikin
* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005
Cheng Ho, Di Mana Sih Kuburmu?
T
AK mudah menemukan kuburan Cheng Ho di Nanjing, China. Tak mudah pula menemukan orang yang mengetahui bahwa Cheng Ho dikuburkan di suatu tempat di kota tersebut. Di kota itu, saya lebih banyak menjumpai orang yang menggelengkan kepala ketika saya bertanya tentang Zheng He Mu (Makam Cheng Ho). Padahal, dalam banyak catatan tertulis bahwa setelah ekspedisi ketujuhnya di tahun 1433, Cheng Ho meninggal tahun 1435 dan dimakamkan di Bukit Kepala Sapi di Niushou, luar kota Nanjing. Meskipun sebenarnya, beberapa sejarawan menyebut lelaki itu mati di tengah-tengah laut pada tahun terakhir ekspedisinya.