16 Juli 2007

Gadis Penjaga Bunga

Ada seorang gadis berambut panjang. Agak tipis dan bergelombang. Pada bibir senyum selalu mengembang. Maka dia pun tersenyum ketika Dewa Api memberinya tugas suci. Apa? Menjaga sekuntum bunga di tangannya. Tak boleh lepas bunga itu dari genggaman sebelum sang dewa datang. Sekali pun tak boleh lepas dari tangan. Tak, tidak sedetik pun.Dan dia begitu setia menjaganya. Dewa itu tak datang-datang juga. Lalu tubuh si gadis menua. Dan bunga melayu.Apakah itu sebuah kesetiaan? Pernah kudengar katanya suatu hari, ''Aku bukan orang setia dan tak pintar menjaga. Tapi aku telanjur mencintai bunga itu. Maka yang kujaga bukan lagi amanat dewa. Aku tak lagi peduli pada soal seperti itu. Aku tak peduli dewa-dewa. Tapi cintakulah yang kujaga. Cintaku pada bunga itulah kepedulianku.

* Pindahan dari bungadara.blogspot.com

15 Juli 2007

Mulut Angin

Cerpen Saroni Asikin

KAMU tak perlu memperlihatkan perasaan berdosamu pada ayahmu ini, Kain. Sudah sejak kamu dalam perut ibumu, aku tahu sudah: pertikaian tak henti-henti antarkeluarga kita bakal terjadi. Aku memang bukan peramal. Tapi aku tahu suatu hari kamu pasti akan mengepruk kepala Habel dengan batu lalu kamu tanam mayatnya di tanah pasir. Sebab, bila kamu tak membunuh adikmu itu, dia yang akan mengepruk kepalamu.
Maka, aku ayahmu hanya bisa berpesan: kamu tak perlu mencemaskan hidupmu bila suatu hari anak-turun Habel dan Iqlima akan memburumu, meminta kepalamu untuk mereka kepruk. Seperti halnya, aku pun tak perlu memikirkannya terlalu serius bila suatu hari anak-turun kamu bakal memburu anak-turunnya.
Tak sedihkah aku sebagai penurun manusia yang saling berbunuhan? Jangan tanya! Kesedihan itu sudah kuduga maka tak perlu lagi dipikirkan. Aku telah siap menyaksikan petaka itu selama hidupku. Mungkin selama 930 tahun(1) atau bahkan satu milenium. Sesiap ketika aku harus menerimamu keluar dari garba ibumu padahal aku tahu kamu itu...
Ah, tapi tidak, hai Lelaki Petani! Itu tak akan terjadi. Sekali lagi, ayahmu ini bukan peramal. Kau harus pergi dari tanah ini. Sekali lagi ini bukan hukum atasmu yang telah mengepruk kepala Habel. Ayahmu hanya berupaya mencegah pertikaian keluarga kita jadi semakin rumit. Pergilah, anakku! Ke tanah Nod. Di sana kau bisa bercocok tanam. Darah petanimu memungkinkan itu. Biarlah di sini tinggal keturunan Habel si penggembala ternak.
Ah ya, sebelum pergi kamu pasti penasaran mengapa ayahmu yang bukan peramal ini seperti tahu yang bakal terjadi. Aku akan menceritakannya kepada kamu, sekaligus sebagai buah tangan perpisahan kita. Sebelum pergi, kamu patut mengetahui cerita busuk keluarga kita. Cerita yang kusimpan dan memborok dalam hati. Cerita ini sekaligus akan mengurai alasan mengapa ada darah pembunuh dalam darahmu, mengapa kamu selalu diliputi kedengkian kepada saudaramu, dan mengapa kedengkianmu itu mengajak tanganmu mengambil batu dan mengeprukkannya pada kepala Habel. Ingat satu hal dulu: kamu membunuh dia tak semata karena Iqlima yang molek itu. Tak semata perempuan! Tak semata karena kamu iri pada adikmu yang mendapatkan Iqlima(2). Gadis cantik itu memang bukan milikmu. Kamu membunuh karena kamu memiliki kromosom darah iblis. Dan jangan kaget bila kukatakan itu semua berasal dari darah kotor ibumu yang kamu puja kecantikannya itu.
Sial sekali, Kain, aku harus menceritakan ini, membuka topeng laknat ibumu. Dan ini memang cerita tentang ibumu. Aku menceritakannya semata-mata hanya ingin kamu tak begitu gelisah dalam perjalanan kepergianmu dari tanah terkutuk ini. Agar kamu tahu asal darahmu.
***
TAMAN berkabut saat seekor ular merayap ke sebuah pohon apel yang tengah berbuah. Semerah puting, segar dan resam. Menggugah liur. Ular itu memelintir sebuah. Kelesik apel jatuh, berdebam di rumput. Si ular memburunya, membelit dengan tubuh lunaknya, membanting ke rumput, membanting ke batang pohon. Pecah berserpih-serpih. Rakus satwa bersisik itu menyesap-nyesap daging putih buah.
Hai Kain, ayahmu melihat semua itu dari jauh, dari balik sebatang persik, dengan hati pedih. Tak ada makhluk yang berhak atas buah dari pohon itu. Ada kesepakatan antara aku, ibumu dan pemilik taman untuk tak menyentuh pohon itu. Mendekat pun tak bisa. Tapi ular laknat itu telah semena-mena menikmatinya.
Dari balik pohon, ular itu mendesis panjang seolah-olah bersendawa kekenyangan. Ia lalu menari-nari, meliuk-likukkan tubuhnya dengan indah. Betapa girang betapa membuat jengkel ayahmu yang tak bisa mendekat ke situ. Ia terus menari. Dan ajaib, Hai Kain, ia tak lagi seekor ular. Ayahmu melihat seorang lelaki tampan bersandar pada batang apel itu. Sebelum ketakjuban ini hilang, lamat-lamat aku mendengar ia menyanyi. Lagu yang asing tapi sungguh merdu. Kuakui, merdu nian!
Tapi nyanyian itulah pangkal segala petaka keluarga kita. Ibumu yang ketika itu tengah tidur di kamarnya terbangun dan bersigegas menuju sumber nyanyian. Ayahmu bisa melihat nyala ketakjuban pada muka ibumu. Mula-mula dia berhenti di kejauhan, seperti ragu-ragu, menimang-nimang kesepakatan dengan kehendaknya untuk mendekat. Tapi ia memilih melanggar kesepakatan kami. Dan kun fayakun(3), maka jadilah segalanya, terjadilah apa yang selama ini tak terbayangkan oleh ayahmu.
''Indah benar suaramu. Lagu dari mana?''
Bedebah! Itu pertanyaan ibumu, bahkan tak menyadari bahwa di taman ini seharusnya tak ada orang asing selain kami berdua. Sudah ratusan tahun kami hidup tanpa bertemu satupun makhluk lain. Tapi ibumu dengan mantap mendekati lelaki itu dan bertanya dalam nada penuh kemanjaan yang memuakkan.
''Ini lagu dari surga. Mau kunyanyikan terus sembari menikmati apel segar dari pohon ini?''
Lelaki ular itu mulai merayunya. Ayahmu ingin mendekat, melabrak, kalau bisa mengepruk kepala lelaki ular itu dan menampar pipi ibumu. Tapi tidak! Ayahmu terlalu takut untuk mati. Si pemilik taman mengancam akan membunuh kami bila melanggar kesepakatan. Dan tak seperti ibumu yang terpedaya oleh lagu lelaki ular itu hingga melupakan ancaman kematian, ayahmu hanya memegangi batang persik dalam dada berkobar.
Dan, telanjur sudah, Kain, ibumu memakan apel itu. Si ular menyanyi terus. Kidung surga katanya. Tapi memang indah, kuakui. Lalu di depan mata ayahmu, ibumu terperangkap dalam pelukannya sebelum semua pakaiannya terlukar dan juga pakaian lelaki ular itu.
Mereka bersetubuh, Hai Kain, mereka bersetubuh, di depan mata ayahmu yang hanya gemetaran dalam dada berkobar dan tangan erat mengenggam batang persik. Ibumu terlihat begitu binal. Tapi pasti ia tidak tahu bahwa di tengah-tengah persetubuhan liar itu, ayahmu melihat seekor ular membeliti tubuh telanjang ibumu yang tergial-gial di atas rumput basah.
Ayahmu lalu pergi dengan kecamuk perang dalam dada. Dan sejak itu, ayahmu tak pernah lagi bisa tersenyum. Adapun ibumu sejak itu berubah menjadi perempuan yang sangat riang, penuh kemanjaan, dan binal di tempat tidur. Dia pikir ayahmu tak tahu kelicikan dan keculasan hatinya.
Dan tahukah kamu, Kain, setiap kali mendengar nyanyian dari pohon apel itu, ayahmu mengasah pedang. Tapi tak sekalipun mata pedang itu terlumuri darah. Seperti pernah kamu tanyakan suatu hari, ''Untuk apa ayah mengasah pedang itu selalu tanpa pernah ayah pakai?''
Barangkali ayahmu memang seorang pecundang. Dan ibumu perempuan dahsyat yang menyimpan kelicikan dan keculasannya dalam sunggingan senyum. Dan dari orang-orang seperti kami itulah keluarga kita dibangun. Bangunan rapuh.
Maka sudahlah, Kain, tak perlu marah. Ini harus kukatakan. Sebenarnya ayahmu sendiri tak begitu yakin. Kamu itu memiliki darah ular itu. Sekali lagi, ayahmu tak yakin benar memang bahwa kamu anak ular itu, juga Habel, juga Iqlima dan Tursina. Sebab, setelah percintaan kali pertama ibumu dengan lelaki ular itu, ayahmu tak pernah benar-benar bersenggama dengan ibumu.
Kamu mungkin ingin membantah: tidak mungkin manusia lahir dari sperma ular. Ya, memang tidak mungkin, makanya ayahmu pun tak begitu yakin. Tapi mungkin saja yang bersetubuh dengan ibumu bukanlah ular benar-benar, tapi seorang manusia seperti kita, seorang tukang sihir barangkali, yang selalu menyaru menjadi ular.
Puas? Kalau kamu masih menyimpan keragu-raguan, kamu boleh tidak memercayainya. Anggaplah cerita ayahmu ini hanyalah pengantar kepergiaanmu ke Tanah Nod. Kamu memang harus pergi, hanya untuk menghindari pertikaian tanpa henti antara anak-turunmu dengan anak-turun Habel. Anggap saja sebagai pelunasan atas ketelanjuran kamu mengepruk kepala Habel. Camkan, bukan sebuah hukuman, Kain sayang, hanya menghindari perseteruan tak henti-henti yang niscaya pada keluarga kita. Biarlah ayahmu menua di sini dalam hidup tanpa senyuman lagi...
''Apakah ular itu masih selalu datang?'' Kamu bertanya itu. Ayahmu tak perlu menjawab. Sebab kamu telah tahu jawabannya. Apalagi telah berkali-kali kamu menjumpai ayahmu mengasah pedang dan kamu meluncurkan pertanyaan yang sama.
***
JANGAN percaya bualan ayahmu, Hai Kain pembunuh Habel! Ratusan tahun ibumu telah hidup bersama ayahmu. Segala rahasia hatinya ada dalam hati ibumu ini. Kamu tak perlu pergi ke Tanah Nod. Kamu memang telah membunuh Habel dengan batu. Tapi kamu tak perlu membayarnya dengan pergi jauh. Ibumu ini sudah kehilangan Habel dan kamu akan pergi juga.
Ibumu akan merana. Bisa kamu bayangkan betapa pedihnya seorang perempuan hidup menua bersama lelaki tanpa senyuman seperti ayahmu itu. Lelaki pengecut seperti dia. Lelaki yang menutupi kelemahan dan kebusukan hatinya dengan mengasah pedang. Dia ingin kamu tahu dan memujanya sebagai pemberani. Padahal, pada seekor kecoak pun dia tak pernah bisa meremasnya.
Dia bilang ibumu ini sumber segala sumber darah iblis dalam darahmu, sumber segala seteru dalam keluarga kita. Nonsens, Hai Kain Petani yang gagal mempersembahkan panenan! Dari dialah mengalir napsu bengis dalam cara-cara pecundang. Adakah kamu mengepruk kepala Habel dari depan mukanya. Tidak, sama sekali tidak, Anakku malang! Kamu mengepruknya dari belakang selagi dia lengah. Itu cara pengecut! Dan itu darah ayahmu yang suka mengasah pedang ketika mendengar desisan ular. Tapi, meski kamu warisi darah kepengecutannya, ibumu tak mau kamu pergi ke Nod setelah kematian Habel. Ibumu akan mati menua karena kepedihan hidup dengan lelaki seperti ayahmu.
Dan ini cerita sebenarnya tentang ular yang kata ayahmu menjelma lelaki tampan yang menggoda berahi ibumu. Taik! Tak ada lelaki tampan! Tak ada cerita ibumu melanggar kesepakatan memakan buah apel di taman itu. Tak ada nyanyian surgawi yang menyeret ibumu dalam pelukan lelaki tampan jelmaan ular. Itu mitos yang sengaja dibuat ayahmu yang pecundang itu. Biar kamu percaya bahwa semua khayalannya itu benar. Biar kamu tak tahu rahasia culas apakah yang dia simpan.
Suatu hari ibumu memang melihat seekor ular melingkar di satu cabang pohon apel itu. Warnanya hijau, sehijau dedaunannya. Andai saja ibumu tak melihat riap cahaya dari dua matanya, ibumu tak akan pernah tahu bahwa yang melingkar itu seekor ular. Apalagi ibumu tak pernah berani mendekati pohon yang telah dilarang pemilik taman untuk didekati.
Dalam jarak saling berjauhan, ibumu dan ular itu bersipandang. Ibumu hanya merasa betapa indah dan lucu ular itu. Hijau dan matanya memendarkan nyala yang riang. Hanya sebatas itu, tak lebih. Tapi itu tak lama. Dalam sekejap bias cahaya di mata ular itu berubah merah menyala. Nyala kebengisan dan keculasan. Dan tahukah kamu, Kain, nyala itu nyala mata ayahmu setiap kali dia bersenggama dengan ibu dalam cara-cara yang kasar. Seolah-olah tubuh ibumu ini hanyalah daging mentah pemuas kelaparan berahinya. Derita yang ibumu pendam sekian ratus tahun hingga lahir Tursina, istrimu yang buruk muka itu. Sejak Tursina lahir, ibumu tak mau lagi melayani daging berahi ayahmu. Lalu lelaki pecundang itu selalu mengasah pedang dan menakut-nakuti ibumu. Ketika kamu bertanya kali pertama, maka mulailah dia menyusun cerita yang telah didedahkan buat kamu.
Betapa memalukan! Bukankah itu pula yang kamu lakukan usai mengepruk Habelku yang tampan? Kamu bercerita bahwa Habel dimakan singa saat mempertahankan ternaknya. Taiklah kalian berdua. Walau begitu, Kain, janganlah pergi! Nod hanya akan membuatmu terus diburu Habel yang malang. Tetap tinggallah di sini. Kamu bisa menebus dosa pembunuhanmu dengan menemani ketuaan ibumu.
***
PADA akhirnya lelaki pembunuh Habel itu memang tak pergi ke Nod(4). Suatu malam, dengan marah dia mengasah pedang ayahnya. Tajam-tajam. Lalu dia lari ke tengah taman dan pohon apel itu diamuknya dalam berahi kemarahan. Buah-buah apel yang ranum berguguran ke tanah berumput basah. Ular yang ketika itu masih melingkari salah satu batangnya tercacah dalam sekian potongan.
Kain betapa kalapnya! Tak sebatang kecil ranting pun dia sisakan. Dia cacah-cacah. Juga apel-apel yang berserakan itu. Dalam kepalanya dia merasa tengah mencacah-cacah kepala dan tubuh ayahnya, ibunya, Iqlima dan Tursina dan anak-anak yang keluar dari garba perempuan buruk muka yang terpaksa dikawininya itu. Ketika itu pula, dia merangkai-rangkai cerita untuk dibeberkan kepada semua orang dalam keluarganya: bahwa dengan mata kepalanya sendiri roh Habel yang marah mencuri pedang ayahnya dan menjadikan pohon apel itu sebagai pelampiasan.
Dia akan bilang kepada semua orang: ''Awas! Hati-hati! Bisa-bisa Habel membunuh kita semua dengan cara sesadis dia mencincang pohon apel. Tapi tentu saja dia tak akan berani mendekatiku dengan pedang itu. Paling sial dia hanya akan menelikung aku dari belakang dan mengepruk kepalaku dengan batu yang telah kukeprukkan pada kepalanya.''(*)
Semarang, 5 Agustus 2003

Catatan:
(1) Lihat Kitab Kejadian 5:5.
(2) Seorang kiai pernah bercerita bahwa sesama anak Adam dan Hawa dikawinkan dengan cara bersilangan. Artinya, anak lelaki tak bisa mengawini adik perempuan langsungnya, tapi harus diseling adik lainnya. Kiai itu bercerita bahwa Iqlima itu adik langsung Qabil (dalam cerpen ini saya lebih suka memakai nama Kain seperti yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama) yang dikawini Habil (atau Habel).
(3) Kalimat yang berasal dari Alqur’an Surat Yasin.
(4) Sebagai perbandingan, lihat Kitab Kejadian 4:16.
* Pernah dimuat di Suara Merdeka

13 Juli 2007

Popularitas Toko 100 Yen



SUDAH jadi rahasia umum, biaya hidup di Jepang begitu tinggi. Harga-harga barang pun, ampun deh mahal banget. Jepang, khususnya Tokyo, seolah-olah bukan tempat turis udik yang kantongnya tipis. Padahal, pada hampir setiap sudut di kota-kota Jepang terdapat suatu kawasan yang disebut syotengai atau semacam kompleks pertokoan yang biasanya menempati sebuah jalan superlurus (suji).
Dan seperti sudah disebut, harga barang di situ sepertinya hanya disukai orang berkantong tebal. Gambaran serupa itu juga terjumpai di Osaka yang merupakan kota kedua setelah Tokyo. Tapi tak usah terlalu merisaukan perihal mahalnya barang. Bila berkesempatan datang ke kota tersebut, Anda (yang tentu saja dompetnya tak tebal benar) tetap punya kesempatan berbelanja. Tentu pula Anda harus rela bila tak mendapat barang idaman. Sekadar buat oleh-oleh teman, kalau beruntung Anda akan beroleh suvenir yang layak diberikan.Pada sudut-sudut jalan tertentu, juga di syotengai, ada sebuah toko yang memasang label untuk semua barangnya seharga 100 Yen (setara Rp 8.000). Barang yang dijajakan begitu beragam, mulai dari makanan ringan, nasi dan lauk kalengan, minuman, alat-alat tulis, alat dapur, hingga suvenir ''pantas oleh-oleh''. Barangkali kalau di sini, itu mirip istilah ''serbu'' atau serba-lima ribu yang ada pada gerai supermarket. Bedanya barangkali hanya soal variasi barangnya.
Memberi label 100 Yen juga merupakan strategi marketing yang cerdas. Apa pasal? Memang sebagian besar barang dengan beragam jenis memiliki harga sama. Tapi, selalu saja ada beberapa barang yang diberi label harga lebih tinggi. Jadi, di toko atau gerai seperti itu, ambil barang sesuka Anda, lalu hitung jumlah yang harus Anda bayar dengan mengalikan 100 plus 5 untuk pajak setiap barang (beberapa toko serupa tak membebani pajak sebesar 5 persen). Nah, kalau barang yang Anda ambil berlabel harga, maka pasti harganya seperti yang tertera plus pajak 5 persen.Ada informasi yang menyebut bahwa sebagian besar orang Jepang memiliki gengsi yang tinggi, khususnya dalam hal lifestyle. Maukah mereka datang ke toko itu? Sudah pasti. Beberapa kali datang bersama rombongan untuk mencari barang kebutuhan sehari-hari di toko-toko 100 Yen, saya hampir selalu melihat orang-orang Jepang yang membeli sesuatu di situ. Paling sering adalah makanan ringan dan minuman.
Wulan, seorang staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Osaka, yang beberapa kali mengantar kami ke toko seperti itu, menginformasikan pula bahwa toko 100 Yen sangat populer. Tak hanya bagi orang Jepang, popularitasnya merambah negeri jiran. ''Orang China dan Korea pun acap datang ke Jepang hanya untuk membeli barang-barang yang ada di 'toko seratusan' itu. Toko ini sudah sangat populer. Orang Jepang pun tak gengsi-gengsi amat. Yang penting kalau ada barang yang sesuai untuk kebutuhan, mereka ke sini,'' ujar perempuan asal Banyuwangi yang telah 10 tahun menetap di Osaka bersama suaminya yang Jepang asli itu.Jadi, kalau mereka tak malu, kenapa kita yang kebetulan tipis uang sakunya harus malu ke situ? Meskipun sebagian barang yang dijajakan diimpor dari China, toh kalau beruntung kita bisa mendapat barang yang khas Jepang. Sebut misalnya, roti Dorayaki (roti yang dipopulerkan lewat film kartun Doraemon), atau boneka kecil berfigur orang Jepang memakai kimono.
g Saroni Asikin

* Dimuat dalam rubrik Jalan-jalan Suara Merdeka, 29 Oktober 2006

Kastil Osaka, Tak Sekadar Kisah Peperangan


SETIAP orang selalu butuh ingatan ke masa lalu. Kalau bukan untuk sekadar bernostalgia, ia butuh rujukan tertentu untuk melakukan sesuatu di masa depan. Dengan konsepsi seperti itu, Taman Kastil Osaka atau Osaka Castle Park masih tegak berdiri, terpelihara bagus, dan jadi tempat kunjungan banyak orang yang pergi ke Osaka.

Selain kastil itu, kota terbesar kedua di Jepang setelah Tokyo itu memiliki beberapa tempat serupa. Ada tempat yang menyuguhkan bagaimana sejarah kota bergulir dari masa ke masa seperti yang bisa dijumpai di Osaka Museum of History. Kalau ingin menilik sejarah seni pemerintahan kota tersebut, orang bisa pergi ke Osaka Municipal Museum of Art, atau yang berskala lebih besar, mereka bisa pergi ke The National Museum of Art.

Tanpa mengurangi nilai penting beberapa tempat wisata historis itu, Kastil Osaka disebut-sebut sebagai yang paling signifikan untuk orang Osaka. Pasalnya dalam ingatan masyarakat di sana, kastil itu menjadi simbol kota yang mengingatkan mereka pada ''Taiko-han'' atau pendiri kastil tersebut yang bernama Hideyoshi Toyotomi. Orang yang disebut itu begitu penting bagi sejarah Osaka, juga Jepang.

Lihat saja apa tujuan dia membangun kastil. Bangunan itu menjadi basis kampanyenya mengenai persatuan nasional sekaligus peneguh kekuasaan dan kekuatannya sebagai seorang pemimpin wilayah. Belum lagi dominasi warna keemasan yang menyelubungi bangunan kastilnya yang megah dan agung. Untuk ukuran abad ke-17, masa ketika kastil itu mulai dibangun, ia tak tertandingi bangunan manapun di Jepang sendiri, Ming (China), dan Korea.

Karena itu, suatu sore di awal Oktober 2006, di sela-sela persiapan Midosuji Parade 2006, saya bersama beberapa orang dari Sanggar Greget Semarang dan Aki Adishakti dari KJRI Osaka memilih kastil itu sebagai tempat kunjungan. Tentu saja tujuannya tak sekadar mengisi waktu luang. Sebab, setidak-tidaknya kami beroleh informasi mengenai kebesaran Osaka di masa lalu. Seperti telah disebut, Kastil Osaka boleh dibilang sebagai pusat sejarah kota tersebut.

Lebih dari itu, kastil itu memang sangat menarik untuk dikunjungi dan juga dipelajari bagaimana dulu sekelompok orang membangun kekuatan dan membentengi diri dari serangan. Apalagi, kastil tersebut termasuk sebuah bangunan gigantik dengan keluasan arealnya mencapai 1 kilometer persegi. Anda bisa melihat miniatur lengkapnya (dalam bentuk maket) pada Lantai 5F. Sayang sekali, tak seorang pengunjung pun diperbolehkan mengambil foto maket tersebut. Tentu saja itu tindakan preventif yang logis.Kastil itu memang menjadi pusat segalanya. Selain berada di tengah-tengah, bangunannya juga yang paling besar dan paling tinggi. Secara sederhana bisa digambarkan begini: parit yang lebar dan dalam mengelilingi areal kastil yang bentuknya agak heksagonal (segidelapan). Untuk aktivitas keluar masuk (dari kastil ke luar atau sebaliknya) dihubungkan dengan jembatan menuju pintu gerbang utama atau disebut Otemon atau gerbang muka (Oteguchi). Gerbang yang dibangun tahun 1620 itu sempat terbakar tahun 1783 dan dibangun lagi tahun 1848. Dari situ, masih ada gerbang lagi sebagai penahan laju musuh bila ada serangan. Gerbang itu disebut Sengan Yagura yang dibangun di tahun yang sama dengan Otemon dan merupakan salah satu bangunan tersisa Kastil Osaka. Setelah masuk lewat Sengan Yagura, tembok keliling besar dan tinggi menjadi bagian pertahanan berikutnya. Pertahanan berlapis memang menjadi ciri kastil pada umumnya. Barulah setelah tembok keliling itu, dalam bentuk heksagonal pula, areal tempat tinggal para prajurit. Masih ada parit lagi yang membatasi areal itu dengan areal kastil. Dihubungkan dengan tiga jembatan pada beberapa titik, arus dari dan ke kastil dilakukan.

Perlu dicatat, parit memang menjadi sistem pertahanan zaman lampau yang efektif menahan laju serangan. Jadi, Anda bisa membayangkan bagaimana sangat berlapisnya sistem pertahanan yang di situ.

***


NAMUN, kalau Anda berkunjung ke Taman Kastil Osaka sekarang, tak semua areal bisa Anda datangi. Selain kastil dan beberapa bangunan tersisa, sebagian besar bangunan yang masih ada, khususnya bekas hunian para prajurit telah beralih fungsi. Ada yang jadi sekolah, tempat pertunjukan, dan gerai toko. Tapi jangan khawatir, masih begitu banyak bangunan lama yang bisa Anda datangi.

Apalagi, meskipun harus rela berjalan jauh menyusuri tiap jalan panjang menuju kastil, pepohonan tinggi dan rindang memberi naungan para pengunjung.Bagaimana untuk bisa sampai ke taman kastil itu? Kami memang memakai mobil milik KJRI Osaka sehingga tak perlu memakai alat transportasi lain. Tapi Anda tak perlu merisaukan soal transportasi menuju ke situ asal mau sedikit berlelah-lelah berjalan. Dari stasiun JR Morinomiya atau dari stasiun Osakajoken keluar lewat pintu 1 dan 3, Anda cukup berjalan 15 menit untuk ke lokasi. Itu untuk pengguna line kereta JR (bukan subway). Kalau ingin memakai subway, ada beberapa stasiun terdekat. Yakni, Temmabashi (pintu 3), Tanimachi 4-chome (pintu 1-B dan 9), Morinomiya (pintu 1 dan 3), dan Keihan Temmabashi (pintu 1-B dan 9). Di Taman Kastil Osaka, Anda bisa masuk ke areal taman yang luas sesuka hati tanpa dipungut bayaran. Hanya di kastil utama yang buka setiap hari dari pukul 9:00-17.00 (masuk terakhir 16.30), Anda harus membayar 600 Yen (sekitar Rp 48 ribu). Kami berhenti di tempat taksi ngetem atau dekat halte bus Otemae. Berjalan menyusuri lantai ber-paving, kami melewati deretan cemara bonsai memasuki Otemon atau Gerbang Muka. Selanjutnya kami melewati Sengan Yagura yang merupakan gerbang kokoh dari kayu tua. Ini pintu gerbang yang membatasi areal yang dulunya hunian para prajurit. Setelah melewati Taiko Yagura (batu dalam bentuk drum yang juga menjadi dinding pertahanan), sebuah jalan menuju gerbang kedua yang menuju areal kastil melewati jembatan parit. Di balik gerbang itu ada sebuah sumur dalam bentuk persegi yang airnya disuplai lewat pipa bulat. Ginmeisui sebutan sumur yang berasal dari zaman Edo yang dibawa ke situ pada tahun 1931.

Air minum itu bisa dikonsumsi. Beberapa teman yang mencoba minum berujar, ''Oh, ini air berkhasiat rasa Jepang.'' Tentu saja itu hanya selorohan. Tapi benar bahwa itu berkhasiat. Selain punya nilai sejarah, pengunjung yang sudah melewati jalan panjang menyusuri areal di situ bisa mampir ngombe. Meskipun tentu saja banyak air kemasan yang bisa dibawa pengunjung, sedikit menikmati air dari Ginmeisui tentu jadi kenangan tersendiri.Masih ada satu sumur lagi ketika kami telah melewati boks tiket. Namanya Kinzosui yang tertutup oleh jeruji besi. Di dekat sumur Ginmeisui itu, ada tembok tebal dan tinggi yang terbuat dari batu utuh. Itu yang disebut Sakuramon atau Gerbang Batu Sakura. Di depannya, seorang rahib dengan caping lebar dengan mangkuk kayu berdiri menunggu uluran uang pengunjung. Dia akan mengucapkan doa pemberkatan kepada penderma. Aha, tak cuma di situs-situs kunjungan Indonesia saja yang kadangkala ada pengumpul derma, di Jepang yang kaya pun ada.Dari situ pengunjung harus berjalan lagi menuju kastil. Di keluasan halamannya, ada beberapa situs lain yang menarik untuk dilihat seperti Osaka Museum of History yang pernah menjadi markas tentara Jepang selama Perang Dunia II dan pasca-perang sempat menjadi Markas Kepolisian Prefektural (setingkat provinsi) Osaka. Ada banyak aktivitas lain di situ, yaitu gerai suvenir, atau tempat berfoto dengan latar belakang kastil. Untuk berfoto, ada tiga peraga atau fanel dalam bentuk figur orang berbusana tradisional Jepang yang bagian wajahnya bolong sehingga kepala orang yang ingin berfoto bisa masuk ke situ.

***


SEMESTINYA, bangunan kastil itu ada delapan lantai dengan sebutan F. Hanya saja, ada satu lantai yang tetutup atau tak bisa dimasuki pengunjung, yaitu Lantai 6F. Saya tak tahu alasan mengapa pengunjung tak boleh ke situ. Dari brosur informasi pun tak ada catatan yang memberi alasan. Aki Adishakti yang menjadi ''pemandu dadakan'' kami pun tak tahu. Namun, itu bukan soal benar untuk mengetahui isi kastil yang punya nilai historis tinggi bagi wilayah Osaka tersebut.

Dari pintu masuk di Lantai 1F yang dilengkapi dengan gerai suvenir dan boks telepon umum dan sebuah lukisan pendiri kastil Hideyoshi Toyotomi, kami dirujuk untuk memakai elevator menuju Lantai 5F. Seorang petugas penunggu elevator dengan setia membawa para pengunjung sembari memberi informasi. Tentu saja dalam bahasa Jepang. Tentu saja pada rombongan kami hanya Aki yang paham. Tapi intinya adalah ucapan selamat datang dan mempersilakan kami menikmati semua yang tersaji di dalam kastil tersebut.

Lantai 5F menyuguhkan gambaran Perang Musim Panas di Osaka dalam layar kaca. Pada setiap folding screen, kisah perang dihadirkan secara visual. Paling menarik adalah diorama dalam bentuk patung-patung kecil pada etalase kaca besar yang menyuguhkan ''jajar perang''. Pengunjung bisa mengamati seragam, senjata, dan formasi barisan pada etalase itu. Catatan yang ada di situ menyebutkan bahwa itu formasi Perang Musim Panas antara pasukan Osaka melawan Sanada dan Matsudaira.

Dari Lantai tersebut, kami naik ke lantai tertinggi di 8F. Alasannya, agar kunjungan kami bersifat efektif karena dari lantai tersebut bisa terus turun. Pengunjung lain pun begitu. Dan di 8F yang merupakan ruang observasi ke lanskap sekitar kastil. Sebagian Osaka terlihat dari situ. Di Lantai 7F, kehidupan pendiri kastil disuguhkan dalam diorama miniatur dalam bentuk folding screen juga. Pada lantai 4F, 3F, dan 2F, kami melihat pelbagai jenis artefak peninggalan kastil yang disimpan di etalase.Menurut saya, Kastil Osaka itu layak dikunjungi, khususnya untuk para pengelola museum kita. Dukungan diorama miniatur dan folding screen yang mengisahkan peperangan dan kisah kehidupan sehari-hari para tokohnya, plus tatanan areal tamannya yang bagus untuk bersantai, sangat patut dicontoh untuk sebuah museum di negeri kita.

Saya membayangkan misalnya dahsyatnya Perang Diponegoro melawan Belanda dihadirkan tak hanya berupa artefak, tapi kisah visual lewat video atau diorama miniatur. Kalau demikian, pasti lebih mengesankan pengunjung dan yakinlah pasti museum bakal sangat diminati. Dalam hal ini, Kastil Osaka tak sekadar pendedah kisah perang, tapi juga ruang belajar.(*)


g Saroni Asikin


* Dimuat pada Rubrik Jalan-jalan Suara Merdeka, 29 Oktober 2006

Carilah Cheng Ho sampai ke Warung ‘’Ngosek’’

DALAM banyak catatan, Cheng Ho singgah di Bandar Tuban sebelum ke keraton Majapahit. Tapi di Tuban sebelah mana dia dan awak kapalnya bersauh? Lalu mengapa nama Dampo Awang, tokoh legendaris yang konon mengiringi Cheng Ho, begitu kondang di wilayah pantura timur dari Semarang hingga Tuban?
Dengan semangat mencari jejak-jejak Cheng Ho di wilayah tersebut, saya dan beberapa orang (Mas Soesiswo, Triyanto Triwikromo, Budi Maryono, dan Irawan A Aryanto) berangkat pagi-pagi. Di kelenteng Juwana, kami berhenti dan bertanya pada salah seorang biokong (penjaga kelenteng) apakah ada cerita Cheng Ho di situ.
‘’Ndak ada. Cheng Ho ya di Semarang di kelenteng Sam Po Kong itu.’’
Alasan perhentian di Juwana berasal dari asumsi bahwa daerah tersebut, khususnya sekitar kelenteng dulunya juga sebuah bandar tempat orang-orang China berdatangan dan bermukim di situ.
Perjalanan dilanjutkan dan kami berhenti di kelenteng Rembang. Perhentian kali ini pun dengan asumsi Dampo Awang adalah nama yang sangat kondang di kota tersebut sampai-sampai misalnya PSIR (klub sepak bola) dijuluki Laskar Dampo Awang. Siapa tahu kekondangan sang Dampo itu meninggalkan jejak Cheng Ho yang lagi kami cari.
‘’Lha saya ndak tahu. Masyarakat da sini juga ndak tahu Cheng Ho.’’
Lalu kami melaju dan berniat tak lagi berhenti hingga Tuban. Sampai di Tuban, kami ke Kwan Sing Bio, kelenteng bagus dan megah di Kota Ranggalawe tersebut. Tak ada cerita tentang Cheng Ho di situ. Kami sempat sedikit frustrasi. Lalu dari diskusi kecil, sembari membayangkan bahwa pendaratan Cheng Ho pastilah di sebuah bandar, sebuah pelabuhan, kami memutuskan pergi ke tempat itu. Agak kecewa juga ketika diberitahu seseorang bahwa pelabuhan itu hanyalah tempat bersauhnya perahu-perahu nelayan setempat.
Setelah rehat sejenak dan salat duhur, kami ke pelabuhan. Kami langsung menuju bekas dermaga yang sudah rusak parah. Di situkah dulu, enam ratus tahun lalu, Sang Laksamana menginjakkan kaki ke Tanah Jawa?
Tak ada orang yang bisa dimintai cerita. Kami sudah berniat pulang. Lalu saya bertemu dengan seorang pencari udang rebon. ‘’Sampeyan tahu Cheng Ho atau Dampo Awang?’’
Lelaki itu antusias bercerita. ‘’Itu di sana ada Sumur Srumbung. Ceritanya dulu di sini banyak pedagang China dan salah satunya Dampo Awang. Tapi Kanjeng Sunan Bonang tak suka dengan mereka. Karena marah, Kanjeng Sunan memukul tanah dengan tongkatnya hingga keluar air yang kini jadi Sumur Brumbung. Dampo Awang yang kalah sakti minta ampun sampai menciumi kaki Kanjeng Sunan sambil berseru-seru menghiba. Dari seru-seru ambung itu sumurnya dinamakan Srumbung.’’
Aha, sebuah cerita. Dia memberi petunjuk ke arah sumur itu yang letaknya tak jauh dari pelabuhan tersebut. Lewat Jalan Sumur Srumbung, kami sampai di lokasi. Begitu banyak orang pada hunian berdesak-desakan di pinggir laut itu. Tapi Juru Kunci Sumur Srumbung tak tahu menahu legenda yang tersimpan pada sumur yang dijaganya itu.
Dengan penuh keramahan beberapa orang menerima kami. Seseorang yang sudah tua segera bercerita mengenai sumur itu. Ceritanya agak berbeda dengan lelaki pencari udang rebon itu. Dia bilang Kanjeng Sunan Bonang itu tak terkait langsung dengan Dampo Awang.
Kami semakin bingung. Lalu datanglah seorang lelaki yang cukup muda. Priyadi namanya. 40 tahun usianya. Dia dikenal sebagai juru cerita setiap kali ada orang yang datang mencari kisah mengenai Sumur Srumbung plus Dampo Awang plus keramik-keramik China yang hingga kini masih terus dicari di pinggiran Laut Tuban.
Cerita Priyadi agak sama dengan milik lelaki pencari udang tadi. Paling menarik dari cerita dia dalah bahwa Dampo Awang dan Sam Po Kong alias Cheng Ho itu orang yang sama. (Nah, unik benar kan kisah legenda itu?)

***
''SAMPAIi di perairan Tuban, Kapal-kapal orang China terempas badai. Kapal-kapal itu karam. Padahal banyak benda berharga di dalamnya. Makanya sejak tahun 1976, kami terus mencari keramik-keramik China itu. Sampai sekarang masih saja ada orang yang menemukan. Wah harganya mahal,’’ ujar Priyadi.
Lelaki itu berhenti sejenak, lalu, ‘’hanya ada satu orang yang selamat. Dampo Awang namanya. Karena dia orang sakti, dia bisa selamat dan berenang sampai pantai. Di pantai dia bertemu dengan seorang tua yang sedang memancing. Dia tak tahu kalau itu Sunan Bonang. Kanjeng Sunan memang suka mancing. Lalu mereka bertanya-jawab. Kanjeng Sunan bertanya pada Dampo Awang. Dia bercerita bahwa dirinya dari China bersama banyak orang tapi kapalnya terempas badai. Hanya dia yang selamat. Tapi yang membuat hati Dampo Awang gundah adalah hilangnya kitab milik dia yang konon diberikan oleh guru dia di China.
‘’Kanjeng Sunan hanya tersenyum. Lalu Dampo Awang menanyakan jati diri lelaki tua pemancing itu. Kanjeng Sunan menjawab bahwa dirinya hanyalah orang biasa yang memang suka memancing. Tanpa sepengetahuan Dampo Awang, Kanjeng Sunan menetakkan tongkatnya ke tanah dan dari tanah itu keluarlah air beserta kitab milik Dampo Awang. Lelaki China itu takjub alang kepalang. Dia menerima kitab yang disodorkan Kanjeng Sunan. Air yang memancar dari tetakan tongkat itu kini disebut Sumur Srumbung. Dan setelah mengucapkan terima kasih, Dampo Awang berlalu. Dia bilang mau melanjutkan perjalanan darat ke arah Barat. Dia sampai di Pati dan ketemu Sunan Muria. Kalau Kisah Gunungrowo di Pati, saya ndak tak tahu.’’
Priyadi selesai bercerita. Lalu saya tanya, ‘’Apa Dampo Awang cukup terkenal di sini?’’
‘’Wah, ya ceritanya cuma begitu. Kalau di sini yang terkenal Kanjeng Sunan Bonang.’’(*)

g Saroni Asikin
* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Makhluk dari Mana Mereka?




UNTUK meramaikan sekaligus untuk lebih menyosialisasikan Midosuji Parade, panitia menggelar pre-event dan pasca-event untuk semua negara yang akan berparade. Untuk acara yang mengawali (7/10), Indonesia dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Kabupaten Malinau, Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Masing-masing memiliki venue (tempat tampil) yang berbeda. Saya yang mengikuti aksi Kabupaten Malinau dan Greget melihat pelbagai reaksi orang Jepang menyaksikan ciri kultural yang memunculkan entitas tradisional kami di tengah-tengah wilayah kosmopolitan milik mereka. Selain keterpesonaan, saya melihat muka-muka dengan kening berkerenyit.
Di luar itu, saya juga melihat sebuah shock teraphy kultural bagi kosmopolitanisme mereka ketika misalnya kami dari Dayak Kenyah lengkap dengan busana khas beraksi menyusuri sebuah pertokoan mewah yang ramai orang di Tenjinbashi Shopping Arcade. Bukan hanya di venue, terapi kejutan itu telah bermula sejak kami keluar dari Mitsui Garden Hotel di Yodoyabashi dan ketika kami berdesak-desakan di dalam subway.
Coba Anda bayangkan serombongan gadis memakai rompi bermanik-manik membentuk ornamen ukiran khas Dayak dengan tangan menggenggam kipas bulu burung enggang berjalan menyusuri lorong-lorong yang diapit gedung-gedung tinggi. Tak ada rumah panggung dari kayu atau jalanan tanah atau kelebatan pepohonan seperti yang mungkin Anda bayangkan di tempat asal mereka di Kalimantan. Bersama mereka, sekelompok pria berpakaian bulu burung membawa mandau (pedang khas Dayak-red) dan tameng. Di kepala mereka, terpacak sebuah mahkota penuh ornamen dan bulu burung pula. Selain itu, lihat pula tato bermotif tertentu yang menghiasi tangan dan kaki mereka.
Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan orang-orang yang melihat kami dengan muka penuh tanya. Sesekali ada pula orang yang tampak takut sehingga segera memberi jarak ketika bersilang langkah dengan kami. Seolah-olah kami adalah serombongan makhluk asing yang hendak membuat ''persoalan'' di wilayah mereka. Meskipun begitu, ada pula yang sengaja berhenti dan dengan ponsel berkamera menjadikan kami objek fotografi yang menarik.
Keberagaman reaksi itu kami jumpai lebih banyak ketika berada di atas subway. Apalagi karena kereta penuh sesak, kami harus berhimpitan tubuh dengan penumpang lain. Secuek-cueknya mereka, keberadaan ''makhluk-makhluk asing'' itu tetap mengejutkan mereka. Tapi hanya muka-muka yang terkesan keheranan saja yang saya cermati. Tak seorang pun berusaha bertanya siapa kami sebenarnya. Sebenarnya beberapa dari kami pun mengalami semacam keterkejutan kultural tertentu. Wajar saja, khususnya para penari perang, mereka adalah orang-orang yang setiap hari tinggal di sekitar hutan yang setiap saatnya hanya akrab dengan pohon-pohon besar dan binatang liar.
Naik subway tentu saja sebuah pengalaman baru yang secara manusiawi pasti membuat gamang seseorang. Tapi syukurlah, kegamangan itu sirna begitu mereka harus mulai menyusuri lorong pertokoan mewah di Tenjinbashi itu. Dengan iringan sampe (gitar) dan kulintang, tarian Pabekah Tawai dan Perang Dance sukses mereka gelar. Apalagi sepanjang berjalan atau ketika beraksi di persimpangan lorong, orang-orang yang tengah berbelanja memberikan apresiasi yang bagus. Mereka berhenti, menonton, dan memberi tepuk tangan.

***

KALAU siangnya, orang Osaka terpesona, terheran-heran, dan bertepuk tangan untuk eksotisme Dayak, malam harinya di Osaka City Central Hall, mereka bereaksi serupa untuk eksotisme yang lain. Greget Semarang yang menampilkan tari tradisional Jawa dengan tari ''Pesisiran'' dan ''Satria Yaksa'' paling tidak memberi informasi bahwa Indonesia memang kaya etnis dan entitas budaya.

Tampil di gedung pertunjukkan megah, secara jujur kami yang dari Indonesia sempat cemas selama menyaksikan aksi panggung pelbagai bangsa di situ. Pasalnya, hampir semua negara menampilkan sajian yang bersifat kolosal. Padahal, dua tarian yang kami sajikan malam itu hanya dilakukan masing-masing oleh dua penari. Kecemasan itu berasal dari pikiran bahwa kami bakal ''kalah set'' dibandingkan penampil lain. Lebih-lebih lagi, Indonesia tampil di ujung acara.Lihat saja misalnya Shinkotoni Temburyujin dari Kota Sapporo (Jepang) yang memainkan atraksi tarian kolosal puluhan orang dengan keberagaman gerak dan permainan perkusi. Atau, aksi cantik akrobat dari Chang Jiang Delta Shanghai (China). Lihat pula bagaimana kelompok dari Reda National Folklore Dancing Troupe dari Mesir memainkan tarian rakyat mereka.

Namun, kecemasan itu sirna begitu ''Satria Yaksa'' purna dimainkan. Kami mendengar aplaus penonton yang memenuhi gedung tersebut, sama seperti yang diberikan kepada penampil lain. Bukti lain bahwa yang tak kolosal dan yang klasikal seperti sajian Satria Yaksa memiliki pesona tersendiri adalah keinginan salah seorang penanggung jawab Midosuji Parade 2006 untuk menampilkan tarian itu pada event lain. Meskipun masih berupa tawaran, tapi apresiasi seperti itu tetap membanggakan.

g Saroni Asikin

''Kiutsukete, Mori-san''







PARADE Midosuji adalah puncak perayaan musim gugur tahunan di wilayah Osaka, Jepang. Tak hanya dari Jepang, puluhan negara diundang untuk ikut meramaikan. Tahun ini, Indonesia diwakili Kabupaten Malinau (Kaltim), Yayasan Greget Semarang, dan Kabupaten Banyuwangi. Ini catatan kecil saya ketika mengikuti rombongan Indonesia tersebut.(*)






TAHUN 2006, Parade Midosuji digelar Minggu (8 Oktober). Namun karena pada arak-arakan itu, tiap negara berhak menampilkan mobil hias, peserta harus sudah mengirim desain mobil hias jauh-jauh hari. Selain itu, untuk menghias pun membutuhkan beberapa hari pengerjaan. Alasannya tentu saja agar mobil yang ikut berparade terhias dengan sempurna.

Dua tahun sebelumnya, Indonesia yang diwakili Kabupaten Jembrana, Bali menampilkan mobil hias dengan replika sosok Rangda. Setelah absen tahun 2005, pada parade tahun 2006, Indonesia menampilkan mobil hias rumah adat Dayak dari Kabupaten Malinau, Kaltim. Tentu saja replika tersebut sejalan dengan tema yang diberikan panitia: kontribusi hutan hujan tropis Kalimantan untuk dunia.
Karena butuh beberapa hari untuk menyelesaikan mobil hias, kami dari Indonesia telah datang ke lokasi di sebuah lapangan terbuka dekat KTV Osaka pada tanggal 4 Oktober. Dari 23 rombongan yang mengikuti Asian Festival 2006 beberapa hari sebelumnya, 10 orang masih bertahan untuk ikut Midosuji Parade. Sementara rombongan dari Kabupaten Malinau (Kaltim) dan Banyuwangi baru tiba di Osaka tanggal 6 Oktober. Meski begitu, sisa orang yang ada cukup untuk membantu penyelesaian mobil hias. Sebab, panitia telah menyediakan beberapa pekerja Jepang yang bertugas menghias mobil itu sesuai desain yang telah kami kirim sebelumnya.Nah, saat bekerja bersama-sama orang Jepang ini, saya beserta beberapa teman lain menjumpai sebentuk komunikasi yang cukup menarik.
Secara umum, karakter orang Jepang hampir seperti kita. Khususnya, dalam soal bagaimana mereka berinteraksi dengan orang asing. Meskipun memiliki disiplin ketat ketika bekerja, mereka bukan mesin yang tak bisa tertawa. Apalagi mereka juga orang-orang yang ramah.Tak seorang pun dari kami bersepuluh bisa berbahasa Jepang selain ucapan arigato gozaimasu (terima kasih banyak) atau sumimasen (maaf, permisi). Sayangnya mereka pun banyak yang tak bisa bahasa Inggris, lebih-lebih lagi bahasa Indonesia. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana kami berkomunikasi selama menghias mobil itu.
Memang ada Aki Adishakti, staf Konsulat Jenderal RI di Osaka sebagai penyeranta komunikasi kami. Namun kalau setiap kali harus meminta ''sang penerjemah'' menjelaskan sesuatu, pekerjaan bisa berlarut-larut. Aki juga punya banyak urusan di Osaka sehingga tak selalu bisa menemani kami selama pengerjaan.
***
WALHASIL, ''bahasa Tarzan''-lah penyambung urusan di situ. Tapi inilah asyiknya. Selain ramah dan mau bekerja sama, beberapa pekerja Jepang itu juga bisa bercanda. Meskipun picu candaan itu hampir selalu bermula dari kami. Seorang dari kami yang banyak bicara dan sok pamer kosakata dari Aki selalu mengulang-ulang sebuah ungkapan kepada Mori-san, salah seorang pekerja. Contohnya, ungkapan ''chotomate kudasai'' (tolong tunggu). Setiap kali Mori-san mengerjakan sesuatu, latah benar dia selau mengucapkan itu. Entah sebal atau mungkin jengah atau bahkan terganggu pekerjaannya mendengar kecerewetan itu, lelaki itu berujar dengan tertawa, ''Anata wa urusai desu.'' Tentu saja si cerewet dan kami yang buta bahasa Jepang hanya diam. Tapi Aki yang ada di sekitar itu tertawa lebar. Apa pasal? Kata Aki itu artinya ''Kamu cerewet''. Tak pelak, kami tertawa.

Aki yang juga suka bercanda memberi tambahan kata: ''kurukurupa'' yang berarti ''stres dan hampir gila''. Itu modal bagus buat kami untuk ganti ''mencereweti'' si cerewet itu. Tapi dasar tak bisa diam, setelah itu pun dia berkali-kali dia mengucapkan kalimat itu kepada Mori-san sambil tangannya menunjuk ke salah seorang dari kami. Adakalanya candaan itu berasal dari perbedaan persepsi kultural di antara kami. Ketika mendapat kata kiutsukete yang berarti ''hati-hati'', teman yang tadi masih selalu saja pamer pada lelaki Jepang itu. Sudah berkali-kali pula lelaki itu ber-arigato-arigato. Namun pada suatu momen saat dia harus memaku untuk menggantung topi hias sembari menaiki tangga, kalimat tadi keluar lagi dari mulut teman itu. Sontak beberapa pekerja lain tertawa lebar sembari menirukan ucapan, ''Kiutsukete, Mori-san.'' Dengan wajah pongah, si cerewet itu menghambur ke penerjemahnya untuk mencari tahu mengapa mereka tertawa. Nah, itulah yang saya sebut adanya persepsi kultural yang berbeda. Bagi mereka memaku di mobil hias yang tak tinggi itu bukan sesuatu yang patut dicemaskan sehingga perlu disarankan agar seseorang harus ekstra hati-hati. Padahal di luar alasan bahwa dia bak beo yang lagi belajar sebuah kata, tentu saja dia bermaksud memberi perhatian sebagai tanda persahabatan.
Di luar itu semua, saya yakin antara kami dan orang Jepang yang bekerja menghias mobil itu pasti terjalin proses saling belajar meskipun cuma sebentar. Yang lebih pasti, kami bisa bekerja sama tanpa ada praduga siapa di antara kami yang superior dan siapa pula yang inferior. Dan itu bisa dibangun lewat sebuah candaan.(*)
g Saroni Asikin

Puing-puing dari Zhong Baocun

MARI berandai-andai seputar petualangan ekspedisi Cheng Ho selama 28 tahun mengarungi berbagai lautan dan nasibnya sebagai sosok sejarah.
Andai lelaki itu bukan seorang kasim, seseorang yang telah dikebiri, dan semua kapten kapalnya bukan kasim pula, maka para pejabat terpelajar konfusian tak akan marah dan menganggap menjelajah ke banyak negeri sebagai pengkhianatan terhadap ajaran konfusianisme. Andai Kaisar Zhu Gaozhi, pengganti Yong Le, tak terpengaruh kekuatan politik kaum konfusian itu, maka ekspedisi ketujuh bisa berjalan mulus dan tak akan terjadi penghancuran catatan permuhibahan berikut galangan kapal di Longjian. Andai tak ada penghancuran itu, maka kebesaran China di bidang maritim yang meneguhkan nama Laksamana Cheng Ho sebagai sang pionir akan bergaung ke seluruh dunia. Andai tak ada penghancuran itu, kita akan bisa membaca Cheng Ho dan ekspedisinya secara benar dan proporsional.
Tapi sejarah tak bisa diandaikan. Barangkali memang Cheng Ho bukan sosok besar yang dimanjakan sejarah. Ketakutan kaum konfusian terhadap dominasi kekuatan kaum kasim -kaum yang mereka anggap tidak bermoral- telah memengaruhi seorang kaisar dengan tanpa beban menghancurkan semua keberhasilan ekspedisi. Akibatnya kebesaran China khususnya di bidang maritim seperti tak berjejak. Akibat paling buruk dari kekuatan pengaruh kaum konfusian tersebut adalah terisolasinya China sekian abad dari percaturan dunia.Jadi, segala cerita mengenai kebesaran dan kegegapgempitaan ekspedisi Cheng Ho hampir mirip kisah fiksi karena sangat sedikitnya bukti yang ada. Cukup ironis, memang. Betapa tidak ironis, tak banyak catatan tertulis yang menceritakannya. Sekadar contoh, catatan Ma Huan dan Fei Xin. Bahkan untuk mengenali kapal dan teknologi pembuatannya pun hanya kita peroleh dari puing-puing yang digali, misalnya di Zhong Baocun Nanjing. Hasil penggalian selama 1 tahun (2003-2004) oleh Pemerintah Kota Nanjing pun hanya berhasil menemukan Dok No 6. Semua itu kini bisa dilihat di Museum Seni di kompleks Chaotian Palace. Menurut catatan di museum tersebut, masih tersisa tiga dok yang belum digali pada areal sekitar 25 ribu meter persegi.Kalau ingin melihat beberapa benda yang diperoleh selama ekspedisi, kita harus pergi ke Kunyang di Provinsi Yunnan, tepatnya ke Museum Cheng Ho di areal Zheng He Guoyuan. Benda-benda yang masih tersisa pun tak banyak. Hanya ada rempah-rempah yang diperoleh selama permuhibahan, keramik, jubah, topi, dan pedang.
***

MELIHAT kenyataan itu, betapa pentingnya puing-puing yang digali dari Zhong Baocun. Penempatan benda-benda yang ditemukan pada sebuah bangunan khusus di Museum Seni kompleks Chaotian Palace pun berguna bagi studi lebih lanjut mengenai teknologi perkapalan yang dikembangkan Cheng Ho semasa Dinasti Ming.
Bangunan tersebut dinaungi dua pohon eks besar. Begitu memasuki pelatarannya, pengunjung telah bisa melihat gambar-gambar mengenai ekspedisi Cheng Ho pada dinding luar. Masih di luar bangunan, pada sisi kanan terdapat beberapa batang kayu besar berwarna hitam. Dilihat sekilas, batangan kayu itu mengesankan ketuaan. Di antara kayu-kayu tersebut terdapat dua batang kayu yang dipersiapkan sebagai anjungan kapal. Panjangnya 10,1 meter dan 11 meter dengan berat mencapai satu ton. Pihak Nanjing Municipal Museum menganggap penemuan dua kayu itu sebagai penemuan luar biasa. Sebab, kita bisa melihat skala sebuah kapal yang disebut ''kapal berharga'' dari zaman Ming. Sayang sekali Gao Qin yang memandu selama liputan saya tak mengetahui jenis kayunya. Selain itu, di museum tersebut juga tak ada catatan mengenai jenis kayu yang dibuat kapal oleh Cheng Ho.
Masuk ke dalam ruangan, pengunjung akan melihat sebuah jangkar yang telah berkarat. Di kanan kirinya terdapat berbagai jenis peralatan pembuatan kapal seperti kapak, tatah, gergaji, kikir, palu kayu, dan alat penyiku. Begitu pula ada banyak jenis temali, dayung, tiang kapal, beberapa meteran dari kayu yang disebut ''wei jia qing ji'', serta ratusan pasak dalam beragam bentuk yang terbuat dari logam dan kayu.Selain benda-benda tersebut, terdapat berbagai banyak peralatan yang dipakai selama pembuatan kapal. Menariknya, di situ disebutkan bahwa peralatan dapur yang paling banyak dipakai adalah mangkuk, piring, dan guci yang memiliki desain berbeda dengan umumnya barang pecah belah pada masa awal dan tengah Dinasti Ming,yangberarti pada zaman Cheng Ho bereskpedisi. Pada semua benda pecah belah itu terdapat tulisan berhuruf China dari tinta yang berbunyi ''zhou'', ''li'' dan ''xu'' yang kondisinya masih sangat bagus. Benda lain yang ditemukan dalam kondisi bagus adalah sepasang sepatu dari serat palma berukuran 27,3 sentimeter. Itu sepatu yang dipakai awak kapal.Apa yang tersimpan di museum tersebut memang baru menguak sedikit mengenai aktivitas pembuatan kapal. Namun, nilainya tetap sangat berharga, khususnya bagi studi sejarah perkapalan pada zaman Dinasti Ming. Dari situ pula, terbaca peran Cheng Ho selama masa persiapan ekspedisi.
Berbeda dengan museum tersebut, yang tersimpan di dalam Museum Cheng Ho di Kunyang adalah benda-benda yang diperoleh selama ekspedisi. Meskipun tak banyak, dan memang tak terbaca asal-usulnya perolehannya, keberadaan benda-benda tersebut tak bisa dimungkiri keberartiannya. Di dalam museum, selain maket mengenai rute pelayaran Cheng Ho dan beberapa patung Sang Laksamana terdapat beberapa keramik yang tak utuh lagi. Begitu pula pada satu etalase terdapat beberapa piring yang berisi rempah-rempah seperti pala, kemiri, cengkeh, garam, kayu manis, lada hitam, dan beberapa lainnya. Boleh dibayangkan, rempah-rempah itu kemungkinan besar diperoleh dari wilayah tropis. Selain itu, pada ruang yang terpisah, terdapat beberapa benda yang dipakai para awak kapal seperti jubah, topi, pedang, dan mahkota. Di ruang tersebut terpajang pula beberapa lukisan yang menceritakan interaksi Cheng Ho dan awak kapalnya dengan penduduk yang disinggahi kapal mereka. Ada lukisan yang memperlihatkan Cheng Ho dan seorang asistennya tengah bercakap-cakap dengan seseorang yang memakai jubah dan turban, sementara di sekitar mereka terdapat berbagai jenis gubi dan barang persembahan. Boleh jadi itu gambaran ketika armada Cheng Ho singgah di Kalikut, India. Ada pula lukisan yang menceritakan permuhibahan Cheng Ho ke bumi Afrika. Di situ, Cheng Ho beserta beberapa pengiringnya disambut dengan ramah oleh orang-orang berkulit hitam. Sambutan penuh persahabatan itu bisa dilihat misalnya bagaimana Cheng Ho dipayungi payung kebesaran warna kuning dan dia terlihat berbincang-bincang penuh keceriaan dengan seorang kulit hitam yang memakai mahkota.
Selain dua lukisan tersebut, sebuah lukisan yang sangat menarik buat saya. Pada lukisan itu, Cheng Ho bersama beberapa pengiringnya duduk di sebuah ruangan (mirip sebuah paseban kerajaan) tengah menikmati tarian tiga perempuan. Ketertarikan saya terutama pada para penari berkostum laiknya para penari Bali ketika menari Jangger atau Legong. Di bawah lukisan tersebut terdapat tulisan China dan angka latin 1410. Sayang sekali, tak ada pemandu atau orang yang bisa saya tanyai ketika berada di situ. Boleh jadi angka itu menunjukkan tahun peristiwa yang dilukiskan. Dan kalau melihat kostum penari yang saya bayangkan mirip penari Bali tersebut, saya membayangkan peristiwa dalam lukisan itu terjadi di Majapahit. Kita tahu pengaruh kebudayaan Majapahit begitu kental terasa di Bali. Dan kalau sepakat dengan asumsi bahwa Jawa disinggahi enam kali (selain ekspedisi keenam), maka kemungkinan peristiwa itu terjadi pada muhibah ketiga (1409-1411).
Jadi memang tak begitu banyak benda yang ditinggalkan oleh cerita besar ekspedisi Cheng Ho. Itu menjelaskan, bahwa politik, seperti yang dimainkan pejabat konfusian pada zaman Cheng Ho, sering benar begitu kejam mengubah alur sejarah atau bahkan menguburkannya. Bayangkan, untuk armada permuhibahan klasik dengan kekuatan lebih dari 300 kapal dan melibatkan hampir 30 orang, hanya bisa dilihat jejak-jejak artefaknya dari penggalian puing-puing sebuah dok.
Ya, Cheng Ho barangkali memang bukan sosok yang dimanja sejarah, atau bukan tokoh yang disukai sosok-sosok sejarah pada zamannya. Tapi siapa bisa menyangkal kebesaran namanya?

g Saroni Asikin

* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005

Inskripsi Batu di Fujian

JANGAN tersinggung bila disebutkan bahwa negara-negara yang disinggahi Cheng Ho selama tujuh kali ekspedisinya hanyalah negara-negara ''barbar''. Itu pendapat Kaisar Yong Le tentang negeri-negeri di luar China. Alasannya tak lain dan bukan karena kebanggaannya akan peradaban China yang menurutnya sangat maju.
Inskripsi batu yang berada di Kuil Istri Langit di Changle, Provinsi Fujian China yang bertengara tahun 1431 menyebutkan soal bangsa-bangsa ''barbar'' tersebut. Inskprisi itu semacam laporan yang ditulis Cheng Ho dan krunya kepada kaisar China.
Lihatlah contoh yang tertulis di batu itu: ''Negeri-negeri kaum barbar yang telah kami kunjungi adalah Zhancheng (Vietnam), Zhaowa (Jawa), Sanfoqi (Palembang), dan Xianlo (Thailand), menyeberang ke Xilansan (Srilanka) di Selatan India, Guli (Kalikut), dan Kezhi (Cochin), dan kami telah pergi ke daerah-daerah barat di Hulumosi (Hormuz), Adan (Aden), Mugudushu (Mogadishu), semuanya lebih dari 30 negeri besar dan kecil''.
Selain itu, inskripsi juga sangat penting untuk menjelaskan rute ekspedisi yang telah ditempuh selama 28 tahun sejak permuhibahan Cheng Ho dimulai tahun 1405. Tak ada salahnya kalau dituliskan di sini catatan perjalanan kapal-kapal Cheng Ho berdasarkan inskripsi batu di Changle Fujian. Catatan tersebut tak hanya penting untuk mengetahui rute perjalanan, tetapi juga kiprah Cheng Ho dan semua awak kapalnya sepanjang pelayaran.
I. Pada tahun ketiga Yongle (1405), armada bergerak menuju Guli (Kalikut) dan negeri-negeri lainnya. Pada saat itu, bajak laut Chen Yuzi telah mengumpulkan semua pengikutnya di negeri Sanfoqi (Palembang) tempat dia merompak dan mengganggu pedagang pribumi. Dan ketika dia juga berusaha menghalangi laju armada kami, para serdadu supernatural secara sembunyi-sembunyi datang menyelamatkan, maka dalam satu pukulan genderang, dia takluk. Dia tahun kelima (1407), kami kembali.
II. Di tahun kelima Yongle (1407), armada diperintahkan pergi ke Zhaowa (Jawa), Guli (Kalikut), Kezhi (Cochin), dan Xianle (Thailand). Semua raja di negeri-negeri tersebut mengirimkan benda berharga, burung berharga, dan binatang langka sebagai persembahan pada Sang Kaisar. Pada tahun ketujuh (1409), kami kembali.
III. Pada tahun ketujuh Yoinge (1409), armada diperintahkan menuju negeri-negeri (yang telah dikunjungi) sebelumnya dan kami mengambil rute melewati negeri Xilanshan (Srilanka). Yaliekunaier (Alagakkonara), rajanya bersalah karena sangat tidak menghormati perjalanan kami. Atas restu dari sang dewi (maksudnya Tianfei, Dewi Pelindung Laut kaum tao-Red), sang raja bisa ditangkap hidup-hidup. Di tahun kesembilan (1411), ketika kami kembali sang raja dibawa (kepada sang kaisar) (sebagai tawanan); selanjutnya dia mendapat anugrah Kekaisaran yaitu boleh kembali ke negerinya.
IV. Pada tahun kesebelas Yongle (1413), armada diperintahkan menuju Hulumosi (Hormuz) dan negeri-negeri lain. Di negeri Sumendala (Samudra) terdapat raja palsu Suganla (Iskandar) yang telah merampas dan menduduki negeri itu. Rajanya Cainu-liabiding (Zainul Abidin) telah mengirim pesan ke Gerbang Istana (Kaisar China) untuk minta bantuan. Kami segera ke tempat tersebut dengan bala tentara resmi di bawah komando kami dan menghancurkan dan menangkap (para pemberontak), dan atas restu sang dewi kami berhasil menangkap raja palsu itu hidup-hidup. Di tahun ketigabelas (1415), ketika kami kembali, ia dibawa menghadap Kaisar sebagai tawanan. Pada tahun itu juga, raja Manlajia (Malaka) beserta istri dan anaknya datang menghadap untuk memberikan persembahan.V. Pada tahun kelimabelas Yongle (1417), armada diperintahkan menuju daerah-daerah barat. Negeri Hulumosi (Hormuz menghadiahi singa, leopar bertutul emas, dan kuda-kuda besar. Negeri Adan (Aden) menghadiahi qilin yang aslinya bernama culafa (jerapah) dan binatang bertanduk panjang maha (oryx). Negeri Mugudushu (Mogadishu) menghadiahi huafu lu (zebra) dan singa. Negeri Bulawa (Brawa) menghadiahi unta yang bisa berlari seribu li (ukuran panjang China) seperti burung unta. Negeri Zhaowa (Jawa) dan Guli (Kalikut) menghidahi hewan miligao. Mereka semua dengan penuh kerelaan memberikan semua benda yang berada di gunung atau tersembunyi di lautan, dan semua benda indah yang terbenam di pasir atau tertimbun di pantai-pantai. Beberapa mengirim paman raja dari garis ibu, yang lainnya mengirim paman dari garis ayah atau adik raja untuk menyerahkan surat persembahan dengan kertas emas.
VI. Pada tahun kesembilanbelas Yongle (1421), armada diperintahkan membawa para duta besar dari Hulumosi (Hormuz) dan negeri-negeri lainnya yang telah berada di istana kaisar sekian lama untuk kembali ke negeri mereka. Raja-raja dari negeri-negeri tersebut bahkan telah menyiapkan banyak persembahan dari yang telah diberikan sebelumnya.
VII. Pada tahun keenam Xuande (1431) (cucu Yongle yang memerintahkan permuhibahan kembali setelah sempat dihentikan oleh kaisar sebelumnya) sekali lagi memerintahkan untuk menuju negeri-negeri kaum barbar yang telah kami singgahi untuk membacakan pada mereka (sebuah perintah resmi Kekasisaran) dan untuk memberikan hadiah.Dan catatan itu, dengan bahasa yang cukup puitis, diakhiri dengan kalimat-kalimat: ''Kami bersauh di pelabuhan ini menantikan angin utara membawa kami berlayar, dan menyerukan betapa sebelumnya kami telah mendapat berkah perlindungan dari kuasa ilahi sehingga kami bisa mencatatkan sebuah inskripsi pada batu.''
Kalau sekarang inskripsi itu ada di Changle, provinsi Fujian, dan tahun yang ditulis 1431, maka kita bisa membayangkan pelayaran muhibah yang terakhir Cheng Ho itu masih belum keluar dari wilayah China. Dan mungkin saja memang Cheng Ho, sang navigator agung itu, tak pernah lagi bisa menginjakkan kaki di negerinya, sebab banyak kalangan meyakini dia mati di laut pada tahun 1433.
g Saroni Asikin, dari berbagai sumber

Cheng Ho di Bumi Nusantara

BERAPA kali Cheng Ho singgah di bumi nusantara? Tak cukup mudah menjawab pertanyaan itu. Dari referensi yang saya baca memang ada kesepakatan mengenai banyaknya ekspedisi sejumlah tujuh kali berikut rentang tahun masing-masing ekpedisinya. Namun, tak ada ketunggalan catatan mengenai rute yang ditempuh pada tiap-tiap permuhibahan.Ada yang mengasumsikan, bahwa rute pada permuhibahan perdana (lihat tulisan Bermula dari Nanjing), adalah rute rutin yang selalu disinggahi dalam pelayaran, baik ketika armada berangkat ke tujuan utama maupun ketika pulang kembali ke China.
Bahkan ketika permuhibahan Cheng Ho jauh sampai ke barat di Hormuz di Teluk Persia, Aden di Yaman, dan Mogadishu dan Mombasa di Kenya, berangkat atau pulangnya selalu mampir ke bumi nusantara. Berdasarkan asumsi tersebut, sudah pasti bumi nusantara (yang disepakati pada hampir seluruh catatan adalah Jawa dan Sumatra) disinggahi tujuh kali pada tujuh kota, yaitu Mojokerto, Surabaya, Tuban, Semarang, Palembang, Deli, dan Samudra.
Asumsi tersebut sejalan dengan tulisan Jean Johnson berjudul ''Should the Ming End the Treasure Ship Voyages?'' (1997) yang diterbitkan New York University. Dalam tulisannya, Johnson, menyebutkan bahwa pada setiap ekspedisinya, armada Cheng Ho selalu melewati dan berhenti di beberapa kota pelabuhan di Indonesia, tepatnya Jawa dan Sumatra. Itu bahkan dilakukan ketika Cheng Ho tak ikut pada ekspedisi kedua. Menurut Johnson, hanya pada ekspedisi keenam, Jawa tak disinggahi. Untuk lebih jelasnya, berikut diterakan lebih rinci mengenai rute perhentian armada permuhibahan Cheng Ho.
Muhibah perdana (1405-1407) dengan tujuan utama Kalikut di India, armada berhenti di Vietnam, Jawa (Mojokerto, Surabaya, Tuban, dan Semarang), Sumatra (Palembang, Deli, dan Samudra), Siam atau Thailand, Srilanka, dan Kalikut.Muhibah Kedua (1407-1409) dengan tujuan utama Kalikut berhenti di pelabuhan-pelabuhan yang sama dengan muhibah pertama. Muhibah ketiga (1409-1411) dengan tujuan utama Malaka, armada mengarungi laut dan singgah di Jawa, Sumatra, Thailand, dan Srilanka. Muhibah keempat (1413-1415) dengan tujuan utama Hormuz dan Teluk Persia berhenti di Jawa, Sumatra, Malaysia, Srilanka, India, dan Maladewa. Muhibah kelima (1417-1419) yang bertujuan mengembalikan 19 duta besar negara-negara yang berkunjung ke China, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Sumatra, Malaka, Maladewa, Srilanka, Cochin dan Kalikut di India, Hormuz, terus dilanjutkan ke Aden di Yaman, hingga ke pantai timur Afrika seperti Mogadishu, Brawa, Malinda, dan berhenti di Mombasa Kenya. Muhibah keenam (1421-1422) dengan tujuan utama pantai timur Afrika, armada sempat berhenti di Sumatra khususnya Samudra di Aceh. Muhibah terakhir atau ketujuh (1431-1433) dengan tujuan utama Kalikut, armada berhenti di Vietnam, Jawa, Palembang, Malaka, Samudra, dan Srilanka. Namun, pada saat perhentian di Kalikut, disebut-sebut ada sebuah kapal yang terus berlayar hingga ke Afrika, dan bahkan ke Makkah.
Kalau dibandingkan dengan catatan yang terdapat pada inskripsi batu yang berdiri di Fujian, tercatat empat kali bumi nusantara dikunjungi. Yakni, Sanfoqi (Palembang Sumatra) pada permuhibahan perdana (1405-1407), Zhaowa (Jawa) pada pelayaran kedua (1409-1411), Sumendala (Samudra, Aceh) pada yang keempat (1413-1415), dan Zhaowa pada permuhibahan kelima (1417-1419).

g Saroni Asikin, dari berbagai sumber

* Dimuat dalam Suplemen Cheng Ho Suara Merdeka, Agustus 2005